Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 44

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 44

"Tentu mudah mengetahui jejakku dan pura-pura bertemu!" Si kakek mengerutkan kening, kali ini tampak tidak senang.

"Siauw-cut, jangan berprasangka seperti itu kepadaku. Meskipun aku mengaku senang padamu, jangan kira aku suka menjilat ludahku sendiri. Aku sedang menunggu seseorang, karena itulah aku datang ke sini!"

"Hm, siapa, Locianpwe?"

"Si Golok Hitam, raja rimba yang mengancam keselamatan penduduk dusun!"

"Ah, seorang perampok, Locianpwe?"

"Ya."

"Dan kau akan melawannya?"

"Bukan melawannya, melainkan menghajarnya, Siauw-cut. Si Golok Hitam itu sudah berkali-kali memeras dan merampok rakyat jelata!"

Siauw-cut tertegun. Untuk kedua kalinya dia melihat kegagahan pada kakek ini; pertama di kuil Tee-kong-bio saat kakek itu mengubur mayat para tosu, dan yang kedua adalah sekarang, saat dia membela penduduk dusun dari keganasan seorang perampok. Maka, Siauw-cut yang merasa tertarik segera menjadi gembira.

"Dan kau akan menghadapinya seorang diri, Locianpwe? Dia tidak berkawan?"

"Hm, Si Golok Hitam punya lima puluh anak buah, Siauw-cut. Tapi aku akan menghajar semua tikus busuk itu sampai tobat!"

"Seorang diri?"

Mata si kakek bersinar. "Kenapa kau tanyakan ini? Kau mau membantuku?"

Siauw-cut tertawa. "Kau tahu aku tidak pandai bersilat, Locianpwe. Tapi berkat jasamu, aku telah bertemu dengan Bu-beng Sian-su. Aku akan mencoba-coba menghajar Si Golok Hitam itu dengan ilmu baruku!"

Si kakek terbelalak. "Kau bertemu kakek dewa itu? Apa yang kau pelajari?"

"Ilmu tenaga dalam, Locianpwe. Sian-su bilang aku dapat menjadi sekuat seribu ekor naga kalau tekun melatih ilmu ini!"

"Ah, dan berapa lama kau telah melatih ilmu itu?"

Muka Siauw-cut agak memerah. "Baru seminggu, Locianpwe. Tapi hasilnya telah dapat kurasakan!"

Si kakek tertawa terbahak-bahak. "Ha-ha, mana bisa latihan seminggu dipakai melawan Si Golok Hitam, Siauw-cut? Kau bodoh, kau tidak tahu tingginya langit dan dalamnya bumi. Golok Hitam tidak dapat dilawan dengan ilmu barumu kalau masih mentah seperti itu!"

"Tapi aku akan mencobanya, Locianpwe. Aku percaya pada kesaktian Bu-beng Sian-su yang dapat berjalan di udara!"

"Hm, tapi itu Bu-beng Sian-su, anak bodoh. Dia sendiri sudah puluhan tahun melatih ilmunya hingga mencapai kesaktian setinggi itu. Mana mungkin kau menandinginya dengan cara begini? Si Golok Hitam pasti akan merobohkanmu sebelum kau menyerang!"

Siauw-cut merasa tersinggung. "Tapi aku tidak takut, Locianpwe. Aku akan mencoba dan mempraktikkan ilmu dari kakek dewa itu!"

"Benar, tapi ilmu yang kau dapatkan bukan ilmu silat, Siauw-cut. Ilmu itu hanyalah ilmu tenaga dalam yang khusus melatih kekuatan jiwa atau pernapasan. Kau diajarkan melatih napas, bukan?"

"Ya."

"Nah, itu belum dapat dipergunakan untuk bertempur, Siauw-cut. Karena untuk bertanding, yang diperlukan adalah ilmu silat, teknik memukul, atau menangkis pukulan."

"Jadi kalau begitu, ilmu tenaga dalam ini tidak berguna?"

"Hm, tentu saja berguna, anak bodoh. Tapi penerapannya dalam pertandingan membutuhkan suatu teori dan teknik yang diatur sedemikian rupa hingga ilmu silat dan ilmu tenaga dalam dapat disatukan untuk memperoleh kemenangan."

Siauw-cut agak kecewa. Dia merasa ilmu yang diperolehnya dari Bu-beng Sian-su direndahkan. Namun, lelaki tua yang sedang mengelus jenggot pendeknya itu tersenyum.

"Siauw-cut, jangan kecil hati. Aku tidak bermaksud merendahkan ilmu tenaga dalammu itu. Tapi betulkah kau bersungguh-sungguh hendak membantuku melawan Si Golok Hitam?"

Siauw-cut terlanjur dongkol. "Aku tidak bersemangat lagi sekarang, Locianpwe. Biarlah kau saja yang menghadapi Si Golok Hitam itu, dan aku akan menonton dari pinggir!"

"Wah, kau merajuk?"

Siauw-cut merengut.

"E-eh, jangan begitu, anak baik. Aku tidak bermaksud melukai hatimu. Sudahlah, bagaimana kalau kubayar kesalahanku ini dengan sebuah pelajaran darurat?"

"Apa maksudmu?"

"Kau bantu aku menghadapi Si Golok Hitam itu, Siauw-cut. Tapi pelajari dulu tiga jurus ilmu silat rantingku ini."

"Ilmu silat ranting?"

"Ya, cukup menggunakan ranting saja, tidak perlu pedang! Kau setuju, bukan?"

Namun anak itu menggeleng. "Aku tidak ingin mempelajarinya, Locianpwe. Toh tentu akan kalah karena baru saja belajar! Bukankah kau bilang bahwa pelajaran yang baru beberapa hari tidak mungkin dipakai menghadapi lawan? Apalagi kalau baru beberapa jam. Tidak, aku tidak tertarik pada tawaranmu. Biarlah aku menonton saja di pinggir!"

Si kakek tertegun. "Kalau begitu, aku juga tidak akan menghadapi Golok Hitam itu, Siauw-cut. Biarlah mereka menghajar dan membunuhku!"

"Kenapa begitu?"

"Karena kau tidak mau memaafkan aku. Tak mau menerima penyesalan si tua bangka ini dan membuatku kecewa!" Kakek itu memutar tubuh, membanting pantatnya, dan tiba-tiba telentang lagi dengan caping menutupi mukanya. Dia marah!

Siauw-cut terkejut melihat sikap kakek ini. Dia menarik napas, merasa bahwa dia sudah kelewatan terhadap orang tua itu yang bagaimanapun juga selalu bersikap baik padanya sejak perjumpaan pertama mereka di kuil Tee-kong-bio. Bahkan kakek inilah yang menyambung lengannya yang patah dan menjadi penunjuk jalan untuk bertemu dengan Bu-beng Sian-su. Kenapa dia harus berlebihan?

Maka Siauw-cut menghampiri dan menyentuh lutut kakek itu, tersenyum kecut, dan mengubah sikapnya. "Locianpwe, maafkan aku. Aku tidak bersungguh-sungguh ingin membuatmu kecewa."

Tapi si kakek masih uring-uringan. "Kau tidak perlu minta maaf, Siauw-cut. Yang salah adalah si tua bangka tolol ini!"

"Ah, jangan begitu, Locianpwe. Kalau mau dibilang salah, aku juga ikut bersalah. Kita berdua salah. Sudahlah. Bagaimana dengan ilmu rantingmu itu? Boleh aku lihat?"

Kakek itu membuka capingnya. "Kau hanya mau melihat saja? Tidak mempelajarinya?"

"Hm, kalau itu dapat membantu mengusir Golok Hitam, tentu saja aku mau mempelajarinya, Locianpwe. Kenapa kau cemberut melulu?" Anak itu tertawa.

Kun Seng akhirnya melompat bangun. "Siauw-cut, sialan kau! Kenapa harus membuatku uring-uringan dulu? Apa memang begitu watakmu sebelum menggoda orang lain?"

Anak itu tertawa lebar. "Locianpwe, jangan naik pitam dulu. Aku tidak bermaksud menggoda orang lain ataupun menggodamu. Siapa yang pantas disebut sial? Sudahlah, aku mau mempelajari ilmu rantingmu itu, tapi dengan satu syarat: kau harus membantuku mencari seseorang! Kau setuju?"

Kakek itu mengerutkan kening. "Siapa yang kaucari, Siauw-cut? Kenapa kau bersikap seolah-olah aku berutang padamu, padahal aku yang memberimu ilmu silat?"

"Hm, aku sekadar memuaskan hatimu, Locianpwe, agar kau tidak begitu kecewa saat memberiku pelajaran tiga jurus ini. Tapi ini tidak bermaksud mengikat kita sebagai guru dan murid, bukan?"

Kun Seng mengangguk sambil tersenyum masam. "Ya, boleh kau katakan begitu. Tapi siapa yang ingin kaucari?"

"Seorang pendekar pedang!"

"Pendekar pedang?"

"Ya."

"Siapa yang menyuruhmu?"

"Bu-beng Sian-su. Kakek itu yang menyuruhku mencari orang ini sebelum aku diangkat sebagai muridnya!"

"Ah, siapa pendekar yang disuruh cari itu, Siauw-cut?"

"Kau mungkin kenal, Locianpwe. Julukannya, hm..." Siauw-cut berhenti sebentar. "Julukannya aneh. Katanya berjuluk Bu-tiong-kiam... Si Pedang Dalam Kabut!"

Kakek itu berseru tertahan, tampak kaget. "Apa, Siauw-cut? Si Pedang Dalam Kabut?"

"Ya, demikian julukannya, Locianpwe. Kau kenal dia?"

Kun Seng tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Dia sampai menekan perutnya yang berguncang-guncang, memandang bocah itu dengan penuh kegelian. Namun, melihat Siauw-cut memandangnya dengan marah, kakek itu tiba-tiba menghentikan tawanya. Dia terengah-engah sambil menghapus dua butir air mata yang jatuh di pipinya, lalu menyeringai kecut.

Kakek itu kemudian menjura dalam-dalam di depan anak ini dan bicara dengan suara serak, "Siauw-cut, maafkan si tua bangka ini. Aku tidak menyangka Bu-beng Sian-su menyuruhmu mencari pendekar pedang itu. Tapi tahukah kau apa sebabnya Bu-beng Sian-su menyuruhmu mencari pendekar ini? Apa maksudnya?"

Siauw-cut memandang aneh. "Aku tidak tahu, Locianpwe. Tapi kenapa kau tertawa terbahak-bahak mendengar permintaanku? Kenalkah kau pada jago pedang itu?"

Kakek itu tersenyum pahit sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ya, ya, aku kenal jago pedang itu, Siauw-cut. Aku kenal baik padanya dan tahu pula di mana dia berada!"

"Ah, kalau begitu kau dapat membantuku, Locianpwe?" Siauw-cut menjadi girang.

"Tentu saja, anak baik. Tapi jangan sekarang. Kau tahu aku harus menghadapi si Golok Hitam, bukan?"

"Ya, dan aku juga harus mempelajari ilmu silat rantingmu, Locianpwe!" Siauw-cut gembira. "Karena itu, boleh kau turunkan sekarang juga kalau kau suka!"

Kakek itu menyeringai. "Baik, tapi bagaimana kalau urusan ini selesai, Siauw-cut? Maksudku, bagaimana kau akan mencari pendekar pedang itu? Apakah seorang diri saja setelah kuberi tahu alamatnya?"

Anak itu tertegun. Dia melihat sepasang mata kakek itu menyembunyikan sinar yang aneh, sebuah harapan terselubung yang tidak diketahui maksudnya. Dia merasa kakek itu ingin bersamanya, tetapi tidak mengungkapkannya karena takut melanggar janji. Karena merasa tidak ada salahnya ditemani kakek ini, Siauw-cut tiba-tiba tersenyum.

"Locianpwe, kali ini aku ingin kau temani. Maukah kau bersamaku mencari Bu-tiong-kiam?"

Kakek itu terbelalak. "Kau mengajakku? Kau tidak menuduh si tua ini melanggar janjinya?"

"Hm, kau tidak melanggar janji, Locianpwe," Siauw-cut tertawa. "Kau tidak mengikutiku, melainkan aku yang memintamu untuk menemaniku!"

"Baik!" Wajah si kakek berseri-seri.

Tetapi sebelum dia melanjutkan seruannya, Siauw-cut buru-buru memotong, "Tapi itu terbatas untuk beberapa waktu, Locianpwe. Artinya, jika pendekar pedang itu sudah kutemui, maka kita harus berpisah lagi!"

Kakek itu tertawa. "Boleh, Siauw-cut. Aku si tua bangka ini menurut saja. Tapi kenapa agaknya kau tidak senang lama-lama bersamaku? Tidak sukakah kau bersahabat denganku, Siauw-cut?"

"Hm, bukan begitu, Locianpwe. Tapi... tapi terus terang saja, ada sesuatu yang kutakuti darimu!"

"Eh, apa yang kau takuti? Apakah si tua ini bertampang jahat?" Kun Seng terbelalak, heran memandang anak itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment