Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 47

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 47

"Tikus-tikus busuk, kalian menyingkirlah!" Dua orang itu menjerit. Mereka tentu saja ditendang roboh, bergulingan tunggang-langgang dengan muka kaget. Mereka tidak tahu apa yang terjadi dan kenapa pundak mereka tiba-tiba kaku tak dapat digerakkan.

Tapi mereka berdua, yang sudah melompat bangun dan merasa pundak sudah pulih seperti sedia kala, sekonyong-konyong menubruk beringas dengan jerit penuh kemarahan. "Setan cilik, kau mampuslah!"

Siauw-cut terkejut. Dia sebisa-bisanya melompat menghindari, kaget melihat kecepatan golok yang membabat pinggangnya. Tapi karena dia tergesa-gesa dan belum biasa dalam sebuah pertempuran, tiba-tiba kakinya tersandung batu. Akibatnya Siauw-cut tergelincir, dan begitu anak ini roboh, tahu-tahu golok menyerempet bajunya.

"Brett!" Dua orang itu berteriak gembira.

Siauw-cut terjerembap ke depan, tapi Kun Seng yang diam-diam menggerakkan tangan menotok dari jauh dengan kerikil hitam sudah membuat dua orang ini terpekik ketika lengan mereka kembali kaku tanpa sebab! Dan Kun Seng yang tertawa oleh kejadian itu sudah berteriak pada anak laki-laki ini, "Siauw-cut, rampas goloknya dan tendang selangkangan mereka!"

Siauw-cut mengangguk. Dia melompat bangun dengan cepat, tak menyia-nyiakan kesempatan saat lawan mematung di situ, tak tahu bahwa lengan mereka tertotok dan kaku tak dapat bergerak. Maka begitu menubruk dan menendang selangkangan lawan, dia pun sudah merampas golok dan membentak, "Tikus-tikus hina, robohlah kalian... Plak-dess!"

Dua orang itu menjerit. Mereka mengaduh hebat saat ditendang pada bagian yang amat rawan ini; selangkangan yang membuat mereka mulas dan sakit bukan main. Maka begitu ditendang kaki si bocah dengan dupakan keras, kontan mereka kelenger dan jatuh berdebuk di depan si Golok Hitam, tidak dapat bangun kembali!

"Ah...!" si Golok Hitam terbelalak.

Tapi sadar bahwa dua orang pembantunya keok demikian mudah, mendadak laki-laki ini menendang dua orang pembantunya itu hingga mencelat dan tersiksa lebih hebat, lalu pingsan. Sambil melompat ke depan dengan golok terangkat tinggi-tinggi, dia pun meraung dan membanting kakinya.

"Bocah hina, aku akan membunuhmu!" Sambil memberikan aba-aba pada anak buahnya yang lain, pemimpin rampok itu berteriak, "Manusia-manusia tolol, lanjutkan tugas kalian memasuki dusun. Biar aku membunuh dan memberesi dua orang ini!"

Semua perampok menganggukkan kepala. Mereka melompat kembali ke atas kuda dan berderap maju dengan pekik buas. Tapi baru saja mereka melompat ke atas kuda masing-masing, tiba-tiba sebuah bayangan berkelebat cepat. Mereka tak tahu bayangan siapa itu. Namun, begitu tangan bayangan itu menyentuh pantat kuda, mendadak binatang tunggangan itu meringkik dan... mendeprok roboh. Lumpuh!

Lalu saat semua orang menjerit dan terpelanting jatuh, tahu-tahu bayangan ini kembali ke tempatnya semula dan tersenyum-senyum. Kun Seng!

"Ah, kau yang melumpuhkan kuda-kuda kami, tua bangka?"

"Ha-ha, sekadar mencegah anak buahmu memasuki dusun, Golok Hitam. Lo-chungcu tak ingin kampungnya dikotori jejak-jejak kaki kalian."

Golok Hitam terkejut. Dia marah dan kaget melihat anak buahnya tak dapat menjalankan tugas karena kudanya lumpuh ditepuk kakek tua ini. Bukannya sadar bahwa kakek itu memiliki kepandaian hebat, kepala rampok ini malah memekik dan mengayunkan goloknya, membacok leher laki-laki tua itu.

"Tua bangka, kau tak tahu diri. Mencari mati, mampuslah...!" Golok yang menyambar keras ke arah laki-laki tua ini meluncur mengerikan bagai petir membelah angkasa.

Tapi kakek ini tertawa. Dia bersikap dingin, lalu berkelit mudah ke samping lawan. Tiba-tiba jarinya mengetuk pergelangan tangan lawan. "Golok Hitam, kau yang tak tahu diri. Pergilah...!"

Golok Hitam menjerit. Dia merasa ketukan kakek itu menimpa dahsyat mengenai tulang dan serasa meremukkan pergelangannya. Lalu sementara dia terpekik, tahu-tahu kakek itu mendupak pinggangnya dan dia melayang ke arah Siauw-cut.

"Siauw-cut, ambil rantingmu dan layani babi ini. Hajarlah dia!"

Siauw-cut mengangguk gembira. Dia melihat tadi perbuatan orang tua itu yang melumpuhkan semua binatang tunggangan para perampok dengan gerakan yang demikian cepat hingga hampir tak terlihat mata. Maka melihat kakek itu melempar tubuh si kepala rampok dan menyuruhnya menghadapi lawan, anak ini pun berbesar hati. Dia membuang golok dan mencabut ranting yang tadi tersisip di pinggang.

Begitu membentak dan menggerakkan rantingnya, tiba-tiba muka si Golok Hitam sudah disabet dan dihantam dengan lutut kanannya yang mengenai dagu lawan!

"Golok Hitam, cium lututku dulu baru bertempur... dukk!" Kepala rampok yang menjerit oleh hantaman lutut ini terbanting dan mengaduh hebat di atas tanah, nggelosor dengan mulut pecah, lalu terguling-guling sebelum melompat bangun. Dia marah bukan main.

Kemudian dengan menggereng dan muka beringas, laki-laki ini memutar goloknya hingga mengaung dan melompat ke depan. "Bocah hina, aku akan mencincang tubuhmu...!"

Siauw-cut tertawa. Dia tiba-tiba menekan rantingnya dan berjungkir balik di depan lawan. Hal itu membuat si Golok Hitam tertegun melihat anak ini menghadapinya dengan posisi kepala di bawah dan kaki di atas dengan ranting menopang tubuh! Namun sambil membentak dan mengira anak itu gila, mendadak laki-laki ini menerjang ke depan dengan pekik buas.

"Anak siluman, aku akan mencincang tubuhmu menjadi tiga potong...!"

Siauw-cut melejit. Dia tentu tidak mau dijadikan sasaran golok, maka dia melenting dan berjungkir balik dengan cepat kembali ke posisi semula. Lalu dengan menggerakkan ranting bertubi-tubi, dia menusuk dan mempergunakan jurus pertama, Tit-tepai-seng, untuk mengelak dan membalas serangan lawannya.

"Golok Hitam, jangan berkaok-kaok dulu. Telingaku bising...!"

Golok Hitam menerjang. Dia membacokkan goloknya ke tubuh anak itu. Tapi ketika Siauw-cut mengubah gerakan dan berdiri kembali di atas tanah sambil mengelak, otomatis golok lawan luput mengenai sasaran dan hanya menyambar angin kosong. Sementara lawan terbelalak oleh gerakan yang ringan tapi gesit, tahu-tahu ranting di tangan Siauw-cut sudah bergetar menjadi lima buah banyaknya dan menyerang dahi dari atas ke bawah!

"Prat-prat!" Golok Hitam meraung. Dia tidak dapat mengelak dari tusukan ranting itu karena bingung menentukan mana serangan yang sebenarnya; semuanya tampak sama. Maka ketika hidung dan mulutnya "dicolok" ranting, kontan kepala rampok ini menggereng dan mengumpat marah.

"Anak sundal, aku akan membunuhmu... aku akan mencincangmu. Keparat kau!"

Siauw-cut tertawa gembira. Dia girang melihat jurus pertamanya sudah berhasil mengenai lawan meskipun tidak melukai. Saat melihat Golok Hitam menghambur lagi dengan golok diputar cepat, dia pun berkelit dan memainkan jurus kedua dan ketiga, Heng-uh dan Bu-seng, menotolkan ranting dan membuat gerakan bagai bintang menari-nari.

Begitu mereka bergebrak, keduanya saling serang dengan sengit, terutama si Golok Hitam yang berkali-kali bacokannya luput karena dikelit lawan yang lincah. Siauw-cut tertawa melihat tiga jurus ilmu silatnya ternyata dapat dipakai menghadapi si Golok Hitam, lalu terkekeh gembira memainkan rantingnya.

Tapi Siauw-cut tiba-tiba tersentak. Golok Hitam mengubah gerakannya, berpusing dan memutari dirinya sambil bergulingan, sementara tangan kirinya mulai melancarkan pukulan-pukulan keras mengiringi serangan golok. Karena bingung serta belum banyak pengalaman bertanding, tahu-tahu dada Siauw-cut menerima tinju si Golok Hitam ketika dia lengah saat memandang si kakek tua untuk meminta petunjuk!

Siauw-cut roboh terbanting oleh pukulan ini. Tiba-tiba dia melihat lawannya mengangkat golok untuk dibacokkan ke lehernya. "Bocah hina, mampuslah...!"

Siauw-cut mencelos. Dia tentu tidak berani menangkis dengan rantingnya, senjata lemah yang pasti akan putus dibabat golok. Tapi Kun Seng yang tersenyum melihat ini mendadak berseru, "Siauw-cut, pergunakan getaran sinkangmu! Kenapa begitu tolol hanya mengelak saja? Salurkan tenaga di lengan, tarik hawa dari pusar, dan tangkis golok itu dengan rantingmu...!"

Siauw-cut tertegun. Dia tidak jadi mengelak karena sedikit bingung oleh seruan itu. Tapi karena percaya pada kakek ini dan golok sudah dekat dengan tubuhnya, tiba-tiba bocah ini menarik napas dan menggerakkan ranting untuk menangkis sekuat tenaga saat hawa sakti bergetar di lengannya.

Begitu ranting bertemu golok, terdengar suara keras. Golok itu terpental, namun ranting di tangan Siauw-cut patah menjadi dua bagian dibabat senjata si Golok Hitam!

"Crak!" Siauw-cut tertegun. Dia heran rantingnya dapat menahan golok lawan seakan-akan ranting itu berubah menjadi toya baja. Namun karena rantingnya patah, secepat kilat dia menggulingkan tubuh ketika Golok Hitam memekik dan kembali membacokkan goloknya ke arahnya yang sudah tak memegang senjata.

"Brett!" Siauw-cut mencelos kaget. Dia masih tidak dapat menyelamatkan diri sepenuhnya. Baju di pundak serta sedikit kulitnya terobek menerima bacokan karena kalah cepat!

Sementara dia melompat bangun dengan muka pucat, tahu-tahu si Golok Hitam kembali mengejar dengan senjata diangkat ke atas untuk membelah kepalanya. "Bocah siluman, aku akan membunuhmu sekarang...!"

Siauw-cut terbelalak ngeri. Dia tidak punya kesempatan mengelak karena baru saja bangun. Di tengah kebingungan menghadapi serangan ganas ini, mendadak kakek Kun mendorongkan lengannya.

"Anak bodoh, jangan bengong begitu. Kemarilah...!"

Siauw-cut mengeluarkan seruan kaget. Dia merasa disedot ke belakang, ditarik oleh tenaga tak tampak yang meluncur dari lengan kakek Kun. Saat dia terkesima, tahu-tahu golok di tangan lawan sudah menghantam batu di depannya. Dia selamat karena sudah "terbang" ke belakang akibat sedotan sinkang mukjizat si lelaki tua!

"Ah, kau bodoh, Siauw-cut. Orang bertanding tidak boleh bengong!" Siauw-cut tertegun.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment