Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 45

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 45

Tapi Siauw-cut yang menyeringai gugup berkata bingung, "Tidak... tidak... bukan begitu, locianpwe. Tapi ada sesuatu yang membuat aku serasa terikat denganmu. Nah, inilah yang aku tidak suka dan terus terang aku takut pada bisikan hatiku sendiri!" Kakek itu terbahak.

"Kalau begitu kau menyangkal bisikan hatimu sendiri, Siauw-cut. Sama seperti apa yang kurasakan pula!" Siauw-cut tertegun.

"Apa yang kaurasakan, locianpwe?"

"Seperti dirimu itu. Aku selalu ingin berdekatan denganmu dan terikat seperti hubungan anak dengan ayahnya!"

"Ah...!" Siauw-cut terkejut. Tapi anak ini sudah melengos ke samping.

"Locianpwe, tak usahlah kita bicara ini. Bagaimana sekarang dengan pelajaran ilmu silat itu?"

"Hm..." kakek ini sadar. "Kita teruskan, Siauw-cut. Aku akan memberimu contoh untuk mempelajari ilmu silat ini!" Lalu, tiba-tiba kakek itu melompat ke atas, dan dengan ringan mematahkan sebatang ranting di atas pohon.

Kemudian, turun dengan muka gembira, dia pun memberi aba-aba. "Siauw-cut, lihat ke sini. Aku akan memberimu pelajaran tiga jurus silat ranting. Setelah itu boleh kaupergunakan untuk merobohkan si Golok Hitam." Siauw-cut terbelalak.

"Merobohkan si Golok Hitam, locianpwe? Bukankah kau bilang...?"

"Ya, ya, tak perlu kauputus omonganku, anak bodoh. Ilmu silat yang akan kaupelajari ini adalah ilmu silat yang dipergunakan untuk menyerang lawan, menyerang dan menangkis. Lain dengan pelajaran lweekang yang sifatnya pasif itu. Nah, lihat baik-baik. Jurus pertama ini kunamakan Titseng (Tudingan Bumi Menyembah Bintang), ada empat gerakan yang menjadi pokok dasar dari jurus pertama ini. Yakni mula-mula mengumpulkan seluruh kekuatan di pergelangan tangan kanan lalu memecahnya di tiga bagian masing-masing pada ujung jari kaki kanan dan kiri serta pemusatan tenaga di daerah tan-tian (pusar). Kau telah mempelajari tenaga dalam, bukan? Nah, lihat, aku memberikan contohnya...!"

Dan Kun Seng, yang tiba-tiba membentak perlahan, tahu-tahu sudah berjungkir balik dengan ranting menekan tanah. Tubuhnya ditunjang batang ranting itu, yang sama sekali tak melengkung oleh berat tubuhnya. Dan Siauw-cut, yang terbelalak melihat demonstrasi ini, tak tahan untuk mengeluarkan seruan kagum.

"Ah, hebat, locianpwe. Tubuhmu ringan sekali!"

"Hm, jangan memuji, Siauw-cut. Kau pasang mata dan telinga untuk melihat gerakanku." Kakek itu malah membentak, menegur anak laki-laki ini dan mulai menggoyangkan kaki. Lalu begitu dia berseru keras dan menekan rantingnya, mendadak kakek ini sudah berjumpalitan di udara menggerakkan rantingnya. Siauw-cut melihat kakek itu mengelebatkan rantingnya lima kali berturut-turut, menusuk sebatang pohon yang ada di dekat situ. Lalu, begitu terdengar suara "cas-cis-cas" lima kali, tiba-tiba pohon itu mengeluarkan suara berkeratak dan... tumbang dengan lima lubang bekas tusukan ranting!

"Ah...!" Siauw-cut terkejut. "Luar biasa sekali, locianpwe. Hampir tak dapat kupercaya!" Dan kakek itu sudah berdiri kembali dengan kepala tegak. Dia memutar-mutar rantingnya dengan mulut tersenyum, tertawa kecil melihat mata anak laki-laki ini yang melotot ke depan. Tapi, melangkah maju dengan muka berseri, kakek itu sudah mengalihkan perhatian Siauw-cut dari pohon yang tumbang kepada gerakan tangannya.

"Itu baru jurus yang pertama, Siauw-cut. Masih merupakan demonstrasi ringan dari ilmu silatku ini. Sekarang lihatlah, aku akan melanjutkannya dengan jurus kedua dan ketiga. Jurus kedua kunamakan Henguh (Awan Berarak Hujan Mencurah) sedangkan jurus ketiga kunamakan Bu-tiong-boanseng (Bintang Bertaburan di Dalam Kabut)!" Siauw-cut tertegun.

"Buseng, Locianpwe? Kenapa mirip dengan nama jago pedang Bu-tiong-kiam itu?"

"Hm, hanya kebetulan sama nama, Siauw-cut. Ilmu silat boleh diberi nama sesuka hati, bukan?" Kakek ini mengelak, tertawa kecil dan sejenak terkejut oleh pertanyaan si bocah. Tapi Siauw-cut yang tidak curiga sudah membuatnya terang kembali.

"Nah, sekarang lihat, Siauw-cut. Aku akan melakukan jurus kedua dan ketiga ini. Kau perhatikan baik-baik. Pohon di sebelah kiri itu akan kubuat gundul dari atas ke bawah. Daunnya akan kurontokkan sampai habis. Kau lihai, bukan?" Siauw-cut mengangguk.

"Sekarang pasang mata dan telinga baik-baik, Siauw-cut. Aku akan memulai gerakanku, Awas...!" Dan begitu kakek ini membentak pendek, sekonyong-konyong tubuhnya berkelebat ke depan. Ranting di tangannya bergerak kembali. Hanya saja, jika yang pertama menusuk lima gerakan ke atas dan ke bawah, kali ini kakek itu menggerakkannya sedemikian cepat, membentuk tingkatan besar-kecil mirip awan di langit, bergelembung naik turun seperti bola yang bergumpal-gumpal.

Lalu, begitu dia melengking panjang, mendadak kakek ini sudah "terbang" di udara menari-nari dengan ranting hitamnya. "Siauw-cut, ini jurus kedua Henguh...!" Siauw-cut tercengang. Dia tak melihat lagi bayangan orang tua itu, berubah bentuknya dalam sinar hitam bagai awan yang memayungi bumi. Naik turun dan berarak melingkari titik pusatnya di tengah. Tapi begitu gumpalan awan ini diiringi bentakan menggeledek yang mengejutkan dari tengah bayangan, mendadak gumpalan awan itu meledak. Siauw-cut melihat awan yang bergumpal-gumpal ini sekonyong-konyong pecah, bertebaran, dan menipis ke pinggir. Lalu, begitu ledakan lenyap suaranya, tiba-tiba hujan mencurah dari balik gulungan awan hitam ini. Siauw-cut melihat titik-titik kecil yang ribuan jumlahnya, mirip "gerimis" di siang bolong. Dan sementara dia tercengang oleh semuanya ini, tiba-tiba kakek di dalam bayangan itu berteriak perlahan, "Dan ini jurus ketiga, Siauw-cut. Bu-tiong-boan-seng...!" Siauw-cut terpana. Dia melihat kakek itu tiba-tiba mengubah gerakan, menarik garis silang-menyilang dan sudut-menyudut saling potong dalam gerakan yang luar biasa cepat, mirip bintang di langit menggantikan kedudukan "hujan gerimis" yang kini lenyap entah ke mana. Lalu, begitu si kakek melengking tinggi dan berkelebatan cepat di balik gulungan awan hitam, mendadak bintang-bintang sudah bertaburan "membungkus" tubuh kakek ini, mencuat dan berpeletikan bagai kembang-kembang api di udara yang berkabut tebal.

"Ah, luar biasa, locianpwe. Mataku berkunang-kunang...!" Kakek itu tertawa pendek. Dia melihat Siauw-cut tiba-tiba terhuyung, mengeluh dan kabur pandangannya oleh gerakan "bintang" yang demikian cepat di depan hidungnya. Dan menyadari anak itu tak dapat mengikuti lagi semua gerakannya, tiba-tiba kakek ini melakukan gerakan terakhir dan berseru keras.

"Siauw-cut, aku menghentikan gerakanku, Lihat...!" Anak ini terbelalak. Dia terpengaruh benar oleh gerakan kakek itu, tak dapat melepaskan diri dari "bintang" yang bertaburan. Maka ketika si kakek berseru keras dan menghentikan gerakannya, tiba-tiba Siauw-cut mengeluh dan jatuh terduduk. Dia terlalu "kaget" oleh gerakan yang tiba-tiba berhenti itu, seakan disentak dari suatu keadaan yang membuatnya terbius. Siauw-cut tak sadar. Maka begitu kakek ini menghentikan gerakannya, tiba-tiba Siauw-cut mengeluh dan terbelalak tercengang. Dia melihat bintang-bintang di langit sudah lenyap. Begitu juga kabut tebalnya. Tapi ribuan daun yang tiba-tiba mengelilingi tubuh kakek ini dari segala penjuru membuat Siauw-cut terperanjat dan hampir tak dapat bicara. Lalu, begitu dia memandang ke kiri di mana sebatang pohon tumbuh tak jauh dari si kakek tua, sekonyong-konyong anak ini tertegun ketika melihat bahwa pohon yang dimaksud itu sudah gundul bagai orang yang "dicukur" rambutnya!

"Ah, ini... ini..." Siauw-cut tergagap. "Sungguh luar biasa, locianpwe. Sungguh menakjubkan...!" Akhirnya Siauw-cut bangkit berdiri dan dapat bicara, memandang kakek itu seperti orang memandang setan, tapi si lelaki tua yang sudah membuang rantingnya mengelus jenggot sambil tertawa lebar.

"Ini terlalu luar biasa karena kau belum dapat melakukannya, Siauw-cut. Kalau kau dapat melakukannya, tentu perbuatan ini tak akan kauanggap luar biasa!" Siauw-cut tercengang.

"Tapi ini menakjubkan hatiku, locianpwe. Sungguh tak kuduga ilmumu demikian hebat...!"

"Dan kau suka mempelajarinya?" Siauw-cut masih terkesima. Dia hanya mengangguk mendengar pertanyaan itu, tapi ketika dengan iseng dia memungut sehelai daun untuk mengetahui lebih lanjut, sekonyong-konyong tenggorokannya seret. Dia menelan ludah, memandang daun yang ternyata tidak utuh itu karena sudah berlubang-lubang "digigit" ujung ranting, agaknya terluka ketika kakek itu mendemonstrasikan jurusnya yang kedua, Henguh. Dan Kun Seng yang tertawa melihat keheranan anak ini menganggukkan kepalanya dengan senyum lebar.

"Ya, berlubang ketika aku mainkan jurus kedua itu, Siauw-cut. Terluka oleh serangan Hujan Mencurah!" Siauw-cut tercengang. Dia kagum bukan main oleh keterangan itu, dan Kun Seng yang melihat anak ini terpaku tak habis herannya sudah menepuk pundak si bocah sambil tertawa.

"Anak bodoh, apalagi yang kau lihat?" Siauw-cut sadar.

"Ah, aku terkesima oleh tiga jurus ilmu silatmu, locianpwe. Bagaimana bisa menjadi begitu hebat?"

"Ha-ha, tentu saja dengan latihan bertahun-tahun, Siauw-cut. Kau kira demikian mudah mempelajari ilmu ini? Dan aku masih punya empat jurus simpanan lagi, anak bengal. Kelak boleh kaupelajari kalau kau suka!" Siauw-cut terkejut.

"Masih ada empat jurus lagi, locianpwe? Jadi, semuanya...?"

"Ya, semuanya tujuh jurus, Siauw-cut," kakek itu memotong. "Tapi untuk mendapatkan ini semua, dibutuhkan waktu tidak kurang dari sepuluh tahun!" Siauw-cut tertegun.

"Demikian lama, locianpwe?"

"Apanya yang lama? Kau kira orang berlatih silat cukup satu dua hari?" Kakek itu bersungut, tapi akhirnya tertawa dan mencengkeram pundak anak ini, menyuruhnya memungut ranting.

"Sekarang kau yang ganti berlatih, Siauw-cut. Ambil ranting itu dan mulailah tiru segala gerakan-gerakanku tadi...!" Siauw-cut menarik napas. Dia mulai gembira mendapatkan pelajaran ini, ilmu silat ranting yang dirasanya hebat dan menakjubkan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment