Chapter 51
"Tidak bertepuk sebelah tangan bagaimana, Nek? Apa yang kau maksud?" Nenek itu batuk-batuk.
"Aku mendengar cerita cucuku tentang pernyataanmu dua hari yang lalu, Taihiap. Pertanyaan tentang apakah Bwee Kiok sudah mempunyai kekasih atau belum. Kau benar bertanya tentang ini, bukan?" Jago pedang itu bersemu merah mukanya.
"Memang benar, Nek. Tapi..."
"Hm, aku yang tua mengerti maksudmu, Taihiap," nenek itu memotong. "Bahwa sesungguhnya kau menaksir Bwee Kiok untuk menjadi istrimu! Begitu, bukan?" Kun Seng tertegun.
"Dan kau tidak bertepuk sebelah tangan, Taihiap. Artinya bahwa diam-diam sebenarnya Bwee Kiok sudah lama mengagumimu dan sering membicarakannya denganku," nenek itu melanjutkan, mengejutkan pendekar ini yang sama sekali tidak menduga.
Lalu terkekeh sambil membetulkan letak tongkatnya, Nenek Lui menyambung, "Dan kau tidak perlu kecil hati, Taihiap. Aku tahu bahwa cinta sesungguhnya tidak memandang usia. Karena itu, Bwee Kiok tak akan menolakmu jika kau memintanya untuk menjadi istri!" Kun Seng tertegun untuk kedua kalinya.
Dia terbelalak memandang nenek itu, seakan tak percaya pada apa yang didengar. Tapi ketika Nenek Lui tersenyum dan menganggukkan kepala padanya memberi persetujuan, mendadak pendekar ini bengong. Dia melihat nenek itu sudah memasuki gua, menghampiri cucunya yang masih tersedu-sedu. Lalu begitu ia berbisik dan menghibur hati sang cucu, mendadak Bwee Kiok menghentikan tangisnya dan mengeluh.
Kun Seng tak tahu apa yang dibisikkan nenek ini. Tapi begitu mereka keluar gua dan Bwee Kiok berjalan menunduk, Uwak Lui sudah bertanya kepadanya, "Dan kau tidak akan meninggalkan kami, bukan, Kun-taihiap? Aku menantimu di rumah, kami butuh pelindung dari gangguan orang macam Hwat Gi itu!" Pendekar itu mengangguk. Dia masih terpaku oleh cerita nenek itu, belum dapat menjawab. Tapi mengantar keduanya dengan pandang mata bergairah, tiba-tiba jago pedang ini tersenyum dan girang bukan main.
"Baik, Nek. Aku akan memenuhi permintaanmu!"
Maka ketika malam itu pendekar ini berkunjung ke rumah Bwee Kiok, segalanya pun menjadi beres dan menggembirakan. Bwee Kiok ternyata menerima maksud hati pendekar itu, tak menolak karena sesungguhnya gadis itu juga mencintai lelaki tua ini secara diam-diam, didorong rasa iba dan haru melihat nasib jago pedang itu yang hidup merana tanpa sanak saudara, menduda bertahun-tahun, dan kehilangan putra tunggalnya.
Maka ketika Nenek Lui merestui hubungan ini dan menyambut baik niat pendekar itu, segera keduanya menjadi suami istri tak lama kemudian. Bwee Kiok didorong rasa iba dan kasihnya terhadap pendekar ini, sementara Kun Seng didorong oleh perasaan takutnya kehilangan keturunan. Ia berharap dari perawan dusun ini dia dapat memperoleh anak, calon penerus yang akan diwarisi ilmu pedangnya.
Tapi setelah setahun menikah dan Bwee Kiok belum menampakkan tanda-tanda hamil, pendekar ini mulai cemas. Dia mulai gelisah, takut bahwa dia semakin tua dan uzur. Dan ketika pada tahun kedua Bwee Kiok juga belum menampakkan tanda-tanda kehamilan, mulailah pendekar ini mengomel panjang pendek. Dia suka mengeluh, sering memarahi istrinya, sementara Bwee Kiok yang maklum dengan apa yang diharapkan sang suami juga mulai kecil hati. Sering timbul pertanyaan di hati: mandulkah dia? Kenapa belum juga dapat melaksanakan tugas seorang ibu?
Maka ketika tahun kedua berlalu dan tahun ketiga mulai mereka tempuh, tiba-tiba suatu hari jago pedang ini timbul kemarahannya. "Bwee Kiok, kenapa kau belum berisi juga? Apa usahamu untuk mewujudkan keinginan ini?"
Bwee Kiok bingung. "Aku tak tahu, suamiku. Aku sendiri sudah berusaha minum jamu atau rempah-rempah dari nenek."
"Tapi kenapa belum juga ada tanda-tandanya?"
Bwee Kiok mulai menangis. Dia sekarang mudah sedih, gugup, dan tertekan menghadapi suaminya yang mudah marah. Kecewa karena maksud hatinya memperoleh keturunan belum terkabul. Maka, ketika hari itu sang suami kembali bersungut dan tampak tidak puas, segera wanita ini menangis terisak.
"Aku tak tahu apa sebabnya, suamiku. Tapi yang jelas aku sudah berusaha sekuat mungkin!"
"Hm, kalau begitu kenapa belum juga hamil?"
Bwee Kiok tak menjawab. Istri muda ini lalu berlari masuk ke dalam kamar, menangis, dan merasa bersalah sampai tersedu-sedu di atas bantal. Sementara Kun Seng yang agaknya sudah habis sabarnya, tiba-tiba menyusul istrinya. "Bwee Kiok, tahun ketiga ini kita harus berusaha sampai berhasil. Kalau tidak, aku akan turun gunung melepas kekecewaanku!"
Bwee Kiok semakin sedih. Dia biasanya tak menjawab apabila suaminya sudah marah begitu, pasrah dan takut serta bingung. Maka ketika suaminya keluar sambil membanting pintu, istri muda inipun tersedu-sedu. Ia bingung, juga gugup. Sampai akhirnya ketika Nenek Lui muncul dan mengetahui apa yang terjadi, segeralah sang cucu dihibur. Sebenarnya bukan Kun Seng saja yang mengharap keturunan itu. Bwee Kiok juga, termasuk Uwak Lui yang ingin membopong cicit dari seorang jago pedang.
Tapi ketika tahun itu juga terlewat dan Bwee Kiok tetap belum mengandung, tiba-tiba terjadilah klimaks rumah tangga ini. Kun Seng meninggalkan istrinya, turun gunung sesuai ancamannya dulu. Meninggalkan Bwee Kiok dan Nenek Lui! Dan ketika istri muda itu tahu bahwa sang suami sudah meninggalkan dirinya, maka Bwee Kiok langsung pingsan. Wanita muda ini tak kuat menghadapi kenyataan itu; terlalu berat dan pedih.
Tapi berbareng dengan perginya sang suami ke tempat yang tak diketahui di mana adanya, tiba-tiba sebulan kemudian Bwee Kiok mengandung! Hati ibu muda ini ingin menjerit. Dia girang tapi juga terpukul, karena persis berita gembira itu sudah diperolehnya, sang suami tak ada lagi di sisinya! Bwee Kiok kenal baik tabiat suaminya ini, seorang penyabar dan cukup bijaksana. Tapi mungkin bertubi-tubi diguncang kejadian yang menyesakkan batin menjadikan suaminya itu habis sabar dan berubah wataknya, mudah tersinggung dan gampang marah-marah pada istri sendiri.
Maka, ketika berita gembira itu tak dapat disalurkan dan Kun Seng sudah meninggalkan rumah, Bwee Kiok tiba-tiba jatuh sakit. Wanita ini hampir saja bunuh diri kalau Uwak Lui tidak ada di situ. Tapi untunglah, nenek yang cukup makan asam garam dunia ini dapat menghibur cucunya. Memberikan nasihat-nasihat dan obat-obatan kepada Bwee Kiok, menyuruh cucunya itu menjaga kesehatan agar bayi yang dikandung hidup selamat.
"Kun-taihiap tak mungkin meninggalkanmu seumur hidup, Bwee Kiok. Betapapun dia pasti kembali dan menengokmu. Ingat, dia berasal dari pegunungan ini," demikian Nenek Lui memberikan hiburannya, menguatkan hati sang cucu untuk menahan diri dan tak putus asa. Dan Bwee Kiok yang dapat menerima hiburan ini akhirnya tenang juga, didampingi si nenek yang setia dan baik hati.
Tapi kecemasan Bwee Kiok mulai muncul lagi. Enam bulan sudah suaminya tak kembali, padahal perutnya semakin membesar dan kandungannya semakin menua. Dan ketika sembilan bulan sudah suami yang diharap-harap tak kembali juga, Bwee Kiok berada pada puncak kekecewaannya. Ia melahirkan bayi kembar laki-laki, berjuang melawan maut dan tekanan batin yang berat. Tapi karena pikirannya selalu sedih dan penuh kedukaan, tiba-tiba ibu muda yang baru melahirkan bayi kembarnya ini meninggal kehabisan darah!
Demikianlah, apa yang dialami Bwee Kiok tak diketahui sama sekali oleh pendekar ini. Dia turun gunung melepas kekecewaan, tak mau kembali karena jengkel kepada istrinya sendiri, yakin bahwa istrinya mandul dan cita-citanya hancur berantakan. Tak dapat mempunyai keturunan. Sementara usianya yang semakin tua tentu saja membuat pendekar ini malu beristri lagi. Apalagi kalau dengan wanita muda! Ah, mau ditaruh ke mana mukanya itu? Maka Kun Seng habis harapan. Dia digerogoti kekecewaan demi kekecewaan, tekanan batin yang kian menyesakkan napasnya.
Dan ketika dia sadar bahwa dia tak dapat lagi membuat keturunan, tiba-tiba pendekar ini mulai berubah. Dia mulai suka memperhatikan anak-anak, terutama laki-laki, untuk mencari yang cocok dan akan diambil sebagai murid atau anak angkatnya. Tapi karena selama ini apa yang dicari ternyata belum ketemu, maka terus saja dia merantau dan menghabiskan masa tuanya dengan sikap yang mulai acuh. Pendekar ini kadang-kadang suka tertawa sendiri, menyeringai, atau tersenyum kecut setiap melihat anak lelaki. Tapi melihat sebagian besar tak mempunyai "tulang pendekar", dia pun getir dan melangkahkan kakinya terus.
Hingga suatu hari, ketika secara tidak sengaja dia tiba di kuil Tee-kong-bio dan menjumpai Siauw-cut, tiba-tiba pendekar ini tertegun dan tertarik. Dia melihat anak itu memiliki roman muka yang aneh. Bersinar tapi tersembunyi dalam kabut kedukaan, persis dirinya sendiri yang juga sedang dihimpit derita. Maka melihat Siauw-cut dan menyaksikan kegagahan anak itu dalam menghadapi Tok-sim Sian-li dan puteranya dalam persembunyian, tiba-tiba pendekar ini tergetar. Itulah bocah yang dicari-cari. Anak yang dia idam-idamkan selama ini!
Maka begitu Tok-sim Sian-li merobohkan anak ini dan meninggalkannya pergi, tiba-tiba dia pun muncul. Pertama untuk membantu anak itu mengobati lengannya yang patah, sedang yang kedua untuk mengenal dari dekat anak siapa bocah ini. Tapi alangkah herannya hati Kun Seng. Dia mendengar anak itu sebatangkara, dan namanya pun aneh: Siauw-cut, si Kerucuk! Maka gembira dan terbahak geli oleh semuanya itu, pendekar inipun menjadi girang luar biasa.