Chapter 42
Semua orang terkejut.
Ceng Han sendiri tertegun mendengar kata-kata itu, karena dia tidak mendengar gerakan pun setelah menajamkan telinganya.
Tapi, baru saja si kakek bongkok terkekeh dengan muka masam, tiba-tiba sesosok bayangan telah muncul di depan pintu, berdiri tanpa diketahui kapan datangnya.
Dan begitu semua orang melihat bayangan ini, tiba-tiba Ceng Bi dan Pek Hong menghambur maju berteriak gembira, "Yap-koko...!" Ternyata yang datang adalah Pendekar Gurun Neraka!
Dan Ceng Han yang terkejut melihat ketajaman telinga si Naga Bongkok tiba-tiba tercengang dan kagum bukan main, mengakui kehebatan kakek ini yang benar-benar luar biasa.
Setingkat dengan ayahnya sendiri!
Tapi Pendekar Gurun Neraka yang sudah ditubruk istrinya mengerutkan kening.
Sejenak matanya berkejap gembira memandang Sin Hong, putranya yang sudah kembali itu.
Namun, melepaskan diri dari pelukan istrinya, pendekar sakti ini sudah melangkah maju dan merangkapkan kedua tangannya, memberi hormat pada orang yang lebih tua.
"Locianpwe, kau siapa dan ada perlu apa datang ke rumah kami?" Bu-beng Siauw-jin terbahak.
Dia tadinya kecut mendengar langkah kaki yang ringan dan halus luar biasa menghampiri tempat mereka.
Langkah kaki yang hampir saja tidak tertangkap oleh telinganya.
Tanda seorang tokoh yang benar-benar luar biasa dan memiliki kepandaian tinggi.
Dugaannya, mungkin Ciok-thouw Tai-hiap!
Tapi begitu melihat bahwa yang datang adalah tuan rumah sendiri yang bukan lain adalah Pendekar Gurun Neraka dan pria itu masih muda, tidak lebih dari tiga puluh dua tahun, tiba-tiba saja kakek ini terkejut dan kagum.
Terkejut bahwa pendekar yang namanya dahsyat ini ternyata masih muda dan pantas menjadi anaknya!
Maka Bu-beng Siauw-jin yang kagum serta sudah lama mendengar nama besar laki-laki gagah perkasa ini cepat-cepat membungkukkan tubuh membalas memberi hormat, merangkapkan kedua tangan, tapi diam-diam seketika itu juga melakukan serangan, "menguji" kehebatan pendekar ini dalam dorongan sinkang!
"Ah, aku si tua bangka ini, Bu-beng Siauw-jin. Pendekar Gurun Neraka. Orang menyebutku si Naga Bongkok, dan aku datang kemari untuk membawa Sin Hong sebagai muridku!" Bu Kong terkejut.
Dia melihat kakek itu tertawa, merangkapkan kedua tangan dan tampak buru-buru membalas hormat.
Tapi kesiur angin dingin yang menyambar dadanya dari kepalan tangan si kakek bongkok yang membuat bajunya berkibar, membuat pendekar ini mengerutkan alis dan mendorongkan lengannya, seakan menolak tapi sebenarnya menyambut serangan si bongkok itu, memaklumi bahwa kakek ini ingin "mengujinya"!
Maka begitu mendorongkan lengan seolah bersikap sungkan, segera Pendekar Gurun Neraka mengibaskan bajunya dengan muka terheran.
"Ah, kau dari Himalaya, locianpwe? Kalau begitu, kebetulan sekali, sudah lama aku mendengar namamu... plak!" dan ujung baju Pendekar Gurun Neraka yang bertemu kepalan si kakek bongkok tiba-tiba meledak, seolah menepuk pecah. Bu Kong tergetar.
Dia melihat kakek itu juga terdorong, membelalakkan mata dan tampaknya tergetar oleh tangkisan ini.
Gebrakan sinkang yang membuat masing-masing pihak memahami akan kehebatan lawan.
Tapi Bu-beng Siauw-jin yang rupanya penasaran dan ingin mengulang pukulannya tiba-tiba tertawa dan membengkokkan kaki, memasang kuda-kuda!
Lalu, begitu menyeringai dan terbahak gembira, mendadak kakek ini mendorongkan lengannya dan menyerang terang-terangan!
"Pendekar Gurun Neraka, kau hebat. Aku mendengar keunggulanmu terhadap mertuamu sendiri, Ciok-thouw Taihiap!" Dan si kakek yang sudah merendahkan tubuhnya dengan kedua kaki bengkok ke depan, tahu-tahu melempar pukulan sinkang untuk yang kedua kalinya!
Tapi Bu Kong mengernyitkan kening.
Dia tetap bersikap tenang oleh pukulan lawan, memaklumi memang demikian kebiasaan orang-orang sakti yang suka "gatal" menghadapi lawan tangguh.
Tapi menekuk siku ke bawah dan melakukan dorongan balasan, dia pun cepat menyambut pukulan Bu-beng Siauw-jin yang kali ini bertambah hebat dan dingin!
"Locianpwe, maaf. Aku tidak berani menerima pujianmu yang berlebihan...!" lalu begitu berseru dan ikut membengkokkan lutut, tahu-tahu pendekar ini sudah menerima pukulan lawan lalu menolaknya balik dengan dorongan ke atas.
Tapi Bu-beng Siauw-jin mempertahankan diri.
Kakek ini tidak tertawa lagi, merasa betapa dorongan yang kuat sekali menghantam dadanya, menekan dan mendesak pukulan sinkangnya yang berhawa dingin.
Lalu begitu dua tenaga bertemu di udara, tiba-tiba muncul dua macam asap yang berlainan warna.
Dari arah Bu-beng Siauw-jin muncul asap berwarna putih bagai salju, sedang dari pihak Pendekar Gurun Neraka muncul asap berwarna merah yang mengeluarkan hawa panas. Namun, keduanya saling dorong, tidak mau mengalah, membentuk bulatan lonjong seperti telur angsa.
Dan begitu masing-masing menambah kekuatannya untuk mengalahkan lawan, mendadak "telur" hawa yang dorong-mendorong ini membengkak.
Yang putih semakin besar dan menindih asap merah, tetapi yang merah membengkak dan menindih asap putih.
Kedua-duanya sama kuat, sejenak bertarung di udara.
Tapi begitu Pendekar Gurun Neraka membentak dan mengangkat naik tubuhnya, tiba-tiba Bu-beng Siauw-jin terpekik dan jebol kuda-kudanya, tidak dapat bertahan!
"Ah... brakk!" Bu-beng Siauw-jin menjejakkan kakinya.
Dia langsung berjumpalitan di udara menghindar pukulan dahsyat yang menghantam dirinya itu.
Berjungkir balik hingga pukulan lewat di bawah kakinya.
Tapi Bu-beng Siauw-jin yang berjumpalitan di atas kepala lawan tiba-tiba menyentikkan jarinya ke telinga Pendekar Gurun Neraka, cepat dan luar biasa sebat membarengi suara hiruk-pikuk akibat runtuhnya dinding ruangan dihantam pukulan sinkang yang membalik.
Lalu begitu turun dan saling berhadapan kembali, menyeringailah kakek itu ketika dua jarinya menjepit sehelai rambut yang disentil dari telinga Pendekar Gurun Neraka!
"Ha-ha, kau benar-benar mengagumkan, Pendekar Gurun Neraka. Dahsyat sekali tenaga saktimu itu. Pantas kalau Ciok-thouw Taihiap mengakui keunggulanmu...!" Bu Kong terkejut.
Dia melihat jari telunjuk dan tengah kakek ini menyentil-nyentil rambut telinganya yang berhasil disambar, kaget bahwa kakek itu dapat bergerak demikian cepat dan luar biasa sekali.
Gerakan yang membuat dia terkesiap dan membelalakkan mata.
Karena kalau kakek itu tidak menyentil telinganya melainkan menyentil matanya, tentu dia buta seketika dan hancur, tidak tahu apa yang terjadi.
Tanda kedudukan mereka saat itu satu-satu!
Maka Bu Kong yang segera menghela napas dan memandang kagum kakek ini, sudah menjura dan balas memuji lawan.
"Dan kau juga benar-benar hebat, locianpwe. Aku tidak berani mengakui kelebihanku di depanmu, si orang tua...!" Bu-beng Siauw-jin tertawa bergelak.
Dia tahu Pendekar Gurun Neraka merendah kepadanya.
Memaklumi, bahwa kalau mereka sudah sama-sama tahu ilmu silat lawan, tentu tidak akan sebegitu mudah baginya mencabut sehelai rambut di telinga pendekar itu, yang belum tahu akan kelebihan dan kekurangan lawan.
Tapi gembira bahwa pendekar ini ternyata bukan seorang sombong dan bicara jujur, maka Bu-beng Siauw-jin pun merasa bangga dan puas bukan main.
"Dan kau benar-benar juga mengagumkan hatiku, Pendekar Gurun Neraka. Sinkangmu hebat dan terus terang, aku si tua bangka ini tidak berani mengakui kelebihanku di depanmu!" Bu Kong tersenyum pahit.
Dia melihat si Naga Bongkok itu sudah menyambar Sin Hong, lalu memandang mereka semua. Kakek ini melanjutkan seruannya, "Dan bagaimana sekarang dengan maksudku, Pendekar Gurun Neraka? Boleh dia kubawa sebagai muridku?" Untuk ini Pendekar Gurun Neraka tidak segera menjawab.
Dia tidak tahu duduk persoalannya, mengerutkan alis sedikit tidak senang.
Tapi Sin Hong yang sudah melompat ke depan tampil bicara, "Aku akan menepati janjiku, Ayah. Aku kalah bertaruh dengan kakek ini!" "Hm, soal apa, Hong-ji?" sang ayah terheran.
"Soal kong-kong!" "Soal kong-kong?" Pendekar Gurun Neraka mengangkat keningnya, terbelalak tapi juga terkejut.
Dan belum dia bertanya, si Naga Bongkok pun sudah tertawa menjelaskan duduk persoalannya.
"Ya, soal Ciok-thouw Taihiap, Pendekar Gurun Neraka. Betapa ayah mertuamu itu pilih kasih dan berat sebelah terhadap Sin Hong!" Bu Kong terkejut.
"Ada apa dengan ayah mertuaku itu, locianpwe? Kau tidak melempar fitnah di sini?" "Ha-ha, si tua bangka ini, jelek-jelek bukan tukang fitnah, Pendekar Gurun Neraka. Gak-humu (ayah mertua) itu memang tidak dapat dibenarkan sikapnya. Dia bertindak tidak adil terhadap dua orang cucunya sendiri!" Bu Kong semakin terkejut.
Tapi Ceng Bi yang sudah maju ke depan memberikan penjelasan yang membuat pendekar ini terheran-heran, "Ya, Ayah bertindak berat sebelah pada Sin Hong, Koko. Ayah tidak adil terhadap dua orang cucunya sendiri!" "Soal apa?" "Soan-hoan-ciang. Dia memberi pelajaran ilmu silat itu pada Bi Lan tapi tidak pada Sin Hong. Dan akibatnya seperti sekarang ini, Sin Hong sakit hati pada kakeknya sendiri karena perbuatan Ayah yang tidak adil!" "Ah!" Pendekar Gurun Neraka berseru pendek.
"Jadi karena itu Sin Hong lalu kalah bertaruh, Bi-moi? Tetapi siapa yang mengetahui Bi Lan mendapat pelajaran dari kakeknya?" Bu-beng Siauw-jin maju sambil tertawa.
"Aku yang mengetahui hal ini, Pendekar Gurun Neraka. Gak-humu itu kulihat secara diam-diam mewariskan ilmu barunya di kamar Bi Lan!" "Begitukah, Bi Lan?" Pendekar Gurun Neraka memandang putrinya, terkejut dan tidak enak bahwa diam-diam ayah mertuanya mempunyai sebuah ilmu baru.
Ilmu silat yang tentu dipersiapkan untuk seseorang.
Mungkin untuk dirinya sendiri semenjak ayah mertuanya itu kalah dan penasaran pada sepuluh tahun yang lalu.
Dan Bi Lan yang tidak dapat memungkiri pertanyaan ini sudah menganggukkan kepalanya sambil terisak.
"Ya, kong-kong yang mengajarkan padaku ilmu silat itu, Ayah. Aku tidak berani bilang karena kong-kong melarang dan mengancam!" Pendekar ini tertegun.
Dia melihat Bi Lan sudah menangis di pelukan ibunya, takut dan khawatir dimarahi.
Sementara Ceng Han yang merah mukanya tampil ke depan dan menarik napas panjang.
"Yap-twako, aku sendiri menyesal mendengar ini semua."