Chapter 77
Dia melihat seorang gadis cantik muncul di sana, wajahnya merah padam karena amarah. Gadis berkuncir dengan alis yang lentik itu kini tampak penuh dengan kebencian. Ceng Liong yang tertegun melihat kemunculan gadis tersebut, tiba-tiba melihat gadis itu melayang keluar dengan ringan, lalu hinggap di depannya seperti seekor burung walet dengan sebatang pedang terhunus di tangan.
"Manusia hina, siapa kau dan mengapa mengacau di tempat orang?"
Ceng Liong tertegun. Untuk kedua kalinya dia terkesima memandang gadis cantik yang matanya indah bersinar bagai bintang pagi tersebut. Namun, Ceng Liong yang justru girang melihat kemunculan gadis itu, segera melangkah maju, tertawa lebar, dan merangkapkan tangannya.
"Nona, kaukah putri dari Pek-houw-pangcu?"
Gadis itu membentak, "Benar, aku putri Pek-houw-pangcu. Siapa kau yang tidak menjawab pertanyaan orang, justru melancarkan pertanyaan?"
Ceng Liong tersenyum. "Aku Ceng Liong, Nona. Maaf jika anak buahmu kuhajar. Mereka tidak tahu adat dan menyerang orang yang datang dengan niat baik untuk menemuimu."
"Hm, apa keperluanmu menemuiku?"
Ceng Liong menyeringai. Pertanyaan ini tidak bisa segera dijawabnya. Namun, melihat gadis itu semakin marah dengan kening yang mengernyit, terpaksa ia menjawab lirih namun tegas, "Aku ingin menjadi kekasihmu, Nona. Aku datang untuk menyatakan cintaku!"
Gadis itu terkejut. Ia melangkah mundur, tersentak memandang Ceng Liong dengan wajah yang seketika memerah. Namun, melihat Ceng Liong bicara sungguh-sungguh, gadis ini mendadak tergetar dan tidak mampu menjawab. Sejenak ia memandang Ceng Liong yang gagah dan tampan, terbelalak bagai kelinci melihat seekor harimau. Namun, mengingat Ceng Liong baru saja berlaku kejam terhadap murid-murid Pek-houw-pang dan merasa aneh karena belum pernah bertemu sebelumnya, putri Pek-houw-pangcu ini menganggap Ceng Liong gila dan kembali marah.
"Orang she Ceng, kau manusia sinting yang tidak waras! Kau tidak tahu malu menyatakan maksudmu dengan cara seperti ini!"
Ceng Liong mengerutkan kening. "Cara begini bagaimana, Nona? Aku datang dengan sungguh-sungguh menyatakan maksud hatiku. Aku waras, tidak sinting. Kenapa kau mengataiku begitu?"
"Tapi kau merobohkan murid-murid Pek-houw-pang, orang she Ceng. Dan kau melukai mereka dengan pukulan keji!"
"Hm, aku bukan orang she Ceng, Nona. Aku orang she Yap. Percaya atau tidak, aku adalah putra Pendekar Gurun Neraka. Mengenai anak buahmu yang kurubuhkan, itu adalah kesalahan mereka sendiri yang mengeroyokku!"
"Dan kau tidak akan mempertanggungjawabkan perbuatanmu?"
"Perbuatan bagaimana, Nona? Aku datang ke sini untuk menyatakan cinta, bukan membuat onar jika tidak dipaksa!"
"Keparat! Kita belum pernah bertemu selama ini. Bagaimana bisa menyatakan cinta?"
"Ah, nanti dulu, Nona. Jangan berkata begitu. Kita sudah bertemu dan saling berkenalan sekarang."
Gadis itu terbelalak. "Di mana kita pernah bertemu? Kapan saling berkenalan?"
"Sekarang ini, Nona. Saat ini juga setelah kita berhadapan!"
"Ah, keparat...!" Gadis itu menggerakkan pedang dan menerjang penuh kemarahan. "Pemuda tak tahu malu, kau manusia mata keranjang yang hina-dina!"
Ceng Liong terkejut melihat serangan bertubi-tubi itu. Pedang gadis itu sangat cepat, menusuk dengan hawa dingin yang menusuk tulang. Terpaksa Ceng Liong melompat mundur dan menjadi marah. "Nona, kau tidak menyambutku baik-baik, justru menyerangku?"
Gadis itu melengking, "Aku, Ciok Kim, tidak akan menyambutmu baik-baik, orang she Ceng. Kau penipu dan manusia keji!"
Ceng Liong tertawa mengejek dan mendengus dingin. "Baik, aku akan melayanimu, Adik Ciok Kim. Tapi setelah itu, kau harus menurut padaku dan pergi dari tempat ini."
"Tiing!" Ceng Liong menyentil pedang itu dengan kuku jarinya. Ia memutar tubuh dan mengerahkan ginkang, membuat gadis itu terkejut karena pedangnya terpental. Namun, putri Pek-houw-pang yang marah itu segera memainkan senjatanya dengan lebih ganas. Pertandingan seru pun terjadi. Ceng Liong, yang mengerahkan Cui-beng Ginkang, berhasil lolos dari semua tikaman.
Ketika melihat lawannya mulai terkejut oleh kelihaiannya, Ciok Kim mengubah gerakan. Ia mulai melancarkan tendangan dari bawah dan tangan kirinya membantu dengan pukulan miring bertenaga sinkang. Ceng Liong terkejut melihat puteri Pek-houw-pang itu ternyata sangat tangkas. Ketika Ciok Kim mengubah bentuk tangan kirinya menjadi cakar harimau, Ceng Liong semakin kagum.
"Ah, ilmu silatmu hebat sekali, Nona Ciok. Sungguh mengagumkan dan menarik hatiku!" puji Ceng Liong, sementara dirinya terus mundur karena penasaran mengapa lawannya belum berhasil menyentuh tubuhnya.
Ciok Kim gusar. Ia telah mengeluarkan semua ilmu andalannya, termasuk Houw-jiauw-kang (Cengkeraman Kuku Harimau), ilmu ciptaan ayahnya, Ciok Pang. Namun, semua serangannya luput. Ketika Ceng Liong merunduk menghindari babatan pedang, Ciok Kim melengking dan meluncurkan serangan cengkeraman ke muka Ceng Liong, disusul tendangan lutut ke arah dagu.
"Ah, berbahaya sekali, Nona Ciok. Sungguh tak kuduga!" seru Ceng Liong. Ia mengerahkan pukulan Tok-hiat-jiu untuk menangkis.
"Plak! Plak!" Ciok Kim menjerit dan terpelanting. Untuk pertama kalinya ia roboh terkena pukulan Ceng Liong. Ceng Liong mengejar sambil tertawa, "Adik Ciok, kau tak dapat mengalahkan aku!"
Ciok Kim pucat, namun ia tetap bangkit dan kembali membacokkan pedangnya. "Trikk!" Pedang itu terpental karena Ceng Liong telah mengerahkan Coan-kut-ci (Jari Penusuk Tulang). Ciok Kim membanting tubuh dan menendang paha Ceng Liong, namun Ceng Liong hanya menyeringai dan memburu kembali.
Ciok Kim mencoba bertahan dengan tangkisan, namun ia mengeluh karena pedangnya selalu terpental. Hingga akhirnya, saat Ceng Liong mengerahkan tenaga dalam lebih besar, pedang di tangan gadis itu terlepas.
"Tring!"
Ciok Kim tak bersenjata lagi. Ceng Liong segera melompat dan menotok pundaknya. "Adik Kim, menyerahlah...!" Gadis itu terhuyung dan akhirnya roboh ke pelukan Ceng Liong.
"Ha-ha, bagaimana, Kim-moi-moi? Kau tak dapat mengalahkan aku, bukan?" Ciok Kim menangis.