Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 59

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 59

"Ya, aku orangnya. Mu Ba. Kau tak boleh membunuh anak ini dan biarkan dia kubawa!" Mu Ba mendengus.

Dia melayani serangan gencar Ginciam-siucai Hok Sun, tertawa mengejek dan melihat bayangan temannya muncul, karena Mayat Hidup yang mendengar ribut-ribut di balik batu karang itu sudah berkelebat menghampiri dan kaget melihat dua orang musuh mengganggu si raksasa. Bahkan Siauw-cut dibawa lari seorang kakek tua yang ternyata Phoa-lojin adanya.

Maka Mayat Hidup yang membentak dan meluncur turun di depan lawannya ini langsung menusukkan jarinya. "Phoa-lojin, lepaskan anak itu!" Kakek Phoa terkejut. Dia menggerakkan papan caturnya menangkis, tapi ketika papan caturnya pecah bertemu jari si Mayat Hidup, kakek ini berteriak keras dan berjungkir balik ke belakang. Lalu, membebaskan totokan Siauw-cut, kakek ini membuang anak itu sambil berteriak, "Siauw-cut, larilah. Aku akan menahan iblis ini..."

Siauw-cut tertegun. Dia melihat kakek itu sudah menangkis serangan lawan yang bercuitan larinya, melompat-lompat, dan balas menyerang dengan papan caturnya yang pecah. Tapi melihat kakek itu terdesak dan tampaknya kerepotan, anak ini mengerutkan kening dan tidak segera angkat kaki. Hal ini membuat Phoa-lojin terpaksa membentak, "Anak bodoh, larilah. Tempat ini tidak menguntungkan bagimu..."

Siauw-cut menarik napas. Dia memutar tubuh, melompat pergi, dan mengucap terima kasih. Namun, baru dia menggerakkan kakinya, tahu-tahu Sin-yan Mo-li muncul di situ. "Heh-heh, kau lagi-lagi ada di sini, bocah. Kau datang untuk urusan apa?" Siauw-cut terbelalak. Dia terkejut melihat kehadiran nenek ini, tapi berseru keras dia sudah menerjang dan menggerakkan kaki tangannya menyerang nenek itu. Namun, Sin-yan Mo-li terkekeh, lalu berkelit dengan mudah ke kiri kanan. Mendadak nenek ini sudah menotok Siauw-cut dan menangkap serta membawanya kabur!

"Anak sinting, aku akan membawamu ke Gua Naga. Kau ikutilah aku!" Phoa-lojin dan muridnya kaget. Mereka membentak dan menyerang bertubi-tubi dua orang lawan yang tangguh ini, tapi Mayat Hidup yang mengerutkan alis melihat Mo-li membawa lari anak itu sudah berseru tidak senang. "Mo-li, anak itu utusan Ho-han-hwe. Kau bunuhlah dia dan jangan mencari penyakit!" Mo-li rupanya terkejut. Nenek ini terdengar mengeluarkan seruan lirih, namun Siauw-cut yang masih dibawa lari ke pinggang bukit terus dipondongnya seakan tak peduli.

Tapi ketika dia tiba di sebuah batu karang besar, mendadak sebuah tali menjirat kakinya dari bawah. "Jrrt!" Nenek ini berteriak keras. Ia terpelanting roboh, tak melihat jebakan di bawah yang membuat dia mengumpat dan memaki-maki itu. Namun, Sin-yan Mo-li yang lihai dan sudah berjungkir balik sambil melempar Siauw-cut ke atas untuk menyelamatkan diri ini sudah cepat turun kembali dan meledakkan cambuknya menerima tubuh anak itu. Tapi sesosok bayangan berkelebat, tertawa, dan mendahului nenek ini menyambar Siauw-cut di udara. Begitu dia menangkap anak ini dan menangkis cambuk si nenek iblis, bayangan itupun berjungkir balik dan lari ke puncak Bukit Pedang.

"Sin-yan Mo-li, kau tak berhak membawa anak ini. Pergilah baik-baik dan jangan ganggu kami berdua!" Sin-yan Mo-li tertegun. Ia melihat bayangan itu bukan lain adalah laki-laki yang tak dikenal itu, yang coreng-moreng mukanya. Tapi Siauw-cut yang mengenal bayangan ini sudah mengeluh girang dengan muka berseri, "Kun-locianpwe!" Kakek itu tersenyum, kecut mukanya. "Ya, aku, Siauw-cut. Kenapa kau keluar tanpa menunggu perintahku dulu?" Siauw-cut tak menjawab. Dia tertawa aneh memandang kakek ini, sementara Sin-yan Mo-li yang hilang kagetnya dan sadar kembali sekonyong-konyong memekik dan sudah mengejar sambil meledakkan cambuknya. "Manusia hina, lepaskan bocah itu... tar-tarr!"

Kun Seng mengerutkan alis. Dia mengerahkan ginkang, berlari cepat ke puncak bukit. Tapi baru berada di tengah, tiba-tiba sesosok bayangan menghadang seperti iblis yang muncul dari permukaan tanah, begitu saja muncul tanpa diketahui dari mana asalnya! Dan Siauw-cut yang melihat orang ini mengenakan kedok merah tiba-tiba berseru kaget dengan muka berubah. "So-beng!" Kun Seng seketika menghentikan larinya. Dia terkejut melihat iblis Penagih Jiwa ini datang, muncul begitu tiba-tiba di Bukit Pedang bagai hantu yang tegak menyeramkan. Sementara Sin-yan Mo-li sendiri yang sudah sampai di situ dan tertegun mendengar seruan Siauw-cut tampak melongo dan kaget hatinya.

Laki-laki tua ini menyeringai. Dia menenangkan debaran jantungnya, menurunkan Siauw-cut, dan membungkuk di depan lawan yang masih tak bicara itu. Dengan bersikap halus namun tidak melepas kewaspadaan, kakek ini menegur, "Sobat, kau siapakah dan ada perlu apa menghadang jalanku? Bukankah kita tidak saling kenal?" Iblis berkedok itu mendengus. "Tak perlu berpura-pura, orang she Kun. Aku sengaja menunggumu dan ingin minta kitab serta Pedang Naga yang kau simpan!" Kakek Kun berseru kaget. Dia mundur selangkah, terbelalak memandang lawan. Tapi tertawa sumbang, dia pura-pura bertanya dengan kening berkerut, "Sobat, apa yang kau omongkan ini? Siapa yang kau maksud?"

"Hm, tak perlu berpura-pura, Bu-tiong-kiam. Aku tahu siapa kau dan apa pula maksudmu ke mari!" Siauw-cut dan Sin-yan Mo-li berseru tertahan. Mereka melihat kakek itu tertegun, namun Kun Seng yang berusaha menyembunyikan diri tiba-tiba tertawa bergelak dan memasang muka keras. "Sobat, kau salah melihat orang. Aku bukan jago pedang itu dan tak perlu melayanimu lagi!" Kemudian, dengan cepat namun sebat, mendadak kakek ini sudah menyambar tubuh Siauw-cut dan turun ke bawah, menghindari iblis berkedok itu dan mengibaskan lengan ke samping menyibak si nenek iblis supaya minggir.

Tapi Sin-yan Mo-li yang menjulurkan cambuk dan tentu saja tak membiarkan lawan kabur sudah menggerakkan senjatanya menyerang bertubi-tubi menghadang kakek itu pergi. Dan So-beng yang juga sudah melejitkan kaki menghadang kakek ini ikut membentak dengan suaranya yang dingin, "Bu-tiong-kiam, kau tak dapat lari dariku, kecuali menyerahkan pedang dan kitab!" Kakek ini akhirnya bingung. Dia terpaksa melompat mundur, menghindari semua serangan si nenek iblis. Siauw-cut yang melompat turun dari gendongan kakek ini akhirnya menatap temannya itu dengan mata terbelalak. "Kun-locianpwe, benarkah kau si jago pedang itu? Kau Bu-tiong-kiam Kun Seng yang selama ini menyembunyikan diri?" Kakek itu menelan ludah, gemetar mukanya. "Aku bukan jago pedang itu, Siauw-cut. Orang-orang ini salah paham dan keliru menduga!"

So-beng tertawa mengejek. "Tapi kami dapat membuktikannya, orang she Kun. Aku bukan anak kecil seperti bocah itu. Kau tak dapat menyembunyikan kepandaianmu lagi bila diserang dan terdesak!" Kakek Kun menyeka keringatnya. Dia tiba-tiba nampak bingung, juga gugup. Tapi sementara dia melirik sana-sini untuk mencari jalan keluar, sekonyong-konyong Mu Ba dan si Mayat Hidup muncul. "Mo-li, siapa orang ini?" Mu Ba mengeluarkan bentakannya yang menggelegar, memandang kaget laki-laki berkedok merah itu sementara melirik beringas ke arah Kun Seng yang berhasil lolos dari sergapannya ketika dikeroyok tiga.

Si nenek iblis yang belum tahu banyak tentang So-beng menjelaskan pada rekannya sambil menuding ke depan, "Dia bernama So-beng, Mu Ba. Tapi si tua bangka ini ternyata Bu-tiong-kiam yang kita cari-cari!"

Dua iblis itu berseru kaget. Mereka langsung mengepung, dan Mu Ba yang sudah siap merundukkan kepala untuk menubruk ke depan menggereng, "Jadi kau si Pedang Dalam Kabut itu, tua bangka? Kenapa kau menyembunyikan mukamu?" Tapi Mayat Hidup menyenggol temannya. "Mu Ba, kita datang bukan untuk memusuhi jago pedang ini. Kita datang untuk menjadi sahabatnya!" Mu Ba terkejut. Raksasa itu rupanya sadar, maka menyeringai dan tertawa bergelak, dia sudah mengubah sikap. "Ah, maaf. Aku terbiasa bersikap kasar, Bu-tiong-kiam. Harap kau tidak kecil hati menerima caraku bicara."

Iblis berkedok itu tiba-tiba mendengus. "Mu Ba, Mayat Hidup, tak perlu kalian semua berpura-pura. Jago pedang ini tak mungkin suka dan sudi bersahabat dengan kalian. Dia keras kepala dan sombong!" Mu Ba menoleh. "Kau siapa, sahabat? Kenapa mencampuri urusan orang lain?" "Hm, Mo-li sudah menerangkan padamu, Mu Ba. Aku So-beng, datang ke mari karena berurusan dengan jago pedang ini." "Hendak merampas pedang?" "Tidak, tapi sekadar memenuhi perintah Sri Baginda Fu Chai!" "Ah, kau orang kerajaan?" "Benar!"

Begitu So-beng mengangguk, tiba-tiba semua orang terkejut dan memandang iblis berkedok ini, kaget tapi juga heran. Mempergunakan kesempatan saat semua orang tertegun memandangnya, iblis inipun sudah bicara lagi. "Dan Sri Baginda mengutus aku pula untuk mencari orang-orang pandai, Mu Ba. Karena kebetulan kita bertemu di sini, maka kuundang kalian untuk datang ke istana dan menduduki jabatan-jabatan penting sesuai kepandaian kalian!" Tiga orang itu serentak bersinar mata mereka, gembira sekali mendengar tawaran yang menarik ini.

Tapi Mayat Hidup yang batuk-batuk dengan suaranya yang serak tiba-tiba mengertakkan buku-buku jarinya. "So-beng, kita belum pernah kenal, baru kali ini bertemu. Bagaimana bisa meyakinkan kami bahwa kau betul-betul orang kerajaan? Bagaimana kalau kau menipu kami dan pura-pura saja untuk membawa jago pedang ini?" "Hm, jago pedang ini tak boleh diperebutkan lagi, Mayat Hidup. Dia harus kita bawa ke istana sekaligus membuktikan kebenaran omonganku, apakah aku orang kerajaan atau bukan." "Jadi kami harus mengalah?" "Tidak ada yang mengalah, Mayat Hidup. Akupun tak berniat mengangkangi pendekar ini untuk diriku pribadi. Dia diperlukan oleh Sri Baginda yang membutuhkan Pedang Naga yang dia simpan!"

Tapi, sebelum Mayat Hidup menjawab, Kun Seng sudah menyambar Siauw-cut dan menghantamkan lengannya ke Sin-yan Mo-li. "Iblis-iblis busuk, aku bukan jago pedang itu. Kalian kasak-kusuklah sendiri!" Sin-yan Mo-li menjerit. Ia memang terkejut, tapi tidak meninggalkan kewaspadaan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment