Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 79

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 79

Ketika malam mulai tiba dan pengaruh arak pembangkit nafsu berahi telah lenyap dari tubuh Ciok Kim, mendadak gadis ini membuka matanya. Ia mendengar suara orang bicara, seperti meributkan sesuatu. Karena saat itu Ciok Kim seakan sedang bermimpi dan belum sadar sepenuhnya, ia hanya mendengarkan sambil terlena dengan mata terbelalak.

Namun, ketika suara ribut-ribut itu mulai diiringi bentakan-bentakan, Ciok Kim terkejut bukan main. Apalagi ketika tubuhnya ditendang hingga mencelat dan ia mendengar suara ayahnya di situ.

"Ciok Kim, apa yang kau pandang? Kau tidak dengar pertanyaanku?"

Ciok Kim kaget bukan main. Ia melompat bangun dan menjerit lirih ketika melihat tubuhnya telanjang bulat. Begitu sadar dan melihat pakaiannya menumpuk di sudut gua, gadis ini mengeluh dan segera menyambar pakaiannya itu. Dengan terburu-buru dan muka pucat, ia mengenakan pakaiannya.

Lalu, saat ia membalikkan tubuh untuk melihat apa yang terjadi, sekonyong-konyong gadis ini tertegun dan tersentak melihat ayahnya berdiri tegak di muka gua dengan mata berapi-api!

"Ayah...!"

Laki-laki gagah itu menggeram. Ia mendengar suara Ciok Kim yang kering dan serak, seolah tiada tenaga lagi. Ciok Kim yang sudah menubruk dan menjerit di dada ayahnya tiba-tiba mengguguk dan tersedu-sedu. Ia sekarang sadar akan apa yang terjadi, terlepas dari mimpi buruk yang sempat disangkanya hanya khayalan.

Ketika Ciok Kim melihat Ceng Liong berada di situ, ia tiba-tiba memekik dan menyerang penuh kemarahan. "Ceng Liong, kau laki-laki jahanam...!"

Ceng Liong berkelit dengan mudah. Ia mengegos ke sana-sini, mengelak semua serangan gadis itu. Lalu, dengan menggerakkan tangan, ia menyambar ke depan dan menangkap lengan putri Pek-houw-pang ini.

"Kim-moi, tahan. Jangan gila kau!"

Ciok Kim memberontak. Ia melepaskan diri, menendang, dan memaki Ceng Liong sambil menangis tersedu-sedu. Laki-laki gagah di luar yang tidak lain adalah Ciok-pangcu, tiba-tiba berkelebat ke dalam untuk menarik putrinya.

"Kim-ji, mundur. Biar aku yang bicara!"

Ciok Kim menjerit dengan air mata bercucuran. Ia ingin melawan seruan ayahnya, benci sekali kepada Ceng Liong yang telah merenggut kehormatannya. Namun, Ciok Pang membentak dan menotok putrinya hingga Ciok Kim terguling dan roboh dalam pelukan ayahnya.

"Kim-ji, dengar. Kita lihat apa yang dikatakan pemuda itu!"

Lalu, sambil menghadapi Ceng Liong dengan mata berapi-api, ketua Pek-houw-pang ini bertanya, "Pemuda she Ceng, apa sekarang jawabmu tentang pertanyaanku tadi? Masihkah kau tak mau mempertanggungjawabkan kejadian ini setelah kau merusak putriku?"

Ceng Liong tersenyum. Ia tadi sedang asyik mengelus rambut Ciok Kim ketika ketua Pek-houw-pang ini datang secara tiba-tiba di depan gua, saat ia belum berpakaian sama sekali, begitu pula dengan gadis yang ada di sisinya. Namun, Ceng Liong yang tenang segera melompat bangun, menyambar pakaiannya, dan menghadapi laki-laki gagah itu.

Ketika mendengar pertanyaan bengis yang diulang dari ketua Pek-houw-pang tersebut, Ceng Liong tiba-tiba tertawa dan tersenyum menyeringai. "Pangcu, aku belum sedia untuk diikat dalam perkawinan. Mengapa kau mengulang-ulang pertanyaan itu? Adik Ciok Kim telah menjadi kekasihku, tapi bukan berarti kami akan segera kawin dan berumah tangga!"

"Keparat, jadi apa maumu datang ke Pek-houw-pang, orang she Ceng? Apakah hanya untuk mempermainkan putriku?"

"Hm, aku tidak mempermainkan putrimu, Pangcu. Aku ke sana justru untuk mengajak putrimu bersenang-senang. Kenapa kau marah?"

Ciok Pang mendelik. Ia terang-terangan marah mendengar jawaban Ceng Liong yang seenak perutnya. Namun, ketua Pek-houw-pang yang telah mendengar kelihaian pemuda itu dari anak muridnya mencoba bersabar, meskipun jari-jarinya sudah berkerotok untuk menerjang.

"Baik, kalau begitu aku akan menuntut tanggung jawabmu, orang she Ceng. Tapi katakan dulu, siapa guru atau orang tuamu!"

Ceng Liong berkata, "Aku segan memamerkan guru atau nama orang tuaku, Pangcu. Kau berurusanlah saja denganku. Aku, Yap Ceng Liong, siap menerima tuntutan tanggung jawabmu kalau kau tidak puas dengan kata-kataku."

Ciok Pang benar-benar tak tahan. Namun, sebelum ia sempat mencabut senjatanya, Ciok Kim melengking, "Dia putra Tok-sim Sian-li, Ayah! Cucu murid mendiang datuk sesat Cheng-gan Siau-jin!"

Ciok Pang terkejut. "Kau anak wanita iblis itu?"

Ceng Liong terpaksa mengangguk. "Benar."

"Ah...!" Ciok Pang melangkah mundur, mencabut goloknya, lalu menggigil. "Pantas, kalau begitu kau anak haram itu, bocah. Keturunan jadah wanita cabul yang tak tahu malu!"

Ciok Pang membentak keras dan membabatkan goloknya, menerjang ke depan dengan penuh kemarahan. Sekarang ia tahu siapa pemuda ini; murid atau keturunan orang-orang sesat macam Cheng-gan Sian-jin dan Tok-sim Sian-li. Wanita iblis yang sudah dikenal segala keburukan perilakunya, terutama sepak terjangnya yang berganti-ganti kekasih. Maka, kaget serta marah melihat putrinya jatuh ke tangan pemuda macam ini, seketika Ciok-pangcu tak dapat mengendalikan diri lagi.

Ia tadinya berharap Ceng Liong adalah pemuda baik-baik, atau setidaknya keturunan pendekar yang hanya sesat jalan. Namun, setelah mengetahui bahwa pemuda itu keturunan orang jahat yang sudah tidak mungkin "direparasi" lagi, Ciok Pang langsung menerjang dengan maksud membunuh. Ia ingin melenyapkan pemuda itu demi menghapus malu nama baik keluarganya.

Akan tetapi, Ceng Liong yang tertawa mengejek melihat serangan ketua Pek-houw-pang ini justru membuat laki-laki gagah itu terkejut. Serangan goloknya dikelit, lalu sementara golok lewat di samping tubuhnya, sekonyong-konyong pemuda itu menyentil.

"Ciok-pangcu, mari kita main-main di luar saja... tring!"

Golok yang menyeleweng menghantam dinding gua seketika tergetar dan hampir terlepas dari cekalan tangan ketua Pek-houw-pang ini, yang tentu saja menjadi kaget bukan main. Sementara ia berseru tertahan dengan mata terbelalak, Ceng Liong telah melejit dan menyelinap di bawah ketiaknya, lalu lolos keluar.

"Pangcu, mari...!"

Ciok Pang tertegun. Ia melihat lawannya itu tertawa, berdiri di luar gua dengan mata mengejek. Dengan penuh amarah dan rasa kaget, ia segera membentak dan berkelebat keluar. "Bocah hina, aku akan membunuhmu!"

Ceng Liong tertawa. Ia tidak mencabut senjatanya, melainkan menyambut terjangan ketua Pek-houw-pang itu yang membacokkan goloknya bertubi-tubi dengan mata melotot dan muka merah. Ceng Liong, yang berhati-hati, segera mengerahkan ilmunya, mengikuti sambaran golok sambil memainkan kedua tangan dan kaki untuk mengelak atau menangkis, serta mengerotokkan buku-buku jarinya untuk siap membalas dengan pukulan Tok-biat-jiu atau Coan-kut-cinya.

Begitu Ceng Liong menotolkan kaki dengan ringan untuk mengerahkan Cui-beng Ginkangnya, ketua Pek-houw-pang itu semakin kaget melihat lawannya lenyap menjadi sebuah bayangan.

"Ciok-pangcu, kerahkan kepandaianmu. Bunuh aku jika bisa...!"

Ciok Pang melotot. Ia harus mempercepat serangan goloknya untuk mengejar lawannya itu. Ketua Pek-houw-pang yang bukan orang lemah ini tiba-tiba membentak. Ia mengayun tubuh, dan begitu mengerahkan kepandaian dengan seruan tinggi, golok di tangannya mengaung dan berseliweran bagai lebah mengerubung sarang.

Golok di tangan kanannya bekerja naik turun, membentuk gelombang lingkaran yang berkeredep menyilaukan mata. Ia menerjang semakin ganas dan bertubi-tubi hingga tubuh Ceng Liong dikelilingi bayangan golok yang naik turun bagai naga haus darah. Apalagi ketika tangan kirinya juga mulai bergerak, menyambar dan mencengkeram dengan ilmu Houw-jiauw-kang—ilmu cengkeraman harimau—yang membuat sepak terjang ketua Pek-houw-pang ini benar-benar hebat dan ganas. Hal itu membuat Ceng Liong mau tidak mau menjadi kagum dan tiba-tiba terdesak!

"Ah, hebat kau, Pangcu!"

Ceng Liong masih selalu dapat menghindar. Ia mengeluarkan pujiannya dengan tulus karena ketua Pek-houw-pang ini memang hebat. Namun, Ciok-pangcu justru menggigit bibir karena merasa dipermalukan oleh pujian tersebut; ia belum mampu merobohkan lawannya, padahal lawan sudah terkurung rapat oleh gulungan sinar goloknya.

Ceng Liong, yang masih dapat berbicara meski harus mengelak dan berkelebatan cepat menghindari semua serangan golok, benar-benar membuat ketua Pek-houw-pang ini malu dan penasaran. Sebenarnya, menurut perhitungan di atas kertas, lawannya itu sudah harus roboh. Namun, suatu kejadian aneh membuat Ciok-pangcu terbelalak. Lawan yang sudah terang-terangan "dibungkus" gulungan sinar goloknya itu ternyata selalu berhasil menghindar.

Ceng Liong yang dibacok atau ditusuk selalu terlempar lebih dulu bagai kapas yang ringan; benda kering yang seolah-olah tidak berbobot dan selalu terdorong begitu angin golok menyambar. Ciok-pangcu yang kaget segera berubah wajahnya. Ia tahu apa yang terjadi: itu adalah demonstrasi mengagumkan dari ilmu meringankan tubuh yang membuat tubuh lawannya seringan kapas, sehingga selalu terdorong setiap kali angin golok menyambar.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment