Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 46

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 46

Maka memungut ranting di tangan kanan, Siauw-cut berseri memandang laki-laki tua itu.

"Locianpwe, aku tak hapal seluruh gerakanmu. Kauberi petunjuk dan ingatan kepadaku. Bagaimana caranya?" Kakek itu melangkah maju.

"Kau harus melakukan sikap pertama, Siauw-cut. Berjungkir balik dulu dengan ranting menunjang tubuh. Kau bisa melakukannya?" Siauw-cut mengangguk.

"Akan kucoba, lo-cianpwe..." Lalu, begitu menekan ranting, tiba-tiba anak itu melompat ke atas dan berjungkir balik seperti laki-laki tua itu. Berhasil!

"Ah, aku mampu melakukannya, locian-pwe!" Siauw-cut bersorak. "Tapi tenagaku bergetar di dalam perut..." Kakek itu tertegun. Dia tak menduga anak itu mampu melakukannya dengan sekali coba. Menekan ranting dengan tubuh jungkir balik di udara, masih bergoyang tapi sudah cukup baik. Bahkan terlampau baik untuk anak yang sama sekali belum pernah belajar silat!

Mendengar Siauw-cut bicara tentang tenaga yang bergetar di dalam perutnya, kakek itu terbelalak dan teringat cerita anak itu sendiri tentang latihan tenaga dalam yang dipelajarinya dari Bu-beng Sian-su. Itulah getaran sinkang yang mulai bekerja, yang membuat anak itu berhasil dalam pembukaan jurus pertama Titseng!

Maka laki-laki tua yang terkejut sekaligus gembira itu cepat memberi petunjuk. "Baik, sekarang pecah kekuatan di pergelangan tanganmu itu pada tiga tempat, Siauw-cut. Salurkan tenaga pada kedua ujung jari kaki dan biarkan yang di pusar bergolak!" Siauw-cut menurut. Dia merasa dengan jungkir balik seperti itu tiba-tiba ada dorongan hawa yang bergerak di perutnya, hawa sakti yang masih belum dikenalnya.

Tapi ketika kakek itu mulai memberi petunjuk-petunjuk dan dia melakukan apa yang diperintahkan, tiba-tiba gelombang hawa yang bergolak di perutnya itu mendadak "berjalan"! Siauw-cut hampir tertawa oleh keadaan yang dirasanya aneh ini, geli seperti ada kucing merayap di perutnya.

Tapi ketika Kun Seng membentak dan menyuruh anak itu bersikap serius, Siauw-cut menahan diri. Ada rasa sakit kalau dia tertawa, mungkin tenaga sinkang itu menyeleweng tak terkendali karena konsentrasinya hilang.

Tapi begitu dia mulai mengikuti petunjuk kakek itu, tiba-tiba ranting di tangannya bergetar hebat. "Nah, sekarang kau bisa mulai, Siauw-cut. Lakukan gerak ke depan dan tusuk udara lima kali berturut-turut. Balikkan tubuh dan dorong tangan kiri ke depan!" Siauw-cut mengikuti. Dia mengeluarkan bentakan pendek, sesuai perintah kakek itu.

Lalu begitu menekan ranting dan berjungkir balik di atas tanah, sekonyong-konyong ujung rantingnya menusuk udara lima kali berturut-turut dengan cepat. Gerakannya masih kaku, tapi suara bercuitan yang tiba-tiba muncul begitu dia menggerakkan ranting sudah membuat kakek itu terkesiap dan melompat mundur. Kaget!

"Ah, putar tubuhmu, Siauw-cut. Tusuk sekarang yang di sebelah belakang...!" Siauw-cut menurut. Dia mengikuti aba-aba kakek itu, dan begitu menggerakkan ranting menyerang udara, suara bercuitan itu semakin tajam terdengar!

Dan ini membuat Kun Seng memberi aba-aba berikut. "Dan sekarang serang sebelah kanan, Siauw-cut...!" Lalu ketika anak itu menyerang sebelah kanan, tiba-tiba dengan bentakan mengejutkan kakek itu membanting kakinya. "Sekarang putar ke kiri, Siauw-cut. Kerahkan semua tenagamu!"

Siauw-cut tersentak. Dia kaget oleh bentakan tiba-tiba itu, juga bantingan kaki yang membuat tanah bergetar. Maka lepas kontrol oleh semuanya ini, tiba-tiba dia tak dapat mengendalikan dirinya lagi. Tubuh yang diputar ke kiri secepat kilat disusul tusukan bertubi ke sasaran kosong, udara di sebelah kirinya.

Dan begitu terpengaruh bentakan si kakek untuk mengerahkan semua tenaganya, tiba-tiba ranting di tangannya tak kuat menahan remasan jari yang tiba-tiba keras bagai jepitan baja!

"Krek... pletak...!" Siauw-cut tertegun. Dia melihat rantingnya patah menjadi tiga potong, tak dapat dipakai lagi untuk melakukan serangan. Dan sementara dia terbelalak oleh kejadian ini, tahu-tahu tubuhnya kehilangan keseimbangan dan terguling roboh dengan tangan masih mendorong ke depan.

"Bluk," Siauw-cut mengeluh. Dia kesakitan menimpa batu di sebelahnya, mengenai pantat hingga dia meringis. Tapi Kun Seng yang tertawa bergelak oleh latihan pertama ini sudah melayang ke depan menyambar anak itu.

"Siauw-cut, luar biasa sekali. Kau telah memiliki tenaga sinkang yang mentakjubkan di dalam dirimu. Hayo bangun...!" Siauw-cut mendelong. "Apanya yang mentakjubkan, locianpwe? Masa jatuh begini kau bilang luar biasa?"

Kakek itu tertawa. "Jangan kecewa, anak bodoh. Justru dari latihan pertama ini kutahu apa yang harus segera kaulakukan. Hayo, bangkit lagi dan lanjutkan dengan jurus-jurus berikutnya!" Dan laki-laki tua yang tampak gembira itu sudah mematahkan sebuah ranting baru untuk diberikan kepada anak itu.

Siauw-cut mau mengomel. Tapi melihat kakek ini bersungguh-sungguh dan memandang penuh kegembiraan kepadanya, maka diapun terpaksa menahan diri dan tidak banyak bicara lagi. Apalagi ketika kakek itu mengingatkan datangnya si Golok Hitam, yang dikatakannya tak lama lagi muncul.

Maka Siauw-cut yang sudah disuruh mengulang jurus pertama dari ilmu ranting ini segera memulainya dan bersungguh-sungguh, tak banyak cakap lagi. Sementara Kun Seng yang bersinar-sinar matanya memberikan petunjuk, akhirnya merasa puas setelah melihat Siauw-cut hapal benar dengan jurus pertama itu. Dalam beberapa kali ulangan saja. Tak lebih dari tiga kali.

Lalu melanjutkan pada jurus kedua dan ketiga tanpa mengenal lelah, akhirnya Siauw-cut berhasil menguasai tiga jurus ilmu silat itu dalam waktu tiga jam!

"Nah, sekarang kau berhasil menguasai semuanya, Siauw-cut. Tapi ilmu silat ini masih harus kau latih tanpa mengenal lelah." "Dan Golok Hitam bisa kurobohkan, lo-cianpwe?"

Kakek ini tertawa. "Tergantung kecerdikanmu. Kalau kau pandai memainkan ilmu silat ini dan tidak terburu-buru, tentu perampok itu dapat kau kalahkan!" Siauw-cut sangsi. Dia tak begitu percaya pada omongan ini, karena dia baru saja mempelajari ilmu itu tak lebih dari tiga jam.

Tapi si kakek yang dapat membaca isi hatinya tiba-tiba berkata. "Siauw-cut, jangan kau remehkan ilmu silat ini. Meskipun baru tiga jurus saja, tapi orang-orang macam si Golok Hitam itu dan sebangsanya tak mungkin dapat mengalahkanmu. Kau ingin bukti? Nah, lihatlah. Orang yang kita tunggu-tunggu sudah datang...!"

Lalu begitu kakek ini menudingkan telunjuknya, tiba-tiba Siauw-cut mendengar pekik di sebelah utara disusul berderapnya banyak ekor kuda yang mendatangi tempat mereka. Debu mengepul tinggi di udara. Lalu begitu cambuk mulai terdengar menjeletar di udara, mendadak lima puluh orang muncul memasuki pintu gerbang dusun!

"Locianpwe, itu si Golok Hitam dan anak buahnya?" "Ya." "Dan mereka mau merampok isi dusun ini?" "Hm, penduduk dusun sudah kusuruh menyingkir, Siauw-cut. Mereka bersembunyi di dalam hutan di belakang dusun!" "Lalu apa yang kita lakukan?" "Menyambut mereka, Siauw-cut. Menghadang agar mereka tak memasuki dusun dan merampok harta milik penduduk!"

Siauw-cut tertegun. Dia melihat rombongan itu sudah teriak. Sementara pemimpinnya yang tinggi besar di atas seekor kuda putih yang lari paling depan tiba-tiba mencabut golok dan di udara dengan sikap menyeramkan, sebuah golok dari besi hitam yang berkilat mengerikan.

"Hei, tua bangka hina. Sudahkah kalian siapkan semua barang yang kami minta? Mana pendudukmu yang lain?"

Kakek itu tak menjawab. Dia menoleh ke kanan, lalu berbisik pada anak laki-laki di sampingnya itu. Kakek itu berkata, "Dia pemimpin rampok itu, Siauw-cut. Golok Hitam yang ahli memainkan golok. Kau hadapi dia dan pura-pura tidak tahu apa yang terjadi!"

Siauw-cut mengangguk. Dia tergetar sejenak oleh kegarangan kepala rampok ini, yang demikian bengis duduk di atas kudanya. Tapi Siauw-cut yang tersenyum mengejek tiba-tiba melompat maju dan menghadang rombongan itu, memalangkan rantingnya.

"Berhenti! Kalian ada apa ribut-ribut di sini, orang-orang kasar? Siapa kalian? Rombongan Golok Hitamkah?" Laki-laki tinggi besar itu terbelalak. Dia menghentikan kudanya di depan anak ini, terheran tapi juga marah. Namun tertawa dengan sikap menyeramkan, tiba-tiba kepala rampok itu melompat turun.

"Bocah, kau siapa dan apa maksudmu menghadang kami?" "Aku perantau jalanan, tikus besar. Kau kah yang berjuluk Golok Hitam?" Laki-laki itu terkejut. "Kau sudah tahu namaku dan tidak mau minggir? Siapa tua bangka itu? Di mana Lo Chungcu?"

Kun Seng yang menjawab, "Kepala dusun Lo muak bertemu denganmu, Golok Hitam. Karena itu dia minta padaku untuk menyambutmu di sini!" "Ah...!" Golok Hitam mundur. "Kau anjing pembantu Lo Chungcu?" "Hm, anjing Lo-chungcu atau bukan tak perlu kau tahu. Yang jelas aku ingin membuatmu anjing buduk yang tahu diri!"

"Keparat..!" Golok Hitam memekik, menyuruh anak buahnya turun dan tiba-tiba menuding dua orang di sebelah kanannya. "Kam Ti, Ci Hung, bunuh kakek ini dan robek mulutnya!" Tapi kakek Kun menyeringai. "Wah, jangan buru-buru Golok Hitam. Aku dilindungi muridku ini. Dia tentu tak membiarkan aku dibunuh anjing-anjingmu itu!"

Siauw-cut melangkah maju. "Benar kau tak boleh mengganggu yang tua dulu, Golok Hitam. Masih ada aku yang muda di sini." Golok Hitam mendengus. Dia melihat anak itu melindungi yang tua, tersenyum-senyum dan mengejek kepada mereka semua. Maka kepala rampok yang marah ini langsung membentak, "Kam Ti, bunuh dan singkirkan mereka berdua...!"

Dan dua orang laki-laki kekar yang sudah menghampiri Siauw-cut tiba-tiba mengayun golok ke dada anak laki-laki ini. Tapi Siauw-cut mengelak. Dia tak tahu Kun Seng tiba-tiba menolongnya dari belakang, menyentil dua butir kerikil ke pundak dua orang perampok itu yang kontan mengaduh karena lengan mereka kaku tertotok. Dan Siauw-cut yang mengira dua orang itu kesakitan tanpa sebab mendadak sudah mengayunkan rantingnya dan menendang paha orang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment