Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 50

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 50

Namun, gadis dusun itu sudah lenyap.

Jago pedang ini tak mengejar, sekadar mengawasi dan menarik kesimpulan dari apa yang baru saja mereka bicarakan.

Lalu, ia kembali masuk untuk menenangkan debaran jantungnya yang bergetar. Pendekar ini sudah duduk bersila di atas sebuah batu hitam.

Namun, celaka.

Dialog sejenak itu ternyata membuatnya gelisah dan tidak dapat menenangkan diri untuk mengonsentrasikan pikiran.

Ketika semalam suntuk ia gundah oleh bayangan gadis dusun itu dan tak mampu menguasai diri, akhirnya Bwee Kiok muncul kembali pada keesokan harinya membawa sarapan pagi.

"Locianpwe, kau sudah lapar, bukan?" Pendekar ini tertegun.

"Aku melanjutkan puasaku, Bwee Kiok. Kau bawalah kembali makanan itu dan biarkan aku..." Bwee Kiok terkejut.

"Ah, kenapa begitu, Locianpwe? Kenapa tidak kemarin saja kau memberi tahu kepadaku?" Kun Seng menarik napas. "Maafkan aku, Bwee Kiok. Aku tidak dapat menenangkan diriku semalam. Aku gelisah!" Gadis ini cemberut.

"Kalau begitu, besok aku kembali, Locianpwe."

"Ya."

Namun, ketika Bwee Kiok kembali untuk yang ketiga kalinya, pendekar ini kembali menolak untuk makan.

"Ah, apa-apaan ini, Locianpwe? Kenapa tidak bilang kemarin?" Bwee Kiok marah. Ia mencibir dan memandang penuh selidik ke arah wajah pendekar itu.

Kun Seng menarik napas, lalu tiba-tiba membalikkan tubuh, penuh penyesalan dan rasa tidak enak.

"Maafkan aku, Bwee Kiok. Aku gelisah selama tiga hari ini. Biarlah kau pulang saja dan tak usah mengantarkan makanan lagi untukku!"

Bwee Kiok membelalakkan mata, lalu melangkah maju. "Locianpwe, apa yang sebenarnya terjadi padamu? Kenapa sikapmu akhir-akhir ini aneh sekali?"

Pendekar ini mengangkat bahu dengan berat. "Aku dihantui perasaan takut, Bwee Kiok. Perasaan yang selama tiga hari ini tiba-tiba muncul secara mendadak!"

"Hm, soal apa, Locianpwe? Apa yang kau takutkan? Bukankah kau pendekar pedang tanpa tanding?"

Laki-laki ini menyeringai. "Justru itulah, Bwee Kiok. Aku... ah, sudahlah. Tak usah kuceritakan ini karena hanya membuatku malu. Kau pergilah, Bwee Kiok... kau pergilah yang jauh dariku karena mungkin aku segera akan turun gunung!"

Bwee Kiok mengeluarkan seruan tertahan karena kaget. "Locianpwe, kau akan meninggalkan aku?"

"Ya, aku gelisah di sini, Bwee Kiok. Aku ingin menghibur hatiku di luar!"

Bwee Kiok tiba-tiba terisak sembari meletakkan rantangnya. "Locianpwe, apa sebenarnya yang membuatmu gelisah? Bolehkah aku tahu?"

"Hm, aku malu mengatakannya, Bwee Kiok. Kurasa tak enak sekali aku menceritakan ini kepadamu."

"Tapi kita sudah seperti keluarga sendiri, Locianpwe. Aku sudah biasa mendengar dan melihat nasibmu yang buruk."

"Ya, tapi ini persoalan pribadi, Bwee Kiok. Aku... ah, sudahlah, aku malu mengatakannya!"

Bwee Kiok tiba-tiba melangkah maju. Ia menggigil gemetar, memandang pendekar ini dengan matanya yang bening dan basah. Lalu, dengan bibir gemetar dan suara lirih, ia bertanya sambil menunduk, "Locianpwe, tidak berhakkah aku mengetahui urusan pribadimu? Bukankah dua hari yang lalu kau juga pernah bertanya urusan pribadiku?"

Pendekar ini tertegun. Ia melihat gadis itu tiba-tiba mengucurkan air mata dengan deras, menggigit bibir, dan menahan diri agar tidak tersedu-sedu. Merasa terharu dan terpukul oleh pertanyaan itu, Kun Seng terpaksa menyentuh pundak gadis itu dan berkata, "Sebenarnya aku berat menjawab, Bwee Kiok. Tapi karena pertanyaanmu betul dan aku tak dapat membantah, baiklah kukatakan apa sesungguhnya yang membuat aku gelisah. Kau duduklah, kita bicara baik-baik..."

Setelah menuntun gadis itu yang segera mengusap air matanya, pendekar ini menyatakan isi hatinya dengan agak tersendat namun sungguh-sungguh.

"Sebenarnya aku ingin menikah, Bwee Kiok. Karena semenjak keturunanku satu-satunya tewas, aku menjadi hambar menghadapi hidup. Aku kecewa terhadap nasibku sendiri. Aku menyesal bahwa mendiang putraku melakukan kesalahan tak terampun hingga mengorbankan dirinya sendiri. Kini aku tak mempunyai keturunan. Aku tiba-tiba takut bahwa ilmu kepandaian yang kumiliki satu-satunya tidak mendapat ahli waris!"

Bwee Kiok tertegun. "Jadi itu yang membuatmu gelisah, Locianpwe?"

"Ya."

"Dan... dan..."

"Kenapa, Bwee Kiok?"

"Kau sudah mempunyai calon istri, Locianpwe?" Gadis ini menunduk, bertanya lirih, dan tampak gemetar saat menanyakannya.

Kun Seng yang mukanya memerah karena pertanyaan itu tiba-tiba bangkit berdiri. "Hm, ini yang membuat aku bingung, Bwee Kiok. Karena justru kaulah yang kuharapkan!"

Bwee Kiok terkejut. "Apa, Locianpwe...?"

"Ya, aku ingin berterus terang, Bwee Kiok. Bahwa wanita yang kuharap untuk menjadi istriku adalah kau!"

"Aah!" Bwee Kiok terpekik, menjerit lirih. Lalu ia bangkit berdiri, tersedu-sedu, dan mendadak memutar tubuh keluar gua.

Melihat Bwee Kiok tampak marah dan tersinggung oleh pernyataannya tadi, jago pedang ini masuk ke dalam gua. Ia mengambil buntalan, merasa terpukul, dan ingin segera pergi dari tempat itu sekarang juga.

Namun, baru saja ia membalikkan tubuh dan melangkah ke luar, sekonyong-konyong terdengar jeritan Bwee Kiok.

Jago tua ini tersentak kaget. Ia mendengar suara Bwee Kiok bagaikan suara orang yang sedang menghadapi bahaya. Begitu menjejakkan kaki, pendekar ini segera berkelebat ke kiri menuju asal suara di mana Bwee Kiok tadi menjerit.

Begitu tiba di tempat itu, jago pedang tersebut tertegun. Ia melihat Bwee Kiok dirangkul oleh seseorang, yaitu laki-laki muda yang dikenalnya sebagai Hwat Gi, penduduk dusun di bawah gunung yang merupakan tetangga Bwee Kiok!

Melihat Bwee Kiok dirangkul dan diciumi laki-laki itu sambil tertawa penuh nafsu, tiba-tiba Kun Seng tidak dapat mengendalikan diri. Ia menggerakkan kakinya mendekati laki-laki itu, mencengkeram pundaknya, dan membantingnya ke atas tanah.

"Hwat Gi, apa yang kau lakukan ini?"

Pemuda itu terkejut. Ia bangun berdiri dengan muka berubah pucat, kaget melihat pendekar pedang itu muncul di depannya. Ia tertawa gugup, menyeringai dengan gentar, lalu buru-buru menjura di depan jago pedang ini.

"Maaf, aku tak dapat mengendalikan kegiranganku, Kun Taihiap. Nenek Bwee Kiok menerima lamaranku untuk meminang gadis ini!"

Namun, Bwee Kiok berteriak, "Bohong! Kau tidak tahu malu, Hwat-twako. Nenek dan aku tidak tahu apa-apa tentang maksud hatimu itu!"

"Ah, tapi aku baru dari rumahmu, Bwee Kiok. Aku mendapat izin dan disuruh menyusulmu kemari!"

Bwee Kiok membanting kaki. Ia marah sekali dan menuding pemuda itu dengan mata berapi-api. Ia berkata dengan suara lantang, "Orang she Hwat, kau sungguh tidak tahu malu! Kapan kau menjumpai nenek? Beliau tidak ada di rumah, nenek pergi ke kota mencari rempah-rempah!"

Hwat Gi terbelalak. Ia menjadi bingung dan terkejut oleh seruan itu. Sementara itu, Kun Seng yang memahami apa yang terjadi segera menyambar leher baju pemuda itu.

"Hwat Gi, kau berani bohong di depanku? Kau berdusta untuk memaksa Bwee Kiok?"

Laki-laki itu gemetar. Ia terang tidak mampu menjawab karena takut dan mengenal baik siapa pendekar pedang itu. Ia menjatuhkan diri, berlutut, dan buru-buru minta maaf sambil membenturkan dahi, sementara matanya melirik penuh ancaman kepada Bwee Kiok!

"Kun Taihiap, ampun. Aku memang berbohong... aku jatuh cinta pada Bwee Kiok dan tidak dapat mengendalikan diriku!"

Kun Seng mengerutkan kening. Ia terpukul oleh kata-kata pemuda itu yang seakan menjadi cermin bagi dirinya sendiri. Betapa ia juga mencintai Bwee Kiok, gadis yang patut menjadi anaknya, seperti halnya pemuda dusun itu!

Maka, setelah melepas cengkeraman dan mendorong pemuda itu, pendekar ini membentak, "Baik, sekarang pergilah, orang she Hwat. Jangan mengganggu Bwee Kiok kalau dia tidak suka!"

Hwat Gi segera mengangguk-angguk. Ia ngeloyor pergi seraya mengucapkan terima kasih, namun diam-diam matanya bersinar penuh ancaman kepada Bwee Kiok, yang tentu saja menjadi ngeri oleh lirikan berbahaya pemuda itu.

Ketika Hwat Gi pergi meninggalkan mereka dan Kun Seng melihat dara itu masih berada di situ, pendekar ini menarik napas dan menegur, "Bwee Kiok, ada apa lagi? Kau boleh pergi sekarang. Hwat Gi tidak akan berani lagi mengganggumu!"

Namun, Bwee Kiok tiba-tiba tersedu. Ia melihat buntalan di punggung jago pedang itu, tanda bahwa sang pendekar siap berangkat. Sambil menangis penuh kesedihan, tiba-tiba gadis ini memutar tubuh dan berlari kembali memasuki gua.

"Locianpwe, kau kejam... kau menyayat hatiku!"

Kun Seng tertegun. "Lho, apa ini?"

Ia melompat mengejar gadis itu dan berseru, "Bwee Kiok, apa maksud kata-katamu itu? Kenapa kau katakan aku kejam padamu?"

Bwee Kiok menutupi mukanya di atas batu. Ia semakin tersedu-sedu oleh pertanyaan itu dan tidak menjawab.

Sementara Kun Seng terbelalak melihat semuanya, tiba-tiba seorang nenek muncul di luar gua.

"Kun Taihiap, aku ingin bicara denganmu!"

Pendekar ini tercekat. Ia melihat Nenek Lui, nenek dari Bwee Kiok, tiba-tiba muncul!

Merasa terheran melihat nenek itu datang ke tempatnya, buru-buru pendekar ini mempersilakannya masuk. Namun, nenek itu menolak dan meminta bicara di luar. Kun Seng, yang terpaksa mengikuti kehendak nenek itu, melayang keluar dengan jantung berdebaran. Ia khawatir ada sesuatu yang tidak baik terjadi pada dirinya.

Namun, ketika melihat nenek itu tersenyum, ia pun mengerutkan alis. "Uwak Lui, apa yang hendak kau bicarakan? Bagaimana kau susah payah datang kemari?"

Nenek itu tersenyum. "Aku ingin membicarakan nasib Bwee Kiok, Taihiap. Harap kita bicara blak-blakan saja."

"Hm, tentang apa?"

"Kelanjutan dari pertanyaanmu, Taihiap. Bahwa sesungguhnya maksud hatimu tidak bertepuk sebelah tangan!"

Pendekar ini terkejut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment