Chapter 76
"Aku tertarik mendengar ceritamu, Suhu!"
"Dan kapan kau berangkat?"
"Ah, sekarang saja, Suhu. Aku sudah tak tahan mendengar ceritamu!" Ceng Liong tertawa dan meninggalkan gurunya, tiba-tiba berkelebat pergi dengan muka berseri-seri.
Namun, gurunya mengejar. "Liong-ji, kau akan pergi seorang diri?"
"Ya, untuk apa kautemani, Suhu? Aku dapat melakukannya tanpa bantuan. Kembalilah, tunggu kedatanganku!" Mu Ba yang terpaksa berhenti memandang muridnya, tiba-tiba tersenyum dan tertawa bergelak.
"Liong-ji, hati-hati!" Namun, seruannya tidak didengar Ceng Liong lagi. Pemuda itu sudah lenyap di sebuah tikungan, mengerahkan ginkang menuju ke kota Kui-yang.
Ceng Liong berlari cepat dengan muka berseri-seri dan tiba di kota Kui-yang dalam waktu satu jam. Dengan mata bersinar dan wajah penuh kegembiraan, ia segera mencari alamat Pek-houw-pang. Namun, ketika tiba di pintu gerbang perkumpulan itu, Ceng Liong mengerutkan alis karena dihadang oleh dua orang murid yang menghalangi jalannya, sebab ia langsung masuk tanpa permisi.
"Hei, berhenti, Sobat! Mau ke mana kau?"
Ceng Liong terpaksa berhenti. Ia dihadang dua laki-laki muda bertubuh tegap dengan mata melotot marah. Ceng Liong tersenyum mengejek dan berkata dingin, "Aku ingin menemui ketua Pek-houw-pang, tikus-tikus cilik. Apakah kalian anak muridnya?"
Dua orang itu seketika membelalakkan mata. "Apa? Kau hendak menemui pangcu? Siapakah kau? Kami betul murid Pek-houw-pang, tapi pangcu hari ini tidak ada di rumah!"
"Hm, kalau begitu boleh dengan puterinya saja. Aku ada perlu penting."
"Apa yang kauperlukan? Siapa kau?"
Ceng Liong mendengus. "Aku Ceng Liong, tikus-tikus cilik. Tentang apa keperluanku menemui puteri Pek-houw-pang, tidak perlu kalian tahu. Minggirlah kalian, atau panggil puteri pangcu kalian itu kemari!"
"Keparat...!" Mereka menjadi marah dan mencabut golok. "Kau mau mengacau, orang she Ceng? Kau hendak mencari onar di perkumpulan Pek-houw-pang?"
"Hm, aku bukan she Ceng, tikus-tikus cilik. Aku adalah she Yap, putera Pendekar Gurun Neraka!"
Dua orang itu terkejut. Mereka tersentak mendengar nama Pendekar Gurun Neraka disebut-sebut, nama yang sudah amat terkenal di dunia kang-ouw. Namun, dengan ragu-ragu mereka memandang Ceng Liong dan akhirnya bersikap lunak. "Kongcu, apakah sebetulnya maksudmu datang ke mari? Kau dari Pegunungan Ta-pie-san?"
"Bukan, aku tinggal di Bukit Hijau. Tapi untuk menanyakan keperluanku, tak usah kalian cerewet lagi dan cepat panggil puteri pangcu kalian itu!"
Dua orang ini tertegun. Mereka menjadi curiga kembali, saling pandang, dan melangkah mundur. "Kongcu, kami tak dapat membiarkan kau masuk jika tidak memberitahukan maksud tujuanmu. Kau pergilah, atau kauberitahukan maksud kedatanganmu agar dapat kami sampaikan kepada puteri ketua kami!"
"Hm, begitukah? Baiklah, aku akan menerobos kalau begitu. Coba kulihat kalian bisa menahan atau tidak!" Ceng Liong melompat masuk tanpa memedulikan dua murid Pek-houw-pang itu.
Begitu ia mulai menggerakkan kaki, dua orang itu membentak dan menyerangnya. "Manusia pengacau, pergilah..!"
Ceng Liong tertawa dingin. Ia tidak menoleh, hanya menundukkan kepala mendengar desing senjata menyambar tubuhnya. Lalu, ia membentak dan memutar kaki dua kali; tahu-tahu dua golok yang lewat di atas kepalanya itu tertendang hingga mencelat.
"Tikus-tikus cilik, kalianlah yang pergi...!" Dua golok yang terlempar dan jatuh berkerontang di tanah itu disambut pekik kaget dua murid tersebut. Mereka terbelalak, melongo melihat kehebatan Ceng Liong.
Namun, ketika pemuda itu melompat masuk dan berlari ke dalam, dua orang ini berteriak keras membunyikan kelenengan di depan pintu gerbang. Tiba-tiba saja dari delapan penjuru muncul puluhan orang yang berkelebat menghadang Ceng Liong.
"Saudara-saudara, dia itu pengacau hina. Mengaku diri sebagai putera Pendekar Gurun Neraka, tapi bukan dari Ta-pie-san!"
Serentak semua orang menjadi gempar. Mereka terkejut mendengar seruan dua murid penjaga itu, namun saat mendengar pemuda itu bukan dari Ta-pie-san, mereka yakin bahwa pendatang itu adalah seorang penipu dan pengacau.
Ceng Liong yang terpaksa berhenti dan dikepung tiga puluh lebih anak murid Pek-houw-pang seketika mengerutkan kening dan mulai gusar. Namun, ia segera menghadapi seorang laki-laki berjenggot pendek yang melompat di depannya.
"Anak muda, benarkah kau hendak mengacau di tempat kami? Apa yang kaumaui?"
"Hm, aku hendak menemui ketua Pek-houw-pang, Jenggot Pendek. Kenapa justru dipersulit dan dimusuhi? Siapa kau?"
Laki-laki ini mengerutkan alis. "Aku Lam Bong, anak muda. Murid tertua dari pangcu kami, Ciok Pang. Apa perlumu mencari beliau?"
Ceng Liong menjengek. "Keperluanku tak dapat diberitahukan pada orang lain, orang she Lam. Lebih baik kaupanggil saja pangcumu itu dan dengarkan nanti!"
"Hm, pangcu tidak ada di rumah, anak muda. Sebaiknya besok saja kau kembali kalau ada kepentingan."
"Tapi puteri pangcu kalian ada, bukan? Nah, suruh dia kemari. Aku mau bertemu dengannya!"
"Kau ada perlu apa dengan Ciok-siocia, anak muda?" Laki-laki ini semakin mengerutkan alis. "Kenapa kau demikian mendesak dan tak tahu diri?"
"Hm...!" Ceng Liong mulai tak sabar. "Aku ada perlu yang orang lain tak perlu dengar, orang she Lam. Kau tak perlu tahu ini kalau kau tahu diri!"
Laki-laki berjenggot itu marah. "Kalau begitu kau kami tangkap, anak muda. Kau membuat kami curiga dan tidak kuperkenankan keluar bila belum memberitahukan maksudmu!" Laki-laki itu mencabut golok dan menyerang Ceng Liong.
"Siung!"
Ceng Liong mengelak. Ia sudah dikepung. Saat golok di tangan murid tertua Pek-houw-pang itu membalik, Ceng Liong meliukkan tubuh dan menampar golok dari samping. "Orang she Lam, lepaskan golokmu!"
Jari Ceng Liong membuat golok lawan mencelat ke udara. Namun, murid tertua Pek-houw-pang itu ternyata lihai. Ia melompat tinggi, berjungkir balik menyambar goloknya, dan kembali menyerang.
"Bagus, kau kiranya cukup lihai, orang she Lam. Tapi jangan kira dapat memenangkan aku!" Ceng Liong memuji, meski cepat menyambut terjangan orang itu.
Untuk sejenak, ia melompat ke sana kemari, mengandalkan ginkangnya yang ringan. Saat melihat lawannya terhuyung ke depan, Ceng Liong tertawa dan menggerakkan jarinya. "Orang she Lam, robohlah...!"
Murid tertua Pek-houw-pang itu terkejut. Saat ia kehilangan keseimbangan, ia mencoba menendang lambung Ceng Liong. Namun, Ceng Liong berkelit manis, menangkap pergelangan kaki lawan, lalu menotok pergelangan tangan yang memegang golok.
"Tangg!"
"Ha-ha, bagaimana, orang she Lam? Kau tak mengakui keunggulanku?"
Lam Bong tersungkur roboh, pergelangannya kaku. Ia melompat bangun dan berteriak kepada saudara seperguruannya, "Sute sekalian, serang dan tangkap dia. Maju!"
Tiga puluh lebih anak murid Pek-houw-pang menyerang Ceng Liong yang berada di tengah. Pemuda itu mengerahkan Cui-beng Ginkang (Ginkang Pengejar Roh) yang diwarisi dari ibunya, ilmu meringankan tubuh milik mendiang Cheng-gan Sian-jin. Ceng Liong lenyap menjadi bayangan yang tak jelas, menangkis dan mengelak hujan senjata.
Ia membalas menyerang dengan pukulan Tok-hiat-jiu yang ganas.
"Plak! Plak! Plak!"
Anak murid Pek-houw-pang mulai menjerit ngeri. Mereka terlempar roboh, tak dapat bangun kembali. Pukulan Ceng Liong yang meninggalkan bekas tapak kemerahan membuat keadaan menjadi gaduh. Ketika Ceng Liong telah merobohkan dua puluh orang, muncul seorang gadis cantik yang membentak dengan suara nyaring, "Berhenti!"
Ceng Liong tertegun.