Chapter 57
"Wah, iblis kurus itu hebat juga, Locianpwe. Agaknya dia setanding dengan nenek iblis Sin-yan Mo-li itu!" Kun Seng mengerutkan kening.
"Memang keduanya sama hebat, Siauw-cut. Tapi yang tak kumengerti adalah bagaimana iblis-iblis itu tahu tentang rencana kedatangan si jago pedang!" Siauw-cut terbelalak.
"Ya, dan ada apa dengan Gua Naga, Locianpwe? Apa pula nama pedang yang mereka sebut-sebut tadi?"
"Hm, Bu-tiong-kiam hendak mencari Pedang Naga di gua itu, Siauw-cut. Dia diperintah Bu-beng Sian-su untuk mendapatkan pedang ini!"
"Ah, begitukah?" Siauw-cut heran. "Dari mana kau tahu, Locianpwe?"
Namun, kakek itu tiba-tiba memutar bola matanya. "Siauw-cut, kau tunggu di sini. Aku akan menyelidiki ke sekeliling bukit untuk mengetahui keadaannya!"
Siauw-cut terkejut. "Tapi tiga iblis itu ada di sana, Locianpwe! Bagaimana kau hendak keluar?"
"Hm, serahkan hal ini kepadaku, Siauw-cut. Aku dapat mengecoh mereka dan kita segera ke Gua Naga!" Lalu bangkit berdiri dan mencengkeram lengan Siauw-cut, kakek ini memandang anak itu. "Siauw-cut, kau dapat membantuku sedikit?"
Siauw-cut tergetar, kaget melihat sinar mata kakek itu yang tiba-tiba mencorong menakutkan. Sikapnya keren dan berwibawa sekali, belum pernah ia saksikan. Namun, sambil mengangguk dengan mata penuh tanda tanya, anak ini mendesis, "Tentu saja, Locianpwe. Apa yang harus kulakukan?"
"Kau segera menghampiri batu hitam di sebelah kiri itu, Siauw-cut. Menyelinap dan bersembunyilah di sana begitu tiga orang iblis itu kutarik perhatiannya ke punggung bukit!"
Siauw-cut tertegun. "Menghampiri batu hitam itu, Locianpwe?"
"Ya, dan kautarik sebuah batu kecil yang ada di samping batu itu, Siauw-cut. Kau akan mendapatkan sebuah gua dangkal untuk tempat persembunyianmu!"
Siauw-cut mengangguk. Dia menelan keheranannya bagaimana kakek itu tahu tentang keadaan batu hitam itu, tapi belum sempat dia bertanya, tahu-tahu kakek itu telah berkelebat lenyap.
"Siauw-cut, perhatikan baik-baik omonganku. Jangan menunda waktu begitu mereka kutarik perhatiannya ke punggung bukit!"
Siauw-cut tak sempat bertanya lagi. Dia melihat kakek itu sudah menuju Bukit Pedang, meluncur bagai setan terbang. Begitu bayangan kakek ini hanya menjadi titik kecil di kejauhan, tiba-tiba dia sudah mendaki bukit di sebelah kiri pertempuran, di mana waktu itu Mayat Hidup dan Sin-yan Mo-li terlibat pertandingan sengit, tanpa melihat bayangan kakek ini yang mendaki puncak.
Namun, Mu Ba yang melihat bayangan kakek itu tiba-tiba berteriak, "Hei, ada orang ke puncak bukit!"
Mayat Hidup dan Sin-yan Mo-li terkejut. Mereka otomatis menghentikan pertempuran, menoleh ke kiri di mana Mu Ba terbelalak. Begitu sadar dan kaget melihat seorang asing muncul mendaki bukit, mendadak tiga orang itu berseru keras dan mengejar.
Mu Ba paling dulu membentak. Raksasa tinggi besar itu sudah menjejakkan kakinya, berteriak dan menggereng bagai singa lapar. Lalu tubuhnya yang berkelebat mendaki bukit sudah terbang mendahului dua orang rekannya.
"Keparat iblis, berhenti kau!"
Namun, Kun Seng terang tak mau berhenti. Dia terus mengerahkan ginkangnya, berlari cepat ke atas bukit. Hampir tiba di puncak, tiba-tiba dia berjungkir balik dan turun kembali lewat punggung di sebelah sana!
Raksasa ini mengangguk. Bersama gerengannya, dia sudah meluncur ke kiri, mengikuti siasat temannya. Sementara si nenek iblis yang ada di belakang Mayat Hidup tiba-tiba membalik dan memotong di pinggang bukit. Maka seketika Kun Seng dipapak tiga orang lawannya dengan serentak, dan begitu bertemu di balik bukit dari arah berlawanan, sekonyong-konyong tiga orang itu menyerang.
"Manusia hina, berhenti kau!"
Kun Seng tersenyum mengejek. Dia melihat Mu Ba menghantam dadanya, mendorong dengan kedua lengan dahsyat ke depan. Namun, kakek yang tak dikenal karena mencoreng mukanya ini sudah menangkis dan menggeliatkan pinggangnya tanpa membuka suara.
"Plak!"
Mu Ba menjerit tertahan oleh tangkisan itu dan tiba-tiba terdorong selangkah dengan muka kaget. Tapi Mayat Hidup yang ada di sebelah kanan sudah menampar dan mengapretkan jarinya, menghantam leher kakek ini. Sementara Mo-li yang sudah berkelebat di belakang Kun Seng juga meledakkan cambuk menyerang pundak kakek itu.
Namun, Kun Seng benar-benar lihai. Dengan kelitan ringan, dia sudah menghindar dari tamparan si Mayat Hidup yang mencicit di sisi lehernya itu, lalu begitu jari lawan lewat di atas kepalanya, mendadak dia mendorong siku Mayat Hidup, ganti menerima serangan cambuk Sin-yan Mo-li.
Tak ayal, kepretan jari iblis ini bertemu cambuk di tangan Sin-yan Mo-li. Begitu ledakan memecah di tengah udara, kontan Mayat Hidup menyumpah serapah, memaki nenek itu yang dikata goblok. Sementara Kun Seng, yang tertawa geli oleh bentrokan di antara dua iblis itu, sendiri sudah berjungkir balik dan turun kembali ke bawah bukit!
"Mayat Hidup, kalian tak dapat menangkap aku!"
Tiga iblis itu membentak. Mereka merasa terkecoh, juga terkejut. Karena lawan yang dapat lolos dari kepungan mereka padahal mereka susul-menyusul melakukan serangan, sungguh membuat mereka terbeliak dan kagum bukan main. Maklum bahwa lawan yang mereka hadapi adalah seorang yang benar-benar lihai. Maka Mu Ba dan teman-temannya yang segera mengejar sambil memaki-maki sudah memburu lawannya ini dengan penuh kemarahan.
Namun, Kun Seng tak berniat menghadapi pertempuran. Dia sekadar menarik perhatian tiga iblis itu agar meninggalkan tempat semula, memberi kesempatan pada Siauw-cut untuk melaksanakan perintahnya berlari ke batu hitam dan bersembunyi di situ. Maka melihat Siauw-cut tak ada lagi di tempat persembunyian semula, tiba-tiba kakek ini tertawa dan berjungkir balik dengan cepat. Dia melayang ke atas pohon, melompat tiga empat kali dari dahan ke dahan. Lalu melayang turun mendekati sebuah batu karang, tiba-tiba kakek ini lenyap memasuki sebuah celah yang mirip sebuah gua kecil!
"Mayat Hidup, dia lenyap di situ!"
Mu Ba dan teman-temannya sudah datang menyusul. Mereka melompat tergesa-gesa, memandang ke tempat di mana Mu Ba berteriak. Tapi melihat sekeliling tempat itu penuh batu karang, merekapun menjadi bingung.
"Ke mana dia lari, Mu Ba?"
"Ke daerah ini. Tentu bersembunyi di batu karang itu!"
"Kalau begitu kita kepung, Mu Ba. Kita pencar ke tiga jurusan mencari jahanam itu!"
Namun, Sin-yan Mo-li mendengus. Dia tak beranjak ketika dua orang rekannya memisahkan diri, mencari lawan yang lenyap tak meninggalkan jejak. Karena nenek iblis yang sudah melompat di atas sebuah batu karang paling tinggi di tempat itu sudah memutar matanya ke sekeliling, tak mau bersusah payah seperti dua orang temannya. Dan Mayat Hidup yang melihat sikap nenek ini tentu saja mendongkol dan marah.
Namun, tiga orang itu sama-sama tak berhasil. Mereka tak menemukan jejak lawan yang menghilang, kecewa, dan mengumpat tak keruan dengan kata-kata kotor. Mayat Hidup yang marah dengan semuanya ini tiba-tiba melompat dan menumpahkan semua kemarahannya kepada Sin-yan Mo-li.
"Nenek celaka, siapa orang itu tadi?"
"Hm, mana aku tahu, Mayat Hidup! Bukankah kita sama-sama tak tahu siapa laki-laki itu?"
"Tapi kau tak mau mengejar, Mo-li. Kau enak-enak memeriksa di atas batu karang sementara kami berdua mencarinya. Jangan-jangan dia temanmu!"
Sin-yan Mo-li marah. "Mayat Hidup, jangan menuduh sembarangan. Aku datang seorang diri ke tempat ini!"
"Kalau begitu, kenapa kau tidak bantu mencari seperti kami?"
"Karena aku tak mau kau perintah!"
Mayat Hidup tertawa mengejek. "Sin-yan Mo-li, apa pun alasannya sekarang aku mulai curiga. Aku yakin kini bahwa kau bohong dan laki-laki tadi adalah temanmu!"
Nenek ini meledakkan cambuk. "Kalau dia temanku, tentu tak mungkin kuserang, Mayat Hidup. Kau mengeluarkan kentut busuk yang tidak ada harganya!"
"Crit!"
Mayat Hidup tiba-tiba menyerang, menusukkan jari telunjuknya ke dada nenek itu. Lalu mendengus dan tersenyum mengejek, iblis ini membentak, "Kau yang mengeluarkan kentut busuk, nenek setan. Kau yang tak dapat dipercaya!"
Sin-yan Mo-li memekik. Ia marah diserang iblis kurus ini, hampir saja terkena kalau tidak mengelak. Maka, meledakkan cambuk dan turun dari atas batu karang, nenek ini sudah membentak dan bertubi-tubi melancarkan serangan. Ia menangkis dan membalas, bahkan kakinya ikut pula bekerja dengan tendangan dari bawah. Begitu dua orang itu bergebrak, maka pertempuran kembali terjadi antara dua orang tokoh hitam ini. Mereka sama-sama marah, tak mau kalah.
Mu Ba yang bingung oleh pertandingan itu tiba-tiba menggereng dan meluruk maju, membantu Mayat Hidup. "Nenek iblis, temanku rupanya benar. Kau membawa teman ke sini!"
Sin-yan Mo-li kaget. Ia terkesiap melihat tangan Mu Ba menghantam pundaknya, mengeluarkan deru angin hebat. Tapi melengking tinggi dan menjeletarkan cambuk, tiba-tiba nenek ini menyabet dan menundukkan kepalanya menghindar tusukan jari si Mayat Hidup yang hampir berbareng menyerang dirinya.
"Plak-dess!"
Sin-yan Mo-li menjerit. Ia terhuyung oleh pukulan si raksasa, tapi Mayat Hidup yang mengeluh dan membentak karena jarinya bertemu gagang cambuk yang dipukulkan lawan dengan amat tiba-tiba dari bawah ke atas hingga serangannya luput, sudah mengepretkan jari dan menampar kepala nenek itu bertubi-tubi. Sin-yan Mo-li yang didesak oleh dua orang lawan yang sama-sama marah kepadanya ini tiba-tiba mengerahkan ginkang, memutar cambuknya, berkelebatan melayani serangan musuh yang gencar. Namun, nenek iblis yang dikeroyok dua oleh lawan yang sebenarnya setingkat kepandaiannya dengan dirinya itu akhirnya mengeluh juga. Ia harus mengakui bahwa terlalu berat baginya menghadapi Mayat Hidup dan si raksasa sekaligus, dua orang lawan yang ilmu kesaktiannya seimbang. Begitu lawan mendesak dan terus mendesak serta melancarkan pukulan-pukulan berat, akhirnya nenek ini tak dapat membalas kecuali menangkis.