Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 63

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 63

"Hok Lian, minggir!" Mu Ba menggeram di belakangnya. Raksasa tinggi besar itu mendorongkan lengannya, menghantam punggung kakek itu.

Tepat saat Hok Lian terlempar oleh tendangan kakeknya, Phoa-lojin pun ikut terlempar oleh pukulan dahsyat si raksasa. "Bres-bress!" Phoa-lojin dan cucunya terguling-guling. Keduanya terlempar ke sisi bukit, menggelinding menuruni puncak bagai bola yang tergelincir di lereng curam.

Kakek Phoa yang sudah menyambar cucunya dengan mulut terkatup rapat menahan sakit akibat pukulan si raksasa, tiba-tiba mendengar seruan si jago pedang melalui ilmu jarak jauh Coanbit, "Phoa-lojin, tak perlu kau membantuku. Pergilah, tempat ini akan kuledakkan!"

Kakek itu tertegun. Dia sudah jatuh sepuluh tombak dari tempat pertempuran, jauh di atas sana. Namun, teringat jenazah muridnya, kakek ini melayang naik dengan muka pucat dan berseru pula dengan ilmunya, "Tunggu dulu, aku akan mengambil jenazah muridku, Bu-tiong Kiam. Jangan korbankan muridku yang sudah menjadi mayat!"

Kakek Phoa terkejut. Saat ia melayang naik, jenazah muridnya ditendang ke bawah menimpa kepalanya, disertai jawaban Kun Seng yang tergesa-gesa, "Tak usah naik kembali ke sini, Phoa-lojin. Kukirim jenazah muridmu ini kepadamu, terimalah!"

Mayat Hok Sun yang menimpa kepalanya disambut oleh kakek Phoa yang berseru kaget. Ia berjungkir balik turun kembali dan secepat kilat menyambar lengan Hok Lian untuk lari menuruni Bukit Pedang.

"Hok Lian, menyingkir!" Maka pertempuran di atas sana tidak diketahui lagi kesudahannya. Phoa-lojin menarik lengan cucunya dengan terburu-buru, baik untuk menyelamatkan Hok Lian maupun karena terguncang oleh kematian muridnya yang amat tiba-tiba.

Sementara itu, Kun Seng yang bertanding di puncak bukit dengan pedang yang bergulung-gulung memang sudah menyiapkan rencana. Apa yang terjadi di puncak itu? Sebuah pengalaman yang membuat pendekar ini kaget dan terbelalak. Begitu So-beng maju dan menggerakkan cakar bajanya, pendekar pedang ini terkesiap. Ada gerakan aneh yang luar biasa pada cakar baja lawannya, sebuah gerakan yang rasanya ia kenal namun samar-samar.

Ketika So-beng mulai melancarkan pukulan sin-kang yang beruap merah di tangan kiri untuk membantu cakar bajanya, pendekar pedang ini terbelalak. Ia merasa gerakan itu berasal dari gaya Go-bi, namun bercampur dengan pukulan aliran hitam. Ketika So-beng mencacarnya dengan serangan yang semakin aneh dan dahsyat, pendekar ini teringat seorang sahabatnya dari partai Go-bi, Pek-kut Hosiang yang sakti.

Melihat Iblis Penagih Jiwa memainkan ilmu silat gaya Go-bi, jago pedang ini tertegun. Ia teringat peristiwa sepuluh tahun lalu, saat Pek-kut Hosiang mengejar iblis yang mencuri kitab pusaka Go-bi-pai. Pek-kut Hosiang pernah menunjukkan dasar-dasar ilmu silat peninggalan jago tanpa tanding Butekong kepadanya, yang samar-samar mirip dengan apa yang dilihatnya sekarang.

Kalau begitu, siapa iblis ini? Apakah ada hubungannya dengan Go-bi-pai? Melihat gerakan kaki yang aneh, ia menduga lawannya adalah anggota Go-bi-pai, entah murid atau calon murid yang bukan hwesio. Namun, uap merah di tangannya yang ganas menunjukkan keganjilan. Seorang murid Go-bi-pai pasti bukan orang jahat, kecuali jika ia murtad.

Bu-tiong Kiam tergetar. Ia tidak melanjutkan jalan pikirannya karena So-beng terus menyerangnya bertubi-tubi. Iblis Penagih Jiwa itu mencecar dengan cakar baja yang menyambar-nyambar, diselingi ledakan cambuk Sin-yan Mo-li yang menjilat-jilat. Ketika cakar baja So-beng nyelonong menyambar lehernya saat gulungan sinar pedangnya mengendur karena sempat melamun, Bu-tiong Kiam tersentak. Ia berhasil menyelamatkan diri, meski baju di pundaknya robek tertusuk cakar.

Pada saat itulah Hok Sun roboh di tangan si Mayat Hidup. Jago pedang ini terkejut, sadar bahwa ia sempat "lupa" akan kehadiran kakek Phoa dan muridnya. Melihat Hok Sun roboh dan seorang anak perempuan menjerit memanggil ayahnya, jago pedang ini menggigit bibir. Ia memutar sinar pedangnya, mendesak mundur lawan, lalu menendang mayat Hok Sun sambil melontarkan ilmu Coan-im-jip-bit kepada kakek Phoa agar pergi karena ia akan meledakkan puncak.

Begitu Phoa-lojin pergi, pendekar pedang ini mengeluarkan bentakan tinggi yang menggetarkan puncak. Saat itu Mu Ba dan Mayat Hidup mengeroyoknya. Begitu melihat tidak ada lagi beban pikiran, pendekar ini melenting ke udara dan melakukan jurus pertama dari ilmu silat intinya yang berjumlah tujuh jurus: Titseng!

Pedangnya berkelebatan menyambar bagai kilat yang tak putus-putusnya, mencuat, membabat, dan menusuk di antara gulungan cahaya yang membungkus tubuhnya. Keempat iblis itu berseru kaget. Saat mereka terbelalak oleh perubahan luar biasa tersebut, empat sinar memecah menyambar dada mereka masing-masing.

"Mu Ba, awas!" "Mayat Hidup, hati-hati!" Namun, semuanya terlambat. Keempat sinar itu menyambar susul-menyusul bagai petir. Mu Ba dan Mayat Hidup roboh terjungkal dengan dada terluka. Sin-yan Mo-li menjerit karena cambuknya putus dan dadanya tergores pedang.

Hanya So-beng yang selamat dengan merendahkan tubuh dan menangkis. Namun, senjata yang sempat terlempar berhasil disambar kembali oleh lawannya. Dalam benturan keras berikutnya, pedang Bu-tiong Kiam patah. Pendekar itu terkejut dan mencelat mundur, namun tiba-tiba dibokong Mu Ba dengan tengkorak mautnya.

Kun Seng mencelos. Mayat Hidup melempar tujuh logam bergerigi, disusul belasan jarum hitam dari Sin-yan Mo-li dari depan. Kun Seng membentak dan membanting tubuh, namun tengkorak Mu Ba tetap mengenai punggungnya hingga meledak dan menghamburkan puluhan pelor kecil. Kun Seng terguling dengan dua jarum dan sebuah logam bergerigi menancap di tubuhnya.

Dalam kesakitan, ia melengking dan menepuk sebuah batu di atas lubang, tempat Siauw-cut terbelalak memandang semua kejadian itu. Batu yang menekan alat rahasia di bawah tanah dengan ujung bahan peledak itu mengeluarkan suara menggelegar.

"Mayat Hidup, awas dinamit... blarr!"

Empat iblis itu terkejut merasakan guncangan dahsyat bagai gunung meletus yang membuat tanah yang mereka pijak bagai dilanda gempa.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment