Chapter 64
Sementara itu, mereka berempat terlempar ke udara bagai bola yang dilempar anak kecil.
"Bress!"
"Bress..."
So Beng dan teman-temannya terbanting. Mereka menggelundung ke bawah bukit. Puncak bukit sudah terbelah mirip jurang yang menganga. Begitu keempatnya bergelinding bagai batang pisang yang dilontar tangan raksasa, mereka pun terbanting dengan tubuh babak belur dan muka pucat.
Namun, empat orang ini memang manusia luar biasa. Mereka tidak pingsan oleh ledakan yang melempar mereka dari atas bukit itu, padahal hal tersebut seharusnya sudah membuat seseorang tewas atau terluka berat. So Beng, yang melompat bangun mendahului teman-temannya, tiba-tiba tertegun. Ternyata, Bukit Pedang sudah tak berwujud lagi. Puncak bukit itu longsor, tertimbun batu-batu besar yang runtuh akibat ledakan.
So Beng, yang melihat lubang tempat Siauw Cut tadi menyembunyikan diri sudah rata tertutup tanah dan batu, akhirnya mengepal tinju dan menggigit bibir. Dari keadaan ini, dapat dipastikan bahwa anak dan jago pedang itu terkubur di dalam lubang, tertimbun hidup-hidup oleh batu-batu besar. Mengingat Bu-tiong-kiam sudah terluka oleh senjata-senjata gelap milik teman-temannya, mudah ditarik kesimpulan bahwa keselamatan jago pedang itu beserta anak lelaki yang mendampinginya tidak dapat dipertahankan lagi.
Tewas!
Maka, Iblis Penagih Jiwa yang menghela napas dengan mata berkilat itu akhirnya pergi meninggalkan Bukit Pedang. Dia menyuruh Mayat Hidup dan teman-temannya datang ke istana jika mereka mau. Lalu, pergi dengan muka penuh kecewa, iblis ini pun berkelebat lenyap.
Sebenarnya, apa yang terjadi dengan pendekar pedang itu? Dan bagaimana dengan Siauw Cut? Benarkah tewas seperti yang diduga Iblis Penagih Jiwa? Jika So Beng tahu apa yang sesungguhnya terjadi, mungkin pendekar ini benar-benar tewas seperti yang diperkirakan Iblis Penagih Jiwa. Tapi bukan tewas oleh runtuhan batu-batu besar, melainkan tewas dibunuh iblis ini karena Kun Seng masih hidup!
Seperti diceritakan sebelumnya, sebelum pertempuran terjadi, kakek ini telah memberitahukan kepada Siauw Cut agar mengambil kitab dan pedang di bawah tanah, lalu melarikan diri lewat terowongan bawah tanah sementara dia melindungi anak itu melawan empat iblis yang datang mengganggu. Namun, karena Siauw Cut tidak mau dan Kun Seng terpaksa melayani empat orang musuhnya dengan pikiran kalut, semuanya terjadi bertentangan dengan kehendak pendekar pedang ini.
Lubang tempat Siauw Cut bersembunyi sesungguhnya merupakan jalan masuk dari sebuah terowongan panjang, lubang di bawah tanah yang berliku-liku di perut Bukit Pedang. Lubang itu akhirnya menembus jalan keluar di bukit tempat Siauw Cut mula-mula bersembunyi, yakni di batu hitam tempat Mayat Hidup dan Mu Ba berkumpul untuk menanti kedatangan jago pedang itu. Tapi, karena tidak ada yang tahu perihal ini, rahasia itu hanya diketahui Kun Seng seorang. Entah bagaimana kakek itu menemukannya, mungkin waktu iseng menyelidiki bukit.
Kun Seng, yang jatuh ke tempat itu setelah meledakkan puncak, langsung menyambar Siauw Cut yang kaget ketika bunyi menggelegar meruntuhkan puncak. Daerah itu langsung ambrol, tanahnya pecah, dan batu-batu berguguran setelah terlempar ke udara oleh ledakan dahsyat, menutup lubang hingga mereka terkubur hidup-hidup.
Tak dapat keluar!
Namun, Kun Seng yang membanting diri berguling menjauhi mulut lubang akhirnya melompat bangun ketika berada di tempat yang luar biasa gelap, tanah datar yang sedikit becek, dengan tangan mencengkeram Siauw Cut. Pendekar yang mengeluh dengan kaki menggigil ini tiba-tiba bicara, suaranya gemetar, "Nyalakan api, Siauw Cut... ambil geretan di saku bajuku!"
Siauw Cut tertegun. Dia harus meraba-raba pakaian pendekar itu. Setelah mendapatkan apa yang dimaksud kakek ini, dia pun menyalakan sebatang lilin yang tersedia di saku pendekar itu. Lalu, terbelalak memandang pendekar tersebut, Siauw Cut bertanya, "Ke mana kita pergi, Locianpwee?"
Pendekar itu menuding, "Ke kiri, Siauw Cut. Belok ke sana dua kali untuk mengambil pedang dan kitab!"
Kemudian, sambil menggigit bibir dan tertatih-tatih menahan sakit, pendekar ini mengajak Siauw Cut ke sebuah ruangan yang dingin. Di sini, Siauw Cut tertegun. Kalau tidak ada penerangan di tangannya, tentu dia tidak tahu bahwa jalan itu berkelok-kelok, naik turun, dan beberapa di antaranya memiliki tangga dari batu. Kun Seng yang sudah berhenti di tempat ini tiba-tiba melepaskan cengkeramannya dari pundak anak itu, terhuyung ke tengah ruangan, dan tiba-tiba roboh ketika menyentuh sebuah peti besi dan sebatang pedang yang tergeletak di atas tanah!
"Locianpwee!" Siauw Cut terkejut. Dia langsung berteriak, melompat maju, dan mengangkat bangun pendekar ini. Namun, begitu Kun Seng roboh dan dia melihat punggung pendekar ini yang penuh luka oleh puluhan pelor kecil berduri yang mengerikan, tiba-tiba anak itu tertegun. Sekarang baru dia tahu bahwa temannya ini terluka. Luka yang amat mengerikan karena hampir sekujur punggung penuh oleh pelor-pelor berduri itu, pelor yang menancap, bahkan ada yang amblas ke dalam daging!
Siauw Cut yang bengong oleh kejadian ini tiba-tiba saja tak mampu bicara. Tenggorokannya kering! Namun, keluhan Kun Seng mendadak menyadarkan anak ini.
"Siauw Cut, ambilkan obat di kantung bajuku... dekatkan kemari lilin itu!"
Siauw Cut menelan ludah. Tergesa-gesa dia memenuhi apa yang diminta pendekar itu, lalu bertanya dengan suara gemetar saat meraba punggung pendekar ini, "Locianpwee, apa yang harus kulakukan? Punggungmu penuh luka. Puluhan pelor berduri menancap di situ!"
Jago pedang ini mendesis, "Biarkan dulu, Siauw Cut. Jangan dicabut! Aku minum obat dulu, tolong ambilkan air!"
"Air?" Siauw Cut terkejut. "Di mana ada air di tempat ini, Locianpwee?"
"Di sudut, di sebelah kananmu itu, Siauw Cut... di situ ada tempayan air dari sebuah guci kecil!"
Siauw Cut girang. Dia melihat apa yang dikatakan kakek ini, maka dia melompat dan membawa guci itu, lalu membantu pendekar ini meminumkan air, mendorong obat yang baru saja ditelan kakek itu. Kun Seng, yang tampak kehitaman mukanya, tiba-tiba menepis tangan Siauw Cut yang hendak mencabut pelor-pelor berduri itu.
"Jangan. Bungkus dulu tanganmu dengan kain, Siauw Cut. Pelor-pelor itu beracun!"
Siauw Cut terkejut. Dia merobek bajunya, melindungi diri seperti apa yang dikatakan kakek ini. Namun, Kun Seng yang bangkit duduk dengan susah payah tiba-tiba mengeluh dan terjerembab lagi ketika hendak membantu dirinya sendiri.
"Ah, tubuhku lemah, Siauw Cut... aku kehilangan tenaga."
Siauw Cut terbelalak. "Kalau begitu tak perlu duduk, Locianpwee. Biar aku yang membantumu dari sini."
"Baik, tapi..." kakek ini batuk-batuk. "Penuhkah luka di punggungku itu, Siauw Cut? Berapa jumlah pelor yang menancap di situ?"
Siauw Cut bingung. "Jumlahnya banyak sekali, Locianpwee. Aku tak dapat menghitung!"
"Kalau begitu cabut hati-hati, Siauw Cut. Letakkan di mukaku biar aku yang menghitungnya!"
Siauw Cut tertegun. Dia merasa tubuh pendekar ini panas sekali, tapi dia maklum harus melakukan tugasnya dengan baik, maka anak ini mengangguk dan menggigit bibir. Dengan hati-hati namun cepat, dia mulai mencabuti pelor-pelor berduri yang kecil itu, satu per satu diletakkan di depan pendekar ini yang tengkurap sambil berkali-kali mendesis menahan sakit. Setelah semuanya tercabut, terhitung jumlah pelor itu sebanyak delapan puluh tujuh buah!
"Ah, Mu Ba benar-benar iblis yang luar biasa jahat, Locianpwee. Dia harus dibunuh kalau ketemu lagi!"
Kun Seng tertawa, hambar suaranya. "Tapi yang melukaiku bukan hanya raksasa tinggi besar itu, Siauw Cut. Mayat Hidup dan Sin-yau Mo-li juga memberiku tiga hadiah lain!"
Siauw Cut terkejut. "Di mana, Locianpwee?"
"Di sini," Kun Seng menunjuk pinggang dan pundaknya. "Aku merasa nyeri di tiga tempat ini, Siauw Cut. Tapi ketiganya tak kalah ganas dengan delapan puluh tujuh pelor berduri yang dilepas Mu Ba!"
Siauw Cut melihat warna kehijauan di pundak dan pinggang pendekar itu. Kaget karena pendekar itu masih mempunyai tiga luka yang tak diketahuinya, anak itu tiba-tiba berlutut dan mencabut logam yang menancap di pinggang kiri. Kun Seng mengeluh, melihat logam yang bergerigi itu. Namun, ketika Siauw Cut hendak mencabut jarum yang amblas di kulit pundaknya, anak laki-laki ini tertegun.
"Hm, bagaimana mencabut jarum di daging pundakmu itu, Locianpwee?"
"Tak dapat, Siauw Cut. Kecuali disedot!"
"Disedot?"
"Ya."
"Kalau begitu akan kulakukan, Locianpwee. Kau bersandarlah dulu di sini!"
Siauw Cut sudah mengangkat bangun pendekar ini, menyandarkannya di dinding ruangan, tapi tiba-tiba ditolak oleh pendekar itu. "Tak usah... tak perlu kaulakukan ini, Siauw Cut. Itu terlalu berbahaya!"
"Bahaya apanya, Locianpwee?"
Namun, pendekar ini tak menjawab. Dia sudah menggigit bibir dengan muka berkeringat, tampak menahan sakit yang luar biasa. Lalu, memejamkan mata dengan tubuh gemetar, tiba-tiba pendekar ini mengangkat lengannya.
"Siauw Cut, jangan ganggu aku. Aku akan bersamadhi mengobati lukaku dari dalam!"
Sambil bersandar dengan muka pucat, pendekar itu pun benar-benar mengheningkan cipta, memusatkan konsentrasi untuk duduk bersamadhi. Siauw Cut tak dapat berbuat apa-apa. Dia kecewa oleh kebodohannya, tapi melihat pendekar itu mengobati dirinya dengan pengerahan sinkang, ia pun menarik napas dan duduk tak jauh dari pendekar itu. Ia sama sekali tak tertarik oleh kitab dan pedang yang menggeletak di dekat mereka.
Kun Seng, yang memusatkan perhatian untuk mengobati luka-lukanya dari dalam, akhirnya berubah menjadi patung hidup yang tak bergerak lagi. Namun, jago pedang ini harus mengalami siksaan hebat. Dia dibakar oleh jarum beracun yang mengeram di pundaknya, jarum Sin-yau Mo-li yang amblas di kulit daging. Pendekar itu mencoba mengempos semangat supaya jarum keluar atau naik di kulit pundaknya, namun gagal setelah tiga jam dia bersamadhi tanpa hasil.