Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 78

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 78

Dia kini benar-benar tak berdaya menghadapi lawannya. Ia roboh tertotok dan tidak dapat bergerak. Merasa marah dan malu oleh semua kejadian itu, tiba-tiba Ciok Kim menjerit, lalu lunglai di pelukan lawannya.

Pingsan!

Ceng Liong tertegun. Ia terkejut oleh jerit kekecewaan lawannya itu. Namun, melihat gadis Pek-houw-pang tersebut hanya pingsan akibat himpitan perasaan, Ceng Liong tiba-tiba tersenyum. Ia tidak lagi memedulikan sisa sepuluh anak murid Pek-houw-pang yang ada di sana. Rupanya mereka melarikan diri setelah melihat Ceng Liong merobohkan sang gadis.

Dengan berlenggang dan tertawa menyeringai, Ceng Liong keluar dari pintu gerbang perkumpulan Harimau Putih itu. Ia melompat, lalu berkelebat meninggalkan Kui-yang setelah memastikan suasana sunyi dan tidak ada yang mengganggunya.

"Ha-ha, sudah kau dapat putri Pek-houw-pang itu, Liong-ji?" Demikian sambutan gurunya, Mu Ba, yang berdiri tegak di luar gua.

Ceng Liong, yang sudah menurunkan tubuh tawanannya ke atas tanah, langsung tersenyum dan tertawa. "Ya, tapi dia tak mau baik-baik ikut denganku, Suhu. Gadis ini keras kepala dan bandel sekali. Apa yang harus aku lakukan?"

"Hm, apa yang harus kau lakukan, Liong-ji? Tentu saja tanya dirimu sendiri, apa yang kau inginkan dari gadis ini!"

Ceng Liong tersenyum. "Aku ingin menjadi kekasihnya, Suhu, tapi secara baik-baik dan sukarela!"

"Dan kau belum menundukkan hatinya?"

"Belum."

"Kalau begitu, minta tolong ibumu, Liong-ji. Dialah satu-satunya wanita yang dapat menolongmu untuk saat ini!" Mu Ba tertawa bergelak dan tiba-tiba berkelebat pergi setelah memberikan pesan tersebut.

Ceng Liong tak mengerti. Ia mengira gurunya hanya bermain-main. Namun, ketika melihat ibunya keluar setelah mendengar suara anaknya, Ceng Liong segera melompat maju dengan menyeringai lebar. "Ibu, aku mendapat teman. Ia putri Pek-houw-pang bernama Ciok Kim!"

Tok-sim Sian-li mengerutkan alis. "Kenapa ia pingsan, Liong-ji? Apa maksudmu?"

Ceng Liong tertawa. "Aku jatuh cinta padanya, Ibu. Kubawa ke mari untuk menggantikan Bibi A-cheng."

"Maksudmu?"

"Aku ingin mempunyai kekasih, Ibu. Aku kesepian setelah Bibi A-cheng tewas."

"Hmm...!" Tok-sim Sian-li membelalakkan mata. "Kau membawanya dengan jalan kekerasan, Liong-ji? Dan kau membunuh ayahnya?"

"Tidak, aku tak bertemu ayahnya, Ibu. Saat itu Ciok Pang-cu tidak ada di rumah, dan aku hanya bertemu anak gadisnya ini."

"Lalu apa yang kau mau? Bukankah ia sudah di tanganmu?"

Ceng Liong meringis. "Ia keras kepala, Ibu. Tak mau tunduk hingga terpaksa kurobohkan."

Tok-sim Sian-li mengerti. "Kalau begitu, sadarkan dia, Liong-ji. Coba kulihat bagaimana sikapnya." Ceng Liong yang tersenyum segera membebaskan totokannya. Ciok Kim sadar, melompat bangun, dan terbelalak marah memandang Ceng Liong.

"Manusia keji, bunuhlah aku!" bentak Ciok Kim, sadar tak ada gunanya melawan.

Ceng Liong tertawa sambil menuding ibunya, lalu berbisik lirih, "Sst, tak ada yang bermaksud membunuhmu, Adik Kim. Kau tenanglah, ini ibuku yang ingin melihatmu."

Ciok Kim tertegun. Ia melihat seorang wanita cantik berdiri di sebelah Ceng Liong. Sikapnya gagah namun dingin, memandang ke arahnya dengan mata aneh mirip elang yang buas. Ciok Kim kaget mendengar Ceng Liong menyebut wanita cantik itu sebagai ibunya.

Tok-sim Sian-li bertanya, "Benarkah kau putri ketua Pek-houw-pang?"

Ciok Kim mengangguk, masih angkuh dengan kepala tegak. "Ya, aku putri ayahku, Ciok Pang. Siapakah kau yang menjadi ibu dari pemuda setan ini?"

"Hm, aku adalah Tok-sim Sian-li, bocah she Ciok. Kukira ayahmu tak akan bersikap kasar kalau dia mengenal aku. Kau belum pernah mendengar namaku?"

Ciok Kim kaget. "Kau murid mendiang datuk sesat Cheng-gan Sian-jin itu? Kau betul-betul ibu dari pemuda ini?"

Tok-sim Sian-li tersenyum dingin. "Ya, akulah orang yang kau maksudkan itu, bocah. Kukira kau tak berani kurang ajar lagi setelah mengenal siapa aku!"

Ciok Kim mengeluarkan seruan tertahan dan melangkah mundur, memandang lawannya dengan muka pucat. Ceng Liong melangkah maju dan menyentuh lengannya. "Adik Kim, tak perlu kau takut. Ibu dan aku tak akan memusuhimu kalau kau penurut."

Ciok Kim menghentakkan lengannya, lalu menampar muka Ceng Liong. "Manusia iblis, jangan sentuh diriku!"

*Plak!*

Ceng Liong terhuyung ke belakang. Matanya berkilat seketika dan ia menggigit bibir. "Adik Kim, kau masih tak dapat bersikap halus?"

Ciok Kim menggigil. Ia tahu siapa gerangan lawannya. Namun, tanpa rasa takut, ia membentak marah, "Aku tak akan bersikap halus kepadamu, pemuda setan. Kau manusia keji yang berhati iblis mirip ibumu. Aku tak sudi..."

"Hm, kenapa ibuku kau bawa-bawa dalam masalah ini, Adik Kim? Dia tak bersalah, tak perlu kau memakinya!"

"Siapa takut?" Ciok Kim tak peduli. "Aku telah mendengar sepak terjang ibumu itu, pemuda setan. Wanita tak tahu malu yang setali tiga uang denganmu!"

"Keparat!" Ceng Liong mendesis. "Jangan kau menghina kami, Adik Kim. Aku bisa kehilangan rasa sayang jika kau tak tahu diri begini!"

"Memangnya kenapa? Kau kira aku takut?"

Ceng Liong, yang tak dapat menahan marahnya lagi, tiba-tiba membentak. Ia berkelebat maju dan menampar pipi putri ketua Pek-houw-pang itu. Ciok Kim tak dapat mengelak dan terpelanting roboh.

*Plak!*

Ciok Kim melompat bangun. Ia melihat Ceng Liong sedikit iba, memandangnya dengan alis berkerut tapi masih jengkel. Sementara itu, Tok-sim Sian-li yang marah oleh sikap gadis ini tiba-tiba mencabut bendera iblisnya. "Liong-ji, bocah ini tak dapat disayang. Sebaiknya dibunuh saja!"

Ceng Liong terkejut. Ia melompat maju dan menghadang di tengah, melindungi putri Pek-houw-pang itu. "Tidak, jangan, Ibu. Aku suka dan sayang kepadanya. Dia gagah dan menarik hatiku!"

"Tapi kalau dia kurang ajar begini apakah kau juga masih tetap tertarik? Kau bodoh, Liong-ji. Mencari gadis yang jauh lebih hebat dari putri Ciok Pang-cu ini masih banyak. Tak perlu sayang melenyapkan jiwanya!"

Ceng Liong menggeleng. "Tidak. Aku tak akan membunuhnya, Ibu. Betapapun, aku telah membawanya kemari. Kau tak boleh membunuh sebelum dia tunduk kepadaku!" Ia kembali menghadapi Ciok Kim. "Adik Kim, kau benar-benar tak dapat menerima cintaku dan bersenang-senang di sini?"

Ciok Kim mencibir. "Aku tak sudi menjadi kekasihmu, orang she Ceng. Kau keji dan tak tahu malu!"

"Hm, aku bukan she Ceng, Adik Kim. Aku adalah she Yap!"

"Cih, siapa mempercayaimu sebagai keturunan Pendekar Gurun Neraka? Yap-goanswe adalah laki-laki gagah, bukan manusia hina. Tak mungkin kau keturunannya biarpun kau mengaku she Yap!"

Ceng Liong menjadi geram. "Ibu, dapatkah kau menolongku menundukkan perempuan liar ini? Aku menghendakinya hidup, tak boleh dibunuh!"

"Hm, tapi bagiku sebaiknya dilenyapkan saja, Liong-ji. Dia gadis berbahaya yang tiada guna bagimu."

"Tidak, aku terlanjur membawanya ke mari, Ibu. Aku harus berhasil dengan rencanaku ini!"

"Jadi kau tetap menghendaki kuda betina liar itu?"

"Ya."

"Baiklah." Tok-sim Sian-li tiba-tiba mengebutkan benderanya dan menotok roboh Ciok Kim yang tak sempat mengelak. Begitu gadis itu roboh, Tok-sim Sian-li menendang tubuhnya ke dalam gua. "Liong-ji, berikan ini kepadanya. Cekoki mulutnya dengan satu sloki saja!"

Tok-sim Sian-li melempar sebotol arak kepada putranya, lalu mendengus dan berkelebat lenyap keluar gua. Ceng Liong menerima arak itu dengan gembira. "Ibu, terima kasih!"

Namun, bayangan Tok-sim Sian-li sudah tak tampak lagi. Ceng Liong melompat masuk dan menghampiri Ciok Kim yang terbelalak kepadanya.

"Manusia hina, apa yang akan kau lakukan?"

Ceng Liong tersenyum. "Menundukkan hatimu, Kim-moi (Adik Kim). Maafkanlah aku yang sudah tak tahan rindu ini!"

Ceng Liong membuka mulut Ciok Kim dan menuangkan arak pemberian ibunya. Ciok Kim meronta dan memaki kalang-kabut. Namun, Ceng Liong segera menotok lehernya hingga Ciok Kim mengeluh lemas dan tak mampu melawan lagi saat arak itu masuk ke dalam perutnya.

Ciok Kim melotot sejenak, namun kepalanya tiba-tiba terasa pening. Gadis itu mengeluh, tak berdaya, dan merasa kepalanya berputar. Ketika Ceng Liong membebaskan totokannya, Ciok Kim melompat bangun dengan tubuh terhuyung.

"Jahanam Ceng Liong, apa yang kau lakukan kepadaku?"

Ceng Liong tersenyum. "Mengajakmu berkasih sayang, Moi-moi. Aku rindu dan cinta padamu."

"Keparat! Kau... apa yang kau minumkan ini? Mengapa kepalaku pening...?"

"Ah, itu arak pembangkit semangat, Kim-moi. Ibu memberikan itu agar kita berdua dapat melampiaskan nafsu setan yang tidak ingat lagi akan norma-norma kesusilaan."

Ciok Kim tak sadar karena perbuatan lawannya, sementara Ceng Liong memang sengaja melakukan itu karena dorongan nafsu berahi yang sesat. Nafsu iblis yang tak menghiraukan sama sekali kehormatan seorang gadis yang mati-matian mempertahankan kesuciannya.

Begitu keduanya mengumbar nafsu berahi di dalam gua itu, maka rusak binasalah harga diri putri Pek-houw-pang ini. Ceng Liong, yang tiada ubahnya iblis muda dalam wujud manusia, melampiaskan gejolak nafsu yang membakar tubuh mereka selama dua jam. Akhirnya, dua pemuda dan pemudi itu tergeletak kelelahan. Ciok Kim langsung tertidur di samping Ceng Liong yang tersenyum puas.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment