Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 48

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 48

Dia terbelalak melihat bacokan si Golok Hitam yang dahsyat menimpa batu, terbelah menjadi dua seperti orang membacok agar-agar.

Dan sementara kepala rampok itu menjerit penuh kecewa karena sasarannya luput dan marah-marah, tiba-tiba Kakek Kun menepuk pundak anak ini dan menyisipkan sebuah golok, tertawa sambil mendorong anak itu. "Sekarang maju kembali, Siauw-cut. Gunakan golok ini dan robohkan lawanmu...!"

Siauw-cut menyeringai. Sekarang dia sadar dan berbesar hati oleh pertolongan Kakek itu, yang ternyata mampu menyelamatkannya dan tidak membiarkannya celaka di tangan musuh. Maka, tertawa dan tersenyum lebar oleh kenyataan ini, tiba-tiba Siauw-cut melompat maju dan membolak-balikkan goloknya.

"Golok Hitam, sekarang aku tidak akan memberimu ampun. Kita berdua sama-sama bersenjata tajam!" Laki-laki itu sudah menggeram. Dia melihat anak itu "disedot" si kakek tua, luput menerima serangan goloknya, dan kini maju dengan sebatang golok pula. Maka, marah dan gusar oleh semuanya itu, mendadak laki-laki ini menerjang ke depan dengan golok diputar cepat, mengaung bagai lebah mencari madu.

"Bocah setan, kau yang tidak akan kuberi ampun. Mampuslah...!"

Siauw-cut berjungkir balik. Dia langsung mulai mengulang kembali jurus pertama Titseng itu, menggerakkan golok menangkis dan balas menyerang, sekaligus mengerahkan pula getaran sinkang-nya itu untuk memperkuat cekalan golok. Dan begitu dia menangkis sambil memainkan ilmu silatnya dengan berbesar hati karena ranting sudah diganti golok, tiba-tiba lawan berteriak kaget ketika senjatanya terpental ke belakang, membentur tenaga dahsyat yang tiba-tiba muncul di lengan anak itu!

"Trang!" "Ah...!" Golok Hitam terkesiap. Dia melengking tinggi oleh gebrakan yang mengejutkan ini, tidak tahu dari mana anak itu mendapatkan tenaganya yang demikian hebat luar biasa. Namun, meraung dan memekik penuh kemarahan, tiba-tiba kepala rampok ini telah menghujani tubuh lawannya dengan serangan gencar. Bertubi-tubi dia menyerang anak itu, kiri-kanan, muka dan belakang. Bahkan berguling-guling pula seperti caranya tadi, berharap anak itu bingung menghadapi tingkahnya. Tapi Golok Hitam yang tidak mengetahui apa yang terjadi pada anak ini tiba-tiba dibuat kaget dan melongo.

Siauw-cut tiba-tiba saja seperti harimau yang tumbuh sayap. Mampu mengimbangi dan menangkis semua bacokannya, bahkan mengelak dan menyerang ganas, memutar golok dan bertubi-tubi "mematuk" tubuhnya, lebih gesit dan cekatan dibandingkan tadi, ketika memegang ranting! Dan Golok Hitam yang mengeluh melihat perubahan itu tiba-tiba pucat wajahnya ketika tangkisan-tangkisan anak itu semakin lama semakin membuat lengannya kesakitan, terasa pedih. Hampir melumpuhkan!

Dan ketika dia terbelalak dan mundur-mundur oleh serangan anak laki-laki ini, mendadak kepala rampok itu sudah terdesak hebat dan menjerit-jerit. Marah tapi juga gentar!

Sesungguhnya, apa yang terjadi pada pertempuran ini? Sederhana saja. Kisahnya dimulai dari rasa kurang percaya diri, karena ketika Siauw-cut masih memegang ranting dan belum tahu kehebatan ilmu silat kakek itu, dia merasa waswas dan kurang tenang. Bagaimanapun, Siauw-cut belum pernah mempelajari ilmu silat. Kecuali ilmu pernapasan (Iweekang) yang didapatnya dari Bubeng Siansu. Maka, begitu mendapat "warisan" ilmu silat yang banyaknya hanya tiga jurus dan baru pertama kali itu dia bertanding melawan seorang kepala rampok yang tinggi besar dan menyeramkan wajahnya, mau tidak mau anak ini tergetar juga. Kecut.

Tapi ketika dalam pertempuran pertama dia berhasil menandingi, setidaknya menahan serangan si Golok Hitam dengan ranting yang lemah di tangannya, maka anak ini terangkat kepercayaannya. Tapi kepercayaan ini pun tiba-tiba hampir padam. Yakni ketika rantingnya patah menangkis golok si kepala rampok itu, meskipun senjata lawan dapat pula dia pentalkan. Hasil dari getaran tenaga sakti-nya yang bergolak di tubuh, tenaga sakti yang sesungguhnya belum mahir benar digunakan anak ini. Karena, kalau Siauw-cut dapat menggunakan tenaga sakti-nya dengan betul, tentu rantingnya tidak akan patah. Bahkan mungkin senjata di tangan kepala rampok itulah yang patah bertemu tenaga sinkang seorang yang ahli! Tapi karena Siauw-cut memang belum tahu akan semuanya ini, maka tidak heran kalau dia berkecil hati menghadapi lawannya yang buas, setelah rantingnya patah.

Tapi Siauw-cut tiba-tiba gembira. Dia melihat Kakek Kun tidak membiarkannya celaka di tangan lawan. Berarti kakek itu akan selalu menyelamatkannya setiap kali ia dalam bahaya. Maka, mendengar kakek itu menyuruhnya maju kembali dan membekalinya dengan sebuah golok sebagai pengganti ranting yang patah, tiba-tiba Siauw-cut bangkit semangatnya dan berbesar hati! Dia maju dengan kepercayaan penuh. Yakin tidak akan terbunuh karena Kakek Kun akan membantunya setiap saat! Dan girang serta pulih kembali kepercayaannya yang menggebu-gebu, Siauw-cut tiba-tiba menjadi garang dan mantap sepak terjangnya. Hal ini membuat gejolak tenaga sakti-nya bangkit, tidak terkendali, didorong oleh semangat yang meluap dan rasa berbesar hati yang berlebih-lebihan.

Maka, begitu dia menyambut dan balas menyerang semua bacokan si Golok Hitam, tiba-tiba Siauw-cut telah memainkan tiga jurus ilmu silatnya dengan begitu baik dan sempurna. Satu hal yang belum tentu dapat dilakukannya dalam keadaan berkecil hati. Dan begitu dia memainkan tiga jurus ilmu silat ini dengan penuh kepercayaan diri yang berlebih-lebihan, mendadak tenaganya berlipat ganda sampai sepuluh kali banyaknya!

"Golok Tengik, robohlah...!" Laki-laki ini menggigit bibirnya. Dia dimaki Golok Tengik, bukan Golok Hitam. Dan melihat anak itu menggerakkan golok demikian rupa hingga mengaburkan pandangan karena ujung golok tiba-tiba "memercik" ke sana kemari menghujani tubuhnya, tiba-tiba kepala rampok ini bingung. Dia tidak tahu harus menangkis ke mana. Maka, nekat dan bingung oleh serangan Bintang Bertaburan itu, mendadak dia memutar goloknya dengan sembarangan, semampunya melindungi diri. Dan begitu membentur golok di tangan Siauw-cut yang berhamburan dari segala penjuru, mendadak kepala rampok ini berteriak ketika goloknya patah, tidak kuat bertemu tenaga Siauw-cut yang luar biasa. Lalu sementara dia terpekik dan golok lepas dari tangannya, tahu-tahu golok di tangan anak laki-laki itu sudah menyambar dan membabat lengannya.

"Cratt...!" Golok Hitam terpelanting roboh. Pangkal lengannya terkuak lebar, bahkan sebagian dada kirinya juga terluka, mengucurkan darah yang menyemprot segar. Dan Golok Hitam yang kaget oleh gebrakan terakhir ini, tiba-tiba sudah ditodong ujung golok yang menempel di kulit lehernya.

"Kau masih tidak menyerah, Golok Tengik?" Laki-laki ini tertegun. Sekarang dia sadar bahwa lawan yang dihadapinya itu bukan anak sembarangan. Tapi pura-pura mengeluh dan melirik ke kanan, dia memberi kedipan pada anak buahnya, menyuruh mereka maju menyerang dari belakang. Tapi baru anak buahnya melompat maju, tiba-tiba Kakek Kun tertawa dan menggerakkan jarinya. Lima puluh kerikil hitam disentilkan bergantian, cepat sekali. Dan begitu sinar hitam menyambar anak buah kepala rampok itu, mendadak semuanya mengeluh dan terguling roboh. Tertotok oleh kerikil yang dilemparkan kakek ini!

"Ha-ha, kau ingin memerintahkan anak buahmu maju mengeroyok, Golok Hitam? Kau masih tidak menerima kekalahanmu dan minta dibunuh?" Golok Hitam terkejut. Dia melihat anak buahnya sudah roboh bergelimpangan, tidak satu pun berdaya. Semuanya ditotok roboh oleh kakek tua itu. Dan sadar bahwa kakek ini seorang sakti yang luar biasa ilmu kepandaiannya, tiba-tiba kepala rampok ini gentar dan ketakutan bukan main!

"Ah, ampun... ampunkan aku, orang tua. Sungguh mataku buta tidak mengetahui siapa dirimu! Siapakah kau dan Siauw-hiap (pendekar cilik) ini?" Golok Hitam menjatuhkan diri berlutut, gemetaran dan pucat wajahnya dengan peluh membasahi dahi. Tapi Kakek Kun yang sudah melayang mendekati kepala rampok ini tiba-tiba bersikap bengis.

"Golok Hitam, tidak perlu kau tahu siapa aku. Kami terlalu besar untuk memperkenalkan nama kepadamu! Sekarang apa yang kau minta?" Golok Hitam menggigil, "Aku mohon ampun, Lo-taihiap... aku mohon ampun dan tidak akan mengulangi lagi perbuatanku!"

"Hm, sedemikian mudah caranya? Kau ingin seenak itu?" Laki-laki ini ketakutan.

"Aku... aku mohon keringanan, Lo-taihiap... boleh kau hukum aku tapi jangan dibunuh."

"Kalau begitu apa yang kau kehendaki?"

"Kau bebaskan aku... dan sebagai gantinya biarlah aku mencungkil sebelah mata untuk menerima hukuman ini!" Sebelum Kakek Kun menjawab atau menolak, tiba-tiba Golok Hitam menggerakkan tangannya. Dia mencungkil mata kirinya, menusuki dengan dua jari telunjuk dan tengah. Lalu begitu menarik dan menjerit perlahan, tahu-tahu kepala rampok ini telah mengeluarkan biji matanya di telapak tangan, buta sebelah. Dan begitu dia menjerit dengan wajah berlepotan darah, tiba-tiba kepala rampok ini telah terguling roboh. Pingsan!

Siauw-cut dan Kakek Kun tertegun. Siauw-cut terbelalak, merasa ngeri. Tapi Kakek Kun yang menyeringai dingin, mendadak mengayunkan kaki menendang tubuh si Golok Hitam itu. Dia tampaknya tenang-tenang saja, bersikap acuh melihat kebutaan orang. Lalu membebaskan lima puluh orang anak buah kepala rampok ini dengan lemparan kerikil hitamnya, kakek itu membentak, "Tikus-tikus busuk, bawa pemimpin kalian ini enyah dari sini. Jangan mengulang kembali memasuki dusun Lo!" Para perampok bangkit berdiri. Mereka menggigil, ketakutan sekali melihat kehebatan kakek dan anak laki-laki itu. Namun, menganggukkan kepala dengan tubuh gemetaran, mereka sudah menerima dan membawa lari pemimpin mereka, menaiki kuda yang sudah sehat kembali dan lintang-pukang bagai dikejar setan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment