Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 52

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 52

Dia sudah menetapkan pilihannya kini, bahwa anak inilah yang cocok mewarisi ilmu kepandaiannya, pewaris tunggal yang paling tepat yang akan dianggap sebagai anak sendiri. Namun, ketika Siauw-cut menolaknya dan tak mau menjadi murid, tiba-tiba Kun Seng tertegun dan terhenyak.

Masihkah nasib sial membayanginya selalu? Masihkah dia mengalami kekecewaan terakhir sebelum ajal? Kun Seng tertawa getir. Agaknya, alam terlalu buruk baginya dan tak membiarkan setetes kebahagiaan pun muncul. Tapi Kun Seng yang penasaran tak mau kalah begitu saja. Dia melihat anak ini menarik sekali. Wataknya gagah dan pemberani, apalagi ketika menyatakan niatnya untuk membalas dendam kepada Pendekar Gurun Neraka.

Wah! Model apa bocah yang satu ini? Menentang Pendekar Gurun Neraka tanpa bermodal kepandaian pun? Hampir dia tertawa geli. Siauw-cut dipandangnya semakin aneh, semakin menarik, dan semakin membuat dia penasaran untuk mendapatkan anak itu sebagai pewaris tunggal ilmunya. Namun, dia harus berhati-hati menghadapi anak ini, maka Kun Seng mencoba mengerahkan kesabarannya. Betapapun dia yang butuh, bukan anak itu. Maka, kalau dia dapat mengambil sikap sedemikian rupa hingga Siauw-cut terpukul perasaannya, tentu bocah itu akan sadar.

Satu-satunya cara menaklukkan anak ini adalah dengan taktik halus; selalu bersikap baik dan menekan sebisa mungkin keinginan pribadinya untuk memaksa anak itu menjadi muridnya. Sebab, kalau dia bersikap kasar, tentu Siauw-cut akan melawan dan menolaknya habis-habisan—hal yang tentu membuat dia sakit dan kecewa. Maka, Kun Seng yang bertekad untuk mendapatkan anak ini dengan cara yang halus sudah memasang "strategi" yang unik. Dia akan mengikuti kemauan anak itu, apa pun yang diminta, termasuk meninggalkan anak itu bila Siauw-cut menghendakinya, seperti yang baru saja mereka alami. Di mana Siauw-cut pergi ke Lembah Cemara sementara dia tak boleh menguntit lagi, hal itu menimbulkan kesan dapat dipercaya oleh si anak.

Kun Seng, yang diam-diam kecut membayangkan dia kehilangan anak itu dengan segala pengorbanan, tiba-tiba menjadi gembira bukan main ketika mereka bertemu kembali di Dusun Lo. Ini memang sudah dipercaya Kun Seng. Laki-laki itu yakin bahwa bagaimanapun juga Siauw-cut akan menjadi "miliknya", berdasar kepercayaan pada firasat yang dia terima melalui getaran-getaran halus dari batin mereka berdua. Jago pedang yang percaya pada getaran firasatnya ini ternyata tak sia-sia menunggu. Secara kebetulan, Siauw-cut datang menghampiri dirinya yang sedang menunggu kedatangan si Golok Hitam bersama anak buahnya—para perampok yang akan mengganggu Dusun Lo itu.

Kun Seng girang bukan kepalang karena dapat bertemu kembali dengan anak ini, apalagi mendengar Siauw-cut mendapat "perintah" dari Bu-beng Sian-su untuk mencari dirinya! Tentu saja pendekar pedang ini hampir melonjak gembira. Dia tahu apa yang dikehendaki manusia dewa itu, karena sesungguhnya Bu-beng Sian-su telah bertemu dengannya jauh hari sebelum Siauw-cut datang. Kakek dewa yang memberi petunjuk padanya berdasarkan getaran ilmu gaib bahwa seorang anak akan menjadi murid lelaki ini, pewaris tunggal dan pengobat kecewa yang hampir saja memadamkan gairah hidup jago pedang ini.

Maka, berdasarkan itu semuanya dan melihat tanda-tandanya mulai muncul, Kun Seng sudah bangkit semangatnya untuk "menempel" Siauw-cut. Tak akan melepaskan anak itu sampai dia dapat menaklukkannya dengan cara halus, apa pun yang terjadi pada dirinya! Kun Seng, yang bergolak rasa gembiranya oleh bantuan Bu-beng Sian-su, tiba-tiba maklum apa yang harus dia lakukan: memperlakukan anak ini dengan lembut dan penuh kasih sayang. Hal yang mudah dia lakukan karena dia sendiri sudah lama mendambakan seorang anak laki-laki sebagai pengganti putranya yang tewas itu, calon penerus ilmu silat pedangnya.

Kun Seng yang sudah mengatur "strategi" untuk menghadapi bocah ini bersiap-siap mengorbankan segala sesuatunya, membuat semacam kejutan untuk mendobrak kekerasan hati anak itu. Mari kita lihat apa yang dilakukan jago pedang ini. Pertama, tentu saja dia menjadi gembira bahwa Siauw-cut mengajaknya "mencari" Bu-tiong-kiam, jago pedang yang bukan lain adalah dirinya sendiri. Hal yang membuat dia hampir tertawa. Kedua, mulai melaksanakan taktiknya untuk membuat semacam "kejutan" bagi anak ini. Karena betapapun juga dia maklum bahwa cepat atau lambat tentu rahasia dirinya bakal ketahuan anak ini, maka supaya dia tidak memberikan kesan buruk, jago pedang ini bersiap-siap untuk menunjukkan pada anak ini bahwa dia cukup "pantas" menjadi gurunya.

Sore itu, ketika mereka sudah jauh meninggalkan Dusun Lo dan tiba di tepi sebuah sungai, akhirnya kakek ini menurunkan Siauw-cut sambil tertawa, "Siauw-cut, kita berhenti di sini dulu. Capai aku memondongmu bagai seorang bayi!"

Siauw-cut tersenyum. "Kau sendiri yang melakukannya, Locianpwe. Bukan aku yang minta."

"Ya, betul. Tapi bagaimana kesanmu dengan ilmu silat tiga jurus itu?"

"Ah, hebat, Locianpwe. Aku kagum dan tak mengira dapat merobohkan kepala rampok itu dengan mudah!"

Kakek ini tertawa. "Kau memang minta bukti melulu, Siauw-cut. Kenapa tak percaya pada omonganku? Hm, itu masih belum, Siauw-cut. Karena kalau kau bersenjatakan pedang, tentu ilmu silat itu masih jauh lebih hebat lagi!"

Anak ini terbelalak. "Begitukah, Locianpwe?"

"Ya. Bukankah kau buktikan bahwa setelah ranting diganti golok kau dapat bermain lebih mantap, Siauw-cut? Kau tidak percaya lagi?"

"Tidak... tidak..." Siauw-cut tertawa lebar. "Tapi bagaimana ilmu silat rantingmu bisa lebih hebat dimainkan dengan senjata, Locianpwe? Apakah memang mulanya harus mempergunakan senjata?"

"Hm, ilmu silat itu memang bermula dari sebatang ranting, Siauw-cut. Tapi kalau kita pergunakan golok tentu saja lebih hebat. Apalagi kalau mempergunakan pedang!"

"Kalau begitu, ini ilmu pedang?"

Kun Seng tersenyum, hati-hati menjawab, "Terserah bagi yang menggunakannya, Siauw-cut. Yang jelas ilmu silat itu memang paling sempurna kalau mempergunakan pedang!"

"Hm, kalau begitu kau jago pedang, Locianpwe?"

"Ah, siapa bilang? Aku tak membawa pedang, kau tahu itu!"

"Tapi kau bilang ilmu ini paling cocok jika mempergunakan pedang, Locianpwe. Bukankah kalau begitu kau pernah melatihnya dengan pedang?"

Kun Seng terkejut. Dia tertegun sejenak, kagum oleh kecerdikan anak ini yang dapat merangkai sebuah kesimpulan. Tapi, tertawa sambil menggelengkan kepala dia menjawab, "Itu bukan berarti aku seorang jago pedang, Siauw-cut. Karena orang yang melatih pedang belum tentu tak dapat memainkan senjata lain!"

Anak ini diam.

"Dan bagi orang persilatan tak ada yang aneh untuk melakukan itu, Siauw-cut. Karena setiap orang kaum kang-ouw biasanya sudah menjadi kebiasaan untuk melatih delapan belas macam senjata!" Kun Seng melanjutkan, membuat anak ini mengangguk dan akhirnya melempar tubuh di atas tanah.

"Locianpwe, omong-omong ke mana arah yang kita tuju ini? Apakah menuju tempat pendekar pedang itu?"

"Hm, tidak salah, Siauw-cut. Tapi jangan tergesa-gesa menemui pendekar pedang itu. Sebenarnya apa tujuanmu mencari pendekar ini?"

"Sekadar memenuhi perintah Bu-beng Sian-su, Locianpwe. Katanya disuruh membantu pendekar itu ke Gua Naga."

"Eh, mencari apa di sana?"

"Tidak tahu, Locianpwe. Katanya ada sesuatu yang harus dicari di gua itu."

Kun Seng tertawa. "Siauw-cut, kau aneh. Membantu seseorang tanpa kauketahui apa yang harus dicari. Kenapa kau menuruti permintaan Bu-beng Sian-su ini?"

"Hm, sebagai syarat, Locianpwe." Siauw-cut bersinar matanya. "Aku disuruh melaksanakan perintah itu sebelum aku menjadi murid Bu-beng Sian-su!"

"Hanya itu saja?"

"Apanya yang itu saja?"

"Permintaan itu. Apakah Bu-beng Sian-su hanya memberimu sebuah permintaan ini?"

Siauw-cut tiba-tiba bangkit berdiri. "Tidak, masih ada satu lagi, Locianpwe. Dan sekarang aku ingat..." Lalu mengharap penuh gembira pada kakek ini, Siauw-cut bertanya, "Locianpwe, bisakah kau membantuku untuk hal terakhir ini?"

Kun Seng tertawa. "Siauw-cut, kau terlalu sekali. Permintaan pertama mencari jago pedang itu saja belum kulaksanakan dengan baik, bagaimana sekarang dihujani permintaan kedua? Apa yang kauperlukan?"

Anak ini tersenyum. "Sebuah teka-teki, Locianpwe. Bu-beng Sian-su memberiku sebuah teka-teki aneh yang tidak kupahami!"

"Hm, teka-teki apa itu?"

"Sebuah syair, Locianpwe. Aku dan Sin Hong mendapat syair aneh ini dari kakek dewa itu!"

"Sin Hong?" Kun Seng terkejut. "Kaumaksudkan putra Pendekar Gurun Neraka itu?"

Siauw-cut tertegun. Dia kelepasan bicara tadi, tak sadar menyebutkan nama anak ini. Tapi mengangguk dengan kening berkerut dia terpaksa menjawab, "Ya, putra Pendekar Gurun Neraka itu, Locianpwe. Anak sombong yang besar kepala itu!"

Kun Seng bangkit berdiri. "Siauw-cut, boleh kalau kutahu bagaimana kau bertemu dengan anak itu? Apa yang terjadi pada kalian?"

"Aku bertemu secara kebetulan, Locianpwe. Dimulai dari munculnya Bu-beng Siauw-jin!"

"Heh? Si Naga Bongkok dari Himalaya itu?"

Siauw-cut terkejut. Dia melihat kakek ini terbelalak, tampaknya kenal. Maka, bertanya heran dia pun memandang kakek itu, "Kau kenal kakek ini, Locianpwe? Dia memang bongkok, tapi julukan sebenarnya aku tak tahu!"

"Aha," Kun Seng tertegun. Dia balas memandang anak ini, bengong tapi akhirnya menyeringai kecut. Lalu duduk kembali dengan pantat dibanting, kakek ini menghela napas. "Siauw-cut, dia memang si Naga Bongkok itu. Orangnya lihai, aku kenal dia pada tiga puluh tahun yang lalu. Tapi kenapa dia tiba-tiba muncul di sini? Apa yang dia lakukan?"

"Aku tak tahu, Locianpwe. Tapi yang jelas si bongkok itu yang membawa Sin Hong!"

"Hm, tentu diculik!" kakek ini menggerutu. "Dia belum pernah mempunyai murid, Siauw-cut. Jangan-jangan putra Pendekar Gurun Neraka itu sengaja diculik untuk dijadikan muridnya!"

Tapi tertawa dengan mata kosong, kakek ini melanjutkan, "Dan si bongkok itu tentu menemui batunya, Siauw-cut."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment