Chapter 58
Hingga akhirnya, ketika pukulan si raksasa meleset dan mengenai pundaknya, Sin-yan Mo-li menjerit dan terpelanting roboh.
"Plak!" Sin-yan Mo-li terguling-guling. Ia melompat bangun dan mencambukkan senjatanya dengan penuh kemarahan.
Namun, ketika Mu Ba dan Mayat Hidup mengejarnya lalu menyerang dengan pukulan susulan, ia memekik dan berjungkir balik untuk melarikan diri.
"Mayat Hidup, raksasa bodoh, aku tak mau main-main lagi! Kalian curang dan busuk!"
Mu Ba dan Mayat Hidup membentak. Mereka terlanjur marah kepada nenek ini, sehingga saat melihat lawan melarikan diri, mereka tidak membiarkannya kabur.
"Nenek iblis, serahkan dulu kepalamu di sini. Baru kami mau berhenti!" Namun, nenek itu melesat jauh. Ia berjumpalitan di udara, mempercepat lari, dan tancap gas meninggalkan dua lawannya. Begitu keluar dari daerah batu karang, nenek itu lenyap memasuki hutan.
Mu Ba dan Mayat Hidup mengumpat. "Setan, kita terkecoh."
"Ya, tampaknya nenek iblis itu menyembunyikan teman. Mu Ba, kita harus cari dan mengusir mereka!"
Namun, baru mereka memutar tubuh, tiba-tiba keduanya tertegun.
"Hei, siapa itu?" Mayat Hidup terbelalak ke depan, melihat seorang anak muncul dari balik batu hitam. Anak itu tidak lain adalah Siauw-cut.
Mu Ba yang sudah melompat lebih dulu sambil menggeram sekonyong-konyong membentak, "Bocah, siapa kau?"
Siauw-cut tertawa mengejek. Ia tidak memedulikan bentakan raksasa tinggi besar itu, lalu lari mendaki puncak dengan cara melompat-lompat dari batu ke batu. Hal itu mengejutkan dua iblis tersebut yang terheran-heran karena anak itu muncul begitu saja tanpa diketahui datangnya.
Mu Ba segera mengejar dengan lompatan panjang dan tahu-tahu sudah berada di belakang anak itu. "Bocah, siapa kau?"
Siauw-cut tetap tidak menjawab. Ia terus melompat dari satu batu ke batu lainnya, berusaha mendaki puncak sambil tertawa mengejek. Namun, ketika jari Mu Ba terulur dan mencengkeram pundaknya, anak itu terangkat naik bagai seekor kelinci yang disambar elang.
"Keparat, kau tak dapat menjawab, tikus cilik?"
Siauw-cut terkejut. Ia langsung menendang menggunakan tumit kakinya ke belakang. Akan tetapi, Mu Ba yang marah langsung membanting anak itu hingga membentur batu hitam di dekat mereka.
"Brukk!"
Siauw-cut mengeluh. Untuk pertama kalinya ia melotot, merasa kesakitan namun tidak mengaduh. Bocah itu cepat melompat bangun dengan tinju terkepal dan melihat Mayat Hidup sudah berdiri di samping si raksasa tinggi besar.
"Siapa kau, anak setan? Bagaimana kau tiba-tiba muncul di balik batu hitam itu?"
Siauw-cut mendengar bentakan Mu Ba, raksasa yang mendelik dan tak berkedip itu. Siauw-cut, yang mengepalkan tinju dengan sikap marah, justru membalas bentakan lawan.
"Kau tak perlu tahu siapa aku, Mu Ba. Tapi, kuberitahukan di sini bahwa sebaiknya kalian pergi dan jangan menggangguku!"
Mu Ba tentu saja gusar. Ia mengulurkan lengan dan mencengkeram baju anak ini. Siauw-cut tak dapat mengelak saat kerah bajunya diangkat hingga berhadapan langsung dengan wajah si raksasa yang kasar dan hitam.
"Apa kau bilang, anak setan? Kau mengusirku? Dan kau tahu pula namaku?"
Siauw-cut meronta. Ia merasa tercekik karena leher bajunya menjerat jalan pernapasan akibat cengkeraman kuat raksasa itu. Siauw-cut tak dapat menjawab selain suara tercekat, hingga tiba-tiba ditolong oleh Mayat Hidup yang berseru kepada temannya, "Mu Ba, jangan biarkan dia tercekik. Anak itu tidak dapat bicara!"
Mu Ba mendengus. Ia melepas cengkeramannya, tetapi begitu Siauw-cut melorot turun, jarinya ganti menyambar rambut Siauw-cut dan menggantung anak itu dengan jambakan kokoh. Siauw-cut mendesis karena kulit kepalanya seakan terkelupas.
"Nah, bicaralah sekarang, anak setan. Kenapa kau mengusirku dan bagaimana bisa berada di tempat ini?"
Siauw-cut memaki, "Aku tak mau menjawab, raksasa tolol. Aku tak mau menjawab kalau kau tidak melepaskan tanganmu!"
Mu Ba menggeram. Ia langsung menampar pipi anak itu dengan tangan kirinya. Siauw-cut yang makin meronta terus menendang dan memukul ke udara.
"Aku tak mau menjawab pertanyaanmu, iblis tolol. Aku tak mau menjawab kalau kau tidak melepaskan rambutku!"
Mu Ba menampar bertubi-tubi. Ia sangat marah oleh kekerasan kepala anak ini. Namun, Mayat Hidup yang melihat anak itu tetap berteriak biarpun mulutnya sudah pecah, tiba-tiba berseru mencegah dengan mulut menyeringai, "Mu Ba, lepaskan anak itu. Biar aku yang mengurusnya!"
Raksasa itu melempar tubuh Siauw-cut sambil mengumpat panjang pendek. Temannya menerima dan menurunkan Siauw-cut ke atas tanah dengan baik, lalu menepuk pundak anak itu dengan suara batuk yang serak.
"Anak baik, sebenarnya kau siapa dan bagaimana bisa berada di tempat ini? Siapa yang membawamu?"
Namun, Siauw-cut terlanjur marah. Ia mendelik dan mengusap bibirnya yang pecah berdarah, memandang berapi-api raksasa tinggi besar itu tanpa menoleh sedikit pun kepada si Mayat Hidup. Mayat Hidup yang tertegun oleh sikap bocah ini tiba-tiba matanya bersinar. Ia mencengkeram pundak anak itu dan membalikkan tubuhnya.
"Anak baik, siapa kau dan bagaimana pula bisa berada di sini? Kau mau menjawab pertanyaanku, bukan?"
Siauw-cut akhirnya mendesis, "Aku datang untuk mencari Raja Pedang, Mayat Hidup. Aku diutus seseorang untuk menemui pendekar pedang itu!"
Mayat Hidup terkejut. "Kau mencari Raja Pedang itu? Siapa yang mengutusmu?"
"Tak perlu kau tahu!"
Mayat Hidup terbelalak. Mu Ba yang naik darah oleh keberanian anak ini tiba-tiba mengulurkan lengannya untuk menepuk ubun-ubun anak itu. "Dia tak perlu kita tanyai lagi, Mayat Hidup. Anak ini sebaiknya kita bunuh!"
Mayat Hidup membentak. Ia menggerakkan lengan kanan untuk menangkis. Begitu dua tenaga bertemu di udara, Siauw-cut terpelanting ketika tanah yang ia injak bergetar. Saat anak ini terguling, tiba-tiba Medali Naga yang ada di balik bajunya mencelat keluar.
"Eh, apa itu?" Mu Ba dan Mayat Hidup terkejut.
Mereka mengulurkan jari, tetapi Mayat Hidup lebih dulu mengungkit dengan ujung kakinya dan menangkap benda yang melambung itu. Mayat Hidup berseru, "Medali Naga!"
Keduanya tertegun. Mereka terbelalak memandang benda itu, lalu menoleh pada Bu-beng Siauw-cut. Mayat Hidup bertanya kaget, "Kau utusan Ho-han-hwe, bocah?"
Siauw-cut menggeleng. Namun, Mu Ba yang menggeram sambil membanting kakinya mencengkeram anak ini. "Kau bohong, bocah keparat. Kau utusan Ho-han-hwe!"
Siauw-cut terbelalak. Ia tidak mengerti urusan itu, tetapi melihat Mu Ba bersikap kasar dan mencengkeram pundaknya hingga terasa sakit, ia pun berteriak dan menyerang raksasa itu, "Ya, aku utusan perkumpulan orang-orang gagah itu, iblis kejam! Aku adalah anggota mereka yang diutus mencari si jago pedang!"
Mayat Hidup dan Mu Ba terkejut. Mu Ba tertawa terbahak-bahak dan membiarkan serangan Siauw-cut mengenainya, lalu menoleh pada kawannya. "Apa yang akan kita lakukan, Mayat Hidup? Kau setuju kita bunuh, bukan?"
Mayat Hidup mengangguk. "Memang anak ini berbahaya bagi kita, Mu Ba. Jangan-jangan temannya yang lain ada pula di sini. Bunuhlah dia, lempar saja ke dalam jurang."
Namun, Mu Ba tertawa menyeramkan. "Aku tak akan membunuhnya ke dalam jurang, Mayat Hidup. Aku akan menikmati sumsum tulang belakang anak ini!"
Siauw-cut disambar oleh telapak tangan lebar raksasa itu dan dibawa terbang ke sebuah batu karang besar. Mayat Hidup tidak mengikuti, tetapi iblis kurus yang batuk-batuk itu berseru, "Mu Ba, jangan lama-lama memberesi anak itu. Kita masih berurusan dengan si jago pedang!"
Raksasa itu tertawa terbahak-bahak. Ia melompat ke belakang batu karang besar, mengempit dan melayang turun dengan air liur menetes, lalu mengendus-endus kepala Siauw-cut bagai seekor anjing mencium daging segar.
Namun, baru saja ia meletakkan anak itu di atas tanah dan siap menikmati sumsum tulang belakangnya, tiba-tiba terdengar bentakan, "Mu Ba, lepaskan anak itu!"
Raksasa itu terkejut. Ia melihat sebuah sinar putih menyambar lehernya, disusul sinar hitam dari sebuah kipas di tangan seorang laki-laki muda. Mu Ba mendengus sambil menangkis seraya menggerakkan lehernya sedikit, mengerahkan tenaga dengan marah. Sinar putih dan sambaran kipas hitam itu terpental.
"Plak!"
Laki-laki muda itu terdorong mundur. Ia berseru kaget melihat kipas hitamnya sedikit robek, sementara sinar putih yang tidak lain adalah jarum perak di tangan kanannya menjadi bengkok. Laki-laki ini, yang tidak lain adalah Gin-ciam-siucai, datang untuk menolong Siauw-cut. Ia membentak dan menerjang lagi sambil berteriak ke belakang, "Suhu, bawa anak itu!"
Mu Ba terkejut. Ia melihat sesosok bayangan lain muncul—seorang kakek yang terkekeh dari balik batu karang—menyambar Siauw-cut dan melepas tiga kerikil hitam ke arah leher serta sepasang mata raksasa itu untuk membantu laki-laki muda tersebut.
Mu Ba yang kaget oleh kemunculan kakek itu membentak dan menangkis, "Phoa-lojin, kau jahanam keparat!"
Kakek yang menyambar Siauw-cut itu terkekeh. Ia memang Phoa-lojin, kakek yang bertemu Siauw-cut di Kota Wu-kian. Mendengar lawannya mengenal dirinya, kakek itu pun tertawa dan mengangguk.