Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 81

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 81

"Ah, kau membunuhnya, Suhu?" Ceng Liong kaget.

Namun, raksasa tinggi besar itu tertawa lebar. Dia tidak menghiraukan keterkejutan muridnya yang terbelalak memandangnya. Mu Ba, yang sudah menendang mayat Ketua Pek-houw-pang ke dalam jurang di samping pintu gua, balas memandang muridnya dengan mulut menyeringai keji.

"Ya, kenapa tidak, Liong-ji? Bukankah ia merupakan ancaman bagimu di kelak kemudian hari?"

Ceng Liong tidak puas. "Tapi aku tidak takut ancamannya, Suhu. Dia tak berarti bagiku meskipun berlatih dua puluh tahun lamanya!"

"Benar, tapi aku tak suka membiarkan bibit dendam berkembang biak, Liong-ji. Betapapun, dia harus dibunuh agar tak merepotkan kita!"

Sementara Ceng Liong hendak membantah lagi, tiba-tiba ibu dan gurunya yang kedua muncul.

"Liong-ji, apa yang dikatakan Twa-suhumu benar. Kita tak boleh membiarkan orang macam Ciok-pangcu itu hidup lebih lama kalau kita dapat membunuhnya!"

Ceng Liong tak berkata-kata lagi. Dia segan berdebat setelah tiga orang tua itu datang bersama. Namun, karena maklum apa yang dikatakan suhunya memang benar, dia pun menarik napas dan menghampiri mayat Ciok Kim yang terlempar ketika ayahnya roboh. Baru saja dia menyentuh mayat itu, tiba-tiba suhunya yang kedua terkekeh.

"Liong-ji, apa yang mau kaulakukan?"

"Hm, mengubur gadis ini, Ji-suhu. Kenapakah?"

Mayat Hidup batuk-batuk. "Wah, biarkan aku yang melakukannya, murid bodoh. Kau rupanya lemah benar setelah berhubungan dengan gadis ini. Lihat, kuburan paling bagus adalah di sana. Karena itu, biarlah dia menyusul pula tubuh ayahnya di sana...!"

Mayat Hidup yang tahu-tahu menendang mayat Ciok Kim telah melempar jenazah gadis ini ke dalam jurang!

"Suhu...!"

Namun, Mayat Hidup hanya terkekeh. Dia telah melempar mayat gadis itu bersama ayahnya. Lalu, sambil batuk-batuk dan menyeringai lebar, dia berkelebat masuk dan menepuk pundak muridnya.

"Liong-ji, jadi laki-laki haruslah tabah. Ke mana kekerasan hatimu yang dulu-dulu itu?"

Mayat Hidup memasuki gua dan tertawa dengan suaranya yang khas, serak namun menyakitkan telinga. Ceng Liong yang tertegun lalu menghela napas dan menyeringai pula, memandang guru dan ibunya yang menyusul Mayat Hidup ke dalam gua.

"Liong-ji, dua hari lagi kita semua turun gunung. Tak perlu kausesali nasib puteri Pek-houw-pang itu!"

Ceng Liong mengangguk-angguk. Dia menyesali kematian Ciok Kim yang demikian cepat, di luar dugaannya. Namun, karena maklum gadis itu tak mungkin hidup kembali dan kata-kata suhunya benar, dia pun tepekur di luar gua dan menarik napas berulang-ulang. Sesungguhnya, dia tertarik dan kagum pada puteri Pek-houw-pang itu yang demikian gagah dan berani. Namun, teringat betapa permainan cintanya dengan gadis itu tak berumur panjang, dia pun menyesali diri sendiri mengapa tak membunuh saja Ketua Pek-houw-pang yang datang mengganggu kesenangannya bermain cinta.

Ceng Liong yang termenung di luar gua memandang jurang di depannya, tiba-tiba mengumpat dan menyalahkan Ketua Pek-houw-pang yang dianggap tidak tahu diri karena mengganggu kesenangan orang muda.

***

Dua hari kemudian, Mu Ba dan Mayat Hidup memanggil Ceng Liong yang termenung di luar gua. Melihat pemuda itu masuk dengan langkah ogah-ogahan, Mayat Hidup batuk-batuk dan menegur muridnya.

"Ada apa lagi, Liong-ji? Kau belum dapat melupakan gadis she Ciok itu?"

Ceng Liong menggeleng. "Tidak, bukan itu, Suhu. Tapi aku memikirkan bagaimana dapat penggantinya."

"Heh-heh, kenapa murung? Besok kau akan mendapat gadis-gadis cantik, Liong-ji. Ada banyak persediaan untukmu di tempat baru nanti!"

Ceng Liong mengangkat mukanya. "Di tempat baru, Suhu? Jadi kita akan pindah!"

Mu Ba kali ini yang menjawab sambil tertawa terbahak-bahak. "Ya, kita akan ke kota raja, Liong-ji. Sri Baginda Fu Chai memanggil kita. Ayo berkemas-kemas, ambil buntalanmu dan kita berangkat!"

Ceng Liong tertegun. Namun, sementara dia mematung, tiba-tiba ibunya muncul berkelebat.

"Mayat Hidup, kita tak boleh menunda waktu lagi. Sri Baginda menghendaki kita tiba di sana jam sembilan pagi!"

"Heh-heh, memang benar, Mo-li. Tapi anakmu ini yang bikin terlambat. Dia ogah-ogahan ketika kami panggil."

"Hm, ada apa, Liong-ji? Kau tidak suka?"

Ceng Liong menarik napas. "Tidak, bukan begitu, Ibu. Tapi aku tak tahu kalau kita akan ke kota raja meninggalkan tempat ini."

"Ya, dan selanjutnya kita tinggal di istana, Liong-ji. Sri Baginda telah resmi mengundang kita untuk menghadapi urusan besar."

"Urusan apa itu, Ibu?"

"Hm, kau belum diberi tahu kedua gurumu?" Wanita ini mengernyitkan keningnya, menoleh pada dua orang datuk sesat itu yang tertawa kepadanya sambil menggelengkan kepala.

Tok-sim Sian-li yang kembali memandang puteranya memberi tahu, "Kita dipanggil ke istana untuk menghadapi urusan penting, Liong-ji. Urusan pemberontakan yang dipimpin oleh sekelompok orang yang menamakan dirinya Ho-han-hwe (Perkumpulan Orang-orang Gagah)!"

Ceng Liong terkejut. "Ho-han-hwe, Ibu?"

"Ya."

"Siapa mereka itu?"

"Orang-orang dari golongan pendekar, Liong-ji. Manusia-manusia sombong yang menamakan diri mereka orang-orang berani atau kaum pek-to (golongan putih)!"

"Hm, kalau begitu kenapa tidak dihancurkan saja perkumpulan ini, Ibu?"

"Karena kita harus berhati-hati, Liong-ji. Mereka dipimpin oleh orang-orang tangguh yang menjadi musuh besar kita juga, ayahmu sendiri!"

"Apa?"

"Ya, Ho-han-hwe dipimpin Pendekar Gurun Neraka itu, Liong-ji. Dan kabarnya mereka mengadakan gerakan rahasia di bawah tanah!"

Ceng Liong terbelalak. Dia terkejut dan berdebar hatinya. Mu Ba, yang matanya bersinar dengan muka merah, tiba-tiba menggeram.

"Liong-ji, kita tak perlu berpanjang lebar membicarakan urusan ini di sini. Biarlah kita beritahukan itu padamu di tengah jalan!"

Mu Ba bangkit berdiri dan memandang wanita cantik itu. "Kau sudah siap, Hujin? Kita berangkat sekarang! Jangan sampai Sri Baginda mengomel menunggu keterlambatan kita!"

"Baik, aku sudah siap, Mu Ba. Biarlah Ceng Liong mendengarkan cerita di tengah jalan untuk urusan ini, seperti katamu tadi," jawabnya. Lalu memandang puteranya, wanita itu berkata, "Liong-ji, siapkan bekalmu sekarang. Bawa pakaianmu beberapa potong saja!"

Ceng Liong mengangguk. Dengan cepat dia masuk ke dalam membawa pakaiannya. Begitu dia keluar lagi menemui tiga orang tua itu, ternyata mereka telah tak sabar menanti. Mu Ba langsung berkelebat keluar, dan begitu dia berteriak pada dua temannya yang lain, raksasa itu lenyap di luar gua.

"Hujin, ayolah!" Tok-sim Sian-li menyambar lengan puteranya dan berkelebat mengikuti raksasa tinggi besar itu.

Ceng Liong yang ditarik ibunya segera bertanya, "Ibu, apakah sebenarnya yang akan kita hadapi ini? Benarkah perkumpulan Ho-han-hwe itu akan memberontak?"

"Hm, Sri Baginda memang mendengarnya begitu, Liong-ji. Tapi karena perkumpulan itu rahasia sekali sifatnya dan dipimpin orang-orang berkepandaian tinggi, maka kita harus menyelidiki untuk mendapatkan kepastiannya!"

"Dan di mana sarang perkumpulan itu, Ibu?"

"Belum jelas. Tapi kemungkinan besar di Beng-san!"

"Ah, di tempat Pendekar Gurun Neraka, Ibu?"

"Ya."

"Kalau begitu kenapa tidak ke sana saja? Kita berempat, Ibu. Kau dan suhu berdua serta aku tentu dapat mengobrak-abrik sarang mereka itu!"

"Hm, jangan sombong, Liong-ji. Betapapun ayahmu itu hebat sekali, masih dibantu lagi oleh dua orang istrinya dan anak-anaknya!"

"Aku tidak takut, Ibu. Aku siap membalas hinaan sepuluh tahun yang lalu itu bila kita ke sana!"

"Tidak, jangan gegabah dulu, Liong-ji. Kita harus ke kota raja dulu menemui Sri Baginda!"

Tok-sim Sian-li menceritakan tentang perkumpulan itu pada puteranya sambil berlari cepat. Ternyata Ho-han-hwe sekarang sudah jauh berbeda dengan Ho-han-hwe sepuluh tahun yang lalu. Jika dulu perkumpulan ini hanya dihuni oleh kaum pendekar saja, ternyata sekarang sudah diikuti oleh kaum jelata yang ribuan jumlahnya. Hal ini karena rakyat jelata merasa simpati terhadap Pangeran Kou Cien yang menjadi tawanan dan dihina Raja Muda Fu Chai. Fu Chai kian hari kian banyak dimusuhi orang, terutama karena kaki tangannya yang kejam dan tidak berperikemanusiaan terhadap rakyat kecil.

Orang-orang sesat membantu Raja Muda Wu sejak tewasnya Cheng-gan Sian-jin yang dulu mengoordinasi anak buahnya. Orang-orang golongan hitam yang banyak membantu raja muda ini tentu saja dimusuhi oleh orang-orang kecil yang mendapat perlakuan sewenang-wenang. Kaum bajak dan perampok itu kini menduduki semacam kekuasaan di Kerajaan Wu setelah kerajaan itu tumbang terhadap kerajaan lawannya, Yueh. Orang-orang jahat yang hanya pandai menindas dan menekan orang lemah itu sama sekali tidak pantas untuk duduk di kursi pemerintahan karena lebih mengandalkan nafsu dan kekuatan otot.

Maka, ketika perkumpulan Ho-han-hwe bangkit dan banyak di antaranya merupakan para pendekar yang terjun membantu orang-orang lemah, rakyat kecil menjadi gempar dan mengenal sepak terjang anggota perkumpulan itu. Sebenarnya anggota perkumpulan ini tidak berurusan dengan rakyat banyak. Mereka disiapkan untuk urusan lain, berhubungan langsung dengan Istana Yueh yang diwakili Fan Li, panglima muda yang dulu menjadi pembantu setia Yap Bu Kong, atau yang kini terkenal dengan julukan Pendekar Gurun Neraka.

Namun, karena mereka gatal melihat rakyat kecil ditindas, jiwa pendekar mereka bangkit melihat kesewenang-wenangan di depan mata. Maka, para anggota perkumpulan Ho-han-hwe turun tangan menolong dan menyelamatkan orang-orang kecil dari tindakan biadab orang-orang hek-to (golongan hitam) yang kini menjadi penguasa di daerah pinggiran luar kota raja.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment