Chapter 65
Kun Seng mengeluh. Ada beberapa hal yang menyebabkan kegagalannya ini. Pertama karena tenaganya lemah dan dia tak sanggup menjalankan pernapasan secara wajar, sedangkan yang lain adalah karena jarum itu tak segera dikeluarkan.
Sebab kalau jarum dikeluarkan, tentu dengan mudah dia dapat "membakar" sisa-sisa racun yang ada di tubuhnya, mengarahkan *sinkang* untuk mengobati luka-lukanya dari dalam. Namun, karena jarum tak segera dikeluarkan padahal racun dari jarum itu terus beredar di dalam tubuhnya, tiga jam kemudian pendekar ini mengaduh ketika pundaknya kejang.
Kun Seng membuka mata. Wajah pendekar ini merah, lalu putih, dan akhirnya berubah hijau. Itu adalah tanda kegagalan dari *sinkang*-nya yang tidak dapat berjalan sempurna. Pendekar pedang yang batuk-batuk dan mendesis menahan sakit itu tiba-tiba memandang Siauw-cut, tubuhnya gemetar dan menggigil.
Diancam maut!
"Siauw-cut, dapatkah kau menolongku?"
Siauw-cut melompat bangun. "Apa yang harus kulakukan, Locianpwe? Apa yang kau minta?"
Pendekar ini menggigit bibir. "Aku gagal, Siauw-cut... aku tak dapat menolong diriku sendiri. Racun telah beredar memasuki darahku, aku akan tewas dalam beberapa jam lagi!"
Siauw-cut terkejut bukan main. Dia terbelalak memandang pendekar ini, tak dapat mengeluarkan suara. Namun, Kun Seng yang batuk-batuk dengan suara serak tiba-tiba menggapaikan lengannya, lemah sekali.
"Kau dapat menolongku, Siauw-cut?"
Anak laki-laki ini terisak, ia tak dapat menahan haru melihat keadaan pendekar itu. Siauw-cut tiba-tiba menangis, menubruk, dan berlutut di kaki orang itu. "Locianpwe, apa yang kau minta? Apa yang harus kulakukan?"
Pendekar ini tersenyum pahit. "Kau tolonglah aku dalam satu hal, Siauw-cut. Berikanlah pedang dan kitab di peti itu kepada orang yang kau anggap tepat. Jadikanlah dia pewaris tunggal ilmuku. Kau berikan dua benda itu kepadanya dan suruh menyebut suhu di atas makamku kelak, di tempat ini!"
Siauw-cut tertampar. Dia terpukul hebat oleh permintaan pendekar pedang ini. Ia maklum bahwa diam-diam pendekar itu kecewa kepadanya karena tak mau diambil murid. Saat Siauw-cut berdiri dengan muka pucat memandang pendekar ini, tiba-tiba ia melihat pendekar itu roboh dan muntah darah.
"Siauw-cut, kau dapat memenuhi permintaanku, bukan?"
Siauw-cut mencucurkan air mata dengan deras. Permintaan yang diulang saat pendekar itu roboh dan batuk-batuk membuat perasaan anak ini hancur, remuk bagai dirajam pedang. Siauw-cut mengangguk di depan laki-laki tua ini dan akhirnya tak tahan lagi untuk mengeluh serta menyebutnya suhu.
"Suhu, maafkan aku. Aku yang akan mempelajari ilmu pedangmu. Aku yang akan membalas sakit hatimu terhadap empat orang iblis itu!"
Kun Seng tertegun. "Apa katamu, Siauw-cut?"
"Teecu yang akan membalas sakit hatimu, Suhu. Teecu yang akan mempelajari ilmu silatmu dan menjadi pewaris tunggal!"
"Ah!" Kun Seng terbelalak. "Kau tidak salah bicara, Siauw-cut? Telingaku tidak salah dengar?"
"Tidak, Teecu... Teecu..." Siauw-cut mengguguk. "Teecu yang akan mewarisi semua kepandaianmu, Suhu. Teecu yang akan membalas semua penderitaanmu ini kalau kau sudi mengangkatku sebagai murid!"
Kun Seng mengeluh, bangkit duduk dengan susah payah. "Tapi kau telah menetapkan Bu-beng Sian-su sebagai calon gurumu, Siauw-cut. Mana bisa kau mengubah sikap?"
Siauw-cut tersedu-sedu. "Itu dulu, Suhu. Bagaimanapun, hari ini Teecu telah mengubah keputusan untuk mewarisi kepandaianmu yang agaknya tak kalah dengan kepandaian manusia dewa itu!"
Jago pedang ini tertegun. Dia agaknya tak menyangka jawaban anak itu, tetapi tiba-tiba tertawa bergelak. Jago pedang ini melompat bangun dan berdiri dengan kaki terhuyung, menyambar kitab di dalam peti dan pedang yang tiba-tiba dilolos dari sarungnya.
"Srit!" Pedang berkeredep menyilaukan mata. "Kau sungguh-sungguh bicara dengan hati yang tulus, Siauw-cut? Kau tidak menipuku, si tua bangka yang siap mampus ini?"
Siauw-cut menjatuhkan diri berlutut. "Saat ini juga Teecu bersumpah, Suhu, bahwa Teecu sedia menjadi muridmu jika kau suka!"
Siauw-cut melakukan penghormatan di depan kaki suhunya, lalu membenturkan jidat delapan kali sebagai tanda kesungguhan hatinya. Kun Seng tertawa bergelak dengan muka berseri-seri, mendadak mengayun pedang membacok pundaknya sendiri.
"Baik, kalau begitu aku akan melawan maut, Siauw-cut. Aku akan mendidikmu biarpun harus kutebus lenganku sendiri... Crak!"
Pedang itu membuntungi lengan kanan sang pendekar. Seketika darah segar menyembur dari pundak jago pedang itu, tepat di mana dua jarum beracun Sin-yan Mo-li mengeram. Kun Seng roboh dengan luka mengucur deras, lalu berseru pendek, "Siauw-cut, balut lukaku!"
Setelah itu, pendekar tersebut pingsan. Siauw-cut terbengong oleh kejadian ini, namun segera sadar dan menjerit menubruk gurunya. Ia menggerung-gerung, menangis, dan meratapi nasib gurunya. Melihat darah mengalir amat deras, ia merobek baju dan membalut pundak yang buntung itu, ngeri melihat darah hitam mengalir membasahi lantai.
Siauw-cut yang akhirnya kehabisan air mata tiba-tiba melihat pendekar itu siuman kembali.
"Siauw-cut, kau telah membalut lukaku?"
Anak laki-laki ini menggigil. "Sudah, tetapi... kenapa kau lakukan itu, Suhu? Kenapa kau membuntungi lenganmu sendiri?"
Jago pedang ini menyeringai. "Karena aku ingin hidup, Siauw-cut. Aku ingin mendidikmu setelah kau menyatakan diri mau menjadi muridku!"
"Tetapi kau bilang hidupmu tinggal beberapa jam lagi, Suhu. Kenapa harus membacok lengan sendiri sebelum ajal? Apakah ini berarti..." Siauw-cut terbelalak, "Kau lolos dari maut, Suhu? Kau dapat menyelamatkan diri?"
Kun Seng mengangguk. Begitu Siauw-cut melihat pendekar ini tersenyum, anak ini menjerit girang. "Suhu, syukur pada Thian Yang Maha Kuasa. Semoga kau tidak menipuku!"
Siauw-cut menangis di pangkuan gurunya dengan penuh kegembiraan, bahunya terguncang-guncang meski tak ada lagi air mata yang keluar. Kun Seng mengelus rambut anak ini dengan tangan kirinya yang utuh, mendesis penuh haru, "Sudahlah, sesungguhnya asal jarum itu tak mengeram lagi, keadaanku dapat diselamatkan, Siauw-cut. Tapi karena aku putus asa, aku berpikir untuk lebih baik mati saja."
Siauw-cut tertegun. "Kalau begitu, tadi aku dapat menyedotnya, Suhu. Kenapa tak kauperintahkan hal itu?"
"Hm, menyedot jarum berarti menyedot racun, Siauw-cut. Kau dapat tewas bila melakukan itu!"
"Jadi karena itu kau melarangku, Suhu?"
"Ya."
"Ah!" Siauw-cut terisak dan menubruk suhunya dengan penuh haru. "Suhu, kenapa tak kaukatakan sejak semula? Bukankah aku siap berkorban untuk menolongmu? Kau berkali-kali memikirkan jiwaku, Suhu. Bagaimanapun, aku ingin membalas budi baikmu yang menggunung ini!"
"Hm, jadi kau rela mati dengan menyedot racun di pundakku itu?"
"Kalau kutahu itu satu-satunya cara, Suhu!"
"Bodoh! Kalau begitu, bukankah aku kehilangan murid yang selama ini kuidam-idamkan? Tidak, Siauw-cut. Aku tak mau kau melakukan itu. Lebih baik aku yang kehilangan nyawa daripada kau yang masih muda ini!"
Siauw-cut mengusap air matanya pada baju di pundak pendekar ini. "Suhu, aku tak mengira demikian besar perhatianmu kepadaku. Apakah sebabnya semua ini kaulakukan?"
"Hm, karena aku melihat kaulah satu-satunya harapan terakhir bagiku, Siauw-cut. Kaulah yang kuharap mengobati kekecewaanku selama tahun-tahun belakangan ini."
"Kenapa begitu, Suhu?"
"Karena aku tak mempunyai siapa-siapa lagi, Siauw-cut. Aku tak mempunyai keluarga dan hidup sebatangkara seperti dirimu itu!"
"Suhu..."
"Ya, jangan potong dulu kalimatku ini, Siauw-cut. Aku betul-betul bicara dari kepedihan hati yang nyata. Aku tak mempunyai keluarga. Aku tak memiliki sanak saudara!"
"Ah, kalau begitu kau tak pernah kawin, Suhu? Kau tidak mempunyai anak barang seorang pun?"
Pendekar ini tersenyum pahit, menghela napas, dan tiba-tiba menitikkan dua butir air mata yang jatuh ke lantai. "Siauw-cut, aku tentu saja mempunyai anak. Aku pernah berumah tangga. Tapi nasib buruk yang menimpaku pada tahun-tahun terakhir telah membuat kegoncangan jiwa yang hebat bagiku. Anakku tewas, dan rumah tangga yang kubangun kembali juga mengalami kegagalan total yang mengecewakan hatiku!"
"Ah, bagaimana mulanya, Suhu? Berapa orang anakmu?"
"Aku hanya mempunyai seorang anak, Siauw-cut, anak tunggal laki-laki yang tak kusangka demikian pendek umurnya. Dia mati akibat ulah orang jahat, dan rumah tangga baru yang kubangun dengan seorang wanita ternyata tak menghasilkan keturunan untuk pengganti anak tunggalku itu!"
Siauw-cut tertegun. "Kalau begitu, kau menikah untuk yang kedua kalinya, Suhu?"
"Ya."
"Dan di mana isterimu itu sekarang?"
"Kutinggal di kampung halamannya, Siauw-cut. Aku kecewa dan meninggalkannya pergi begitu saja!"
"Ah!" Siauw-cut terbelalak. "Kenapa kaulakukan itu, Suhu? Bukankah ia bakal merana?"
"Hm, kekecewaan demi kekecewaan telah menghimpitku sedemikian rupa, Siauw-cut. Aku tak peduli lagi ia merana atau tidak!"
"Tapi ia pasti akan mencarimu, Suhu. Ia tentu seorang wanita gagah perkasa seperti dirimu ini!"
Kun Seng tiba-tiba tertawa pahit. "Kau salah, Siauw-cut. Isteriku itu tak mungkin mencariku kalau bukan aku sendiri yang pulang. Ia tak berani pergi jauh. Ia bukan seorang wanita gagah seperti yang kau bayangkan, melainkan wanita dusun yang lemah dan tidak pandai silat!"