Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 72

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 72

Aku akan mencari si Naga Bongkok. Kau jagalah rumah baik-baik dan awasi dua orang cucuku itu untuk melatih Soan-hoan-ciang! "Ah, kau pergi sekarang, ayah? Tidak beristirahat dulu?" "Tak usah. Aku harus membawa Sin Hong pulang ke tempat ibunya, Han ji. Karena itu jaga baik-baik tempat ini dan awasi dua orang anakmu itu!" "Dan kapan kau kembali, ayah?" "Tidak tahu. Tapi mungkin tiga sampai enam bulan!"

Dan Ciok-thouw Taihiap yang sudah berkelebat pergi meninggalkan puteranya kembali membuat Ceng Han menjublak dan geleng-geleng kepala. Putera Pendekar Kepala Batu ini-pun juga tak dapat berbuat banyak kalau ayahnya sudah seperti itu. Maka Ceng Han yang membiarkan ayahnya pergi dan tinggal di Beng-san menanti kedatangannya kembali lalu menunggu dengan sabar.

Tapi enam bulan kemudian ayahnya itu datang dengan uring-uringan. Naga Bongkok yang dicari ternyata tak berhasil ditemukan. Seakan tahu bakal "diganggu" ketua Beng-san-pai ini dan menyembunyikan diri dengan amat cerdiknya. Dan Ceng Han yang menarik napas melihat keadaan ayahnya itu tak banyak cakap. Dia tahu ayahnya marah-marah. Maka diam dan tersenyum kecut diapun membiarkan saja ayahnya masuk kamar dan mengurung diri.

Tapi dua hari kemudian ketua Beng-san-pai itu muncul. Kemarahannya agak reda, terlihat dari mukanya yang tidak merah lagi. Dan Ciok-thouw Taihiap yang langsung menemui dua orang cucunya laki-laki segera menyuruh mereka mainkan Soan-hoan-ciang untuk dilihat sampai di mana kemajuannya. Tapi ketua Beng-san-pai ini tertegun. Han Ki dan Han Bu yang diharap berlatih giat ternyata tak mengalami kemajuan berarti, padahal enam bulan sudah dia menyuruh mereka berlatih seorang diri.

Maka Pendekar Kepala Batu yang kembali bermuka merah ini langsung saja menyemprot. "Han Ki, Han Bu, mana kemajuan yang kalian peroleh? Kalian masih tetap seperti enam bulan yang lalu. Bodoh. Pemalas..." Han Ki dan adiknya menunduk. Mereka memang tahu itu, karena sesungguhnya mereka tak berlatih sungguh-sungguh sejak diketahuinya bahwa "murid" si Naga Bongkok yang akan disiapkan untuk menghadapi mereka itu adalah Sin Hong. Saudara mereka sendiri!

Maka dua orang kakak beradik yang setengah. Dan Ciok-thouw Taihiap kembali marah-marah. Dia langsung menangani sendiri dua murid yang "bandel" ini, tapi karena Han Ki dan Han Bu berlatih setengah hati untuk ilmu silat baru Soan-toan-ciang itu maka kemajuan yang diharap Ciok-thouw T aihiap tak sesuai dengan apa yang diinginkannya. Memang, untuk ilmu-ilmu silat lain dua orang kakak beradik itu berlatih sungguh-sungguh. Bahkan kemajuannya pesat. Tapi khusus untuk Soan-hoan ciang ini mereka seakan enggan karena maklum akan kedahsyatan ilmu itu yang mampu merobohkan musuh dalam jarak sepuluh tombak dengan angin putarannya yang hebat luar biasa.

Dan ini membuat Ciok-thouw Taihiap "frustrasi". Akibatnya, dalam kekecewaan demi kekecewaan yang bertubi-tubi menggerogoti batinnya maka ketua Beng-san-pai ini mulai sering menenggak arak hingga mabok-mabokan!

Pagi itu, setelah sepuluh tahun dari kejadian di atas seorang pemuda duduk bertengger di atas sebuah batu karang yang tinggi. Dia berusia duapuluh tahunan, wajahnya tampan tapi sinar matanya menyipit dengan sudut bibir ditarik mengejek. Jelas menandakan pemuda yang suka merendahkan orang lain dan sombong. Tapi sinar matanya yang tajam berkilat dengan cahaya yang aneh mencorong dari pelupuk yang sedikit ditutup itu membuktikan bahwa pemuda ini bukan orang sembarangan.

Siapakah dia? Bukan lain Ceng Liong, murid dari dua orang tokoh iblis yang dulu mengeroyok si jago pedang Bu-tiongkiam Kun Seng di Bukit Pedang, si raksasa Mongol Temu Ba itu serta si Mayat Hidup, iblis kurus kering yang suka batuk-batuk seperti orang berpenyakitan. Tapi kalau Mayat Hidup bagai cecak kering yang kurus serta jangkung adalah muridnya ini gagah dan tegap.

Ceng Liong sudah bukan merupakan bocah lagi. Dia benar-benar seorang pemuda yang telah dewasa, tampan dan cukup masak. Tapi pergaulannya dengan dua orang guru yang seperti iblis itu membuat pemuda ini banyak meniru perbuatan gurunya terutama si Mayat Hidup. Seperti diketahui, iblis bagai cecak kering ini ternyata "gemar" sekali dalam masalah nafsu berahi. Berkali-kali Ceng Liong menyaksikan gurunya itu mengajak ibunya masuk ke gua, hal yang mula-mula belum diketahui untuk apa.

Tapi ketika suatu hari dirinya tertarik dan ingin mengetahui apa yang sesungguhnya sedang terjadi di dalam gua tiba-tiba anak ini terbelalak. Dia melihat sesuatu yang baginya saat itu "mengerikan". Keadaan dua mahluk yang berlainan jenis dalam keadaan telanjang bulat! Dan tertegun melihat guru dan ibunya sama-sama bugil dan melempaskan cinta liar maka anak ini bengong, tak tahu apa yang sesungguhnya sedang "dikerjakan" dua orang ini.

Tapi ketika dia semakin dewasa dan di dalam dirinya mulai terdapat getaran-getaran nikmat dari munculnya nafsu berahi bagi setiap manusia normal maka Ceng Liong mengerti dan mulai panas dingin! Anak ini sekarang suka melamun, kian berangkat dewasa dan kian "paham" akan apa yang dilihatnya itu. Tapi karena masih takut dan dirinya saat itu belum dewasa benar maka Ceng Liong menekan saja semua gejolak jiwanya itu dan diam. Hanya melotot dan diam-diam sering "mencuri" lihat adegan-adegan yang dilakukan ibu dan gurunya itu di dalam gua.

Tapi, setelah usianya kian dewasa dan dia sekarang berusia duapuluh tahun tiba-tiba Ceng Liong ingin mencoba! Dan pagi itu dia bertengger di atas batu karang! Seperti biasa, pagi itu A-cheng akan lewat untuk mandi. Pembantu ibunya ini menang rajin, di samping melayani kebutuhan mereka makan minum juga sering turun ke desa-desa untuk membeli rempah-rempah. Sebuah tugas rutin yang dilakukan pelayan wanita ini setiap kali sebulan.

Dan Ceng Liong yang mulai "melirik" pelayan wanitanya ini karena dorongan nafsu berahinya tiba-tiba saja bergetar ketika secara tak sengaja dia melihat wanita itu mandi! Ini kejadian seminggu yang lalu. Di mana waktu itu Ceng Liong juga sedang duduk di batu karang itu. Dan karena batu ini cukup tinggi untuk melihat sekitar maka Ceng Liong dapat melihat ketika A-cheng sedang mandi di kaki bukit tak jauh dari batu karang itu, di sebuah mata air yang jernih dan sepi.

Dan Ceng Liong yang berdebar melihat semuanya ini tiba-tiba timbul nafsu berahinya dan melihat kesempatan! Dia seakan digugah dari ketidaksadarannya selama ini. Betapa A-cheng adalah wanita terdekat setelah ibunya. Dan Ceng Liong yang bangkit kegembiraannya oleh kesadarannya ini tiba-tiba menyala pandangannya dan segera mengamati pelayan wanita itu lebih dari seperti biasanya.

Ceng Liong mulai tersenyum, diam-diam "menaksir" wanita yang mulai diincar ini. Dan ketika pagi itu dia sudah bertekad untuk mendapatkan apa yang diangan-angankannya maka Ceng Liong sudah bertengger di batu karang itu menanti kedatangan pelayannya! Dan benar saja A-cheng mulai muncul. Pelayan wanita ini berlenggang dalam langkahnya yang santai, lalu menuruni bukit menuju ke mata-air tak jauh dari batu karang ini.

Ceng Liong melihat pelayannya itu tersenyum-senyum. Sebenarnya A-cheng bukan seorang wanita muda lagi. Usianya hampir empatpuluhan. Namun pinggulnya yang masih bulat dan menari-nari di depan mata Ceng Liong membuat pemuda ini mendengus dan tiba-tiba menggigil, memanggil lirih, "Bibi Acheng, mau ke mana kau?" A-cheng terkejut. Dia melihat sebuah bayangan melompat turun dari atas sebuah batu karang, tapi melihat bahwa itu adalah Ceng Liong segera muka pelayan ini berseri kembali "Eh, pagi-pagi kau duduk di situ ada apa, Liong kongcu? Siapa yang kau tunggu?" Ceng Liong sudah mendekati wanita ini.

"Aku menunggumu, bibi. Aku tak sabar setelah satu jam bertengger di situ!" "Ah..." pelayan ini terbelalak. "Kau satu jam di situ, kongcu? Dan menungguku pula?" "Ya, aku tak sabar menantinya, bibi. Hampir aku marah kepadamu!" A-cheng tampak terkejut. "Liong-kongcu, apa yang sesungguhnya kau inginkan dariku? Bukankah di rumah kau bisa memberi tahu?" "Hm, aku justeru ingin omong-omong denganmu di sini, bibi. Aku ingin mendapatkan pelajaran cinta!" A-cheng terheran, tidak mengerti. "Apa yang kau maksud, kongcu? Pelajaran cinta yang bagaimana?" Dan Ceng Liong sudah menyentuh pundak wanita ini.

"Artinya aku ingin kau menghiburku, bibi. Seperti halnya ibu kalau menghibur ji-suhu!" "Ah..." A-chcng melepaskan diri, melangkah mundur. "Kau sudah tahu itu, kongcu? Kau..." "Ya, dan tak perlu berpura-pura lagi, bibi. Kaupun tentu sudah tahu pula apa yang kumaksudkan! Ayolah, kau ingin mandi, bukan? Mari kuantar..." dan Ceng Liong yang sudah menyeringai sambil menyambar pelayan ini tiba-tiba mencium muka pelayan itu dengan canggung asa l "ngok!" hingga Acheng menjerit dan ketakutan!

"Kongcu, nanti dulu... ini, ah..." Ceng Liong sudah tak sabar. Dia jadi semakin penasaran melihat pelayannya ragu-ragu, tapi ketika A-cheng mengelak dan melompat mundur untuk yang kedua kalinya mendadak pemuda ini berhenti dan berkilat matanya. "Bibi, kau tak mau memenuhi permintaanku?" A-cheng gemetar, ia melirik kiri kanan, lalu bentrok dengan sinar mata Ceng Liong yang mencorong bagai harimau haus darah pelayan inipun gugup.

"Liong-kongcu, aku... aku takut ketahuan gurumu. Dia mengancam dan akan membunuhku kalau melihat aku melayanimu..." "Hm, siapa yang kau maksud, bibi? Twa-suhukah (guru pertama)?" A-cheng menggeleng. "Tidak, bukan... justeru ji-suhumu (guru ke dua) itulah, kongcu. Mayat Hidup locianpwe..." Ceng Liong tertegun. "Kenapa ji-suhu melarangmu? Apakah dia tahu aku bakal mengganggumu?" Pelayan ini menoleh ke kiri kanan, berkedip-kedip matanya, tampak ketakutan.

Tapi Ceng Liong yang sudah menyentuh lengannya berkata, "Tak perlu kau takut, bibi. Ji-suhu ke kota raja malam tadi." A-cheng membelalakkan mata. "Benarkah, kongcu?" "Hm, kaukira aku bohong?" Ceng Liong tidak senang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment