Chapter 80
Ilmu meringankan tubuh warisan Cheng-gan Sian-jin yang dia dengar bernama Cui-beng Ginkang (Ginkang Pengejar Roh)!
Maka Ciok-pangcu yang bingung serta marah oleh semuanya ini tiba-tiba melengking. "Bocah she Ceng, jangan kau menghindar saja kalau berani. Hayo tangkis dan sambut golokku kalau jantan...!"
Ceng Liong tertawa. "Kau ingin aku menangkis golokmu, Pangcu? Baiklah, jaga kalau begitu...!"
Ceng Liong yang tiba-tiba menghentikan gerakannya dan tidak mengelak lagi, sekonyong-konyong menyambut sambaran golok Ciok-pangcu yang mengarah ke lehernya. Dengan berani dan tenang, pemuda ini meluruskan empat jarinya, menerima mata golok yang tajam. Begitu lawan berteriak girang dengan mata melotot, tahu-tahu golok di tangan ketua Pek-houw-pang itu sudah bertemu jari tangan Ceng Liong yang memapak maju.
"Trikk...!"
Ciok-pangcu terkejut. Dia melihat jari pemuda itu tidak putus dibabat goloknya, bahkan menjepit dan tiba-tiba menghentak, keras dan kaku bagai baja yang ulet dan kuat, membetot dan menarik goloknya agar terlepas.
Ciok-pangcu yang kaget oleh kejadian ini tiba-tiba menggerakkan tangan kirinya mencengkeram pundak Ceng Liong, membentak sambil menarik goloknya kembali, sekaligus menendang selangkangan lawan agar melepaskan cekalannya. Begitu adu kecepatan ini terjadi dan saling berkutat, tahu-tahu Ceng Liong melepaskan jarinya dan menerima pukulan lawan yang menyambar pundaknya sambil tertawa mengejek.
"Ciok-pangcu, jangan ganas-ganas. Aku masih membutuhkan alat vitalku untuk bermain cinta... Plak!"
Cengkeraman Ciok-pangcu yang langsung diterima jari Ceng Liong sekonyong-konyong dikepret hingga ketua Pek-houw-pang itu menjerit. Untuk pertama kalinya laki-laki gagah ini mengeluh, terdorong mundur, dan tampak kesakitan. Tapi melihat jari Ceng Liong bergetar dan tampak putih pucat, tiba-tiba ketua Pek-houw-pang ini berseru, "Coan-kut-ci (Jari Penusuk Tulang)! Ah, apa hubunganmu dengan Mayat Hidup, bocah?"
Ceng Liong menyeringai. "Dia guruku, Ciok-pangcu. Sungguh matamu tajam dapat mengenal kepretan jariku!"
Ciok-pangcu tertegun. Dia sungguh kaget mendengar jawaban Ceng Liong ini, tak menyangka bahwa pemuda itu juga murid seorang datuk sesat macam si Mayat Hidup. Tapi, sambil menggereng dan melengking nyaring, tiba-tiba ketua Pek-houw-pang itu menerjang kembali dengan serangan goloknya yang dahsyat.
"Bocah she Ceng, kau benar-benar manusia iblis!"
"Swing!"
Golok berbadan lebar yang mendesing dengan amat cepat itu tahu-tahu sudah bertubi-tubi membacok dan menusuk tubuh Ceng Liong. Tapi Ceng Liong tertawa mengejek. Dia berlompatan ke sana ke mari menghindari semua serangan golok itu. Lalu, melihat Coan-kut-ci-nya cukup membuat lawan terkejut dan tampak pucat, ia pun mengerahkan kepandaiannya ini untuk menghadapi lawan, diiringi pula kelincahan gerak kakinya dengan Chit-beng Ginkang.
Kemudian, melihat Ciok-pangcu semakin ganas dan rupanya bertindak nekat, dia pun menjadi gemas dan mulai memperingatkan. "Ciok-pangcu, sudahi saja permainan golokmu itu. Aku akan membalas kalau kau tak tahu diri."
Tapi ketua Pek-houw-pang ini menggigit bibir. Dia sudah tak tahan oleh semua perasaan yang campur aduk di hatinya; rasa marah dan kecewa disertai penasaran. Maka, mendengar Ceng Liong memberi peringatan kepadanya, dia pun justru menjadi gusar. "Bocah she Ceng, tak perlu kau banyak omong. Balaslah aku kalau kau bisa...!"
Ceng Liong memicingkan mata. Dia marah sekarang melihat ketua Pek-houw-pang itu tak mau menyudahi serangannya. Maka, begitu lawan merangsek dan nekat dengan serangan goloknya yang membabi-buta disertai cengkeraman Houw-jiauw-kang, tiba-tiba Ceng Liong mendengus dan berseru, "Baik, kalau begitu jaga dirimu, Ciok-pangcu. Aku akan mulai membalas, haiitt...!"
Ceng Liong yang berteriak keras mengepretkan jarinya, tahu-tahu menangkis bacokan golok yang saat itu menyambar kepalanya. Begitu membentak dan mengerahkan sinkang, tiba-tiba jari Ceng Liong bertemu golok di tangan ketua Pek-houw-pang ini.
"Trang!"
Ciok-pangcu tak mau kalah. Dia mengerahkan pula sinkangnya ketika Ceng Liong menangkis, mengempos semangat sekaligus menggerakkan tangan kirinya dengan cengkeraman Houw-jiauw-kang menyambar dan mencengkeram pundak Ceng Liong. Tapi Ceng Liong yang telah mengukur kekuatan lawan dalam tangkisan pertama tadi, tiba-tiba tertawa mengejek dan membiarkan pundaknya diserang. Lalu, begitu tangan dan golok sama-sama bertemu dalam tangkisan kuat, mendadak Ceng Liong merendahkan tubuh dan menggaet golok di tangan ketua Pek-houw-pang itu, mengganjelnya dengan dua jari telunjuk dan tengah, tidak menjepit lagi seperti tadi.
Begitu Ceng Liong mengerahkan tenaga sekaligus membentak perlahan, tahu-tahu lawannya itu berteriak kaget ketika cengkeraman tangan kirinya yang melekat di pundak Ceng Liong bertemu segumpal daging yang panas membakar!
"Ah...!"
Ciok-pangcu terkejut bukan main. Dia menarik lepas tangannya itu seketika dengan gerakan cepat, karena tangannya bagai menyentuh tungku api saja. Tapi Ceng Liong yang tertawa melihat keterkejutan ketua Pek-houw-pang itu tiba-tiba sudah menarik jarinya yang menggantol golok, merenggut, sekaligus menampar tangan lawan yang saat itu terbelalak kaget. Begitu golok terlepas dari tangan ketua Pek-houw-pang ini, senjata itu pun mencelat jatuh dipukul Ceng Liong, runtuh di atas tanah.
"Ha ha, bagaimana, Pangcu? Bukankah aku dapat membunuhmu kalau aku mau?"
Ciok-pangcu mundur dengan muka pucat. Dia kaget sekali melihat kelihaian pemuda ini. Tapi, ingat betapa anak gadisnya telah dihina orang, dia pun menyambar goloknya dan meraung tinggi, melompat, dan menerjang kembali. "Orang she Ceng, aku tak butuh belas kasihmu. Kau bunuhlah aku kalau kau mampu...!"
Ceng Liong menyipitkan matanya. Dia marah sekarang, tak dapat menahan diri lagi. Maka, begitu lawan nekat dan menerjangnya kembali dengan serangan golok yang membabi-buta, tiba-tiba pemuda ini mengerotokkan buku-buku jarinya, gelap mukanya, dan memancarkan nafsu membunuh. Begitu golok menyambar dahsyat membacok lehernya, sekonyong-konyong Ceng Liong menangkis dengan empat jari terbuka, sepenuh tenaga.
"Plakk...!"
Golok yang langsung mencelat dari tangan ketua Pek-houw-pang ini disambut keluhan tertahan laki-laki gagah itu yang patah pergelangan tangannya! Tapi jerit di muka gua yang mengejutkan dua orang ini seketika membuat Ceng Liong dan lawannya tertegun.
Apa yang terjadi? Kiranya peristiwa tak disangka. Begitu Ceng Liong menangkis lepas golok di tangan ketua Pek-houw-pang ini dengan tenaga sepenuh badan, tiba-tiba golok itu menyambar Ciok Kim yang saat itu terbelalak memandang pertempuran. Gadis yang tak menyangka golok ayahnya mencelat ke arahnya dengan kecepatan luar biasa ini, tahu-tahu menjerit ketika golok menancap di dadanya!
"Aduh...!"
Ciok Kim terjengkang roboh. Ia langsung terkapar, merintih, dan terbelalak memandang golok yang menancap di dadanya itu. Ciok-pangcu yang tertegun melihat anak perempuannya itu mandi darah dengan luka yang amat parah, tiba-tiba berteriak dan menubruk putrinya ini.
"Kim-ji...!"
Ciok Kim mengeluh pendek. Dia hanya tersenyum ketika ayahnya datang, berlutut, dan mengangkat kepalanya. Tapi begitu dia tersedak dan menggeliat dua kali, mendadak gadis ini telah putus napasnya dan tewas, menggeletak kaku di pangkuan ayahnya. Ciok-pangcu yang menggerung-gerung oleh kematian putrinya itu, tiba-tiba beringas dan melompat bangun.
"Orang she Ceng, kau berhutang satu jiwa kepadaku...!"
Ceng Liong termangu. Dia sendiri terkejut melihat gadis cantik yang baru diajaknya bermain cinta itu tewas, terkena golok ayahnya sendiri yang mencelat ditampar pukulannya. Tapi Ceng Liong yang tertawa mengejek ini menghadapi laki-laki yang marah itu dengan tenang-tenang saja.
"Ciok-pangcu, kesalahan bukan ada di atas pundakku. Kaulah yang membunuh putrimu itu dengan golokmu sendiri!"
"Keparat, tapi kau yang menjadi gara-garanya, orang she Ceng. Aku tak terima dan menuntut kesalahan putrimu itu!"
"Kau hendak membalas dendam?"
"Tentu saja!"
Ciok-pangcu yang berteriak panjang dan melupakan pergelangan tangannya yang patah itu, tiba-tiba menerjang ke depan dengan tangan kosong, menyerang membabi-buta. Tapi Ceng Liong yang berkelit mudah dan menghindari semua serangan itu, tiba-tiba menggerakkan kakinya.
"Ciok-pangcu, urus saja mayat putrimu itu. Lain kali kau boleh datang ke sini kalau ingin menuntut balas... Dess!"
Pinggang Ciok-pangcu yang ditendang Ceng Liong dengan senyum mengejek itu tahu-tahu membuat ketua Pek-houw-pang ini mencelat jauh. Ciok-pangcu terguling-guling, dan ketika dia melompat bangun dengan mata berapi-api, Ceng Liong telah menuding jenazah putrinya.
"Orang she Pang, bawa mayat putrimu itu. Kalau tidak, kalian berdua akan menjadi mayat sia-sia di sini."
Ciok-pangcu menggigil, pipinya merah dan gusar bukan kepalang hingga berketrukan giginya. Tapi mendengar omongan lawan ada benarnya, dia pun mendesis dan melompat mengambil mayat putrinya itu dengan satu tangan karena tangan yang lain patah. Lalu, mengancam dan mendelik pada Ceng Liong, dia menumpahkan kebenciannya, "Orang she Ceng, kau telah berhutang satu jiwa kepadaku. Tunggulah pembalasanku kelak..!"
"Hm, tak perlu banyak omong, Ciok-pangcu. Kau pergi dan menyingkirlah cepat dari sini!"
Ciok-pangcu yang memutar tubuh dengan pekik kecewanya itu segera berkelebat pergi setelah mengancam lawan dengan pandangannya yang penuh kebencian. Maklum bahwa dia tak dapat menuntut balas saat itu. Tapi baru beberapa tindak laki-laki gagah ini meninggalkan gua, mendadak pekik ngerinya mengejutkan Ceng Liong. Ceng Liong melihat laki-laki itu mencelat ke arahnya, terlempar bagai daun kering ditiup angin. Begitu Ceng Liong terbelalak kaget, tahu-tahu gurunya nomor satu muncul di situ, berkelebat sambil tertawa bergelak.
"Huah, buat apa laki-laki ini kaubebaskan, Liong-ji? Bunuh saja dia. Tak perlu meninggalkan ancaman...!"
Mu Ba yang muncul di situ dengan kaki tegak dan tangan berkacak pinggang, sudah memandang Ciok-pangcu yang menjadi mayat, tewas dihantam pukulannya yang mengandung sinkang jarak jauh!