Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 75

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 75

Saat Ceng Liong terpelanting oleh kepretan *sinkang* gurunya, sang ibu yang menyayangi anaknya itu tidak tahan lagi. Apalagi ketika pedang Ceng Liong terlepas.

"Liong-ji, mundur!" Tok-sim Sian-li mencelat maju.

Ia menangkis tusukan jari guru putranya, memutar bendera, dan menendang anaknya untuk menyambar pedang yang terlempar. Begitu wanita ini maju membantu, Mayat Hidup menggeram.

"Kau tak tahu diri, Tok-sim Sian-li. Aku akan membunuhmu sekalian kalau begitu!"

Namun, Tok-sim Sian-li sudah berkelebatan menyerang. Ia melihat Ceng Liong telah menyambar pedangnya, kembali, dan berjungkir balik menuju pertempuran semula. Ceng Liong yang tertawa menangkap pedangnya tiba-tiba berseru dan membantu ibunya.

"Suhu, kau tak dapat merobohkan kami berdua. Aku akan membalasmu!"

Mayat Hidup mendelik. Ia dikerubuti ibu dan anak itu; melihat bendera berkibar dan pedang menyambar menusuk dirinya. Marah oleh serangan tersebut, Mayat Hidup mengeluarkan pekik panjang dan meraung. Ia segera melayani serangan itu; begitu mengepretkan jari dan membanting kaki, sambaran pedang serta bendera sudah ia papak dengan tusukan jarinya.

*Plak-bret!* Ceng Liong dan ibunya tergetar mundur. Mereka terhuyung, tapi Mayat Hidup yang ikut terdorong oleh serangan dua orang itu disambut seruan mengejek dari Ceng Liong.

"Suhu, kedudukan kita seimbang. Kau tak dapat mendesakku lagi seperti tadi!"

Mayat Hidup marah bukan kepalang. Ia harus mengakui kenyataan bahwa setelah Ceng Liong dibantu ibunya, kedudukan mereka memang berimbang karena ia harus memecah perhatian dan *sinkang*-nya menjadi dua. Ceng Liong yang melihat gurunya mencak-mencak segera mengejek lagi dengan kata-kata yang memerahkan telinga, "Dan kau tak dapat menghukumku kalau kalah, Suhu. Kita masing-masing sama benar dan sama kuat!"

Mayat Hidup memekik. Ia bertubi-tubi mengepretkan jari dan melancarkan pukulan maut. Ketika suatu saat mereka sama-sama terdorong, mendadak iblis tua ini mengeluarkan paku tulangnya, senjata rahasia yang selama ini jarang digunakan. Begitu membentak sambil melempar tangan, dua senjata rahasia itu meluncur ke arah Ceng Liong dan ibunya, masing-masing mengarah ke dada dan ulu hati.

"Liong-ji, awas!"

Ceng Liong dan ibunya membanting tubuh. Mereka terkesiap oleh serangan ini. Mayat Hidup yang rupanya lebih geram kepada muridnya itu daripada ibunya, tiba-tiba berkelebat maju menyusuli paku tulangnya, mengulur lengan, dan menusuk leher muridnya dengan jari telunjuk serta jari tengah. Begitu Ceng Liong melompat bangun dengan muka kaget, ia melihat dua jari gurunya sudah menyambar leher.

"Bocah setan, mampuslah!"

Ceng Liong terkejut. Ia tidak sempat mengelak karena baru saja melompat bangun. Namun, Ceng Liong yang sama sekali tidak menjerit oleh tusukan maut ini tiba-tiba tertawa dan menerima serangan gurunya dengan tenang, maklum bahwa ia tak dapat menyelamatkan diri lagi. Jari Mayat Hidup yang meluncur ke depan sudah serambut saja menyentuh lehernya.

Tiba-tiba, sebuah bayangan berkelebat.

"Mayat Hidup, tahan!"

Mu Ba yang tiba-tiba berada di situ menangkis dua jari berbahaya tersebut dan membentur lengan Mayat Hidup dari samping.

*Plek!*

Mayat Hidup terdorong mundur, mendelik pada raksasa tinggi besar yang berdiri di tengah. "Kau juga hendak memusuhiku, Mu Ba?"

Mu Ba menggeleng, melindungi Ceng Liong dan menegur temannya, "Tidak, tapi kau harus dapat berkepala dingin menghadapi masalah ini, Mayat Hidup. Karena betapapun juga, Ceng Liong adalah satu-satunya murid tunggal kita yang harus kulindungi!"

"Dan kau tahu apa yang dilakukan bocah setan itu?"

"Ya, aku tahu, Mayat Hidup. Tapi itu bukan satu-satunya alasan bagi kita untuk membunuh murid kita yang gagah perkasa ini!"

Mayat Hidup batuk-batuk. Ia marah sekali, tapi sebelum ia menjawab, raksasa itu memperingatkan, "Mayat Hidup, jangan lupa janji kita dulu. Ceng Liong adalah pewaris tunggal yang hampir lengkap menguasai ilmu-ilmu kita. Apakah untuk masalah pelayan hina itu kau akan mengorbankan murid sendiri? Ingat, mencari murid macam ini langka sekali. Kau buktikan sendiri betapa dengan tenang dan mata tidak berkedip dia berani menerima serangan mautmu sambil tertawa!"

Mayat Hidup tertegun. Ia teringat betapa Ceng Liong menghadapi ancaman kematian dengan demikian berani, sama sekali tidak takut dan gentar sedikit pun. Padahal maut sudah di depan mata! Teringat oleh keberanian muridnya yang luar biasa itu, Mayat Hidup terpaku dan membelalakkan mata, memandang Ceng Liong yang sudah menyimpan pedang dan tersenyum kepadanya. Kagum oleh keistimewaan muridnya, Mayat Hidup menghela napas dan mengangguk-anggukkan kepala.

"Ya, dia memang anak yang luar biasa, Mu Ba. Benar-benar pantas menjadi murid kita dan sukar mencari tandingannya!"

"Dan kau tak akan menghukumnya lagi, bukan?"

"Hm, ini..." Mayat Hidup mengerutkan kening. "Dia telah berani melawanku, Mu Ba. Apakah untuk ini tak perlu kita menghajar murid kita itu?"

Ceng Liong melangkah maju, tersenyum lebar. "Suhu, kalau kau tak bernaksud mengancam jiwaku, tentu saja aku tak berani melawanmu. Bukankah sudah kubilang tadi bahwa aku akan melawan kalau kau mau membunuh? Kaulah yang salah karena tidak menuruti omonganku untuk memberi hukuman yang ringan!"

Mu Ba tertawa terbahak-bahak, "Nah, apa yang dikatakan itu, Mayat Hidup? Bukankah murid kita ini benar-benar pintar sekali? Dia sudah memberimu peringatan dan kini kaulah yang disalahkan!"

Mayat Hidup mengumpat. Untuk kedua kalinya ia dibuat tertegun oleh omongan muridnya yang memang betul dan tak dapat dibantah. Maka, mendengus melepas kekesalan, ia tiba-tiba menendang muridnya itu.

"Baiklah, terimalah hukuman ringanmu ini, anak setan. Sekarang pergilah dan minggat dari sini!"

Ceng Liong yang menerima tendangan gurunya yang sudah tidak marah lagi itu tertawa dan mencelat bergulingan, disusul ibunya yang girang karena putranya selamat. Begitu ibu dan anak ini melompat bangun, keduanya tertawa dan tersenyum lebar.

"Liong-ji, ayo pulang!"

Ceng Liong mengangguk. Ia digandeng ibunya, dan mereka meluncur turun meninggalkan bukit itu sambil tertawa-tawa. Urusan sekarang beres. Mu Ba yang terbahak memandang bayangan muridnya itu telah berkelebat lenyap, meninggalkan Mayat Hidup yang masih termangu-mangu di atas bukit.

"Mayat Hidup, murid kita itu orang jempolan. Kelak dia akan melebihi kita, baik dalam kepandaian maupun kecerdikan!"

Mayat Hidup mengangguk-angguk. Ia mengakui pula kata-kata temannya itu. Melihat Ceng Liong memang benar-benar sesuai menjadi murid mereka, iblis ini tersenyum dan turun bukit pula, berkelebat menyusul temannya. Begitu empat orang ini meninggalkan bukit, suasana di atas tiba-tiba sepi, kembali seperti semula dengan mayat A-cheng di bawah jurang.

Ceng Liong duduk di luar gua. Kini ia menggantikan tugas A-cheng untuk membeli rempah-rempah di bawah bukit pada penduduk dusun yang mengenal mereka. Hari itu, saat disuruh ibunya untuk turun membeli bumbu, ia tiba-tiba "mogok" dan termenung di luar gua dengan alis berkerut. Apa yang ia pikirkan? Tidak lain adalah mendiang pelayannya, A-cheng. Semenjak seminggu setelah kejadian di atas, ia diganggu gejolak nafsu berahi yang mulai minta "umpan" setelah pelayannya tewas. Tuntutan nafsu berahi yang membuatnya mulai tidak tahan.

Ketika pagi itu ia termenung di luar gua, gurunya yang tinggi besar muncul. "Liong-ji, apa yang kau renungkan? Kau ingin turun?"

Ceng Liong bangkit berdiri. "Aku gelisah, Suhu. Aku bingung oleh keadaanku sekarang ini."

"Hm, apa yang kau bingungi?"

Ceng Liong menyeringai. Kepada gurunya nomor satu ini, ia memang merasa lebih dekat karena gurunya ini lebih sayang dan menaruh perhatian lebih besar kepadanya. Maka, Ceng Liong yang tidak ragu membicarakan persoalannya langsung tertawa kecut dan berpura-pura hebat, "Aku membutuhkan teman, Twa-suhu. Aku kesepian setelah bibi A-cheng meninggal."

"Begitukah? Lalu apa maksudmu?"

"Aku ingin mencari teman, Suhu. Tapi sampai saat ini belum menemukan jalan keluarnya."

Mu Ba tertawa terbahak-bahak. "Liong-ji, dua hari lagi kita semua turun gunung. Bagaimana kalau mencari dan bersabar untuk dua hari itu?"

"Ah, terlalu lama, Suhu. Aku tak tahan lagi!"

"Apa maksudmu terlalu lama? Apanya yang tak tahan?"

Ceng Liong menyeringai. "Aku tak tahan untuk mencari pengganti bibi A-cheng, Suhu. Aku ingin bermain cinta tapi belum menemukan pasangannya!"

Gurunya terkejut. "Heh, itukah yang kau maksud?"

"Ya, dapatkah kau mencarikannya, Suhu?"

"Hm..." gurunya mengangguk-angguk. "Kalau begitu cari saja perempuan di bawah dusun, Liong-ji. Kau dapat mencari siapa saja yang kau suka di sana."

Tapi Ceng Liong menggeleng. "Tidak, mereka tak ada yang cantik, Suhu. Wanita-wanita dusun itu kotor dan tak ada yang menggairahkan hatiku. Aku sudah mengelilingi semuanya."

"Jadi bagaimana maksudmu?"

"Kau carikan yang cantik, Suhu. Misalnya saja putri seorang ketua perkumpulan dan kita minta anak gadisnya!"

"Hm..." Mu Ba bersinar matanya, mengerutkan alis, tapi tiba-tiba tertawa memandang muridnya itu. "Baik, aku ada mengenal seorang ketua perkumpulan, Liong-ji. Kita temui ketua Pek-houw-pang dan minta anak gadisnya!"

Ceng Liong girang. "Cantik anak perempuan itu, Suhu?"

"Ha-ha, ia cantik, Liong-ji. Boleh kaujadikan kekasih kalau kau merasa cocok dengannya!"

"Baik, di mana perkumpulan Pek-houw-pang itu, Suhu?"

"Di kota Kui-yang. Kau mau berangkat?"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment