Chapter 60
Maka begitu orang menghantamkan lengannya secepat kilat, ia pun meledakkan cambuk untuk menangkis.
Namun, tenaga Kun Seng ternyata hebat, membuat nenek ini terpental bersama cambuknya.
Begitu menerobos sambil membentak, tiba-tiba kakek ini kabur dan lari ke atas bukit, melanjutkan maksudnya untuk pergi ke puncak!
Kontan, empat orang iblis itu melengking. Mereka lalu menggerakkan kaki, mengejar, dan melakukan serangan dari belakang. Mereka sudah berkelebat dengan pukulan masing-masing.
Mu Ba dan Mayat Hidup melancarkan dorongan lengan dan jari yang bercuitan, sementara Mo-li dan So-beng meledakkan cambuk serta pukulan uap merah.
Namun, kakek ini ternyata benar-benar lihai. Dia mampu berjumpalitan menghindari semua pukulan itu. Begitu melesat mengerahkan *ginkang*, tiba-tiba ia sudah berada di sebuah batu besar di daerah yang sempit tapi rata.
Kun Seng yang sudah melayang ke batu besar itu tiba-tiba menggerakkan lengannya untuk menggeser batu tersebut. Batu itu tiba-tiba bergerak dan menggelundung ke bawah, menyambut naiknya empat orang iblis yang mengejar ke atas.
Begitu batu ini bergemuruh dengan suara yang dahsyat, empat orang musuh yang ada di bawah berteriak kaget.
Mu Ba yang berada di depan menggereng, siap menghindar dengan melompat ke samping.
Namun, Mayat Hidup yang berada dua meter di belakangnya berseru, "Mu Ba, terima batu itu! Tahan dan biarkan kami lewat!"
Raksasa ini tak jadi menghindar. Dia mengangguk dan menancapkan kakinya, memasang kuda-kuda, dan secepat kilat mengangkat kedua tangan ke atas. Begitu batu menimpa kepalanya, tahu-tahu raksasa tinggi besar ini telah menahan dan menerima batu itu, menyangga dengan kedua tangannya yang kokoh kuat bak Hercules yang menerima runtuhan pintu gerbang!
"Bress!" Raksasa ini mengeluh. Daya dorong dari atas ditambah beratnya batu sebesar gajah itu membuat dia menggigit bibir; kedua kakinya amblas sepuluh sentimeter ke dalam tanah, melesak.
Tak kuat menahan!
Namun, tiga orang temannya yang sudah lewat di bawah ketiaknya dan terus mengejar ke puncak Bukit Pedang dengan mata terbelalak kagum, membuat raksasa ini mengeluarkan bentakan tinggi, menekuk kedua lengan, memutar, dan melempar batu yang beratnya ribuan kati itu ke bawah.
Begitu kedua sikunya menolak dan melempar batu ini, terdengarlah ledakan dahsyat ketika batu raksasa ini berdebum dan meluncur ke bawah dengan suara hiruk-pikuk!
"Blamm!"
Mu Ba sudah menyusul teman-temannya. Dia menggereng dan menepuk bajunya yang penuh debu, marah dan gusar pada jago pedang itu.
Sementara itu, Kun Seng yang sudah tiba di atas dan melihat usahanya menggelundungkan batu untuk menahan empat orang musuhnya gagal, menyambar lengan Siauw-cut dan berseru, "Siauw-cut, masuk ke lubang itu. Ambil kitab pelajaran pedang dan lari ke bawah!"
Siauw-cut tertegun. Dia melihat sebuah lubang menganga di dekat mereka, lubang tempat batu besar tadi berdiri. Melihat kakek itu tergesa-gesa dengan wajah pucat dan peluh bercucuran, tiba-tiba anak ini menghela napas, tak tega.
"Locianpwe, apa sebenarnya yang terjadi? Rahasia apa yang kau sembunyikan ini?"
"Ah, tak perlu banyak bicara lagi, Siauw-cut. Masuk dan ambillah kitab pelajaran pedang di bawah situ!"
"Tapi aku tak dapat melakukan perintahmu ini, Locianpwe. Aku tak dapat membiarkan dirimu menghadapi empat orang iblis itu!"
Kakek ini tertegun. "Kau membantah?"
Siauw-cut menggeleng dengan wajah sedih. "Tidak, Locianpwe, tapi justru ingin menolongmu. Aku tak akan meninggalkan dirimu lagi setelah kuketahui bahwa kau adalah jago pedang yang kucari-cari itu, Bu-tong-kiam!"
"Tapi aku bukan jago pedang itu, Siauw-cut. Empat iblis itu ngawur dan tak usah dipercaya!"
"Kalau begitu, bagaimana kau tahu bahwa di bawah ini terdapat kitab pelajaran pedang? Bagaimana kau tahu kalau bukan kau yang menyembunyikannya, Locianpwe?"
Kakek ini terkejut. Dia rupanya kaget dan sejenak terbelalak. Namun, melihat bayangan So-beng dan teman-temannya tiba di puncak, tiba-tiba kakek ini mengeluh.
"Siauw-cut, kita tak dapat banyak bicara lagi. Tak perlu berdebat betulkah aku ini jago pedang atau bukan. Tapi kau dapat menolongku, bukan?" Lalu, cemas dan bingung melihat empat orang itu sudah mendekati mereka, kakek ini buru-buru mengangkat tangannya. "Siauw-cut, tolonglah aku. Di bawah itu ada kitab pelajaran pedang dan sebuah pusaka, Pedang Naga dari Yueh. Kau masuklah ke sana dan lari lewat terowongan bawah tanah. Kau akan muncul kembali di bawah bukit, di tempat batu hitam yang pertama kali kaugunakan untuk tempat bersembunyi!"
Namun, Siauw-cut menggeleng. Dia tetap tidak mau. Sementara Kun Seng mengeluh penuh kecewa dan marah pada anak ini, So-beng dan tiga orang temannya muncul.
"Bu-tong-kiam, kau tak dapat melarikan diri dari kami. Serahkan kitab dan Pedang Naga itu!"
Mu Ba juga membentak, "Dan serahkan anak laki-laki itu kepadaku, Bu-tong-kiam. Aku ingin menghirup dan menikmati sumsum tulang belakangnya!"
Kun Seng tak dapat melarikan diri lagi. Tempatnya sudah dikepung; satu-satunya jalan adalah lubang di bawah kaki mereka. Namun, sadar bahwa memasuki lubang dengan musuh di atas terlalu berbahaya bagi jiwa mereka berdua, mendadak kakek ini menendang Siauw-cut hingga terpelanting ke dalam lubang.
"Siauw-cut, lakukan perintahku! Ambil kitab dan pedang di bawah, lalu larilah!"
Siauw-cut terjeblos ke lubang itu, gelap sekelilingnya kecuali di atas. Namun, anak yang bandel dan tak mau mengikuti petunjuk kakek itu sudah merangkak keluar dan menggigit bibirnya, melihat betapa Kun Seng berhadapan dengan empat orang lawannya dengan kepala tegak dan dada terangkat, sementara tangannya tiba-tiba melolos sebatang pedang lentur yang disarungkan di ikat pinggang!
"Sing!"
Semua orang tertegun. Mereka melihat sebatang pedang bergetar melentur di tangan kakek itu, pedang yang lemas tapi tajam bak pisau cukur.
Kun Seng, yang tak dapat berpura-pura lagi setelah semuanya dibongkar lawan, akhirnya membentak dengan suara penuh wibawa. Lenyap sikapnya yang tolol dan suka main-main itu, "So-beng, Mayat Hidup, kalian terlalu mendesakku. Aku akan mempertahankan diri dan membasmi kalian!"
So-beng dan tiga orang temannya terbelalak. Mereka melihat sikap penuh kejantanan dari kakek itu, sikap seorang pendekar sejati yang gagah dan garang. Namun, So-beng yang tersenyum mengejek tiba-tiba mendengus dan mencabut cakar bajanya, senjata maut yang telah membunuh Ta Bhok Hwesio di Pegunungan Ta-pie-san!
"Bu-tong-kiam, tak perlu kau menggertak kami dengan segala ancaman kosongmu. Kami bukan anak kecil. Kau menyerahlah baik-baik, atau kami akan merampas pedang dan kitabmu secara paksa!"
