Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 56

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 56

Dan Hok Sun terbelalak mendengar ini; ia kontan heran dan merasa aneh.

"Kau bernama Siauw-cut, anak baik. Kenapa namamu demikian aneh?"

Namun, Siauw-cut mulai ogah-ogahan bicara. Ia sebenarnya sedang memikirkan ke mana Kakek Kun pergi. Kenapa ia lama tak muncul dan membiarkan dirinya seorang diri di situ? Tapi, karena mendapat pertanyaan dari laki-laki yang berwajah gagah ini, mau tidak mau ia menjawab juga, "Ya, namaku Siauw-cut, Paman. Tapi aku tak merasa aneh dengan namaku ini."

"Dan ke mana Kun-lo-enghiong yang bersamamu itu?"

Hok Lian melengking tinggi, "Dia melarikan diri, Ayah! Dia tak muncul lagi sejak kuserang!"

"Eh, kau menyerang jago pedang itu?" Hok Sun terkejut. Namun, sebelum ia mendapat jawaban, tiba-tiba Siauw-cut yang merasa "gatal" hatinya sudah melangkah maju.

"Paman Hok, siapakah yang kaumaksud dengan jago pedang itu? Apakah kakek yang bersamaku tadi?"

Gin-ciam-siucai melongo. "Lho, apa yang kautanyakan ini, Siauw-cut? Bukankah betul dia Kun Seng dari..."

Belum kata-kata ini dilanjutkan, tiba-tiba terdengar suara tawa menyeramkan dari belakang kuil. Sebuah bayangan berkelebat, dan Hok Lian yang melihat bayangan itu mengenakan kedok merah tiba-tiba sudah menudingkan jarinya, menjerit, "Dia So-beng, Ayah!"

Gadis cilik itu pun melompat maju dengan pekik marahnya dan menerjang ke depan, menyerang bayangan tersebut. "So-beng, kau penculik hina!"

Hok Sun dan Phoa-lojin terkejut. Mereka melihat putrinya itu sudah menyerang ganas, tapi So-beng yang menggerakkan lengan kirinya untuk menangkis membuat Hok Lian menjerit dan terpelanting roboh. Lalu, sambil tertawa mengejek dan menjejakkan kakinya, sekonyong-konyong iblis itu melompati tembok belakang dan melarikan diri.

"Phoa-lojin, aku tak suka pada anak perempuanmu. Biar kali ini kukembalikan dulu!"

Kakek Phoa dan Hok Sun membentak. Mereka menolong Hok Lian yang terpelanting, lalu menotolkan kaki dengan ringan, dan keduanya pun mengejar laki-laki itu dengan seruan keras, "So-beng, jangan lari!"

Namun, laki-laki berkedok itu tertawa menyeramkan. Ia menyelinap ke sana ke mari, memanfaatkan kegelapan malam untuk melarikan diri. Kakek Phoa serta muridnya yang mengejar di belakang dengan penuh rasa penasaran tiba-tiba mengerahkan ginkang mereka untuk menyusul lawan.

"Hok Sun, potong jalan larinya! Kau hadang di sebelah kiri, biar aku yang di sebelah kanan!"

Siauw-cut terbelalak. Ia melihat dua orang laki-laki itu tiba-tiba memisahkan diri, menyimpang ke kiri dan ke kanan. Dan tiga orang yang segera kejar-kejaran di malam yang gelap itu tiba-tiba sudah lenyap dari pandangannya; tak diketahui ke mana lagi.

"Siauw-cut, celaka. Kita tak dapat tinggal lagi di kota ini!"

Siauw-cut terkejut. "Apa yang terjadi, Lo-cianpwe? Dan, eh... kenapa mukamu coreng-moreng begitu?"

Kakek ini tersenyum kecut. "Bukan aku saja yang harus coreng-moreng, Siauw-cut. Kau juga harus mencoreng mukamu agar tidak menemui bahaya!"

Kemudian, belum Siauw-cut mengerti apa yang dimaksud kakek ini, mendadak Kun Seng sudah mencoreng-coreng mukanya dengan lumpur. Lalu, sambil menyeringai dan tergesa-gesa melangkah, kakek itu menarik lengan anak ini.

"Siauw-cut, kita menyingkir. Gin-ciam-siucai dan gurunya itu bisa mengganggu kita!"

Siauw-cut tertegun. "Kenapa, Locianpwe? Apa yang terjadi?"

Tapi kakek ini sudah tak banyak bicara lagi. Ia membawa Siauw-cut lari cepat, meninggalkan kelenteng dan keluar lewat gerbang selatan di Kota Wukian. Lalu, menyambar pinggang anak ini dengan kecepatan luar biasa, tiba-tiba kakek itu sudah terbang menuju ke selatan!

"Siauw-cut, kau diamlah. Bu-tiong-kiam dikejar-kejar orang dan kita harus menolongnya!"

Siauw-cut terbelalak. Ia hanya mendengar kalimat pendek itu, tak ada tambahan lagi. Dan Kun Seng yang sudah terbang dengan kecepatan penuh mengerahkan ginkangnya itu sudah tak dapat diajak bicara lagi karena angin mendesau melenyapkan suara mereka. Hingga akhirnya, setelah semalam suntuk mereka tak berhenti sekejap pun, tibalah mereka di sebuah bukit yang puncaknya menyerupai sebatang pedang.

Di sini kakek itu menurunkan Siauw-cut, lalu mengusap peluh yang membasahi keningnya. Kakek itu menuding ke depan.

"Kita tiba di Bukit Pedang, Siauw-cut. Tak ada waktu lagi untuk menjelaskan persoalan ini dengan panjang lebar!"

Siauw-cut tertegun. "Apa yang hendak kita lakukan, Locianpwe? Kenapa kau membawaku ke mari?"

"Kita akan membantu Bu-tiong-kiam, Siauw-cut. Jago pedang itu dalam kesulitan!"

Siauw-cut terkejut. "Kesulitan apa, Locianpwe?"

"Kesulitan memasuki Gua Naga!"

"Ah!" Siauw-cut terhenyak. "Kesulitan memasuki Gua Naga, Locianpwe? Apa maksudmu?"

Tapi belum Kun Seng menjawab, tiba-tiba dua bayangan berkelebat. Mereka adalah dua orang laki-laki aneh; yang satu tinggi kurus bagai tengkorak hidup, sedang yang lain tinggi besar bagai raksasa buas yang matanya sebesar jengkol. Dan baru dua orang ini muncul di sebelah kanan, tiba-tiba di sebelah kiri muncul pula seorang nenek berpakaian hitam yang bukan lain Sin-yan Mo-li adanya!

"Ah, itu Sin-yan Mo-li, Locianpwe." Siauw-cut terkejut.

Kun Seng mengangguk, berubah mukanya. "Ya, dan yang dua itu adalah Si Mayat Hidup dan temannya, Siauw-cut. Temu Ba si raksasa yang suka makan daging anak-anak..."

Siauw-cut tertegun. Ia terbelalak memandang tiga orang iblis yang muncul itu mengitari Bukit Pedang. Dan si raksasa tinggi besar yang menggereng melihat Sin-yan Mo-li muncul bersama mendadak membentak dengan suaranya yang menggelegar.

"Nenek iblis, kau juga ikut-ikutan ada di sini? Apa yang kau cari?"

Sin-yan Mo-li terkekeh. "Jangan tanya maksud orang lain, Mu Ba. Kau sendiri apa yang kau cari di sini? Aku mencari obat-obatan, kau pergilah jangan menggangguku!"

Si raksasa melompat maju. "Kau bohong, Nenek iblis. Kau datang untuk menghadang si jago pedang!"

Nenek itu terkejut. "Kau sudah tahu?"

Tapi si lelaki kurus kering yang bukan lain Mayat Hidup adanya sudah batuk-batuk mendekati mereka. "Sin-yan Mo-li, sebaiknya kau menyingkir dulu. Kau tak berhak mengganggu jago pedang itu karena dia sahabat kami."

Sin-yan Mo-li terkekeh. "Apanya yang sahabat, Mayat Hidup? Kapan kau mengaku jago pedang itu sahabatmu?"

Si Mayat Hidup menyeringai, batuk-batuk. "Kami sudah menjadi sahabat sejak hari ini, Mo-li. Kami datang untuk menyambut jago pedang itu yang akan datang ke mari."

"Hm, tak perlu berputar-putar, cecak kering," nenek itu mengejek. "Terus terang sajalah bahwa kau ingin mengikuti jago pedang itu ke Gua Naga!"

Si Mayat Hidup terbelalak, tapi akhirnya tertawa serak, batuk-batuk lagi. "Jadi kau sudah tahu hal ini, Mo-li? Kalau begitu, kau juga ingin ke Gua Naga?"

Sin-yan Mo-li mendengus. "Bukan kalian saja yang kepingin ke gua itu, Mayat Hidup. Semua orang boleh menentukan pilihannya dan masing-masing berhak mengikuti jago pedang itu."

Temu Ba yang bicara blak-blakan membentak, "Jadi kau juga mengincar Pedang Naga, Mo-li? Kau ingin menyaingi kami merebut pedang itu?"

"Heh-heh, jangan galak-galak, Mu Ba. Aku tak berniat merebut pedang, tapi sekadar membantu pendekar pedang itu bila dia terancam!"

Si Mayat Hidup tertawa mengejek. "Mo-li, jangan memutar omongan. Kau hendak merebut secara halus, bukan? Kau berdalih saja membantu pendekar itu, Nenek iblis. Tapi sesungguhnya kutahu kau akan membunuh jago pedang itu begitu Pedang Naga berhasil kau peroleh!"

Sin-yan Mo-li menyeringai. "Mayat Hidup, otakmu encer. Kalau begitu, apa yang hendak kaulakukan?"

Iblis kurus ini mengerotokkan jari-jarinya. "Kau tak boleh coba-coba menyaingi kami, Mo-li. Sebagai sesama golongan, kunasihati baik-baik, pergilah kau dari tempat ini sebelum kami marah. Jago pedang itu bagian kami, bukan bagianmu!"

"Hm, kau mengancam, Mayat Hidup?"

Iblis ini batuk-batuk. "Kalau kau mengerti, sebaiknya kau pergi, Mo-li. Jangan tunda semuanya ini demi kebaikanmu sendiri."

"Bagus, kalau begitu coba kulihat kemarahanmu, Mayat Hidup. Aku akan pergi kalau kau dapat mengalahkan cambukku... tarr-tarr!"

Sin-yan Mo-li yang tiba-tiba sudah menjeletarkan cambuk berdurinya di atas kepala tiba-tiba melompat mundur bersiap-siap. Mayat Hidup terbelalak. "Kau menantang?"

Nenek ini menjengek. "Kalau kau mengusirku, Mayat Hidup!"

Maka Mayat Hidup yang tak dapat menahan kemarahannya lagi tiba-tiba berkelebat maju dengan bentakan lirihnya, "Sin-yan Mo-li, kau mencari penyakit!"

Iblis kurus yang sudah menyerang lawannya ini mengepret kelima jari ke pelipis nenek itu. Tapi Sin-yan Mo-li terang tak mau diam. Ia menyambut tamparan Mayat Hidup itu sambil tertawa dingin. Dan begitu cambuk meledak di udara, ia pun sudah menangkis serangan lawannya itu.

"Mayat Hidup, jangan sombong kau... prat!"

Cambuk serta jari bertemu di udara dengan ledakan nyaring, tiba-tiba sama terpental dan mengejutkan masing-masing pihak. Keduanya terdorong mundur, sama terbelalak. Tapi Mayat Hidup yang mendengus dingin sudah maju lagi melanjutkan serangannya. Ia tak banyak bicara; dua orang iblis yang sudah saling serang dengan sama cepat itu tiba-tiba sudah membentak dan melancarkan pukulan.

Mayat Hidup dengan kepretan dan tamparannya yang bertubi-tubi, sedangkan Sin-yan Mo-li dengan ledakan cambuknya yang menangkis serta mematuk dari segala penjuru, menjeletar-jeletar bagai suara petir yang menyambar. Begitu dua orang ini bergebrak saling serang, keduanya pun lenyap dalam belitan sinar hitam yang mengurung mereka; belitan sinar hitam dari ujung cambuk Sin-yan Mo-li yang meledak-ledak!

Siauw-cut tertegun. Ia sudah melihat ilmu cambuk yang dimainkan nenek iblis itu ketika bertanding melawan Si Naga Bongkok. Tapi melihat Si Mayat Hidup dapat menangkis dan menggerakkan kesepuluh jarinya yang berkerotok dan bertubi-tubi menusuk serta mengepret tubuh Sin-yan Mo-li, ia pun terkejut dan kagum juga.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment