Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 74

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 74

Akan tetapi, Mayat Hidup yang murka kepadanya melotot.

"Pelayan hina, tengadahkan mukamu. Berdiri tegak dan lempar kedua tangan ke samping!" A-Cheng ngeri sekali.

Dia tiba-tiba menangis. Dengan wajah ketakutan dan terisak, pelayan itu terpaksa menuruti perintah tersebut. Kini, dengan kepala tegak dan dada membusung, dia menghadapi tiga orang majikannya tanpa menutupi keadaan tubuh bagian depannya yang polos. Mayat Hidup yang sudah melompat ke depan segera menghakiminya.

"Pelayan hina, siapa yang lebih dulu memulai perbuatan ini? Kaukah?" Tubuh A-Cheng gemetar hebat.

"Tidak, bukan hamba, Locianpwe. Tapi Liong-kongcu yang memaksa hamba. Dia mengajak hamba bermain cinta. Karena hamba tak berani menolak, hamba terpaksa menerimanya...!"

"Hm, benarkah, Liong-ji?" Ceng Liong menyeringai.

"Aku lupa siapa yang membujuk, Ji-suhu. Tapi kalau kau marah kepadaku, terang itu salah. Aku muridmu, ia pelayanmu. Mengapa memarahi murid sendiri dan tidak memarahi pelayannya?" Mayat Hidup mengerotokkan buku-buku jarinya.

"Jangan main-main kau, anak setan. Aku tak perlu kau kuliahi untuk urusan memarahi siapa. Sekarang jawab yang benar, siapa di antara kalian yang menjadi biang keladi dari semuanya ini?"

Ceng Liong langsung menuding, "Bibi A-Cheng, Suhu. Dialah yang membujuk dan mengajakku ke mari!"

A-Cheng menjerit, "Tidak! Liong-kongcu-lah yang memaksa hamba, Locianpwe. Sungguh mati, hamba berani bersumpah..!"

"Hm, kalau begitu kalian saling melempar kesalahan?" A-Cheng pucat pasi. Ia melihat datuk sesat itu mengertakkan jarinya, siap melancarkan pukulan maut, Jari Penusuk Tulang. Melihat Ceng Liong tersenyum menyeringai, pelayan ini menangis gemetar.

"Liong-kongcu, mengapa kau tak menepati janjimu? Bukankah kau bilang kau akan membantuku dalam masalah ini?"

Ceng Liong bicara dengan tenang, "Aku lupa pada janjiku sendiri, Bibi A-Cheng. Tapi kalau Ji-suhu menyerangku, jelas aku akan mempertahankan diri."

"Dan kau mendiamkan saja aku dihukum, Kongcu?"

"Kau boleh mempertahankan dirimu sendiri, Bibi. Itu hakmu kalau kau bisa."

"Ah...!" A-Cheng menjerit dengan mata terbelalak, lalu tiba-tiba menubruk ke depan untuk menyerang Ceng Liong yang ada di sebelah kirinya. Namun, Ceng Liong mengerutkan kening sambil tertawa mengejek.

"Bibi A-Cheng, kau berani memukulku? Pergilah!" Ceng Liong mengibaskan lengan dan menepuk pelayannya itu hingga terjungkal. A-Cheng menjerit, bangkit berdiri, dan kembali menyerang majikan mudanya.

Tok-sim Sian-li yang marah melihat anaknya diserang segera berkelebat ke depan dan menampar kepala pelayan itu.

"A-Cheng, kau berani menyerang anakku? Robohlah... plak!" A-Cheng terpelanting kembali dengan mulut berdarah. Sejenak ia tak dapat bangkit akibat kerasnya tamparan Tok-sim Sian-li yang membuat kepalanya pening. Namun, ketika ia terhuyung dan bangun dengan wajah pucat, Mayat Hidup mencengkeram pundaknya.

"Pelayan hina, apa yang mau kaukatakan sekarang? Kau belum siap menerima hukuman?"

A-Cheng menggigil. Sekarang ia sadar bahwa Ceng Liong jahat sekali, menipunya dan membiarkannya menghadapi maut dengan senyum menyeringai. Maka, dengan penuh kemarahan ia mengutuk, "Liong-kongcu, sungguh tak kusangka hatimu demikian busuk. Kau sungguh keji, pantas menjadi murid setan seperti Mayat Hidup ini. Terkutuklah kau... semoga api neraka membakarmu kelak di kerajaan setan....!"

Ia lalu menendang selangkangan Mayat Hidup. "Des-des!" A-Cheng terlepas. Dengan penuh ketakutan dan kemarahan, pelayan ini lari menubruk Ceng Liong; ia ingin mengajak mati bersama pemuda itu. Namun, Ceng Liong mendengus dan menendangnya. "Plak!" A-Cheng tersungkur.

Sementara ia mengeluh tertahan, pedang Tok-sim Sian-li sudah melekat di batang tenggorokannya.

"A-Cheng, apa pesanmu sebelum kubunuh?"

A-Cheng menggigit bibir. "Aku tak meninggalkan pesan apa-apa, Hujin. Tapi terkutuklah kalian, ibu dan anak!"

Tok-sim Sian-li marah mendengar ucapan itu dan menggerakkan pedang, siap menusuk. Namun, Mayat Hidup tiba-tiba mengibaskan lengan. "Mo-li, tunggu dulu. Biar Ceng Liong yang membunuh kekasihnya itu... wut!"

Pedang di tangan Tok-sim Sian-li dirampas oleh Mayat Hidup dan langsung dilempar ke arah Ceng Liong. "Anak setan, bunuh kekasihmu itu. Habisi nyawanya!"

Ceng Liong menangkap pedang tersebut. Dia tidak menunjukkan perubahan ekspresi, menimang sejenak, dan melirik A-Cheng yang baru saja dilepaskan ibunya. Melihat A-Cheng bangkit berdiri dengan tatapan terbelalak, pemuda ini tersenyum.

"Bibi, sebaiknya kau lempar saja dirimu ke jurang. Aku tak tega membunuhmu dengan pedang di tangan!"

A-Cheng menggigit bibir. Ia terisak. Melihat Ceng Liong bicara sungguh-sungguh, ia memutar tubuh dan menjerit penuh kecewa, lalu lari ke jurang di belakang mereka yang dalamnya ratusan tombak.

Begitu A-Cheng memutar tubuh dan berlari beberapa langkah, Ceng Liong menggerakkan pedang, menimpuk punggung wanita itu sambil tertawa. "Bibi, maafkan aku!"

Pedang yang melesat dengan kecepatan penuh itu menghunjam punggung A-Cheng hingga tembus ke dada. "Crep...!"

A-Cheng mengeluh. Ia tak dapat menolak lagi dan ambruk ke depan dengan pekik lirih. Persis saat ia tersungkur, jiwanya melayang tepat di bibir jurang yang menganga.

Ceng Liong tertawa. Dia melompat maju, mencabut pedang di punggung pelayannya, lalu menendang tubuh A-Cheng ke dalam jurang. "Bibi, maafkan perbuatanku. Aku tak ada waktu untuk menguburmu....!"

Mayat Hidup dan Tok-sim Sian-li tertegun. Mayat Hidup hampir meledak amarahnya karena Ceng Liong menolak perintahnya untuk membunuh secara langsung, namun melihat Ceng Liong membunuh dengan cara menimpuk punggung, iblis tua itu tertegun dan bengong. Kemudian, Mayat Hidup tertawa. Ia merasa Ceng Liong benar-benar licik dan keji, patut menjadi murid dari iblis-iblis yang ditakuti orang.

Akan tetapi, rasa geram karena Ceng Liong "merebut" pelayannya untuk dijadikan kekasih membuat iblis tua itu melompat ke depan.

"Ceng Liong, apa sekarang jawabmu setelah permainan gila ini?"

"Hm, apa maksudmu, Suhu? Kau hendak menghukumku?"

"Tentu saja! Bukankah kau telah bermain gila dengan pelayan terkutuk itu?"

Ceng Liong tersenyum. "Nanti dulu, Suhu. Kalau kau hendak menghukumku dengan ringan, tentu saja aku mau. Tapi hukuman apakah yang hendak kau berikan? Apakah Ibu kau suruh membunuh aku seperti tadi kau menyuruh aku membunuh Bibi A-Cheng?"

Mayat Hidup terbelalak. "Tentu saja hukuman berat yang harus kau terima, anak setan. Kau telah membujuk A-Cheng yang menjadi penghibur gurumu!"

"Dan kau akan membunuhku, Suhu? Hm, tentu saja kulawan...!" Ceng Liong tersenyum mengejek, melangkah mundur, dan menatap gurunya dengan berani.

Mayat Hidup tertegun. "Kau mau melawan gurumu sendiri, anak setan?"

"Kalau kau menghendaki nyawaku, Suhu. Kalau tidak, tentu saja aku tidak akan melawannya!"

"Ah..." Mayat Hidup membentak marah dan tiba-tiba mengulurkan jari untuk menampar kepala muridnya. "Liong-ji, kau anak durhaka!"

Ceng Liong mengelak ke samping dan menggerakkan pedang. Begitu lengan suhunya menampar kepala, ia langsung membacok. "Trak!" Ceng Liong terhuyung.

Melihat gurunya semakin marah, Mayat Hidup melengking, mengerotokkan buku-buku jarinya, dan menyerang murid yang berani melawannya. Tok-sim Sian-li yang melihat anaknya diserang segera mencabut bendera dan membentak dari samping, "Mayat Hidup, kau hadapi kami berdua!"

Mayat Hidup meledak amarahnya. Ceng Liong, yang sedang menangkis serangan gurunya, berkata, "Ibu, kau mundurlah dulu. Biarkan aku menghadapi Ji-suhu!"

"Tapi kalau kau roboh, Liong-ji?"

"Hm, jangan biarkan aku roboh, Ibu. Bantulah aku saat aku terdesak!"

Ceng Liong tertawa. Ibunya yang terpaksa mundur dengan bujukan ini akhirnya mengangguk dan memandang pertempuran dengan cemas. "Baiklah, tapi jangan main-main, Liong-ji. Ji-suhumu itu orang yang cukup telengas!"

Ceng Liong menggerakkan pedang dan menangkis semua serangan gurunya dengan sungguh-sungguh. Dia tidak tertawa lagi dan memusatkan perhatian pada pedang di tangan serta serangan gurunya yang berbahaya. Mayat Hidup melancarkan tusukan Jari Penusuk Tulang disertai kepretan jari tangan yang mengeluarkan pukulan sinkang, sambil membentak dan memaki muridnya yang kurang ajar.

Pertandingan benar-benar menjadi pertarungan sungguhan. Mayat Hidup melancarkan pukulan-pukulan berbahaya, tidak segan, dan benar-benar bermaksud membunuh muridnya yang durhaka. Ceng Liong, yang maklum akan kelihaian gurunya, bertahan dengan segenap perhatian.

Namun, Ceng Liong terdesak. Dia hanya mampu bertahan dua puluh lima jurus karena ia mengenal arah serangan gurunya. Karena kalah matang dalam hal sinkang, Ceng Liong mulai didesak. Ibunya, Tok-sim Sian-li, melihat anaknya keteteran, mundur, dan berkali-kali terhuyung begitu menangkis lengan gurunya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment