Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 82

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 82

Begitu orang-orang Ho-han-hwe muncul membantu rakyat kecil, tiba-tiba saja nama mereka dikenal cepat dari mulut ke mulut. Apalagi ketika sebulan yang lalu timbul kegemparan besar di Kota Ye-kiang.

Saat itu, komandan kota yang bernama Lao Ti didatangi seorang pemuda bernama Yu Kang. Pemuda ini datang dengan marah karena ayahnya ditangkap dan dituduh menghina komandan kota itu dalam peristiwa kecil dua hari sebelumnya, yakni ketika komandan tersebut datang untuk melamar adiknya yang baru berusia lima belas tahun, Yu Lin. Lamaran itu tentu saja ditolak ayahnya dengan tegas mengingat orang bermarga Lao itu adalah seorang bandot tua. Lao Ti yang marah oleh penolakan tersebut lantas menangkap ayahnya dengan alasan menghina aparat pemerintah.

Namun sial, Lao Ti tidak mau menemuinya. Para pengawalnya mencegah Yu Kang masuk, yang tentu saja kian meledakkan kemarahan anak muda ini. Ketika para pengawal tetap tidak memberi izin untuk menemui Lao Ti, tiba-tiba dengan nekat Yu Kang menerobos masuk. Pemuda itu dengan amat beraninya lari ke dalam, dikejar para pengawal. Ketika dengan susah payah ia memasuki rumah pembesar itu dan mengobrak-abrik semua kamar, tiba-tiba saja komandan kota itu ditemuinya sedang asyik di kamar pribadi bersama seorang gundik yang telanjang bulat.

"Lao Ciangkun, bebaskan ayahku!"

Komandan itu terkejut. Ia kaget setengah mati melihat pemuda ini mendobrak pintu kamarnya. Maka, ia melompat turun dan buru-buru mengenakan pakaian sebisanya, lalu membentak dengan muka merah padam, "Bocah bermarga Yu, kau tidak tahu adat memasuki rumah orang secara liar?"

Yu Kang tidak peduli. Ia melompat maju, menerkam pembesar ini, dan berteriak mengulang kembali kata-katanya agar pembesar itu membebaskan ayahnya. Tapi Lao Ti, yang bukan orang sembarangan, mengelak. Ia dulunya adalah bekas anak buah bajak sungai, tangan kanan Hek-kiang-tie (Buaya Sungai Hitam) yang beroperasi di Provinsi Kiang-su. Maka, begitu mengelak dan menggerakkan kakinya, tahu-tahu pemuda bermarga Yu ini telah dilempar roboh hingga mencelat.

"Bocah bermarga Yu, kau tak tahu adat... bluk!"

Yu Kang yang terguling-guling di luar kamar pembesar itu segera mengeluh panjang sambil menekan pinggangnya. Namun, Yu Kang tidak takut. Ia melompat bangun, dan ketika para pengawal datang berhamburan ke tempat itu, langsung saja komandan kota ini berseru penuh kemarahan, "Pengawal, tangkap dan hajar pemuda itu! Jebloskan ke dalam penjara bersama ayahnya!"

Yu Kang yang segera dikeroyok lima orang pengawal mencoba mempertahankan diri dan membalas serangan secara membabi buta. Namun, Yu Kang bukanlah pemuda yang pandai bersilat. Ia adalah seorang pelajar lemah, maka ketika para pengawal itu menyergapnya secara serentak, Yu Kang pun tak dapat berkutik dan roboh terjerembab.

"Lao Ciangkun, kau pembesar terkutuk!"

Pembesar ini mendelik. Ia mendengar Yu Kang memakinya kalang-kabut, maki-makian yang membuat telinganya merah. Dan ketika Yu Kang diseret dan sempat memakinya sebagai bandot tua yang tidak tahu malu, mendadak laki-laki ini mengerang. Ia melompat maju, menggaplok muka Yu Kang berkali-kali. Lalu, melihat Yu Kang masih juga tidak jera dan memakinya habis-habisan, tiba-tiba pembesar ini menggerakkan tangannya menghantam tengkuk pemuda itu hingga pingsan.

Sekarang, ia tidak bisa memaki-maki lagi. Lao Ciangkun yang terlanjur marah menarik kembali perintah untuk menjebloskan Yu Kang ke penjara bersama ayahnya. Pemuda itu dibawa ke ruang belakang, digantung dengan kepala di bawah di atas sebuah perapian yang penuh bara menyala. Gusar oleh sepak terjang pemuda yang dianggap kurang ajar itu, Lao Ciangkun menyiksa pemuda ini dan menyuruh pengawal memanggil ayahnya untuk menonton.

"Pengawal, bawa orang tua bermarga Yu itu ke sini. Lihat apa yang akan kulakukan terhadap putranya!"

Pengawal yang diperintah mengangguk. Ia mengambil ayah Yu Kang di penjara bawah tanah, seorang kakek berusia enam puluh tahun yang kurus dan pucat, namun memiliki sinar mata penuh keberanian. Seorang kakek yang gagah meski lemah fisiknya. Begitu dibawa ke ruang belakang menemui komandan bermarga Lao itu, kakek tua ini tertegun melihat anaknya digantung di atas sebuah perapian yang menyala.

"Yu Kang...!"

Namun, Yu Kang masih pingsan. Ia belum siuman, dan Lao Ti yang tertawa mengejek melihat keterkejutan kakek itu sudah bangkit berdiri sambil memelintir kumisnya. "Tua bangka bermarga Yu, anakmu datang membuat onar. Apa yang kauinginkan dari anakmu yang tidak tahu adat ini?"

Kakek Yu terbelalak. "Bebaskan dia, Ciangkun. Dia tentu mencariku untuk menuntut pertanggungjawabanmu!"

"Hm, demikian mudah?"

Kakek Yu tertegun. "Jadi apa maumu, Ciangkun?"

Komandan kota ini menyeringai, "Aku ingin menghukumnya, tua bangka. Membawamu ke sini agar kau saksikan anakmu yang kurang ajar itu mendapatkan hukumannya!" Lalu, menoleh pada pengawal di sebelah laki-laki itu, ia berseru, "Ci Ho, ambil air dan siram mukanya. Sadarkan dia!"

Pengawal yang ditunjuk mengangguk cepat. Ia mengambil air dingin lalu menyiramnya kasar untuk menyadarkan pemuda itu. Begitu Yu Kang siuman dan membuka matanya, ia tiba-tiba mengeluh dan terbelalak melihat dirinya digantung, apalagi ketika melihat ayahnya di situ.

"Ayah!"

Kakek Yu melompat. Ia gemetar dan pucat melihat keadaan anaknya ini, tapi seorang pengawal yang menghadang di depan menodongkan tombaknya dan menyuruh kakek tua itu mundur. "Yu-lopek, jangan dekat-dekat. Lao Ciangkun hanya menyuruhmu melihat, bukan menolong!"

Kakek Yu memberontak. "Tapi kalian tak boleh menyiksanya, manusia-manusia biadab! Dia tidak bersalah dan tidak boleh dihukum!"

Lalu, sambil berteriak parau dan merebut tombak di tangan pengawal itu, kakek ini tiba-tiba melompat untuk menolong Yu Kang. Tapi dua orang pengawal membentak marah. Mereka menyerang dan mengemplang kepala kakek itu dengan gagang tombak yang membuat dirinya tersungkur roboh.

"Tua bangka, jangan macam-macam kau... plak!"

Kakek Yu menjerit. Ia jelas tidak dapat menghadapi pengawal-pengawal itu, dan ketika ia bangkit berdiri dengan mata melotot, tahu-tahu kedua lengannya telah ditelikung ke belakang. Begitu Lao Ti memberi tanda, kakek yang lemah fisiknya ini telah diikat hingga tidak dapat melepaskan diri.

Tentu saja kakek ini beringas. Tapi karena ia tidak dapat melepaskan diri dan lawan terlalu berat baginya, satu-satunya jalan untuk melampiaskan semua kemarahan adalah dengan memaki-maki. "Lao Ciangkun, kau pembesar terkutuk! Kau manusia hina yang menginjak-injak rakyat kecil!"

Lao Ti mendengus. Ia mendelik pada kakek itu, dan ketika ayah Yu Kang ini tidak dapat dikekang mulutnya, ia pun menjadi marah dan memberi aba-aba pada pengawal pertama. "Ci Ho, bungkam mulutnya. Sumpal dengan bajunya itu!"

Sang pengawal melompat maju. Ia menampar kakek itu tiga kali, dan bibir Kakek Yu yang kontan pecah segera disumbat dengan baju yang dirobek kasar. Ia berteriak-teriak, tapi tidak ada suara yang keluar. Ketika ia diikat di sebuah tiang, kakek itu pun terbelalak dengan tatapan berapi-api.

Lao Ti tersenyum mengejek. "Bagaimana, tua bangka? Kau ingin melihat pertunjukan segera dimulai?"

Orang tua itu terengah napasnya. Ia tidak dapat berbuat apa-apa kecuali melotot dengan penuh kemarahan pada pembesar itu, cemas dan gelisah melihat nasib anaknya yang amat mengkhawatirkan. Tapi Yu Kang yang tak kenal takut berteriak pada ayahnya, "Ayah, tak perlu kau takut. Orang bermarga Lao ini paling-paling hanya dapat menyakiti kita, tapi tak dapat mengubah keputusan kita. Dia bandot tua bangka yang tak pantas untuk Yu Lin."

Lao Ciangkun mendesis. Ia gusar pada omongan pemuda itu, maka dengan membentak dan memberi aba-aba, ia menyuruh pengawalnya menurunkan Yu Kang agar lebih dekat pada bara api yang uapnya cukup membuat orang merasa terpanggang.

"Ci Ho, turunkan pemuda itu semeter lagi di atas perapian. Dekatkan kepalanya dan panggang dia!"

Sang pengawal menyeringai. Ia mengerek turun tubuh pemuda itu, yang terbelalak melihat bara api menyala di bawah kepalanya. Begitu Yu Kang dekat dengan perapian ini, tiba-tiba pemuda itu mengeluh saat merasakan kepalanya terbakar oleh uap yang panas.

"Lao Ciangkun, kau manusia keji...!"

Tapi laki-laki itu tertawa. Ia melihat pemuda itu meronta-ronta dalam usahanya menjauhkan diri. Namun, karena Yu Kang terikat dan digantung oleh tali pengerek, tentu saja usahanya itu sia-sia. Ketika semenit saja wajah pemuda itu didekatkan dengan perapian yang panas luar biasa ini, tiba-tiba keringat sebesar jagung menetes-netes turun di wajah Yu Kang yang merah padam. Ia mendelik dan berkaok-kaok memaki pembesar itu.

"Lao Ciangkun, kau tak tahu malu. Kau manusia keji yang terkutuk dan hina-dina! Semoga api neraka kelak membakarmu lebih hebat dari ini!"

Lao Ciangkun tertawa bergelak. "Ha-ha, kau tahu apa tentang api neraka, bocah? Kau boleh berkaok-kaok sepuas hatimu, tapi aku tetap akan memanggangmu sampai menjadi daging bakar. Kecuali dengan syarat adikmu mau kuambil sebagai istri!"

Komandan kota itu tertawa dengan tubuh berguncang-guncang, semakin terbahak ketika melihat Yu Kang meronta-ronta di tali gantungan, hal yang sia-sia saja dilakukan oleh pemuda itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment