Chapter 49
Sementara Siauw-cut yang masih terkesima melihat banyak orang muncul dari dalam hutan di belakang dusun.
"Kun-taihiap, terima kasih. Kau orang tua sungguh hebat sekali!" Siauw-cut tertegun. Dia melihat puluhan orang, baik laki-laki maupun wanita, berlari-lari menghampiri mereka. Itu adalah penduduk Dusun Lo yang tadi sempat menyingkir bersembunyi.
Begitu mereka bersorak sambil menghambur maju, tahu-tahu mereka semua menjatuhkan diri berlutut, dipimpin oleh seorang laki-laki kurus yang agaknya adalah kepala dusun. "Kun-taihiap, terima kasih. Kami sungguh lega gerombolan Golok Hitam telah kauusir!"
Kakek Kun menyeringai. Dia memberi isyarat agar Siauw-cut mendekat, lalu menyambar anak itu dan menjejakkan kakinya. Tiba-tiba, kakek itu melompati kepala semua orang dan lenyap sambil berseru, "Lo-chungcu, tak perlu berterima kasih. Itu sudah merupakan kewajiban kami!"
Kepala dusun terkejut. Dia melihat kakek itu tahu-tahu sudah kabur jauh, terbang melewati belakang dusun. Begitu bayangan orang itu lenyap meninggalkan suaranya yang serak terkekeh, otomatis semua orang bangkit berdiri. Mereka terkejut dan heran melihat kakek itu dapat melampaui kepala demikian banyak orang bagaikan terbang.
Saat mereka masih bengong terpaku, tiba-tiba kepala dusun berseru, "Saudara-saudara, kakek itu bukan manusia. Dia dewa penjaga hutan!" Semua orang ribut. Mereka spontan menyambut teriakan kepala dusun karena kemunculan dan kepergian kakek itu memang berasal dari dalam hutan di belakang dusun mereka.
Begitu mendengar seruan Lo-chungcu, semua orang segera menghambur ke belakang dusun dan berlari menuju mulut hutan. Namun, kakek Kun tidak tampak lagi bayangannya. Suaranya pun tak terdengar, lenyap tak meninggalkan jejak entah ke mana. Penduduk dusun yang memburu ke tempat itu akhirnya mengucap terima kasih sambil berlutut. Mereka tak tahu bagaimana harus bersikap kepada "dewa" penjaga hutan itu untuk menyampaikan ucapan syukur dan terima kasih yang mendalam karena telah bebas dari gangguan si Golok Hitam.
Maka, ketika Lo-chungcu mengusulkan untuk memberi sesaji di mulut hutan dan mengadakan upacara keagamaan pada malam harinya, semua orang bangkit berdiri dan setuju. Tak ada yang menolak. Malam harinya, tempat itu ramai dikunjungi, hingga dusun tersebut menjadi meriah seperti pasar malam.
Sesungguhnya, siapakah kakek yang mengusir gerombolan Golok Hitam dari Dusun Lo itu? Dan mengapa dia mengincar Bu-beng Siauw-cut untuk dijadikan muridnya? Bagi para pembaca yang telah mengikuti kisah "Pendekar Kepala Batu", tentu mengenal kakek ini. Namanya tak asing lagi: Kun Seng. Dialah sang jago pedang, pendekar sejati dari Pegunungan Kun-lun, jago pedang tanpa tanding yang berjuluk Bu-tiong Kiam (Si Pedang Dalam Kabut), orang yang justru sedang dicari-cari oleh Bu-beng Siauw-cut.
Sungguh aneh dan menggelikan bahwa Siauw-cut justru mencari-cari pendekar pedang ini tanpa mengetahui bahwa orang yang dicarinya berada tepat di sampingnya. Kakek Kun sengaja merahasiakan dirinya dan menyembunyikan julukannya.
Mengapa kakek ini menyembunyikan identitasnya? Ada hal-hal yang dirahasiakan dan tidak boleh terburu-buru diketahui. Jika Siauw-cut tahu bahwa Kun Seng adalah si jago pedang itu, mungkin akan ada perubahan pada diri anak ini. Seperti diketahui, beberapa tahun lalu pendekar ini mengalami musibah. Perjodohan putranya dengan keluarga Ciok-thouw Taihiap berantakan. Putranya yang bernama Kun Bok "ada main" dengan tiga orang kakak beradik Samkwi, pembantu ketua Gelang Berdarah. Karena masih hijau, putranya terjebak dalam permainan orang-orang jahat dan akhirnya tewas dengan menyedihkan.
Jago pedang ini menyadari keadaan. Dia tahu pihaknya yang bersalah karena kurang mengawasi anaknya. Namun, karena ketua Gelang Berdarah sendiri telah tewas, dia tidak dapat lagi menuntut pertanggungjawaban atas hancurnya cita-citanya untuk berbesan dengan Ciok-thouw Taihiap, Pendekar Kepala Batu yang keras namun lihai.
Pendekar ini tidak menyesali apa yang sudah terjadi. Dia cukup bijaksana untuk menerima kenyataan sebagai orang tua yang kurang kontrol terhadap anaknya. Setelah semuanya berakhir pahit, pendekar ini pulang ke Kun-lun dan mengasingkan diri selama dua tahun. Dia bertapa untuk menenangkan batinnya yang terpukul hebat karena kematian Kun Bok, satu-satunya keturunan baginya.
Suatu hari, setelah berhasil menenangkan diri, pendekar ini merenung. Apakah ia harus tetap tinggal di pegunungan sampai tua, atau turun gunung untuk menjalankan tugas seorang pendekar membela yang lemah dan menentang yang lalim? Sejenak, ia tersenyum pahit. Sebenarnya dia enggan turun gunung karena kecewa terhadap nasibnya. Hidup terasa hambar sejak kematian putranya.
Namun, pagi itu wajahnya berseri ketika melihat Bwee Kiok, gadis manis di kaki gunung yang selama dua tahun ini membantunya menyiapkan makanan, lewat di depannya. Tiba-tiba, terbersit di pikiran pendekar ini untuk menikah lagi. Wajahnya memerah dan berdebar bagaikan seorang jejaka.
Saat gadis itu masuk membawa dua rantang makanan yang mengepul panas, pendekar itu masih bengong memandanginya. Bwee Kiok menegur, "Locianpwe, apa yang kau lihat? Kenapa kau bengong memandangku?"
Pendekar ini terkejut, tergetar oleh suara yang nyaring dan merdu itu. Gugup, dia bangkit berdiri. "Bwee Kiok, kau makan saja makanan itu. Aku hari ini ingin berpuasa!"
Bwee Kiok tertegun. "Kenapa tidak bilang kemarin, Locianpwe? Aku masak kesenanganku hari ini, kuah swike dan dadar telur!"
"Ah, tapi hari ini aku ingin menenteramkan pikiran, Bwee Kiok. Aku gelisah membaca pikiranku sendiri!"
Bwee Kiok tersenyum dan meletakkan makanan itu. "Jadi kau benar-benar tidak ingin makan, Locianpwe? Kalau begitu besok saja?"
"Ya, besok saja, Bwee Kiok. Kau ambil makanan itu dan pulanglah!" Bwee Kiok mengangguk dan berbalik pergi.
Namun, belum sampai di pintu, pendekar itu memanggilnya kembali. "Bwee Kiok, bolehkah kutanya sesuatu kepadamu?"
Gadis itu terhenti dengan heran. "Tentang apa, Locianpwe? Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Hm, sesuatu yang bersifat pribadi, Bwee Kiok. Bolehkah?"
Bwee Kiok tersenyum. "Aku tak mempunyai urusan pribadi, Locianpwe. Kau boleh tanya apa saja!"
"Hm, betulkah?"
"Ya."
"Kalau begitu..." Pendekar ini tersendat. "Kau tidak akan marah mendengar pertanyaan ini?"
Gadis itu tersenyum manis dengan mata bersinar. "Kenapa aku harus marah, Locianpwe? Bukankah kita sudah seperti keluarga sendiri?"
Jago pedang itu tergetar. Dia tertusuk oleh kata-kata "seperti keluarga sendiri" yang diucapkan dengan polos oleh perawan dusun itu. Dengan sikap yang dikeraskan dan senyum pahit, dia mengangguk. "Ya, justru itulah aku berani bertanya. Tapi kalau kau marah, kau tak usah kembali ke mari lagi."
Bwee Kiok tertawa kecil. "Locianpwe, kau tampaknya serius sekali. Apa sih yang hendak kau tanyakan?"
"Hm, persoalan pribadimu, Bwee Kiok. Yakni apakah kau sudah mempunyai kekasih atau calon suami pendamping?"
Bwee Kiok terkejut. "Apa, Locianpwe? Kekasih?"
"Ya, itu yang ingin kutanyakan. Tapi maaf kalau pertanyaan ini menyinggung hatimu!"
Perawan dusun itu tertegun, wajahnya seketika memerah, dan dia cepat-cepat menunduk. Tiba-tiba, sambil tersenyum malu, dia berbalik dan berlari keluar sambil terkekeh, "Locianpwe, pertanyaanmu aneh. Aku tak mempunyai kekasih atau memikirkan kekasih, untuk apa bertanya ini?"
Jago pedang itu ganti tertegun. Wajahnya berubah, dia terbelalak melihat perawan dusun itu berlari cepat turun gunung, lenyap meninggalkan kekehnya yang manis memikat. Namun, setelah menarik napas dan tersenyum lebar, tiba-tiba pendekar ini merasa lega. Ada perasaan puas dan gembira yang menyelinap aneh di sanubarinya. Sambil menyeringai dan tersenyum girang, dia melompat dan mengawasi bayangan Bwee Kiok.