Chapter 67
Kun Houw dididik dengan penuh disiplin, terus-menerus tanpa kenal lelah.
Karena jago pedang ini memiliki ilmu silat pedang yang disebut *Bu-tiong-kiam-hoat* (Ilmu Pedang Dalam Kabut), tentu saja ilmu itulah yang diajarkan kepada Kun Houw, disusul kemudian dengan tujuh jurus intinya yang sebagian sudah diserap Kun Houw ketika mereka bertemu di Dusun Lo.
Kun Houw yang juga tekun mempelajari ilmu silat pedang kakek ini melalui kitab dan petunjuk gurunya yang lumpuh di atas pembaringan ternyata tidak mengecewakan jago pedang tersebut. Namun, keadaan Kun Seng semakin memburuk.
Jago pedang ini diserang penyakit batuk, penyakit yang sama sekali tidak diduga sebenarnya berasal dari logam bergerigi milik si Mayat Hidup, tokoh sesat yang juga batuk-batuk seperti penderita TBC. Senjata rahasia itu mengandung "baksil" penyakit menular. Karena Kun Seng sejak awal kelumpuhannya tidak memiliki daya tahan yang kuat lagi, pendekar itu diserang batuk-batuk yang membuat keadaannya kian melemah.
Namun, jago pedang ini memang hebat. Kemauannya yang luar biasa kuat untuk mendidik muridnya dan bertahan hidup cukup membuat orang kagum. Kemauan itu membuat semangat jiwanya bangkit, membaja, dan berkobar-kobar seolah menentang maut yang siap membayanginya sewaktu-waktu. Kun Seng yang tak kenal lelah dalam menggembleng muridnya untuk menguasai seluruh kepandaiannya lewat kitab akhirnya hampir berhasil secara sempurna.
Namun, maut hari itu datang juga! Sembilan tahun setelah menggembleng muridnya dengan susah payah, hari itu Kun Seng muntah darah. Paru-paru pendekar pedang ini rusak, tidak kuat lagi bertahan setelah diteror selama sembilan tahun. Pendekar pedang yang sudah sekarat dengan muka kebiruan itu batuk-batuk lagi dengan hebatnya.
"Kun Houw, coba kau ulangi semua pelajaran pedang. Aku ingin melihatnya sebelum ajal menjemput!"
Kun Houw tertegun. Dia tentu saja ingin menolong gurunya, tetapi Kun Seng yang melotot padanya membentak, "Kun Houw, murid macam apa kau ini? Mengapa tidak segera menjalankan perintah?"
Kun Houw menarik napas. Dia sekarang bukan bocah laki-laki berusia sepuluh tahun seperti dulu lagi. Gurunya yang masih suka membentak-bentak seperti menghadapi seorang bocah membuat pemuda ini tersenyum pahit. Kun Houw sekarang adalah pemuda yang gagah dan tampan; tubuhnya tegap dan dadanya bidang. Sinar matanya yang tajam berkilat menunjukkan bahwa ia benar-benar sudah dewasa dan matang. Pemuda yang usianya hampir dua puluh tahun itu pun mengangguk.
Dia mencabut pedang, berdiri di tengah ruangan, lalu mulai mengonsentrasikan diri. Namun, Kun Seng yang kembali batuk-batuk dengan hebat membuat pikirannya terganggu.
"Ayah, aku tak dapat memusatkan perhatianku. Aku harus menolongmu dulu..."
Kun Houw terpaksa menyimpan pedang dan menghampiri ayahnya karena tidak tega melihat penderitaan orang tua itu. Namun, Kun Seng yang melotot gusar berteriak, "Tidak, kau harus jalankan dulu perintahku, Kun Houw. Aku dapat menahan batuk ini dan menontonmu!"
Kun Seng benar-benar mengendalikan batuknya. Jago pedang itu menggigit bibir, mukanya penuh keringat, tampak sekali memaksa diri menahan batuk sampai urat di dahinya menonjol berwarna biru!
Kun Houw yang sedih melihat penderitaan ayahnya terpaksa mencabut pedang, kembali ke tengah ruangan, dan berkata dengan suara gemetar, "Ayah, jangan paksakan diri. Kalau kau batuk kembali, aku akan menghentikan permainanku!"
"Tidak, jangan! Aku dapat melawan batukku, Houw-ji. Tunjukkanlah permainan pedangmu sampai selesai!"
Kun Houw menggigit bibir. Dia mulai memainkan ilmu silatnya, mula-mula perlahan karena matanya melirik ke tubuh tua yang kurus itu, siap berjaga-jaga untuk menolong begitu ayahnya batuk kembali.
Namun, Kun Seng yang mengerti maksud pemuda ini membentak marah, "Houw-ji, jangan pedulikan aku! Pusatkan perhatian pada permainan pedangmu!"
Maka pemuda yang mulai mempercepat permainan pedangnya itu terpaksa mengangguk. Dia memusatkan pikiran. Begitu pedang berkelebat dengan kesiur angin yang dingin tajam, tiba-tiba pedang itu berubah menjadi segulung sinar biru yang berkelebatan membungkus tubuhnya. Kun Houw memainkan *Bu-tiong-kiam-hoat* dengan sangat baik.
Akan tetapi, ketika tiba pada tujuh jurus inti, mendadak *Bu-tiong-kiam* itu batuk-batuk!
"Ah, aku harus menolongmu, Ayah!" Kun Houw menghentikan permainannya dan melompat mendekati ayahnya, tetapi mendadak batuk ayahnya hilang.
"Tidak, teruskan permainanmu, Houw-ji. Aku tidak apa-apa!"
Kun Houw tertegun. "Tapi..."
"Tapi apanya? Kau membantah, anak setan?"
Kun Houw menggigit bibir. Dia tidak tenang melihat keadaan ayahnya, tetapi Kun Seng menyemprot pedas, "Kun Houw, kau tak mau mengiringi kematian ayahmu dengan irama permainan pedang? Kau ingin aku direnggut maut sebelum menyaksikan semua kemahiranmu? Cepat kau jalankan perintah ini, anak bodoh! Aku tak mau ajal mendahuluiku sebelum selesai semua permainan silat pedangmu!"
Kun Houw mengeraskan hati. Dia terpaksa mengulang lagi ilmu silatnya, melirik ayahnya yang tiba-tiba tersenyum. Lalu, dengan membentak, ia memutar pedang dan sekonyong-konyong tubuhnya lenyap dibungkus gulungan sinar pedangnya seperti tadi. Mula-mula masih perlahan karena waswas melihat keadaan ayahnya yang memprihatinkan, namun melihat ayahnya tersenyum dan terkekeh, semangat Kun Houw bangkit. Dia memainkan *Bu-tiong-kiam-hoat* dengan sungguh-sungguh.
Dia mulai terbawa permainan pedangnya sendiri, hanyut dalam putaran yang bergulung-gulung naik-turun, membentuk kabut saking cepatnya gerakan pedang. Lalu, ketika tiba pada permainan inti tujuh jurus, mendadak pemuda ini mengeluarkan bentakan keras. Sekarang Kun Houw benar-benar lenyap. Sinar pedangnya berdesing dan mengeluarkan suara bercuitan yang kian lama kian meninggi, melengking bagai suara suling.
Ketika suara itu lenyap dan pedang tidak lagi mengeluarkan suara, tiba-tiba Kun Seng batuk-batuk dan berteriak, "Stop, hentikan dulu, Houw-ji. Aku ingin bertanya... ugh-ugh..."
Kun Houw terkejut. Dia sedang berada dalam permainan puncak, mana mungkin dihentikan begitu saja? Maka ketika ayahnya berteriak dan pedang masih bergulung-gulung tanpa suara, mendadak pemuda ini melontarkan senjata dan membanting tubuh, mematahkan daya putar yang membuat tubuhnya hanyut sekaligus terguling di lantai.
*Bres-plak!*
Kun Houw membentur dinding. Dia mengeluh oleh benturan keras itu dan merasa kepalanya pecah, tetapi segera melompat bangun dengan tubuh terhuyung. Kun Seng yang terbelalak memandang muridnya tiba-tiba berseru sambil menatap Pedang Naga yang amblas di langit-langit ruangan.
"Houw-ji, dari mana kau melatih tenaga *sinkang* yang luar biasa ini?"
Kun Houw tertegun, "Tenaga *sinkang* apa, Ayah? Apa maksudmu?"
Kakek itu gemetar. "Selama ini aku hanya melatihmu ilmu silat pedang, Houw-ji. Bagaimana kau mendapatkan tenaga sakti sedemikian hebat? Lihat, putaran pedangmu sudah tidak mengeluarkan suara lagi... dan lihat itu, Pedang Naga amblas sepenuhnya di atap ruangan! Siapa yang melatihmu tenaga sakti ini, Houw-ji?"
Kun Houw akhirnya menunduk. "Itu... aku mempelajarinya dari *Bu-beng Sian-su*, Ayah. Manusia dewa itu memberiku pelajaran 'Menghimpun Seribu Naga'. Itukah yang kau maksud?"
Kakek itu batuk-batuk. "Benar, pantas sekali... Aku sejak mula sudah curiga, Houw-ji. Tapi sungguh tak kukira bahwa *sinkang* yang kau latih itu dari *Bu-beng Sian-su*! Ah, kalau begitu apalagi yang kurang? Ha-ha, aku puas. Houw-ji, kau lebih hebat daripada gurumu sendiri... aku... aku... ugh..."
Kun Seng batuk-batuk lagi. Kakek ini tampaknya terkejut, namun gembira dan akhirnya berseri-seri di balik wajahnya yang pucat membiru. Kun Houw yang melihat gurunya batuk hebat segera menotok punggung ayahnya.
"Ayah, tekanlah gejolak hatimu. Kalau aku salah, sudi kiranya kau mengampuniku. Aku tak pernah memberitahumu tentang ini karena kau tak pernah bertanya!"
Kun Seng terengah. "Tak apa, anak baik... aku sengaja tak melatihmu tenaga *sinkang* karena kulihat sorot matamu yang aneh. Sorot mata seseorang yang mulai melatih tenaga dalam!"
Kun Houw terkejut. "Jadi kau tahu, Ayah?"
"Heh-heh, kenapa tidak, anak bodoh? Aku cukup berpengalaman tentang ini. Aku dapat membedakan sorot mata seseorang yang berisi atau kosong!"
Lalu, sambil batuk-batuk dengan susah payah, kakek ini menuding, "Kun Houw, ambil pedang itu. Berlatihlah kembali khusus permainan inti yang tujuh jurus itu. Aku hendak memberi pelengkapnya!"
Kun Houw heran. "Pelengkap apa, Ayah?"
Kakek itu batuk-batuk, tidak sanggup bicara. Baru setelah Kun Houw menotoknya kembali, kakek ini dapat bicara, "Houw-ji, ilmu silat tujuh jurus itu masih kurang sempurna. Bagian terakhir kedudukan kakimu salah!"
"Ah, begitu Ayah? Bukankah kau sendiri yang mengajarkannya?"
"Heh-heh, itu memang betul, Houw-ji. Tapi kalau dipakai menghadapi Pendekar Kepala Batu atau Pendekar Gurun Neraka, pasti kau roboh. Mereka orang-orang lihai; tujuh jurus ini sengaja kucipta untuk mengalahkan mereka... ugh-ugh..."
Kun Houw terkejut. "Pendekar Kepala Batu, Ayah?"
"Ya, pendekar yang menjadi *gak-hu* (mertua laki-laki) Pendekar Gurun Neraka itu, Houw-ji. Aku dulu pernah dirobohkan olehnya. Dia hebat, tapi angkuh dan luar biasa keras kepalanya!"
Kun Seng batuk-batuk lagi. Dia memuntahkan darah segar. Kun Houw yang cemas berbisik khawatir, "Ayah, jangan mengeluarkan kata-kata lagi. Kau semakin lemah dan harus beristirahat!"
Kun Seng tiba-tiba berontak dan menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Tidak..."