Chapter 69
"Kalau begitu, kita cari di kerajaan itu, Han-ji. Ingin kugempur dan kupecahkan kepalanya yang busuk itu!"
Ceng Han mengangkat tangan. "Tidak, jangan terburu-buru, Ayah. Yap-twako telah merencanakan sesuatu untuk menghadapi urusan ini. So-beng bukan seorang diri. Dia dilindungi dan bersembunyi di balik kekuatan besar pasukan Kerajaan Wu!"
Ciok-thouw Taihiap tiba-tiba membentak, "Aku tidak takut, Han-ji. Aku tidak takut biar dia bersembunyi dan dilindungi pasukan siluman sekalipun!"
"Ya, aku tahu keberanianmu, Ayah. Tapi Yap-twako telah melarang kita untuk bekerja sendiri-sendiri. Iblis itu tampaknya berbahaya, juga cerdik. Karena itu, kau tidak boleh melabrak seorang diri ke Kerajaan Wu!"
Ciok-thouw Taihiap melotot. "Mantuku itu berani melarang orang tua? Pendekar Gurun Neraka hendak menggurui aku yang bebas bertindak apa pun?"
Ceng Han tersenyum kecut. "Tidak, bukan begitu, Ayah. Jangan salah paham. Yap-twako sama sekali tidak menggurui kita, namun berpesan dengan sangat supaya kita tidak melakukan kecerobohan yang mungkin membawa akibat buruk bagi orang banyak!"
"Hm, apa maksudmu?"
"Begini, Ayah," Ceng Han terpaksa menjelaskan. "Seperti yang tadi telah kukatakan padamu, hubungan So-beng dengan Kerajaan Wu ini barulah kabar burung. Kita tidak tahu benarkah berita itu atau tidak. Kalau tidak, dan kau telah menyerbu istana, bukankah Pangeran Kou Cien bakal kena getahnya? Ingat, Kerajaan Yueh masih di bawah kekuasaan Kerajaan Wu, Ayah. Kalau kau menyerbu begitu saja padahal So-beng tak ada hubungannya dengan Kerajaan Wu, tentu Yueh bakal digempur mengingat kau adalah simpatisan Kerajaan Yueh. Dan sekali Yueh diserbu dalam keadaan yang masih lemah begini, tentu Wu tidak akan memberi ampun dan membasmi habis-habisan dengan tuduhan kau disuruh membuat onar oleh Yueh! Nah, bukankah ini gawat, Ayah? Urusan perorangan bisa berubah menjadi urusan negara yang berakibat membawa malapetaka pula bagi rakyat Yueh yang tidak tahu apa-apa!"
Ciok-thouw Taihiap tertegun. Dia dapat menerima penjelasan ini dan sadar bahwa dia dilanda emosi. Akhirnya, ketua Beng-san ini manggut-manggut dan berdehem.
"Baik, kau benar, Han-ji. Lalu apa rencana Pendekar Gurun Neraka itu? Apa yang hendak dikerjakan mantuku itu? Kenapa dia tidak kemari?"
Ceng Han melirik adiknya. "Aku tidak tahu, Ayah. Karena Bi-moi buru-buru mengajakku ke mari!"
Ciok-thouw Taihiap memandang putrinya, lalu tersenyum kecut. "Bi-ji, apa yang hendak kau omongkan kepadaku? Kenapa tampaknya mau marah?"
Ceng Bi membanting kaki. "Karena kau orang tua yang tidak benar, Ayah. Kau membuat malu padaku atas sikapmu kepada Sin Hong!"
"Eh, ada apa dengan sikapku? Ada apa dengan anak itu?" Ciok-thouw Taihiap terkejut.
Ceng Bi yang gemas memandang ayahnya tiba-tiba bertanya, "Ayah, benarkah beberapa waktu yang lalu kau menurunkan sebuah ilmu silat baru pada Bi Lan? Benarkah kau berpesan agar anak itu merahasiakan persoalan ini?"
Ciok-thouw Taihiap kaget. Wajahnya berubah, namun ketua Beng-san yang batuk-batuk ini tiba-tiba menyeringai. "Itu... itu persoalan pribadiku, Bi-ji. Untuk apa kau tanya ini?"
"Hm, urusan ini bukan urusan pribadi lagi, Ayah. Tapi urusan keluarga yang tidak perlu disembunyikan lagi! Benarkah Bi Lan kau larang untuk memberitahukan pada orang lain? Benarkah kau memberi sebuah ilmu baru pada cucumu itu?"
Ciok-thouw Taihiap tak segera menjawab, terbelalak memandang putrinya. Ceng Bi yang sengit kembali membanting kaki.
"Ayah, kau selamanya mengajarkan kepada kami untuk bersikap gagah. Kenapa untuk pertanyaan ini kau tak bisa menjawab? Salahkah pertanyaan itu?"
Ketua Beng-san ini akhirnya terbatuk-batuk. Dengan sikap kecut ia menjawab, "Ya, aku telah melakukan semuanya itu, Bi-ji. Tapi salahkah aku terhadap anakmu? Bukankah Bi Lan cucuku sendiri?"
Ceng Bi melotot. "Benar, Bi Lan memang cucumu, Ayah. Tapi sikap berat sebelahmu yang tidak adil terhadap Sin Hong membuat aku malu pada anak itu dan ibunya!"
Lalu dengan mata berapi-api, nyonya muda ini melanjutkan, "Perbuatanmu itu diketahui si Naga Bongkok, Ayah. Sin Hong dibakar kakek itu untuk memusuhi adiknya sendiri. Bi Lan diserang, lalu setelah mengetahui adiknya itu benar-benar mendapatkan warisan ilmu darimu, Sin Hong akhirnya tak mau tinggal di rumah dan mengikuti kakek itu sesuai siasat si Naga Bongkok! Kini Enci Hong menangis sepanjang malam. Di samping kematian gurunya yang tidak terduga, juga karena ditinggal pergi anak kesayangannya. Nah, apa yang hendak kaukatakan, Ayah? Masihkah perbuatanmu ini tidak boleh dibilang terlalu dan membuat aku tak enak pada Enci Hong? Masihkah ada muka bagiku kalau kau tidak minta maaf pada ibu dan anak itu?"
Ciok-thouw Taihiap tertegun. Dia terpaku mendengar semuanya, tapi mengibaskan lengan. Ketua Beng-san ini tak mau kalah, dasar keras kepala.
"Bi-ji, kukira itu bukan salahku mutlak. Aku memberi pada cucuku sendiri, kenapa dilabrak dengan cara begini? Bukankah Sin Hong bukan darah keturunanku? Dia sebenarnya bukan apa-apa bagiku, Bi-ji. Di tubuh Sin Hong tak ada aliran darah dari keluarga Ciok-thouw Taihiap!"
Ceng Bi melotot. "Tapi Sin Hong putra Yap-koko, Ayah. Dan Sin Hong kuanggap sebagai anak kandungku sendiri!"
"Ah, anggapan boleh tinggal anggapan, Bi-ji. Tapi yang jelas Sin Hong bukan cucuku asli!"
Ceng Bi menjerit, "Ayah, kau tidak betul. Pikiranmu kacau dan tidak sehat! Kau memecah belah keluargaku kalau caramu begitu!"
"Eh, apanya yang tidak sehat? Bukankah omonganku betul? Sin Hong bukan kau yang melahirkan, Bi-ji. Dan ini kenyataan yang tidak dapat kaubantah!" Ciok-thouw Taihiap akhirnya membentak, bangkit kemarahannya oleh sikap putrinya.
Ceng Han yang melihat suasana mulai meruncing tiba-tiba melangkah maju. "Ayah, apa yang kaukatakan memang tidak salah. Tapi apa yang diutarakan Bi-moi juga betul. Bagaimana kalau kita bicarakan persoalan ini dengan pikiran jernih?"
Ciok-thouw Taihiap mulai uring-uringan. "Aku tidak mau dituduh berat sebelah, Han-ji. Karena aku merasa benar dengan apa yang kulakukan!"
"Baik, tapi sikapmu membuat aku tertampar, Ayah. Karena bagaimanapun juga, aku dan Enci Hong sudah bukan seperti orang lain!" Ceng Bi melengking, memprotes ayahnya.
Ceng Han yang melihat keduanya naik darah tiba-tiba merangkul adiknya dan menghadapi ayah mereka dengan sikap tegas. "Ayah, aku tak mau persoalan ini diperdebatkan dengan cara keras. Aku mohon kalian berdua sama-sama menahan diri!"
Melihat ayah dan adiknya memandang kepadanya, pemuda itu menarik napas, lalu bertanya pada ayahnya, "Ayah, siapakah yang sebetulnya lebih kau sayang, Bi Lan ataukah Bi-moi?"
Ciok-thouw Taihiap tertegun. "Kenapa kau tanyakan ini, Han-ji?"
Ceng Han menjawab, "Begini, Ayah. Sebelum aku menjawab pertanyaanmu itu, sebaiknya kau jawab dulu pertanyaanku. Siapakah yang lebih Ayah cintai, Bi-moi ataukah Bi Lan?"
Ciok-thouw Taihiap merengut. "Tentu saja kedua-duanya sama kucintai, Ceng Han. Aku tak mau mencintai yang lain lebih dari yang satunya. Mereka sama-sama darah keturunanku!"
"Kalau begitu, Ayah tidak mencintai Bi Lan lebih dari ibunya?"
"Tentu saja. Bukankah mereka anak dan cucuku sendiri?"
"Hm, kalau begitu kau harus bersikap adil, Ayah. Yakni bila kau memperhatikan Bi Lan, maka tak seharusnya pula kau mengenyampingkan Bi-moi. Tapi yang kaulakukan justru berlawanan dengan apa yang kaukatakan, Ayah. Kau tidak konsekuen!"
"Eh, omongan apa?" Ciok-thouw Taihiap mendelik. "Aku tidak mengganggu atau menyusahkan adikmu itu, Ceng Han. Adikmu itu tak kuperlakukan dengan cara yang tidak adil! Konsekuen apa yang kau maksud?"
Ceng Han mengeraskan dagu. "Begini, Ayah. Kalau benar kau mencintai Bi-moi sama seperti kau mencintai Bi Lan, maka Ayah harus bertindak adil. Kau tak boleh memperhatikan perasaan satunya dengan mengenyampingkan perasaan yang lain. Karena kalau Ayah bilang Bi-moi tak merasa terganggu akibat perbuatanmu itu, tapi apa buktinya yang dialami Bi-moi sekarang? Bi-moi merasa kaususahkan, Ayah. Dan justru karena itu ia datang ke mari untuk mengajukan protes!"
"Tapi aku melatih cucuku sendiri, Ceng Han. Aku melatih darah dagingku sendiri karena Sin Hong bukan darah keturunanku!"
"Baik. Tapi tahukah Ayah siapa ibu Sin Hong itu? Tahukah Ayah bahwa Pek Hong bagi adikku Ceng Bi ini tiada ubahnya dengan encinya sendiri? Tahukah Ayah bahwa hubungan mereka jauh lebih akrab daripada kakak-beradik? Kau harus berani melihat kenyataan ini, Ayah. Kau harus mengakuinya secara jantan! Pek Hong bagi Bi-moi sudah bukan orang lain. Dan justru pernikahan wanita itu kau yang melamarnya!"
Ciok-thouw Taihiap tertegun. "Tapi yang meminta itu adalah adikmu sendiri, Ceng Han. Ceng Bi memaksaku untuk melamar murid Ta Bhok Hwesio itu pada gurunya, bukan aku dari hati keinginan pribadi!"
"Itulah!" Ceng Han menukas. "Justru itulah yang membuat kita harus mengakui kenyataan ini, Ayah. Bahwa Ceng Bi menganggap murid Ta Bhok Hwesio itu lebih dari sekadar jiwanya. Bi-moi sanggup berkorban untuk wanita yang menjadi ibu Sin Hong ini!"
Ciok-thouw Taihiap terhenyak. Dia terbelalak memandang putranya, merasa "dimusuhi" dua orang anaknya sekaligus. Namun, melihat Ceng Han mengemukakan hal yang tidak dapat dibantah, tiba-tiba dia menjadi bingung dan marah pada dirinya sendiri. Teringat peristiwa sepuluh tahun yang lalu di mana diam-diam dia merasa penasaran karena kalah oleh menantunya itu, sang Pendekar Gurun Neraka yang memang hebat luar biasa. Begitu ingatan itu membayang kembali di pelupuk matanya, ketua Beng-san-pai ini menjadi sengit.