Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 43

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 43

Tapi percayalah aku dan Bi-moi akan menegur ayah untuk ketidakadilan ini karena bagaimanapun juga ayah melanggar garis kebenaran!” Tapi Pek Hong menolak halus, “Tak usahlah, saudara Ceng Han. Kupikir bahwa apa yang dilakukan ayahmu pasti ada sebab-sebabnya!” “Hm, tapi apapun sebabnya tak pantas hal itu dilakukan ayah, adik Hong. Karena anakmu juga berarti anak adikku, berarti juga cucu ayah yang tidak boleh dipandang berat.” Pek Hong masih membantah, “Tapi mungkin ilmu silat itu lebih tepat untuk Bi Lan. Han-twako. Karena Soan-hoan-ciang mungkin lebih tepat untuk perempuan daripada laki-laki!” “Hm, bagaimanapun juga aku tetap tidak puas, adik Hong. Akan kutanyakan pada ayah, kalau kemungkinan itu ada!” Bu-beng Siauw-jin tiba-tiba menyela, “E-eh, sudahlah, orang-orang muda. Yang jelas maksudku tak ada yang menghalangi, bukan? Atau si tua bangka ini masih harus menghadapi sebuah ujian lagi?” Kakek itu menyeringai, melirik Pendekar Gurun Neraka dan bersiap-siap menghadapi pertempuran, kalau pendekar itu menolak! Tapi Pendekar Gurun Neraka, yang seketika muram mukanya dan masih terkejut oleh berita baru ini, sudah mengulapkan lengannya. “Kalau Sin Hong sudah berjanji padamu, aku tak akan menolaknya, locianpwe. Tapi bagaimana pendapat ibunya, harap kautanyakan dulu!” “Wah, kau membiarkan aku membawa anakmu sedemikian gampang, Pendekar Gurun Neraka?” “Karena ikatan janji, locianpwe. Dan aku tak akan membiarkan anakku menarik janji atau menjilat ludah sendiri kepadamu, si orang tua!” Bu-beng Siauw-jin tertawa bergelak. “Pendekar Gurun Neraka, kau tak sangsi pada ilmu kepandaianku? Bagaimana kalau Sin Hong kukecewakan?” “Hm, dari gebrakan tadi cukup kuketahui sampai di mana ilmu kepandaianmu, locianpwe. Kau boleh melatihnya ilmu silat, tapi beri pula kesempatan padaku untuk kelak melatihnya pula mewarisi ilmu silat keluarga!” Bu-beng Siauw-jin mendecak kagum. “Pendekar Gurun Neraka, kau benar-benar mengagumkan sekali. Baru kali ini aku, si tua bangka, mendengar orang bicara jujur tentang ilmu silat orang lain. Baiklah, aku tak akan mengecewakan anakmu. Sin Hong sengaja kubawa untuk mewarisi ilmu silat ciptaanku guna menandingi Soan-hoan-ciang Pendekar Kepala Batu, haha…” Pendekar Gurun Neraka mengerutkan alis. “Kau hendak mengadu anakku dengan kakeknya, locianpwe?” “Ha, jangan salah paham, Pendekar Gurun Neraka. Yang akan kuadu adalah ilmu silatnya. Bukan orangnya!” “Lalu kalau begitu kapan Sin Hong akan kaubawa kembali?” “Sepuluh tahun, Pendekar Gurun Neraka. Demikian isi perjanjian kami berdua!” Pendekar Gurun Neraka terkejut sejenak. Dia melihat Sin Hong tersipu memandang mereka, bingung tapi juga gembira. Tapi begitu dia menganggukkan kepalanya, sekonyong-konyong Bu-beng Siauw-jin menjejakkan kakinya menerobos keluar. “Pendekar Gurun Neraka, terima kasih. Aku tak akan mengecewakan kau dan isterimu. Selamat tinggal!” Dan Bu-beng Siauw-jin, yang tiba-tiba lenyap dari ruangan itu, sudah tertawa bergelak di bawah gunung. Mereka semua terbengong. Tapi Pek Hong, yang mengejar keluar, berteriak lemah, “Hong ji, hati-hati. Jaga dirimu baik-baik, nak…!” Dan di bawah gunung terdengar seruan Sin Hong, “Aku akan mengingat nasihatmu, ibu. Terima kasih…!” Dan semua orang tertegun. Mereka tak melihat lagi bayangan si kakek bongkok dan Sin Hong. Tapi Bi Lan, yang rupanya paling terpukul oleh kejadian ini, tiba-tiba meloncat turun gunung, mengejar Sin Hong sambil menangis! “Hong-koko, maafkan aku… aku tak setia sebagai saudara!” Ceng Bi kaget. Ia melihat Bi Lan tiba-tiba seperti anak bingung, meluncur dan jatuh bangun di semak-semak belukar dalam usahanya mengejar Sin Hong. Tapi belum sang ibu mencegah anaknya, tahu-tahu Pek Hong sudah mendahului berkelebat ke depan. “Lan-ji, kembali. Kakakmu tak apa-apa…!” Bi Lan masih nekat. Dia meracau tak keruan, jatuh bangun dan memanggil-manggil kakaknya. Tapi Pek Hong, yang sudah menyambar anak ini, melayang berjungkir balik kembali ke tempat semula. Tapi begitu ia menyerahkan anak ini pada ibunya, mendadak Bi Lan lunglai dan pingsan di pangkuan Ceng Bi. “Ah, Bi Lan terpukul jiwanya, Bi-moi. Kaubawa dia ke dalam dan istirahatkanlah!” Ceng Bi mengangguk. “Ya, dan maafkan aku, enci Hong. Gara-gara ayah semuanya ini terjadi!” “Ah, sudahlah. Semuanya sudah lewat, Bi-moi. Bagaimanapun Sin Hong mendapat guru yang dapat diandalkan.” Ceng Bi mencium pipi madunya. Ia terisak dan terharu melihat keadaan encinya ini, tapi Bi Lan yang membutuhkan perawatan segera dibawa ke dalam dengan muka muram. Sementara Ceng Han, yang tak enak hatinya oleh kejadian itu, tiba-tiba membungkukkan tubuh di depan Pek Hong. “Adik Hong, maafkan kejadian ini. Aku benar-benar menyesalkan sekali perbuatan ayah. Aku akan kembali dan menegurnya setelah Yap-twako datang melindungimu. Tugasku sudah selesai!” Pek Hong terkejut. “Kenapa buru-buru, Han-twako? Biar kau di sini dulu. Tak perlu masalah itu kaulanjutkan pada Souw-locian-pwe!” “Hm, tapi gara-gara perbuatannya kau sampai berpisah dengan anak, adik Hong. Bagaimanapun aku jadi malu kepadamu!” “Ah, tapi ini persoalan kecil, Han-twako. Bagaimanapun aku tak merasa tersinggung oleh semuanya ini.” “Tidak, aku tetap akan pulang, adik Hong. Aku tak enak oleh perbuatan ayah!” Lalu menghadapi Pendekar Gurun Neraka, Ceng Han sudah menjura penuh sesal. “Yap-twako, maafkan aku. Bagaimanapun juga, aku harus kembali setelah kau datang. Kuharap tak ada sesuatu yang menyulitkanmu setelah bertemu dengan sri baginda. Tapi kalau ada apa-apa, beritahulah aku. Aku siap membantumu!” Pendekar ini mengangguk. “Baiklah, saudara Ceng Han. Tapi aku setuju dengan pendapat isteriku. Sebaiknya tak perlu kau menegur ayahmu untuk urusan ini. Gak-hu tentu punya alasan sendiri yang mungkin tidak kita ketahui.” “Hm, tapi bagaimanapun juga ayah membuat aku malu, Yap-twako. Keras atau lunak, aku tetap akan menegurnya. Sudahlah, biarkan aku pergi dan selamat tinggal…!” Dan Ceng Han, yang sudah memutar tubuhnya, tiba-tiba menjejakkan kaki berkelebat lenyap. Dia tak mau lagi membicarakan persoalan ini, dan Pek Hong, yang menarik napas oleh sikap kakak iparnya itu, berseru nyaring, “Han-twako, salamku untuk adik Cui Ang di rumah…!” Ceng Han mengangguk. Dia mengucap terima kasih, lalu tubuh putera Pendekar Kepala Batu yang sudah meluncur turun ini tak nampak lagi bayangannya dari atas. Pek Hong dan suaminya termangu, tapi begitu menarik napas dan saling pandang, akhirnya Pendekar Gurun Neraka memeluk isterinya yang berlinang air mata ini, teringat Sin Hong! Lalu membawa masuk dengan muka muram, mereka berdua sudah menemui Ceng Bi di kamar Bi Lan. Siauw-cut sudah keluar dari gua di bawah jurang. Mukanya berseri, lengannya kian bergaya setelah dia mempelajari ilmu sinkang "Menghimpun Seribu Naga" itu, atau mungkin lebih tepat kalau dikata bahwa dia amat gembira setelah bertemu dengan manusia dewa Bu-beng Sian-su itu. Dan anak yang sudah keluar dari Lembah Cemara untuk memulai perjalanannya ini mencari pendekar pedang berjuluk Bu-tiong-kiam di mana saja dia dapat. Tapi Siauw-cut mengerutkan kening. Kalau tidak bertanya kepada seseorang, mana mungkin dia dapat menemui pendekar itu? Maka langkah kakinya yang mantap ketika memasuki sebuah dusun membuat anak ini gembira sekali untuk memulai pencariannya. Tapi Siauw-cut terheran. Dan sementara dia celingukan ke sana ke mari, mendadak seorang laki-laki dilihatnya sedang tiduran di atas akar sebuah pohon, menutupi mukanya dengan sebuah caping bambu. “Eh, lopek, kenapa dusun ini sepi? Kemana penduduknya yang lain?” Siauw-cut sudah menghampiri laki-laki yang tiduran ini dengan pertanyaannya yang nyaring, membangunkan orang tak dikenal itu dengan suara lantang. Tapi si laki-laki bercaping, yang tampaknya tidur menikmati hembusan angin yang sejuk menyegarkan, tak mendengar pertanyaan itu. Dia tidur tak bergerak, seakan mati. Dan Siauw-cut yang mendongkol oleh seruannya yang tak mendapat jawaban, tiba-tiba menepuk pundak laki-laki itu dengan keras. “Lopek, bangun! Kenapa dusun ini sepi?” Laki-laki itu terkejut. Dia menggeliat, mengeluarkan keluhan perlahan seperti orang mengigau, tapi tidak bangun. Dan Siauw-cut yang gemas oleh sikap orang itu, tiba-tiba merenggut caping yang menutupi muka itu lalu membentak, “Lopek, kau tuli? Kau… ah…!” Siauw-cut tertegun. Dia langsung menghentikan seruannya itu, terbelalak dan tiba-tiba mundur selangkah melihat muka orang yang sudah tidak tertutup caping lagi. Lalu begitu sadar dan mengenal orang yang tiduran ini, mendadak Siauw-cut membuang caping dan mengomel, “Locianpwe, kau kiranya? Kenapa kau ada di sini?” Laki-laki itu melompat bangun. Dia terkekeh, mengejap-ngejapkan mata melihat kehadiran bocah ini. Tapi melihat Siauw-cut memandangnya tak senang, laki-laki itu pun berseru, “Wah, kenapa marah kepadaku, Siauw-cut? Siapa yang mulai datang mengganggu?” Siauw-cut membanting kakinya. “Kau menguntitku lagi, locianpwe? Kau tak ingat janjimu padaku?” Laki-laki ini tertawa. Dia bukan lain adalah Kun Seng, kakek yang dulu bertemu di kuil Tee-kong-bio itu. Dan melihat Siauw-cut membanting kakinya dengan marah, diapun memungut caping dan menepis-nepis pakaiannya. “Anak baik, sabar dulu. Siapa yang menguntitmu dan siapa pula yang melupakan janji? Aku tidak menguntitmu. Aku sudah ada di dusun ini sebelum kau tiba!” Siauw-cut tertegun. Dia melihat kakek itu benar-benar, tak dapat dibantah. Maka tersenyum melunakkan sikapnya, diapun mendekati laki-laki tua ini, membantu membersihkan pakaiannya dari debu tapi masih mengomel, “Baik. Kau memang lebih dulu di sini daripada aku, locianpwe. Tapi kenapa kau datang ke tempat yang justru hendak kudatangi? Bukankah kau sengaja hendak bertemu kembali?” “Wah-wah, omongan apa ini, Siauw-cut? Kenapa menuduhku seperti itu? Siapa yang sengaja hendak menemuimu?” Siauw-cut menjengek. “Kau berkepandaian tinggi, locianpwe.”

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment