Chapter 61
Dia tetap memasang kewaspadaan, maklum sewaktu-waktu bisa terjadi perubahan. Ketika Mu Ba semakin ganas dan gencar menyerang, pendekar ini mulai mengambil siasat. Dia melihat Mu Ba belum sepenuhnya mengeluarkan kepandaian. Hal itu terbukti dari desing tengkorak di tangan raksasa tinggi besar itu; meskipun tengkorak tersebut mengeluarkan bunyi mengaung yang mengerikan, suara kelenengan di dalamnya belum sekali pun terdengar.
Ini aneh. Namun, Kun Seng yang sudah kenyang asam garam pertandingan maklum akan kejanggalan tersebut. Mu Ba masih menyimpan kepandaian dan belum mengeluarkannya semua. Jago pedang yang tersenyum mengejek di balik kelebatan sinar pedangnya itu tiba-tiba mendengus. Dia pun belum mengeluarkan seluruh kemampuannya, terutama tujuh jurus inti ilmu pedang yang disimpannya.
Melihat Mu Ba masih menahan diri, pendekar pedang ini membentak dan melengking tinggi. Dia melakukan perubahan; sinar pedangnya tidak lagi menyilang, melainkan bergulung-gulung naik-turun, membungkus tubuhnya bagai mega yang kian menebal. Begitu kakek ini mengerahkan ginkangnya dan berkelebat semakin cepat, tubuhnya mendadak lenyap dibungkus gulungan sinar pedang yang melebar bagai asap, mengeluarkan uap berhawa dingin mirip kabut di puncak pegunungan.
"Ah, Bu-tiong Kiam-sut (Ilmu Pedang Kabut)!" teriak Mu Ba kaget. Dia kehilangan lawannya dan tidak tahu arah serangan karena tersembunyi di balik bilik kabut yang bergulung-gulung.
Sementara Mu Ba tertegun dan bingung, sebuah cahaya putih menusuk perutnya dari balik gulungan pedang berkabut.
"Mu Ba, awas!" seru Mayat Hidup kaget melihat temannya bengong dan disambar sinar putih tersebut.
Mu Ba yang terkesiap secepat kilat membabatkan tengkorak mautnya. "Sing-pletak!" Dia berteriak kaget ketika tengkorak di tangannya pecah setelah dibabat sinar putih yang amat ganas. Sinar putih itu menukik dan memburu, menyambar dada raksasa itu dengan kecepatan kilat.
"Ah!" Raksasa itu menggerakkan satu-satunya tengkorak maut yang tersisa. Karena menangkis tanpa membalas terlalu berbahaya, dia melancarkan pukulan telapak kiri ke arah gulungan sinar yang membungkus sang pendekar.
"Plak-dess!" Mu Ba menjerit. Dia kalah cepat. Tusukan pedang yang menyambar dadanya hanya berhasil ditahan oleh tali tengkorak yang diikatkan di lubang mata. Tali itu putus dan pedang terus menusuk ulu hatinya. Mu Ba mengerahkan sinkangnya untuk melindungi diri sambil membanting tubuh.
"Crat!" Mu Ba mengeluh. Dia terguling-guling dengan darah mengucur di dada yang terluka dua senti. Dia tidak sanggup sepenuhnya mengebalkan diri akibat ketajaman pedang di tangan Bu-tiong-kiam.
Mayat Hidup yang melihat temannya dikejar cahaya putih segera mendesis dan membentak, "Bu-tiong-kiam, lepaskan pedangmu!"
Kun Seng tidak menarik serangannya. Begitu pedang mengejar Mu Ba, jari Mayat Hidup menangkis dari samping. "Tak!" Mayat Hidup terkejut. Dia telah membungkus jarinya dengan kulit badak untuk melindungi diri, namun pedang itu tetap membabat hingga kulit badaknya robek dan jarinya terluka. Iblis itu kaget bukan main, lalu secepat kilat bergulingan dan berjungkir balik lima kali di udara.
"Sing-sing!" Suara pedang itu masih terdengar mengerikan. Mu Ba dan Mayat Hidup kini bangkit, terbelalak memandang sinar putih yang bergulung-gulung. Dua iblis yang marah itu saling memberi tanda, lalu menerjang berbarengan dengan pekik melengking. "Bu-tiong-kiam, kami masih akan mencoba kepandaianmu!"
Jago pedang itu tidak menjawab. Dia menggerakkan pedang dengan gencar, membentuk tabir asap yang dingin dan berdesing. Mirip tembok cahaya yang tak dapat ditembus. Mu Ba dan Mayat Hidup menerjang penuh amarah, namun mereka tak melihat bayangan lawan yang lenyap dibungkus gulungan sinar pedang. Hal itu menyulitkan mereka untuk mengarahkan serangan maut ke titik-titik vital.
Mayat Hidup mencaci kelihaian lawan yang membuat semua tusukan jarinya "macet" karena tidak menemui sasaran. Dia sudah menyerang ke seluruh tubuh pendekar itu, tetapi setiap tusukannya terpental oleh gulungan sinar pedang. Setelah mencoba berbagai posisi serangan dan tetap gagal, dia mendongkol kepada dua temannya yang masih menonton, So-beng dan Sin-yan Mo-li.
"So-beng, Mo-li, demikiankah cara kalian mengawasi musuh? Melotot saja di pinggir tanpa segera merobohkan jago pedang ini?" teriak Mayat Hidup.
Sin-yan Mo-li terkekeh. "Jangan seperti anak kecil, Mayat Hidup. Kalian belum roboh, untuk apa kubantu?"
"Keparat, jago pedang ini harus kita tangkap hidup-hidup, Nenek Iblis!"
"Hi-hik, kau tak dapat melepaskan pukulan Jari Penusuk Tulangmu itu karena kewalahan menghadapi lawan," ejek Sin-yan Mo-li.
Mayat Hidup memaki, "Sin-yan Mo-li, kau tua bangkai keparat. Mampuslah kalau aku sudah menyelesaikan pertandingan ini!"
"Kalian berdua tak mampu merobohkan jago pedang itu. Dia tak dapat diserang kalau gulungan sinar pedangnya belum dipecahkan," sahut Sin-yan Mo-li.
Mu Ba menggeram, "Mayat Hidup, tak perlu kauhiraukan nenek siluman itu. Cobalah Ilmu Setan Anginmu, aku akan membunyikan kelenengan!"
Mayat Hidup melengking tinggi, mengubah gerakan, dan berputar bagai angin puyuh seraya menendang bertubi-tubi ke arah gulungan pedang. Mu Ba menggereng dan menampar tengkoraknya berkali-kali. Suara kelenengan di dalam tengkorak itu perlahan menjadi keras dan memekakkan telinga.
Bu-tiong-kiam terkejut. Pendengarannya terganggu dan gerakannya mengendur. Ada getaran aneh yang menyedot tenaganya. Saat gulungan pedangnya menyempit, tusukan jari Mayat Hidup menerobos kabut dan mengenai pundaknya. Pendekar itu mengeluh dan terdesak.
Mu Ba dan Mayat Hidup girang karena berhasil memecah bayangan pedang tersebut. Mu Ba tertawa gemuruh, "Bu-tiong-kiam, kami akan membunuhmu. Kau tak dapat meloloskan diri!" Dia mempergencar suara kelenengannya.
Bu-tiong-kiam yang terdesak hingga ke tepi puncak berkilat matanya. Dia menyadari suara kelenengan itu adalah penyebab utama kendurnya tenaga. Secepat kilat, pendekar ini merobek baju, menggulung kainnya, dan menyumpal lubang telinganya rapat-rapat. Begitu suara itu tidak lagi berpengaruh, dia segera mengelebatkan pedang untuk menusuk dan membabat.