Chapter 73
"Ji-suhu pergi ke kota raja bersama Ibu dan Bibi."
"Kalau begitu, di mana Twa-suhumu sekarang, Kongcu? Apakah..."
"Twa-suhu sedang bersamadhi, Bibi. Aku dipesan tidak boleh mengganggunya sehari ini!"
A-cheng tiba-tiba berseri. Sepasang mata pelayan ini berkejap, rasa takutnya hilang. Namun, Ceng Liong yang merasa belum mendapat jawaban atas pertanyaannya tadi, mendadak mendesak, "Kenapa Ji-suhu melarang dan bahkan mengancammu? Apakah dia tahu aku bakal mengganggumu?"
A-cheng menarik napas. Mukanya tiba-tiba sedih, tetapi ia memandang pemuda itu dengan tatapan kagum dan bergairah. Dengan suara lemah, pelayan ini mengangguk, "Ya, Suhumu dapat menduga apa yang akan kaulakukan, Kongcu. Karena itu, jauh-jauh hari dia sudah memesan dan mengancamku agar tidak melayanimu!"
Ceng Liong mengerutkan dahi. "Kenapa begitu, Bibi? Apakah..." Ceng Liong berhenti, memandang tajam pelayan itu, lalu bertanya dengan mengejutkan, "Apakah Suhu meminta kau melayaninya pula? Apakah karena ini maka kau tak boleh kusentuh?"
A-cheng tiba-tiba terisak. Pelayan itu mengangguk dan menjawab terbata-bata, "Be... benar, Kongcu. Aku selalu melayaninya setelah ibumu selesai dan tidak mau diganggu lagi."
Ceng Liong tertegun. Ia tampak terkejut oleh keterangan itu, namun tiba-tiba tertawa aneh sambil menyambar pelayannya. "Bibi, kau tak perlu takut. Bagaimanapun, Ji-suhu tidak ada di rumah sekarang! Ayo, hibur hatiku dan kita bersenang-senang!"
A-cheng terkejut. "Tapi Twa-suhumu ada di rumah, Kongcu! Bagaimana kalau kita ketahuan?"
"Ah, Twa-suhu tidak pernah ambil pusing masalah cinta. Dia tidak mungkin melarang atau melihat kita!"
A-cheng masih ragu-ragu. "Tapi bagaimana kalau Ji-suhumu kembali? Bukankah..."
Ceng Liong memotong, "Ji-suhu tidak mungkin pulang dalam sehari. Dia pergi seminggu untuk urusannya!"
A-cheng tertegun. Karena masih kurang percaya, Ceng Liong yang gemas segera mencengkeram pundak pelayannya itu. "Bibi, kau tak perlu takut. Aku bertanggung jawab penuh. Kalau ketahuan, aku siap mempertaruhkan nyawaku untuk melindungimu!"
A-cheng merasa lega dan tersenyum kecil. Ceng Liong yang tak tahan oleh nafsunya yang kian bergejolak segera merobek baju pelayannya. "Bibi, lepaskan semua pakaianmu. Berjalanlah telanjang mulai dari sini!"
A-cheng terkejut. "Tapi kalau dilihat orang...?"
"Ah, tidak ada orang di sini, Bibi. Turuti perintahku dan lepas semua pakaianmu!"
A-cheng menggigil. Ia memandang Ceng Liong dengan terbelalak, namun tiba-tiba ia terkekeh dan tersenyum genit. Wanita itu melepas semua bajunya. Begitu telanjang tanpa sehelai benang pun, ia berseru dan melompat turun bukit, "Kongcu, kejarlah aku! Kita mandi bersama di mata air itu!"
Ceng Liong mendengus. Pemandangan itu membakar gairahnya. Begitu pelayannya menantang, ia segera melompat mengejar. Ceng Liong tidak terburu-buru; ia ingin menikmati tubuh A-cheng dari belakang. Mendekati mata air, ia menerkam dan menubruk pelayannya itu.
"Bibi, kau benar-benar menggairahkan!" *Byur!*
Keduanya tercebur dan terguling di air, tertawa tanpa menghiraukan sekitar. Ceng Liong dan pelayannya saling berpelukan, berciuman, dan menempel bagai lintah. A-cheng yang gembira membimbing pemuda itu dalam permainan cinta yang liar. Ceng Liong mabuk kepayang; ia mendapatkan pengalaman pertama yang menghanyutkan seluruh sendi tulangnya hingga serasa sampai di langit ketujuh.
Seharian itu mereka menghabiskan waktu di mata air, saling bercumbu dan melampiaskan nafsu tanpa memedulikan perbedaan usia. Ceng Liong, yang tidak peduli dengan akal sehat, terus hanyut dalam suasana tersebut. Sore harinya, mereka kembali dengan A-cheng yang bersikap manja bagaikan gadis berusia tujuh belas tahun, sementara Ceng Liong menggandengnya mesra layaknya pengantin baru.
Perbuatan itu mereka ulangi lagi dan lagi hingga lupa diri. Mereka menjadi berani berbuat di mana saja dan kapan saja. Ceng Liong yang terus menjanjikan perlindungan membuat A-cheng merasa aman. A-cheng sendiri mendapatkan kepuasan yang kontras dibandingkan saat ia melayani "Mayat Hidup".
Namun, kenyataan pahit menyambut mereka. Setelah tujuh hari bergelimang nafsu, tiba-tiba Mayat Hidup dan Tok-sim Sian-li muncul. Saat itu, mereka sedang bergurau di mata air dalam keadaan telanjang bulat, berendam sebatas dada, dan saling berpelukan tanpa menyadari ada dua pasang mata yang mengintai.
"Bibi, bagaimana perasaanmu setelah satu minggu ini?"
A-cheng terkekeh, "Aku puas, Kongcu. Kau benar-benar hebat dan jantan!"
"Bukan pujian itu yang kumaksud, Bibi. Bagaimana perasaanmu setelah kau bersenang-senang denganku dibandingkan dengan Ji-suhu?"
A-cheng tersenyum, lalu melingkarkan lengannya di leher pemuda itu. "Kongcu, kau tentu tak dapat dibandingkan dengan Ji-suhumu. Kau lebih muda, kuat, dan tahan lama. Tidak seperti gurumu yang cepat kehabisan napas, hi-hi!"
Ceng Liong tersenyum. "Kau sungguh-sungguh, Bibi?"
"Ah, masa aku bohong? Kalau tidak lebih banyak pengalaman, tentu tak tahan aku melayanimu terus-menerus..."
Tiba-tiba, bentakan dingin mengejutkan mereka, "A-cheng, apa yang kaulakukan ini?"
Keduanya terkejut, melepas pelukan dengan muka pucat. Mayat Hidup muncul dengan mata melotot penuh nafsu membunuh.
"Ah!" Ceng Liong langsung melompat keluar. "Kau sudah datang, Ji-suhu?"
Mayat Hidup mendengus, memandang muridnya yang telanjang dengan berapi-api. Ceng Liong yang tersadar segera menyambar pakaiannya di atas batu hitam dan mengenakannya dengan terburu-buru. Tak lama kemudian, ibunya pun muncul.
"Liong-ji, apa yang kaulakukan dengan pelayan hina itu?"
Ceng Liong tersenyum kecut, bingung harus menjawab apa. Namun, melihat A-cheng yang pucat di dalam air, pikiran jahatnya muncul. "Aku tidak melakukan apa-apa, Ibu. Bibi A-cheng hanya mengajariku bercinta di dalam air."
"Hm, dan sudah lama kalian melakukan ini?"
"Tidak, baru seminggu, Ibu. Bibi A-cheng membujukku karena katanya ia kesepian dengan Ji-suhu!"
A-cheng menjerit, tidak menyangka Ceng Liong memutarbalikkan fakta. "Kongcu, kenapa kau bicara begitu? Bukankah kita melakukannya bersama-sama?"
"Hm..." Mayat Hidup menyela, matanya berkilat. "Kau keluar dulu, pelayan hina. Bicara di depan kami yang benar!"
A-cheng gugup, mengharap bantuan Ceng Liong untuk mengambilkan pakaiannya. Namun, karena Ceng Liong diam saja, pelayan itu bangkit berdiri dari air dengan telanjang bulat. Tubuhnya gemetar saat ia melangkah menuju batu hitam. Sekonyong-konyong, Mayat Hidup membentaknya, "Berhenti!"
A-cheng ketakutan, ia membelakangi mereka karena malu. Namun, Mayat Hidup kembali membentak, "Putar tubuhmu, pelayan hina! Hadapi kami dan tengadahkan mukamu!"
A-cheng semakin pucat. Ia berputar perlahan dengan tubuh gemetar hebat, menundukkan kepala sambil berusaha menutupi bagian-bagian tubuhnya yang penting.