"Hm, aku tak pernah menyerah sebelum bertanding, iblis keji. Aku tak akan memenuhi permintaan kalian sampai maut mencabut nyawaku!"
"Bagus!" Mu Ba tiba-tiba membentak. "Kalau begitu kita bunuh saja kakek ini, teman-teman. Lempar dan buang tubuhnya ke dalam jurang!"
Lalu, mendahului dan menggereng dahsyat, tiba-tiba raksasa tinggi besar itu menubruk ke depan dengan kedua lengan mencengkeram kepala pendekar pedang ini, bermaksud meremas kepalanya sampai hancur.
Namun, Kun Seng yang mengeluarkan bentakan tinggi sudah menggeser kaki dan tiba-tiba merendahkan tubuh, mengelak sekaligus menggerakkan pedangnya. Begitu pedang berkelebat dan membacok dari bawah ke atas, tiba-tiba Mu Ba menjerit ketika lengannya terluka disambar pedang!
"Crett!"
Mu Ba melompat mundur. Raksasa itu mendesis, menggeram, tapi terbelalak memandang pedang di tangan lawan yang ketajamannya benar-benar seperti pisau cukur.
Mayat Hidup yang melihat temannya kaget dan sedikit terluka oleh gebrakan pertama ini sudah batuk-batuk dan memberi peringatan, "Mu Ba, jangan gegabah. Jago pedang itu layak mendapat kehormatanmu untuk mencabut senjata!"
Mu Ba menggereng. Dia membanting kaki dan mengumpat dengan penuh kemarahan. Tiba-tiba raksasa ini mencabut senjatanya yang mengerikan: dua tengkorak anak kecil yang diberi kelenengan.
Lalu, bersiap dan melotot pada pendekar itu, raksasa ini membentak, "Bu-tong-kiam, jangan sombong. Aku akan membalas mata pedangmu yang melukai lenganku!"
"Hm, aku siap melayani kehendakmu, Mu Ba. Maju dan gerakkan senjatamu itu!"
Mu Ba marah. Raksasa ini memekik, suaranya parau dan serak. Begitu dia menerjang maju, tiba-tiba dua tengkorak kecil di tangan kanannya itu berdengung. Suaranya mirip bocah menangis atau setan yang merintih.
Begitu raksasa ini menyerang dengan tengkoraknya yang mengerikan, tiba-tiba angin menderu dengan amat dahsyat. Sepak terjang raksasa ini buas bukan main, mirip seekor beruang yang kelaparan.
Namun, Kun Seng yang menggerakkan pedang melayani terjangan iblis tinggi besar ini sudah membentak dan mengikuti semua gerakan lawan. Maka, terjadilah pertandingan seru di antara kedua tokoh itu.
Mu Ba memekik-mekik dan mengayunkan tengkorak kecilnya yang mengaung-aung, sementara Kun Seng melayani sepak terjang lawan yang buas dengan gerakan silang-menyilang dari pedang lenturnya.
Keduanya belum ada yang terdesak. Kun Seng masih mengikuti permainan tengkorak si raksasa dengan mata sesekali mengerling ke kiri-kanan, mengerutkan alis melihat tiga orang iblis yang lain belum maju mengeroyok karena tampaknya sedang mempelajari permainan pedangnya!
Maka, pendekar yang gemas serta marah hatinya ini tiba-tiba membentak, "So-beng, Mayat Hidup, kenapa kalian menonton saja? Majulah, kita selesaikan urusan ini secepatnya!"
Namun, Mayat Hidup tersenyum sambil batuk-batuk. "Kami belum melihat saatnya, orang she Kun. Sabarlah dan biarkan kami menjagamu agar tidak melarikan diri!"
Kun Seng geram. Dia tak banyak bicara lagi karena paham apa yang dipikirkan tiga iblis yang ada di pinggiran itu. Selain menonton, mereka juga ingin menguras tenaganya!
Namun, Kun Seng yang tetap tenang melayani lawannya, membiarkan Mu Ba menyerang dirinya semakin hebat.