Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 71

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 71

"Tidak, penyelesaian terakhir belum kaulakukan, Ayah. Kau harus meminta maaf pada Enci Hong dan melatih puteranya dengan ilmu baru yang kauberikan pada Bi Lan itu!"

"Ah, tapi anak itu sudah dibawa si Naga Bongkok, Bi-ji. Mana mungkin aku melatihnya?"

"Kau dapat merebutnya, Ayah. Kau cari anak itu dan ambil kembali dari tangan si kakek bongkok!"

Ciok-thouw Taihiap terbelalak. "Aku memang akan mencari si Naga Bongkok itu, Bi-ji. Tapi bukan untuk menolong Sin Hong! Bocah itu tidak berada dalam bahaya, kenapa aku harus merebutnya?"

"Karena Enci Hong berduka ditinggal anaknya itu, Ayah. Dan aku tak dapat melihat Enci Hong menangis gara-gara perbuatanmu!"

"Setan, ini bukan gara-garaku, Bi-ji. Ini gara-gara keparat Naga Bongkok itu! Kalau dia tidak datang membongkar rahasiaku ini, tentu semuanya tak akan terjadi!"

"Baik, tapi bagaimanapun kau harus bersikap adil pada dua orang anak itu, Ayah. Kalau tidak, Bi Lan tak kuperbolehkan lagi melatih Soan-hoan-ciang bila Sin Hong tak kauberi pula ilmu silat itu!"

"Ah, kau memaksa?"

"Demi keadilan bagi dua orang anak itu, Ayah. Dan kau harus meminta maaf pula pada Enci Hong!"

"Kalau aku tidak mau?"

Ceng Bi membanting kaki. "Kau harus mau, Ayah. Itu kesalahanmu yang terang-terangan kaulakukan. Kalau tidak, aku tak mau pergi dari tempat ini dan selamanya mengurung diri di ruang samadhi!"

Ciok-thouw Taihiap terkejut. Dia terbelalak memandang puterinya itu, tapi maklum ancaman puterinya ini tidak main-main, segera dia menggedruk tanah dan mengibaskan lengan.

"Baik, kau selamanya menggencet ayahmu, Bi-ji. Kau membuat aku harus selalu tunduk padamu. Setan..!"

Ciok-thouw Taihiap melompat pergi, namun kali ini tak dikejar Ceng Bi yang tiba-tiba basah matanya. Nyonya muda ini tahu akan kecintaan ayahnya yang besar, bahkan jauh lebih besar lagi sejak saat dia "dibunuh" itu. Maka, melihat ayahnya uring-uringan dan memenuhi permintaannya semata-mata karena cinta kasih yang besar kepada dirinya, nyonya muda ini tiba-tiba terisak.

"Ayah, kaumaafkan aku...!"

Ceng Han sudah memeluk adiknya ini. Dia dapat merasakan semua yang terjadi itu, lalu menarik napas lega bahwa ayahnya berhasil "disadarkan" dan tidak terjadi bentrok di antara mereka. Namun, ia maklum ayahnya memenuhi permintaan ini dengan rasa terpaksa, maka diam-diam putra Pendekar Kepala Batu itu tersenyum pahit. Bagaimanapun, ayahnya memang luluh jika menghadapi Ceng Bi, satu-satunya orang yang agaknya merupakan "lawan" paling ditakuti ketua Beng-san-pai itu.

Ceng Han yang tersenyum melihat semua itu lalu menarik adiknya masuk ke dalam, di mana saat itu Cui Ang muncul menyambut mereka. Demikianlah, Ceng Bi semalam menginap di tempat ayahnya. Keesokan harinya, gembira melihat ayahnya muncul untuk memenuhi janji, ketua Beng-san itu sudah turun gunung menuju Ta-pie-san bersama Ceng Bi yang mengiring di sebelahnya.

Ayah dan anak itu turun gunung dengan satu tujuan, meninggalkan Beng-san setelah mewakilkan urusan partai kepada puteranya. Namun, sepanjang jalan Pendekar Kepala Batu tak begitu gembira. Dia agak pendiam, dan ketika mereka tiba di Ta-pie-san, tentu saja Pek Hong dan Pendekar Gurun Neraka terkejut menyambut. Mereka buru-buru turun, dan Pendekar Kepala Batu yang tidak suka bertele-tele langsung menyatakan tujuannya: meminta maaf pada madu dari puterinya itu.

Pek Hong yang kaget serta membelalakkan mata tentu saja tertegun. "Ah, itu tak perlu kaulakukan, Souw-locian-pwe. Aku tidak iri ataupun sakit hati untuk urusan sepele ini. Adik Ceng Bi yang kelewatan, masa orang tua jauh-jauh diajak kemari hanya untuk minta maaf!"

Pek Hong yang tersipu-sipu menerima kata-kata ketua Beng-san ini langsung menolak dengan halus. Pendekar Kepala Batu agak terhibur. Dia tidak merasa terlalu "terhina", maka ketua Beng-san yang akhirnya menginap semalam di tempat menantunya itu dapat bernapas lega. Dia beristirahat, tapi pikirannya yang masih kacau gara-gara teguran puterinya itu membuat pendekar ini mendatangi kamar Bi Lan ketika malam itu suasana sepi.

Dengan mudah ketua Beng-san ini masuk, lalu menutup pintu dengan hati-hati dan menghampiri Bi Lan yang sedang tidur. "Bi Lan, bangun. Ayo latihan sebentar di depan kong-kong-mu."

Bi Lan terkejut. Ia melompat bangun dengan kaget, tapi melihat kong-kong-nya ada di situ, mendadak anak ini tertegun. "Apa, kong-kong? Ada apa kau kemari?"

Pendekar Kepala Batu tersenyum. "Tidak ada apa-apa, Bi Lan. Aku kemari hanya sekadar ingin melihatmu berlatih Soan-hoan-ciang. Coba kaulakukan, sampai di mana kemajuanmu...!"

Tapi Bi Lan tiba-tiba terisak, "Kong-kong, aku... aku tak mau lagi melatih ilmu silat itu. Aku telah membuat kecewa Hong-koko gara-gara ilmu silat ini!"

"Ah, tapi kau tetap melatihnya sepanjang hari, bukan?"

"Tidak, aku... aku menghentikannya, Kong-kong. Aku tak mau melatih Soan-hoan-ciang sejak Hong-koko marah padaku!"

Ciok-thouw Taihiap tertegun. "Jadi kau menghentikannya sama sekali, Bi Lan?"

"Ya."

"Ah, tapi itu tak perlu terjadi, Bi Lan. Ilmu silat itu sama sekali tak bersalah kepadamu. Kenapa harus kauhentikan?"

"Karena Hong-koko tak kauajari pula ilmu ini, Kong-kong. Dia marah dan kecewa padaku!"

"Setan, tapi itu dapat diatur, Bi Lan. Aku dapat mengajarnya kelak kalau dia sudah kembali!"

Namun, Bi Lan tetap menggeleng. "Tidak, Hong-koko tak mungkin mau menerimanya lagi, Kong-kong. Dia terlanjur kecewa dan sakit hati kepadaku."

"Tidak, bukan kepadamu dia marah, Bi Lan. Tapi kepadaku yang telah membuat gara-gara dari persoalan ini. Sudahlah, kau harus tetap mempelajari ilmu silat itu dan biar urusan Sin Hong aku yang mengaturnya. Tak boleh kauhentikan begitu saja warisan ilmuku itu!"

Ciok-thouw Taihiap yang mengeraskan pandangannya pada anak perempuan ini memerintah, "Sekarang kaulatih ilmu silat itu, Bi Lan. Coba tunjukkan padaku sampai di mana kemampuanmu. Maju ataukah mundur!"

Bi Lan tiba-tiba menangis. "Kong-kong, aku... aku sudah berjanji tak mau melatih Soan-hoan-ciang lagi bila Hong-koko belum pulang. Kau harus cari dia dulu, ajari dia dan baru aku mau berlatih...!"

Ciok-thouw Taihiap mendelik. "Kau membantah?"

Bi Lan tersedu-sedu. "Tidak... tidak, Kong-kong. Tapi itu janjiku sebelum Hong-koko kembali...!"

Ciok-thouw Taihiap merah mukanya. "Keparat, kau seperti ibumu, Bi Lan. Kau membuat aku jadi marah!"

Ciok-thouw Taihiap yang melangkah maju tiba-tiba menyambar baju cucunya ini, membentak, "Kau masih tidak mau turuti perintah Kong-kong-mu, Bi Lan? Kau ingin kubanting?"

Bi Lan menutupi mukanya, menangis makin keras karena di samping takut melihat kakeknya melotot, juga sebagai usaha untuk menarik perhatian ibunya. Ketika dua kali kakeknya membentak dan Bi Lan tak memberi jawaban, tiba-tiba pintu dibuka dari luar dan Ceng Bi masuk!

"Ayah, apa yang kaulakukan?"

Ciok-thouw Taihiap melempar cucunya ke pembaringan. "Anakmu kurang ajar, Bi-ji. Dia berani menolak dan membantah perintahku!"

"Apa yang kauperintahkan?"

Tapi Ciok-thouw Taihiap tak menjawab. Dia sudah memutar tubuh melompat pergi. Ceng Bi yang melihat muka ayahnya merah dan gusar ditahan, segera menghampiri puterinya dengan kening berkerut. "Bi Lan, apa yang diperintahkan Kong-kong-mu? Kenapa kau menangis dan ribut-ribut di sini?"

Bi Lan menubruk ibunya. Ia menceritakan apa yang terjadi, dan Ceng Bi yang mendengar cerita anaknya tiba-tiba tertegun. Nyonya muda ini terkejut, tapi ketika ia mencari ayahnya untuk mendinginkan suasana, ternyata kamar ayahnya kosong!

Kiranya Ciok-thouw Taihiap langsung pergi pada malam itu juga. Ketua Beng-san-pai yang geram oleh penolakan cucunya ini tak dapat menahan diri. Dia meninggalkan sepucuk surat, memberi tahu kepergiannya dan tak dapat dikejar.

Ceng Bi yang kebingungan oleh perbuatan ayahnya ini lalu memberi tahu suami dan madunya. Pendekar Gurun Neraka geleng-geleng kepala, lalu menarik napas. "Gak-hu memang aneh, Bi-moi. Tapi kalau itu sudah menjadi wataknya biarlah, percuma kita membujuk atau meredakan kemarahannya. Biarlah kemarahannya itu larut oleh waktu dan kita tetap bersabar menghadapi tindak-tanduknya."

Pek Hong juga mengangguk. "Benar, ayahmu memang orang aneh, Adik Bi. Tapi kalau Sin Hong yang membuat Bi Lan berduka, biarlah kelak akan kubujuk anakku itu untuk memulihkan suasana. Bi Lan harus gembira, tak boleh berduka!"

Ceng Bi hanya menarik napas. Ia bingung juga oleh kejadian ini, namun Pek Hong yang memeluk pundaknya memberikan hiburan lembut pada madunya itu, membuat Ceng Bi terhibur dan melupakan sikap ayahnya yang aneh. Mereka bertiga yang kembali ke kamar untuk beristirahat segera menyudahi persoalan itu.

Namun, bagaimana dengan Ciok-thouw Taihiap sendiri? Tentu saja dia tidak mau "menyudahi" persoalan ini begitu saja. Begitu tiba di Beng-san dan memanggil dua orang cucunya, Han Ki dan Han Bu, jago tua ini berkata dengan sikap galak, "Han Ki, Han Bu, hari ini pula kalian berdua harus giat berlatih dan menyempurnakan ilmu silat Soan-hoan-ciang itu. Kita mendapat tandingan berat dari seorang kakek bongkok dari Pegunungan Himalaya. Kalian tak boleh kendor!"

Han Ki dan Han Bu mengangguk. Mereka terheran melihat wajah Engkong-nya yang merah itu, melotot seakan mereka berdua telah melakukan sebuah kesalahan besar.

Ciok-thouw Taihiap yang geram oleh peristiwa di rumah menantunya berkata lagi dengan suara ditekan, "Dan kalian harus benar-benar berlatih keras, anak-anak. Sepuluh tahun lagi kalian harus dapat mengalahkan murid si Naga Bongkok yang disiapkan untuk kalian. Kalian mengerti?"

Dua orang anak itu kembali mengangguk.

"Nah, kalau begitu berlatihlah sekarang. Aku hendak pergi mencari seseorang untuk menyelesaikan sebuah persoalan!" Ketua Beng-san-pai yang sudah mengusir dua orang anak laki-laki itu ke taman untuk berlatih, segera menemui puteranya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment