Chapter 53
"Pendekar sakti itu tentu tak akan membiarkan anaknya diambil orang!" Siauw-cut terbelalak.
"Mungkin saja, *locianpwe*. Tapi yang aneh ialah Bu-beng Siauw-jin ternyata dikejar-kejar orang!"
"Siapa?"
"Seorang nenek tua. Kalau tidak salah julukannya Sin-yan Mo-li!"
Kun Seng mengeluarkan seruan heran. "Nenek itu juga datang?"
Siauw-cut mengangkat keningnya. "Kau juga kenal nenek ini, *locianpwe*?"
Kun Seng mengangguk, tersenyum hambar. Siauw-cut yang tertegun melihat kakek ini mengenal banyak orang *kang-ouw* tiba-tiba juga duduk kembali, mendesah, "Locianpwe, kau rupanya bukan orang sembarangan. Bagaimana kau tahu begitu banyak orang? Bagaimana kau bisa mengenal Bu-beng Siauw-jin dan Sin-yan Mo-li?"
Kakek itu tertawa. "Aku memang orang *kang-ouw*, Siauw-cut. Bagaimana tidak kenal nama tokoh-tokoh besar?"
"Tapi Bu-beng Siauw-jin kau bilang bukan orang sini, *locianpwe*. Berarti dia jauh jaraknya dari kita kalau tinggal di Himalaya!"
"Hm, tapi kami bertetangga, Siauw-cut. Bagaimana aku tidak kenal?"
"Bertetangga? Jadi kalau begitu..." Siauw-cut terkejut. "Kau juga dari Himalaya, *locianpwe*?"
Kun Seng menggeleng. "Tidak, di pegunungan lain..."
"Kalau begitu..." Siauw-cut menyambung, mengingat-ingat. "Kau dari Pegunungan Kun-lun, *locianpwe*? Kau dari tempat ini dan, ah... tahu aku. Kau tentu seorang anggota partai Kun-lun, *locianpwe*. Kau mungkin anak muridnya atau ketua partai itu sendiri!"
Kakek ini tersenyum kecut. "Aku bukan anggota partai itu, Siauw-cut. Ketua Kun-lun-pai adalah Pek-mauw Sian-jin!"
"Jadi...?"
"Kenapa kau mendesakku?" Kakek ini tertawa. "Apa perlumu mengetahui rahasia diriku? Kau sendiri tak suka rahasiamu diketahui orang lain, Siauw-cut. Ingat tentang sikapmu semula kepadaku!"
Siauw-cut merah mukanya. "Maaf aku kelupaan, *locianpwe*. Tapi entah mengapa tiba-tiba aku tertarik untuk mengetahui siapa sebenarnya kau ini!"
Kun Seng tersenyum. Dia tenang saja memandang anak ini, dan Siauw-cut yang jengah dipandang orang tiba-tiba kembali pada persoalan semula. "Locianpwe, kau bisa membantuku memecahkan syair Bu-beng Siau-su ini?"
"Bagaimana bunyinya?" Namun, mengangkat lengan tiba-tiba kakek ini memotong, "Eh, coba kau ceritakan dulu bagaimana pertemuanmu dengan Bu-beng Siauw-jin itu, Siauw-cut. Aku ingin tahu apa yang akhirnya terjadi!"
Siauw-cut menunda keinginannya. Dia menceritakan pertemuannya dengan kakek bongkok itu, di mana Bu-beng Siauw-jin menjadi gara-gara pertemuannya dengan Sin Hong, disusul munculnya nenek iblis Sin-yan Mo-li yang menyerang si bongkok untuk merebut Sin Hong. Lalu tiba pada bagian Sin Hong terlempar ke dalam jurang bersama dirinya, kakek ini tiba-tiba menarik napas.
"Jadi sejak itu kau bertemu Bu-beng Sian-su, Siauw-cut?"
"Ya."
"Dan kau tahu bagaimana cara kakek itu menolongmu?"
"Wah, mana bisa, *locianpwe*? Kami berdua sama-sama pingsan, tak tahu apa yang terjadi!"
"Lalu bagaimana kau bisa keluar? Dan di mana Sin Hong sekarang?"
"Aku tak tahu di mana anak itu, *locianpwe*. Tapi mungkin saja ketemu si bongkok atau setan lain yang mengganggunya!"
"Dan kau sendiri?"
"Bu-beng Sian-su menunjukkan jalan kepada kami, *locianpwe*. Aku keluar melalui petunjuknya ini!"
"Baik, sekarang katakan syair itu."
Siauw-cut mengangguk. Dia lalu menggurat tanah, menulis tujuh kalimat itu yang sudah dihafalnya di luar kepala. Sementara Kun Seng yang mengerutkan alis melihat tujuh baris syair di atas tanah segera membaca:
*Berikan canang, pukullah bende, lekatkan benang di atas mega, jadilah orang hidup berguna, rautlah itu sepanjang masa!*
"Ah, hanya ini, Siauw-cut?"
"Ya, hanya itu, *locianpwe*."
"Dan Sian-su tidak memberikan bayangan untuk memperoleh jawabannya?"
"Hm, ada juga, *locianpwe*. Tapi ancer-ancer yang diberikan kakek itu tidak jelas bagiku!"
"Bagaimana katanya?"
"Kita disuruh lari 'zig-zag', mengambil yang perlu dan membuang yang tidak perlu, lalu menghubungkannya satu sama lain!"
Kakek ini mengerutkan kening. "Begitu katanya?" Dia berpikir keras, tapi gagal menemukan jawaban, tiba-tiba dia pun menghela napas dan memandang anak ini. "Aku tak tahu apa yang dimaksud kakek itu, Siauw-cut. Barangkali Butiong-kiam yang dapat menolongmu!"
Siauw-cut berseri. "Ya, mungkin jago pedang itu dapat menolongku, *locianpwe*. Tapi bagaimanapun juga kau jangan cepat menyerah. Masa baru beberapa kejap sudah bilang tak tahu?"
Kakek ini tertawa. "Otakku sudah tua, Siauw-cut. Barangkali menghadapi teka-teki begini aku tak sanggup lagi."
"Tapi jangan demikian cepat menarik kesimpulan, *locianpwe*. Bagaimanapun kau kuharap untuk mendapatkan jawaban syair ini."
"Sudahlah, kau tidak lapar?" Kakek itu tiba-tiba membelokkan percakapan, memandang anak ini sambil tersenyum. Lalu melompat ke tepi sungai, dia pun tertawa riang. "Kalau lapar mari kita memancing, Siauw-cut. Kau ambil sebatang ranting dan bawa ke sini kepadaku!"
Siauw-cut tertegun. Dia menyeringai kepada kakek itu, mematahkan sebatang ranting lalu memberikannya pada si tua. Tapi melihat tak ada kail dan tali di situ, dia pun bertanya heran, "Apa yang hendak kaulakukan, *locianpwe*? Di sini tak ada mata pancing, juga talinya!"
"Hm, itu mudah, Siauw-cut. Aku dapat menangkap ikan tanpa mata pancing segala."
Siauw-cut terbelalak. Dia melihat kakek itu sudah menyambar rantingnya, tersenyum sambil melongok ke sana-sini, mencari di mana kira-kira ada ikan yang paling banyak. Lalu melompat di sebuah batu besar, kakek itu tiba-tiba berseru, "Nah, di sini banyak ikan, Siauw-cut. Ada mujair dan gurami kuning!"
Anak ini mendekat. Dia melongok, ikut mengamati. Tapi karena air sungai keruh dan pekat warnanya, dia pun heran. "Di mana ikannya, *locianpwe*? Mana itu gurami dan mujair?"
"Ha, kau tak memiliki mata yang awas, Siauw-cut. Aku melihat banyak sekali ikan di batu ini. Tujuh gurami kuning dan belasan mujair hilir-mudik menangkap kecebong!"
"Masa?"
Kakek itu tertawa. "Kau tak percaya?" Lalu, mencelupkan ujung rantingnya ke dalam air, kakek itu tiba-tiba menyontek dua kali. Ia menusuk cepat, memutar pergelangan tangan, dan berseru perlahan. Lalu begitu dia menarik dan mengangkat rantingnya, tahu-tahu "pancing" yang aneh ini telah menusuk tembus dua ekor gurami gemuk yang menggelepar-gelepar di sate kakek ini!
"Nah, apa kubilang, Siauw-cut? Kau masih tidak percaya?" Kakek itu tertawa gembira, melepas guraminya, dan melempar ikan sebesar lengan ini ke tepi sungai. Lalu, sementara Siauw-cut tertegun dan masih bengong memandangnya, kakek itu pun mencelupkan lagi pancingnya yang aneh. "Aku akan menangkap semua ikan gurami itu, Siauw-cut. Kita makan besar dengan tujuh gurami gemuk!"
Siauw-cut tak mampu membuka mulut. Dia melihat kakek itu menusuk-nusukkan rantingnya, tertawa lebar sampai terkekeh. Lalu begitu dia menarik dan mengangkat pancingnya, maka setiap kali itu pula dua ekor gurami kuning "disunduk" (disate). Akhirnya, setelah tiga kali berturut-turut dia mencelup dan mengangkat rantingnya, maka tujuh ekor gurami gemuk benar-benar sudah dia lempar di atas tanah, calon santapan lezat yang sudah cukup untuk mereka berdua!
"Bagaimana, Siauw-cut? Kau masih kurang?"
Siauw-cut sadar. Dia sekarang tidak tertegun lagi, takjub memandang kakek ini. Dia menggelengkan kepala dengan penuh kagum dan sudah melompat ke tepi dengan muka berseri-seri. "Tidak, ini sudah cukup, *locianpwe*. Kenyang rasanya mendapat ikan demikian gemuk dan besar-besar!"
Kakek itu terkekeh. Dia juga melompat ke tepi, mengeluarkan bungkusan kecil yang berisi bumbu dapur, garam, merica, dan rempah-rempah lainnya. Lalu membelek perut ikan dan mengeluarkan isinya, kakek itu sudah memberi bumbu dan memboreh ikan ini dengan sedikit minyak, melemparkannya pada Siauw-cut. "Kau panggang ini, anak bodoh. Bakar di atas api unggun dan kita nikmati bersama!"
Siauw-cut gembira. Dia segera membuat api, membakar atau memanggang tujuh ekor gurami yang sudah diberi bumbu ini. Begitu asap menyala dan ikan sudah di atas api, segeralah tercium bau yang sedap luar biasa.
"Wah, perutku tiba-tiba berkeruyuk, *locianpwe*. Agaknya pandai benar kau memberi bumbu!"
"Heh-heh, itu pekerjaan rutin seorang perantau, Siauw-cut. Aku terbiasa memanggang ikan bila memancing begini."
"Tapi pancingmu tak ada mata kailnya, *locianpwe*. Mengherankan benar bagaimana kau bisa melakukan itu!"
"Ha-ha, itu karena kebiasaan, Siauw-cut. Menggetarkan *sinkang* untuk membuat ikan-ikan itu tak dapat lari."
"Menggetarkan *sinkang*?"
"Ya."
"Bagaimana maksudnya?"
"Artinya kita membuat ikan-ikan itu tersedot *sinkang* kita, Siauw-cut. Lalu begitu mereka tak dapat lari, kita tinggal menusuknya dari atas!"
Siauw-cut terbelalak. "Sedemikian mudah?"
"Apanya yang mudah? Kalau tidak mahir memainkan *sinkang*, tentu saja kau tak dapat menangkap ikan-ikan ini, anak bodoh. Karena itu, perdalam ilmumu itu dan tekunlah berlatih!"
"Hm." Siauw-cut mengangguk-angguk. Dia sekarang tak bicara, menyelesaikan pekerjaannya, dan satu per satu menurunkan ikan panggang di atas api. Begitu semuanya selesai dan ikan panas mengepul di hadapan mereka, segeralah Kakek Kun menyambar seekor.
"Siauw-cut, ganyang yang itu. Habiskan semuanya dan biarkan yang tiga ekor ini untukku!"
Siauw-cut tersenyum. Dia mulai menyambar ikan panggang ini, menikmati rasanya yang sedap luar biasa dan gurih. Tak sungkan lagi pada kakek itu. Begitu mereka berlomba melalap hidangan ini, akhirnya lima menit kemudian tujuh ekor gurami itu habis!
Kakek Kun tertawa, "Siauw-cut, kau rupanya gembul juga. Nafsu makanmu besar!"
Anak ini menyeringai. "Gara-gara bumbu dapurmu yang hebat, *locianpwe*. Ikan ini sedap sekali dimakan seperti itu."
"Dan kau ingin tambah lagi?"
"Wah, tidak berani, *locianpwe*. Perutku kenyang!"
Kakek ini terbahak. "Baik, kalau begitu kita berangkat lagi, Siauw-cut. Kita langsung ke barat menuju kota Wu-kian!"
"Ke tempat jago pedang itu, *locianpwe*?"
"Ha-ha, kenapa kau getol sekali menanyakan pendekar ini? Bukankah kubilang jangan tergesa-gesa?"
Siauw-cut menepis debu, merah mukanya.