Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 68

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 68

Tidak, Houw-ji. Aku justru ingin memberimu petunjuk tentang jurus ketujuh...

Sambil membalikkan tubuh dengan susah payah, pendekar itu berseru, "Houw-ji, ulang kembali permainan pedangmu. Lakukan jurus *Sin liong-hoan-kin* (Naga Sakti Memindah Tenaga) itu... cepat!"

Kun Houw ragu-ragu. Dia memandang khawatir ayahnya, tetapi Kun Seng yang mendelik membentak, "Houw-ji, kau ingin aku mati merana karena kau tak cepat memenuhi permintaanku?"

Pemuda itu menarik napas. Dia berat memenuhi permintaan itu, namun belum sempat mencabut pedang, ayahnya tiba-tiba mengeluh. Pendekar itu berkelojotan, mendelik, dan menuding-nuding pedang. Kun Houw yang bingung oleh isyarat tak jelas itu seketika kelabakan.

"Apa yang kau minta, Ayah? Apa yang kau kehendaki?"

Kun Seng berkata dengan suara yang hampir tak terdengar, "...ambil pedang itu, Houw-ji... mainkan cepat tujuh jurus inti yang kumaksud itu... cepat, aku ingin mati dengan iringan suara pedangmu!"

Kun Houw yang tak dapat lagi menolak permintaan terakhir ini tiba-tiba melompat. Pedang Naga yang menancap di langit-langit ruangan segera dicabut. Begitu membentak dan mengeraskan hati, sekonyong-konyong pedangnya dimainkan dengan hebat dan luar biasa.

Kun Seng mengeluarkan kata-kata tak jelas. Orang tua itu rupanya memuji, mengangguk, dan tertawa dengan mulut yang menyeringai, menahan sakit dan nyeri yang amat sangat di dalam dadanya. Paru-parunya sudah rusak parah dan tidak dapat lagi mengambil serta mengeluarkan napas dengan sempurna.

Kun Houw yang memainkan ilmu silat *Bu-tiong-kiam-sut* di dalam gulungan cahaya pedang itu tak diketahui seorang pun bahwa diam-diam telah menangis dengan deras. Kun Houw merasa hancur perasaannya. Hampir saja dia mengeluh dengan bibir dikatup kuat-kuat. Maka, untuk melepas semua perasaannya yang tidak karuan, tiba-tiba pemuda itu melengking. Lengkingan itu merupakan jerit yang mirip pekik orang yang penuh kecewa karena keadaan ayah angkatnya tak tertolong lagi.

Pemuda ini memusatkan seluruh perhatian pada permainan pedang, menghanyutkan diri dan berkonsentrasi penuh pada gerakan pedangnya yang melengking bagai suara suling. Begitu pedang mengeluarkan lengking tinggi yang halus namun tajam, tiba-tiba pemuda ini lenyap dalam gulungan sinar pedangnya.

Kun Seng mengeluarkan keluhan tak jelas. Orang tua itu berkejap-kejap gembira, tampak bangga dan puas melihat permainan pedang muridnya. Namun, ketika jurus ketujuh hampir selesai dimainkan, mendadak kakek ini melontarkan darah segar karena batuknya menyerang lagi. Untuk yang terakhir kali, kakek ini mencoba bertahan, namun maut sudah membayang di pelupuk matanya. Tiba-tiba kakek itu mendesis. Darah yang dilontarkan dari mulutnya membentuk huruf atau pesan kepada muridnya. Lalu, setelah menyeringai dan berkelojotan dua kali, kakek ini terkulai dan tewas dengan mulut yang masih tertawa.

Kun Houw kini telah menyelesaikan permainannya. Dia menghentikan gerakan pedang, mengusap peluh dan air mata yang bercucuran membasahi pipinya. Namun, begitu menoleh dan melihat ayahnya tidak bergerak lagi dengan tubuh membujur kaku, pemuda itu mengeluh.

"Ayah!"

Kun Houw menubruk mayat ayahnya. Dia tersedu-sedu memeluk tubuh tua yang penuh derita itu, lalu mengguguk tak dapat menahan duka. Dia membenamkan muka di dada jago pedang itu, terisak bagai anak kecil. Namun, Kun Houw segera menggigit bibir dan menghentikan tangisnya, sadar bahwa semuanya memang sudah takdir. Setelah ayahnya meninggal dengan tenang, dia mengusap air mata dan menekan kedukaannya. Bagaimanapun, ayahnya telah lepas dari segala penderitaan dan tidak diganggu lagi oleh suara batuk yang memilukan.

Kun Houw bangkit, melepas jenazah ayahnya, lalu menguburkannya di ruangan itu. Dia bersamadhi semalam suntuk di samping makam. Ketika hendak meninggalkan terowongan keesokan harinya, Kun Houw tertegun melihat pesan ayahnya yang ditulis di atas lantai dengan darah yang sudah mengering.

Dia membaca: "Houw-ji, maaf aku tak dapat memberimu petunjuk. Rahasia dari gerakan kaki untuk jurus *Sinkin* itu ada di Medali Naga. Kau carilah. Ada di tanganmu, bukan?"

Kun Houw melongo. Dia sungguh terkejut oleh pesan yang menyebut-nyebut Medali Naga tersebut. Betapa tidak, Medali Naga yang disangka ayahnya ada di tangan pemuda itu telah dirampas oleh si Mayat Hidup sembilan tahun yang lalu.

Kun Houw mengepalkan tinju. Dia berlutut di makam ayahnya dan berjanji untuk memenuhi permintaan gurunya. Pemuda itu bangkit dengan satu tekad: mencari musuh-musuh gurunya dan musuh pribadinya, Pendekar Gurun Neraka. Setelah bersoja tiga kali di depan makam, Kun Houw segera meninggalkan terowongan bawah tanah itu.

Pagi itu, Pendekar Kepala Batu duduk di taman menyaksikan dua anak laki-laki berlatih silat. Dia memandang mereka dengan muka berseri dan mata bersinar. Mereka adalah dua cucu dari putranya yang pertama, Ceng Han. Ketua Beng-san yang masih gagah dengan kepala gundul mengkilap itu tampak gembira sekali.

"Han Ki, gerakan tanganmu jangan terlalu kaku. Putarlah pinggang dan buang lengan kirimu ke samping!" seru pendekar itu memberi petunjuk kepada anak laki-laki bermuka putih di sebelah kanannya. Han Ki adalah putra pertama dari Ceng Han dan Cui Ang, putri si Belut Emas, Cui Lok.

"Dan kau, jangan menggeser kakimu, Han Bu. Angkat tumit dan meloncat!" seru sang pendekar kepada cucu keduanya.

Han Ki dan Han Bu mengangguk. Mereka kakak beradik yang tampan, mirip ayahnya yang tenang, kecuali Han Bu yang banyak bicara seperti ibunya. Han Bu, yang bertelinga lebar dengan mata bulat hitam, segera mengangkat tumit untuk meloncat dan memainkan ilmu silat dengan bersungguh-sungguh.

Namun, ketika mereka sedang asyik berlatih, dua bayangan muncul, berkelebat melompati pagar tembok dan melayang turun.

"Ayah!"

"Bibi!"

Ternyata mereka adalah Ceng Han dan Ceng Bi, kakak beradik putra dari ketua Beng-san-pai. Han Ki serta Han Bu segera menubruk dan memeluk mereka dengan manja.

"Bibi, mana adik Sin Hong dan Bi Lan?"

"Ayah, mana oleh-oleh untuk Ibu?"

Ceng Han tersenyum. Han Bu yang bertanya soal oleh-oleh disambut tepukan di pundak, sementara Han Ki yang menanyakan Sin Hong dan Bi Lan disambut dengan muka muram oleh bibinya.

"Bi Lan ada di rumah, Ki-ji. Tapi Sin Hong lenyap dibawa orang!"

Han Ki dan Han Bu terkejut. Mereka hendak bertanya, namun Ceng Han memberi isyarat dengan kedipan mata. "Ki-ji, Bu-ji, masuklah. Panggil ibumu kemari."

Kedua anak itu mengangguk, maklum ada pembicaraan orang tua yang tidak boleh mereka dengar. Setelah anak-anak itu masuk, Ceng Bi menghadap ayahnya.

"Ayah, aku membawa berita penting!"

Ciok-thouw Taihiap bangkit berdiri. Dia terbelalak memandang putrinya satu-satunya. Ketua Beng-san itu berdebar melihat mulut putrinya yang cemberut tidak senang.

"Bi-ji, berita apa yang kaubawa?"

Ceng Bi memandang ayahnya tajam hingga ketua Beng-san itu gugup. Akhirnya, Ceng Bi membanting kaki dan menegur, "Ayah, apa yang telah kaulakukan terhadap Sin Hong? Tahukah kau bahwa anak itu lenyap dibawa orang?"

Pendekar itu terkejut. "Aku sudah mendengar tadi, Bi-ji. Tapi benarkah anak itu lenyap? Siapa yang membawa?"

"Yang membawa adalah si Naga Bongkok, Ayah. Tapi biang kerok dari semua ini adalah kau!"

Ciok-thouw Taihiap tersentak. "Naga Bongkok? Pertapa dari Himalaya itu?"

"Ya, dan kau yang menjadi biang keladinya. Kau membuat keributan di antara anak-anak kami!"

"Eh, tuduhan apa ini? Keributan apa yang kulakukan?"

Ceng Han menarik napas dan menggamit lengan adiknya untuk bersabar. Dia memandang ayahnya dengan kening berkerut, "Ayah, ada dua hal yang hendak kami sampaikan. Pertama tentang Sin Hong, dan kedua adalah berita kematian Ta Bhok Hwesio lo-suhu!"

Ciok-thouw Taihiap terbelalak kaget. "Kematian Ta Bhok Hwesio? Apa yang terjadi?"

"Dia dibunuh orang, Ayah. Tewas di tangan iblis yang berjuluk So-beng (Iblis Penagih Jiwa)!"

"Keparat!" Ciok-thouw Taihiap menggeram. "Siapa iblis itu? Kenapa aku belum pernah mendengar namanya?"

Ceng Han menghela napas. "Kami juga tidak tahu, Ayah. Tapi kabar burung menyatakan iblis itu lihai sekali dan ada hubungan dengan kerajaan Wu!"

"Hm!" Ciok-thouw Taihiap mengepal tinju, matanya berkilat.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment