Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 55

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 55

"Ada seseorang di dalam sini..."

Siauw-cut terkejut. Dia melompat maju, mendekati patung itu. Begitu keduanya mendekati patung, mendadak terdengar suara tinggi yang melengking marah memaki kakek itu.

"Tua bangka, berani kau memaki-maki ayah dan suhengku sebagai orang gila? Ah, awas kau... aku akan menghajarmu begitu keluar dari patung keparat ini!"

Kun Seng tertegun. "Lho, suara seorang gadis cilik, Siauw-cut. Bagaimana kita menjumpai hal yang demikian aneh?"

Siauw-cut juga terheran. "Ya, tampaknya seorang anak perempuan, locianpwe. Rupanya dia terjepit dan terperangkap di dalam patung itu!"

Kun Seng mengangguk. Dia tertawa, lalu mengangkat patung itu dan tiba-tiba menggeser benda berat tersebut menjauhi meja altar, bermaksud membebaskan anak perempuan yang marah-marah di dalam patung itu agar diketahui siapa adanya. Namun, dia berseru keras karena kaget saat mendapati kenyataan bahwa patung itu tak dapat diangkat.

"Ah, patung ini melekat di dalam tanah, Siauw-cut. Rupanya menghunjam dan memiliki kerangka beton yang tak dapat dipindahkan!"

Siauw-cut terkejut. "Kalau begitu, bagaimana anak perempuan di dalam bisa masuk, locianpwe? Bagaimana dia lewat?"

Tiba-tiba mata patung terbuka. Sepasang mata yang indah bening dari seorang gadis cilik muncul, bersinar penuh amarah. Melihat Kun Seng berusaha memindahkan benda berat ini dan gagal, tiba-tiba dia berseru, "Kakek bodoh, putar dulu meja altar itu ke kiri dua kali. Baru patung akan terbuka!"

Kun Seng melongo. "Kau tahu rahasianya?"

"Ya."

"Bagaimana kau tahu?"

Gadis di dalam mencak-mencak. "Kenapa cerewet amat, tua bangka? Bukankah kau ingin menolongku?"

Namun, Siauw-cut sudah mendahului kakek itu; dia memutar meja altar dua kali tanpa banyak bicara. Begitu meja diputar serta digeser, mendadak patung itu "terbelah" dan seorang gadis cantik melompat keluar, langsung menerjang Kakek Kun.

"Tua bangka, kenapa kau memaki-maki ayah dan sukongku? Apa salah mereka kepadamu!"

Kun Seng terkejut. Dia tentu saja melompat ke sana kemari, menghindari serangan anak perempuan itu, sementara mulutnya yang berkaok-kaok panjang lebar berteriak dengan penuh keheranan, "Bocah liar, kau siapa dan kenapa membabi buta menyerangku? Bukankah kami yang membebaskan kau dari dalam patung?"

Tetap saja gadis ini menerjang marah. "Aku tak perduli, kakek tua. Kau telah menghina dan memaki-maki ayah serta kakekku!"

"Lho, siapa kau ini?"

"Aku Hok Lian, putri dari Gin-ciam-siucai Hok Sun itu!"

"Ah, kalau begitu kau cucu murid Phoa-lojin?"

"Benar!" Gadis itu terus melancarkan serangan bertubi-tubi ke arah kakek tersebut. Ia tampak marah sekali. Sementara itu, Kakek Kun yang terbelalak oleh pengakuan ini mendadak melompat ke belakang.

"Siauw-cut, anak ini rupanya mabuk. Kau jinakkan dulu, biar aku pergi!" Kakek Kun, yang tiba-tiba menangkis kaki kiri Hok Lian, tahu-tahu melempar tubuh, bergulingan, dan melarikan diri keluar kelenteng.

Dia lenyap di depan, dan Hok Lian yang mengejar sudah memburunya. "Kakek jahat, jangan lari kau. Kau telah menghina dan memaki-maki orang tuaku!"

Siauw-cut membuntuti pula. Dia melihat Kakek Kun tak tampak bayangannya lagi, sementara Hok Lian yang marah-marah di luar kelenteng cepat-cepat dihampirinya.

"Nona, redakan dahulu kemarahanmu. Kakek itu bukan orang jahat!"

Hok Lian langsung membalikkan tubuh. "Kau membelanya, ya? Kau menutupi kesalahan temanmu itu?"

Siauw-cut menelan ludah. "Bukan begitu, Nona. Tapi sesungguhnya Kun-locianpwe bukan orang jahat. Dia telah membebaskanmu, bukan?"

"Hm, bukan dia yang membebaskan aku, sahabat muda. Tapi kaulah yang membuka patung sialan itu!" Lalu, sambil membanting kaki dengan muka uring-uringan, gadis ini membungkukkan tubuhnya. "Sobat, terima kasih untuk pertolonganmu. Siapakah namamu?"

Siauw-cut akhirnya tersenyum. Dia melihat gadis ini manis sekali, matanya bening dan indah. Maka, menjawab sambil tertawa kecil, dia memperkenalkan diri, "Aku Siauw-cut, Nona. Orang tak berharga yang kebetulan saja datang ke tempat ini. Siapakah sebenarnya kau dan orang tuamu itu?"

Hok Lian terbelalak. "Siauw-cut (Kerucuk)?" Ia tertawa geli tiba-tiba sambil menuding. "Sobat, kenapa namamu demikian aneh? Siapa yang memberimu julukan ini?"

"Hm, aku menamakan diriku memang begitu, Nona. Tak ada yang memberikan julukan ataupun nama kepadaku."

"Kalau begitu, kau marah pada orang tuamu?"

"Tidak. Aku sebatangkara, Nona. Aku tak tahu dan tak sempat memiliki orang tua."

"Jadi kau sendiri di dunia ini? Kalau begitu, siapa kakek jahat itu?"

Siauw-cut tersenyum kecut. "Dia sahabat baruku, Nona. Bukan orang jahat, tapi orang baik-baik. Kenapa kau marah-marah kepadanya?"

"Huh!" Hok Lian membanting kaki. "Orang baik-baik apanya? Dia bukan orang baik-baik, Siauw-cut. Kalau orang baik-baik, tentu tak akan memaki orang lain seperti yang dia lakukan!"

"Hm, mungkin terjadi salah paham di sini, Nona. Betapapun ayah dan kakekmu itulah yang mendahului kami, mengejar-ngejar kami sampai di sini dan membuat kami merasa terganggu!"

"Apanya yang diganggu? Kenapa ayah dan kakek mengganggumu?"

Siauw-cut angkat bahu. "Aku tak tahu, Nona. Temanku sendiri tak memberitahu apa-apa kepadaku tentang ini!"

"Hm, kalau begitu kakek tua itu jelas orang jahat, Siauw-cut. Dan... kau mungkin juga begitu!"

Siauw-cut terkejut. "Kenapa begitu, Nona? Bukankah kami tidak mengganggumu dalam hal apapun?" Namun, sambil tersenyum kecut dan bersikap acuh, anak laki-laki ini bertanya, "Nona, bagaimana kau bisa bersembunyi di dalam patung itu? Kenapa kau dapat masuk tetapi tak dapat keluar?"

Hok Lian membanting kaki. "Siapa yang bersembunyi di tempat pengap itu? Aku diculik seseorang, Siauw-cut. Aku dibawa kemari dan dimasukkan ke dalam patung keparat itu!"

"Lho, bukankah kau bersama ayah dan kakekmu itu?"

"Ya, tapi aku memisahkan diri, Siauw-cut. Aku minta izin pada ayah untuk berjalan-jalan di Kota Wu-kian. Tapi seseorang menculikku dan membawaku kemari!"

"Jadi ayahmu tidak tahu?"

"Ya."

"Ah, kalau begitu kau tadi dapat berteriak-teriak ketika ayahmu kemari, Nona. Kenapa tidak kau lakukan itu!"

"Bodoh, aku ditotok jahanam itu, Siauw-cut. Baru saja bebas setelah ayah dan kakek pergi!"

Siauw-cut melongo. "Siapa laki-laki yang menculikmu itu?"

"So-beng!"

"Hah?" Siauw-cut melompat mundur. "So-beng?"

"Ya, orang itu mengaku bernama So-beng, Siauw-cut. Dan aku berjanji untuk kelak membalas dan menangkap jahanam itu!"

Siauw-cut tertegun. Dia tak menyangka sama sekali bahwa So-beng tiba-tiba muncul di sini, menculik putri Gin-ciam-siucai ini, dan menyembunyikannya di dalam patung. Tapi, heran gadis itu dapat mengetahui jalan keluarnya, tiba-tiba dia bertanya, "Nona Hok, kalau begitu bagaimana kau bisa tahu bahwa cara membuka patung itu adalah melalui meja altar?"

"Hm, sebelumnya aku telah melihat setan itu membuka dan menutup patung ini, Siauw-cut. Karena itu aku tahu bagaimana cara keluarnya."

"Tapi kenapa kau diculiknya?"

"Mana aku tahu? Setan itu tak banyak bicara kepadaku, Siauw-cut. Dia tahu-tahu menotokku roboh dan membawaku ke kelenteng ini ketika aku sedang berjalan-jalan di tengah kota!" Hok Lian mengepal tinju.

"Baik, kalau begitu di mana dia sekarang, Nona? Kenapa kau ditinggalkannya seorang diri?"

"Aku tak tahu, Siauw-cut. Dia segera pergi begitu aku dikurungnya di patung ini!"

"Hm, kalau begitu dia tentu kembali, Nona. Sebaiknya kau kembali saja pada orang tuamu dan pergilah!"

"Eh, kau mengusirku?"

Siauw-cut terkejut. Dia melihat mata gadis ini tiba-tiba berapi, marah kepadanya. Siauw-cut menarik napas dan buru-buru mengangkat tangannya.

"Tidak, tidak begitu, Nona Hok. Aku tak mengusirmu, melainkan semata-mata memberi nasihat kepadamu agar kau melepaskan diri dari penculikmu itu. So-beng amat lihai, juga berbahaya. Karena itu tak baik kalau kau nekat menghadapinya seorang diri!"

"Hm, kau menggurui aku, Siauw-cut? Kau mau menjadi pahlawan untuk menghadapi setan itu?"

Siauw-cut merah mukanya. Tapi, belum dia menjawab, tiba-tiba dua bayangan berkelebat memasuki kuil.

"Lian-ji, kau di situ?"

Hok Lian terpekik. Dia melihat ayah dan kakeknya muncul, maka berteriak gembira ia pun menghambur maju dan melengking. "Ayah, aku diculik So-beng!"

Dua orang laki-laki ini terkejut. Mereka girang melihat Hok Lian ada di situ, tapi melihat Siauw-cut ada di dekat anak perempuan ini, segera Hok Sun tertegun.

"Eh, bukankah ini anak yang bersama Kun-lo-enghiong itu, Suhu?"

Kakek di sebelah kiri mengangguk. "Ya, tidak salah, Hok Sun. Tapi di mana jago pedang itu sendiri?" Lalu melompat mendekati anak ini, kakek itu bertanya, "Anak baik, di mana temanmu itu? Bagaimana kau ada di sini?"

Namun, Hok Lian mendahului, "Mereka sudah ada di sini sejak tadi, Kek. Dua orang itu bersembunyi di kolong altar ketika kau datang!"

"Eh, bagaimana kau tahu?" Phoa-lojin terkejut.

Hok Lian segera menerocos, "Aku ada di belakang mereka, Kek. Aku terkurung di patung itu sementara mereka berdua tiarap!"

"Ah!" Kakek dan laki-laki muda itu terbelalak.

Tapi Gin-ciam-siucai yang rupanya heran mendengar cerita putrinya tiba-tiba memutar tubuh. "Dan kau bagaimana bisa terkurung di dalam patung, Lian-ji? Apa yang sesungguhnya terjadi?"

"Aku diculik orang, Ayah..."

"Ya, ya, aku tahu itu!" sang ayah memotong. "Karena itu segera kami berdua mencarimu, Lian-ji. Kami bertemu Kong Tong Lojin yang melihatmu diculik!"

Anak perempuan ini tertegun. "Jadi kau sudah tahu, Ayah?"

"Ya."

"Dan kau tahu pula siapa penculikku itu?"

"Tidak. Kau bilang tadi bernama So-beng, benarkah?"

Hok Lian mengepal tinjunya. "Memang begitu, Ayah. Aku tidak tahu siapa iblis itu kalau dia sendiri tidak memberitahukannya kepadaku!"

"Dan di mana dia sekarang?"

"Aku tak tahu, Ayah. Tapi menurut anak ini, katanya dia tentu kembali ke sini!"

Sekarang dua orang laki-laki itu mengalihkan perhatiannya pada Siauw-cut.

"Kau siapa, anak baik? Murid si jago pedang itukah?"

Siauw-cut menggeleng. "Bukan, locianpwe. Aku seorang anak lola yang tidak mempunyai guru atau orang tua."

"Dan siapa namamu?"

"Dia Siauw-cut, Ayah!" Hok Lian memotong, nyaring suaranya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment