Chapter 54
"Aku ingin menyelesaikan tugasku, locianpwe. Karena itu, aku ingin semuanya cepat selesai dan menemui kakek dewa itu!"
"Hm, berguru pada Bu-beng Sian-su?"
"Ya."
"Tapi jangan lupakan ilmu silat tiga jurus itu, Siauw-cut. Bagaimanapun, itu penting untukmu menghajar orang jahat!"
"Aku tidak akan melupakannya, locianpwe. Bagaimanapun akan kuingat ini sebagai budi baikmu!"
"Bagus, syukur jika begitu, Siauw-cut. Ayo, kita berangkat."
Siauw-cut mengangguk. Dia mengikuti kakek itu yang berjalan di depan dengan wajah gembira dan berseri-seri. Sementara itu, Siauw-cut yang membuntuti dari belakang tersenyum geli melihat langkah kakek itu yang sedikit "bergaya".
Malam itu mereka tiba di Wu-kian. Kota ini tidak begitu besar, namun karena rumah penduduk cukup padat di sepanjang jalan raya, kakek itu terpaksa mencari penginapan. Ia berhenti di depan dua buah losmen yang berseberangan.
"Mana yang akan kaupilih, Siauw-cut? Penginapan Yee-kiok atau Ang-hwa?" tanya kakek itu kepada temannya yang tampak bingung karena kedua penginapan itu terlihat sama baiknya.
Siauw-cut akhirnya menuding ke kanan dan berkata, "Sebaiknya kita pilih yang itu saja, locianpwe. Tampaknya losmen Ang-hwa tidak begitu ramai."
"Baik, mari kita masuk." Kun Seng tidak menolak. Dia segera menyambar lengan anak itu dan memasuki penginapan tersebut. Keduanya disambut oleh pelayan yang ramah dan ditawari pilihan kamar kelas satu atau kelas dua.
Namun, sebelum kakek itu menjawab, tiba-tiba seorang lelaki lain muncul, tampaknya seorang tamu baru. Begitu melihat mereka, tamu itu berseru, "Pelayan bodoh, mengapa mesti tanya-tanya lagi pada Kun-lo-enghiong? Berikan dia kamar kelas satu, biar aku yang membayar!"
Lelaki itu tertawa lalu membungkuk di depan Kun Seng sambil berkata, "Kun-lo-enghiong, kenalkan aku. Aku adalah Gin-ciam-siucai Hok Sun!"
Kun Seng terkejut. Dia terpaksa membalas hormat orang itu dengan mata terbelalak, lalu mengerutkan kening dan bertanya, "Saudara Hok Sun, siapakah sebetulnya kau? Bagaimana kau tahu siapa aku?"
Lelaki itu tersenyum. "Aku murid Phoa-lojin, lo-enghiong. Gin-ciam-siucai yang dulu pernah ikut ramai-ramai di perkumpulan Gelang Berdarah!"
Wajah Kun Seng berubah. Dia tampak kaget. Begitu membungkukkan tubuh, kakek itu tiba-tiba berseru, "Ah, kalau begitu kau salah lihat, orang muda. Aku bukan orang yang kau sangka...!"
Tanpa menunggu lama, kakek itu memutar tubuh, menyambar lengan Siauw-cut, dan langsung masuk menuju kamar di bagian belakang. Hok Sun, yang berjuluk Gin-ciam-siucai (Mahasiswa Berjarum Perak), tampak melongo dengan mata terbelalak.
"Lo-enghiong!"
Namun, kakek itu mengibaskan lengan dan menolak bicara sepatah kata pun. Begitu tiba di belakang penginapan, kakek itu menjejakkan kakinya dan membawa Siauw-cut melayang keluar tembok!
"Celaka, rumah penginapan ini tidak aman, Siauw-cut. Lelaki itu orang gila!"
Siauw-cut terkejut. Dia heran melihat dirinya dibawa terbang keluar tembok. Namun, begitu kakinya menyentuh tanah, seorang kakek lain muncul di hadapan mereka.
"Kun-taihiap, kenapa kau melarikan diri?"
Kun Seng tertegun. Dia melihat kakek lain yang sebaya dengannya sedang terkekeh sambil memainkan alat catur. Namun, kakek itu segera melejit dan menarik Siauw-cut ke arah selatan untuk melarikan diri. Sambil menjejakkan kaki menjauhi kakek yang menegur tadi, ia mengomel, "Celaka, kenapa losmen ini dihuni orang-orang gila, Siauw-cut? Aku tidak kenal dan tidak tahu siapa mereka itu!"
Siauw-cut tertegun. Dia tidak mengerti siapa orang-orang itu, namun melihat kakeknya ketakutan, ia merasa tidak puas. "Lo-cianpwe, kau aneh sekali. Kenapa melarikan diri dari kakek dan laki-laki muda itu? Siapa mereka?"
"Ah, jangan banyak omong dulu, Siauw-cut. Mereka itu orang-orang gila yang bisa mengganggu kita!"
Siauw-cut tidak mendapat jawaban lagi. Dia diajak berlari cepat, bahkan pinggangnya disambar agar bisa melompat-lompat di atas wuwungan rumah penduduk. Setelah merasa jauh dari dua orang tadi, kakek itu menurunkan Siauw-cut dan mengusap peluh di keningnya.
"Nah, sekarang kita aman, Siauw-cut. Tapi rupanya kita harus tidur di kolong altar!"
Siauw-cut terbelalak. Mereka ternyata tiba di sebuah kelenteng tua di tengah kota yang tidak terurus. Siauw-cut kembali mengungkapkan rasa tidak puasnya, "Locianpwe, kau berlebihan. Rupanya kau kenal pada dua orang itu! Kenapa kau merahasiakan ini?"
Kakek Kun tertegun. "Kenapa kau menuduhku begitu, Siauw-cut? Mereka itu orang-orang gila, aku khawatir kita diganggu dan tidak dapat beristirahat dengan baik!"
"Kalau begitu, kenapa tidak kau lawan?"
"Apanya yang dilawan? Menghadapi orang-orang gila? Wah, kau yang keterlaluan, Siauw-cut. Aku terang tidak mau bertanding dengan orang-orang gila!"
Siauw-cut cemberut melihat kakek itu tertawa geli. Namun, dua bayangan yang tiba-tiba berkelebat di depan kuil membuat kakek itu kaget. Ia menyambar Siauw-cut dan mendekam di bawah kolong altar dengan wajah berubah tegang.
Begitu dua bayangan itu muncul, ternyata mereka adalah Gin-ciam-siucai Hok Sun dan kakek tua tadi.
"Aneh, ke mana mereka, Suhu?" seru Hok Sun sambil celingukan. Tiba-tiba ia berteriak nyaring, "Kun-locianpwe, kenapa kau melarikan diri dari kami? Apa yang kau takuti?"
Kun Seng tentu saja tidak menjawab. Dia mengerutkan tubuh di kolong altar, menekan kepala Siauw-cut agar bertiarap sambil mendesis agar anak itu tetap diam.
"Keparat, orang-orang gila itu ternyata mengejar kita, Siauw-cut. Kau diamlah di sini, jangan bergerak!"
Siauw-cut penasaran dan ingin memberontak, tetapi sebelum ia sempat bergerak, Kun Seng telah menotoknya hingga tidak bisa bergerak.
"Setan, kenapa kau mau membuat gaduh, anak tolol? Yang tua itu sedang kemari, jangan membantah perintahku!"
Siauw-cut mendongkol bukan main. Dia melihat kakek yang disebut "Suhu" oleh Hok Sun itu berkelebat masuk ke dalam kelenteng untuk menyelidik, lalu keluar lagi karena tidak menemukan siapa pun.
"Aneh, ke mana jago pedang itu bersembunyi, Hok Sun? Aku tadi melihatnya di sini, tidak mungkin salah!" ujar si kakek tua.
Laki-laki muda itu menimpali, "Ya, dan aneh sekali dia pura-pura tidak mengenalku, Suhu. Agaknya jago pedang itu sedikit tidak waras atau sengaja mengibuli kita. Atau dia bukan jago pedang itu, Suhu?"
"Hm, mana mungkin? Aku mengenalnya cukup baik, Hok Sun. Dialah..."
Baru sampai di situ, seekor semut api menggigit telinga Siauw-cut dengan sangat keras. Karena menahan rasa sakit, Siauw-cut tidak mendengar lanjutan kalimat yang menyebut nama Bu-tiong-kiam itu.
Hok Sun dan kakek tua itu akhirnya tidak bicara lagi. Mereka meninggalkan kelenteng sambil bersungut-sungut. Kakek Kun membebaskan totokan Siauw-cut dan melompat bangun sambil menyeringai.
"Maaf, jangan marahi aku, Siauw-cut. Itu kulakukan karena terpaksa!"
Siauw-cut ikut melompat bangun. "Tapi kau kelewatan, locianpwe. Kau membuat lututku terlipat di lantai!"
"Heh heh, maaf anak baik. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Sekarang tidak apa-apa lagi, bukan?" Kun Seng menepuk pundak anak itu untuk menenangkannya, sementara dua jarinya diam-diam meremas semut api yang tadi ia sentilkan ke telinga Siauw-cut.
Siauw-cut terpaksa menggigit bibir dan menahan dongkol. "Locianpwe, lain kali aku tidak mau begitu lagi. Kau tidak perlu lari-lari menghadapi musuh!"
"Baik, tapi kalau menghadapi orang gila, aku tidak mau melayani, Siauw-cut. Terus terang, aku paling takut menghadapi orang macam begitu!"
"Apakah mereka tadi benar-benar orang gila?"
"Ya. Tidakkah kau dengar apa yang mereka bicarakan? Aku tidak kenal siapa mereka, tapi mereka masih memburuku dan mengejar-ngejar sampai di sini!"
"Dan mereka bilang kau jago pedang, locianpwe. Apakah kau tidak menyembunyikan rahasia?"
"Wah, jago pedang apa, Siauw-cut? Kau tahu sendiri aku tidak membawa-bawa pedang. Sudahlah, aku tidak mengenal mereka, mereka itu orang-orang gila yang harus kita hindari."
Namun, Siauw-cut tetap tidak percaya. Ia mulai meragukan keterangan kakek itu karena tindak-tanduk keduanya tidak seperti orang gila. Belum sempat ia membantah, ia melihat patung di belakang altar bergerak-gerak.
"Eh, apa itu, locianpwe?"
Kun Seng cepat menoleh. Melihat patung di belakangnya bergerak seakan hendak berjalan, kakek itu tertegun. Mereka mendengar suara aneh dari dalam patung, seperti suara dari balik kubur. Kun Seng segera melompat ke depan dan berseru, "Ada orang terjepit di dalam, Siauw-cut!"