Chapter 66
"Kau tidak main-main, Suhu?"
"Siapa yang main-main?" Pendekar itu mengerutkan alis.
"Aku sudah tak tahu harus berpikir bagaimana lagi, Siauw-cut. Aku terlampau kecewa dan tak dapat berpikir jernih lagi pada saat itu. Aku bingung. Karena itu, kupilih saja gadis dusun itu untuk kunikahi."
"Ah..." Siauw-cut tertegun. "Jadi kau mendapatkan seorang gadis, Suhu? Kau kawin dengan wanita yang tak sebaya umurnya denganmu?"
Pendekar ini merah mukanya. "Terpaksa, Siauw-cut. Karena kebetulan dialah satu-satunya wanita yang mencintai aku."
Anak ini melongo. Dia ingin bertanya lagi, sudah menggerakkan bibir, namun urung ketika melihat wajah suhunya tampak jengah dan malu oleh pengakuan tadi. Kun Seng yang mengangkat muka dan tersenyum getir tiba-tiba memeluk pundak anak ini.
"Siauw-cut, maukah bila kau kuangkat sebagai anak?"
Siauw-cut terkejut. "Apa, Suhu?"
"Kita menjadi keluarga kecil, Siauw-cut. Aku sebagai ayah angkatmu dan kau pun sebagai anak angkatku!"
"Ah!" Siauw-cut membelalakkan mata, terlampau kaget oleh pertanyaan yang tiba-tiba ini. Tapi, dengan terisak dan menundukkan muka, suara gemetar ia berbisik, "Suhu, apalagi yang hendak kauberikan padaku? Bukankah hubungan guru dan murid ini sudah mengangkat derajatku sedemikian rupa? Kau telah memberikan kepercayaan kepadaku, Suhu, kebanggaan tersendiri sebagai murid dari seorang jago pedang...!"
"Tapi kita sama-sama sebatangkara, Siauw-cut. Kita sama-sama tak bersanak-kadang lagi di dunia ini."
"Tapi... tapi..."
"Hm, kau tak setuju, Siauw-cut? Kau keberatan? Kalau begitu sudahlah, aku juga tak memaksamu!" Pendekar ini mengalihkan pandang, rupanya terpukul oleh keinginannya yang mungkin tak disetujui anak itu.
Namun, Siauw-cut yang sudah bangkit berdiri dengan muka pucat tiba-tiba menangis dan tersedu-sedu. "Suhu, teecu... teecu adalah anak hasil hubungan gelap dari seorang wanita dan pria yang tak bertanggung jawab. Mana mungkin menerima anugerah sebesar ini? Ah, tidak... jangan memukul teecu dengan permintaan yang seberat itu, Suhu... teecu tidak sanggup...!"
Kun Seng terbelalak. Dia melihat anak laki-laki ini tiba-tiba menangis dengan suara demikian menyedihkan, mengguguk, dan gemetar di bawah kakinya. Kaget bahwa untuk pertama kalinya muridnya itu bicara tentang rahasia dirinya, pendekar ini bangkit duduk dan berdiri tegak.
"Siauw-cut, kiranya sedemikian hebat kau menyimpan derita. Ah, tak perlu gelisah, anak baik. Tak perlu kau berduka lagi dengan segala kejadian yang menimpamu itu. Aku tak peduli kau anak hasil hubungan gelap atau terang. Aku tak peduli semuanya itu dan tidak merobah keinginanku bila kau suka menjadi anak angkatku!"
Siauw-cut terbelalak. "Kau tidak merasa hina dengan keputusanmu itu, Suhu?"
"Apanya yang hina?"
"Tentang nasib teecu ini... kedudukan teecu sebagai anak haram jadah!"
"Ah, aku tak peduli haram jadah atau bukan, Siauw-cut. Yang penting aku tertarik dan suka kepadamu! Kau tak keberatan, bukan?"
Siauw-cut mengeluh. "Suhu..."
"Hm, tak perlu ragu-ragu, Siauw-cut. Aku sudah terbiasa menghadapi pukulan-pukulan hidup. Kau anggukkanlah kepalamu kalau kau setuju dan gelengkanlah kepalamu kalau kau tak suka!"
Siauw-cut akhirnya mengangguk. Dengan rintihan panjang seperti ayam dicabut bulunya, anak ini menubruk gurunya. Kun Seng yang girang oleh anggukan anak ini tiba-tiba jatuh terduduk dan tertawa bergelak.
"Ha-ha, kalau begitu namamu harus diubah, Siauw-cut. Kau pakailah nama keluarga Kun sejak saat ini!"
Siauw-cut tertegun. "Kau tidak suka?"
Dia terkejut. "Tidak... tidak begitu, Suhu. Itu semuanya terserah padamu!"
"Eh, kenapa masih menyebut Suhu?" Kun Seng tertawa. "Kau harus menyebutku Ayah, Siauw-cut. Dan karena hari ini resmi kita menjadi ayah dan anak angkat, maka hari ini pula namamu adalah Kun Houw! Ya, namamu adalah Kun Houw, Siauw-cut... Houw (harimau) dari keluarga Kun. Ha-ha...!"
Kun Seng tertawa bergelak. Dia dilanda kegembiraan yang meluap-luap, memeluk dan mendekap anak itu ketat sekali di dadanya. Tapi ketika dia tersedak dan batuk-batuk, mendadak pendekar ini jatuh tersungkur dan pingsan.
"Ayah...!" Siauw-cut atau yang kini berganti nama Kun Houw itu menjerit. Dengan seruan tertahan, ia menolong ayahnya itu, ayah angkat yang baru saja "meresmikan" diri. Kun Seng siuman sebentar, tidak membuka matanya, batuk-batuk, dan tersenyum memandang anak laki-laki itu.
"Kun Houw, apa yang terjadi pada diriku ini?"
Siauw-cut atau Kun Houw tertegun. "Apa yang kaurasakan, Ayah? Kenapa kau tiba-tiba roboh?"
"Aku merasa tenagaku habis, Kun Houw. Aku merasa tenagaku dilolosi dari dalam dan seakan lumpuh!"
Kun Houw terkejut. Dia merasa waswas melihat muka ayahnya yang berkerut-kerut itu. Lalu, ketika jago pedang ini mencoba bangkit, mendadak tubuhnya terjerembab kembali dan roboh di atas lantai.
"Ah, aku lumpuh, Kun Houw...!"
Kun Houw kaget bukan main. Dia melihat ayahnya tak dapat bangkit lagi, susah menggerakkan kaki dan tangan. Tapi Kun Seng yang tersenyum padanya tiba-tiba menghela napas pendek.
"Houw-ji, perhitunganku sedikit meleset. Racun ternyata tak seluruhnya keluar dari luka yang kubuat. Otot-ototku diserang kelumpuhan...!"
Kun Houw terisak. Dia membuktikan ayahnya itu benar-benar tak dapat bergerak lagi, artinya tak dapat duduk atau berdiri. Hanya sanggup menggulingkan tubuh ke kiri atau ke kanan, itupun dengan susah payah. Kun Houw yang menangis melihat keadaan guru atau ayah angkatnya itu tiba-tiba menggumuli dan memeluk pendekar ini.
"Ayah, apa yang harus kulakukan? Benar-benarkah kelumpuhan menyerang dirimu?"
"Hm, aku benar-benar tak berdaya lagi, Kun Houw. Sungguh tak kuduga sisa racun masih berada di dalam tubuhku."
"Kalau begitu akan kubalas kelak perbuatan nenek iblis itu, Ayah. Akan kulumpuhkan dan kubunuh dia!"
"Sudahlah, itu urusan nanti, Houw-ji. Yang jelas masih untung aku tidak binasa. Thian rupanya menghukum sisa-sisa dosaku dengan kejadian ini." Lalu, tersenyum dan tertawa pahit, pendekar ini membalikkan tubuh. "Houw-ji, sejak saat ini aku akan mendidikmu secara teori. Kau ambillah pedang dan kitab itu!"
Kun Houw mengangguk. Dia mengambil kitab di dalam peti, menyerahkannya pada ayahnya beserta pedang. Tapi ketika dia melihat pedang di tangannya itu mengeluarkan sinar kebiruan dan berhawa dingin, mendadak dia keder dan tertegun dibuatnya.
"Ayah, inikah Pedang Naga itu?"
"Ya, itulah pedang yang diminta empat iblis tadi, Kun Houw. Kalau saja sejak semula aku membawa pedang ini, tentu mereka dapat kukalahkan semuanya!"
Kun Houw terbelalak. Dia teringat pedang ayahnya yang lentur itu, pedang lemas yang akhirnya patah bertemu cakar baja di tangan So-beng. Heran bahwa ayahnya menyembunyikan pedang yang berwarna kebiruan ini, tiba-tiba dia tak tahan untuk bertanya, "Ayah, dari manakah kaudapatkan Pedang Naga ini? Benarkah milik kerajaan?"
Pendekar itu tersenyum. "Memang benar, Houw-ji. Dan pedang itu pun kudapatkan secara aneh!"
"Secara aneh apa maksudmu, Ayah?"
"Artinya, kudapatkan pedang ini dalam tempat yang tidak wajar, Houw-ji. Dia menancap di atas wuwungan istana ketika aku tertarik melihat cahayanya yang kebiruan itu!"
"Ah...!" Kun Houw terbelalak. "Siapa yang menancapkannya, Ayah?"
"Hm, mana aku tahu, Houw-ji. Tapi menurut kepercayaan, pedang itu melesat sendiri dengan kekuatan gaibnya. Dia pedang keramat yang entah kenapa sedang menunjukkan kemarahannya pada Pangeran Kou Cien yang kini menjadi raja muda di kerajaan Yueh itu!"
Kun Houw tertegun. Dia tertarik pada keanehan cerita pedang ini, sedikit merasa seram tapi tidak takut lagi. Bahkan, tiba-tiba merasa dekat dengan pedang ini. Pedang yang katanya sedang "marah" pada majikannya, seperti dia yang marah pada musuh-musuhnya yang dibenci.
Kun Houw yang melihat badan pedang diukir dengan lukisan naga yang indah kemilau tiba-tiba saja bersinar matanya. "Ayah, pedang ini benar-benar indah sekali. Lukisan liongnya (naga) tampak demikian hidup!"
"Ya, tapi pedang ini bukan melulu pedang yang indah saja, Houw-ji. Tapi dia juga pedang keramat yang tajamnya melebihi segala ketajaman benda di muka bumi ini. Dia melebihi ketajaman pedang lenturku yang patah bertemu cakar baja di tangan iblis Penagih Jiwa itu!"
Kun Houw terkejut. "Begitukah, Ayah?"
Pendekar ini mengangguk. "Coba kaubuktikan," katanya. "Lempar bajumu itu di udara dan bacoklah dengan pedang ini dalam jarak dua meter, Houw-ji. Pasti akan robek disambar angin pedangnya yang tajam luar biasa!"
Kun Houw berseri. Dia segera membuktikan hal ini, dan begitu baju dibacok sesuai jarak yang dikatakan ayahnya, tiba-tiba baju itu terpapas disambar angin bacokan pedang ini.
"Bret...!"
Kun Houw melongo. Dia melihat bajunya itu puntung, robek menjadi dua, padahal belum disentuh pedang! Kun Houw yang terbelalak oleh kehebatan pedang ini tiba-tiba mendesis dan berseru penuh kagum. "Ah, pedang ini benar-benar luar biasa, Ayah. Kalau seandainya sejak mula kau telah memegang pedang ini, tentu keempat orang musuhmu itu sudah roboh binasa!"
"Benar, tapi mereka makhluk hidup, Houw-ji. Mereka dapat mengelak atau menangkis kalau terpaksa!"
"Ya, tapi bagaimanapun pedang ini tentu dapat banyak membantumu, Ayah. Kalau tidak, kau tak mungkin roboh dan dicurangi mereka!"
"Sudahlah, semuanya sudah lewat, Houw-ji. Tak perlu mengandai-andaikan persoalan yang sudah terjadi. Kau bersiaplah, hari ini juga aku akan menggemblengmu secara teori...!"
Kun Seng yang menyuruh anak itu membuka kitab, hari itu juga mulai melatih Siauw-cut atau yang kini kita sebut Kun Houw itu dengan sungguh-sungguh dan keras. Kun Houw tak diberi kesempatan lagi untuk bertanya-tanya; digembleng dan dilatih silat oleh guru atau ayah angkatnya itu. Karena Kun Seng adalah seorang pendekar yang lihai dalam permainan pedang hingga mendapat julukan si jago pedang, maka ilmu silat pedang itulah yang diberikan kakek ini pada anak lelaki itu.