Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 83

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 83

Ketika gerak-gerik Yu Kang melemah dan ia mengeluh dengan keringat bercucuran, tiba-tiba pemuda itu tak bergerak lagi dan lemas di atas tali gantungannya. Pingsan. Ia tidak tahan oleh hawa panas api yang membuat tubuhnya serasa dibakar hidup-hidup.

Komandan Lao kecewa. Ia melihat pertunjukan itu berjalan tak lebih dari lima menit. Kekecewaannya muncul karena ia ingin melihat pemuda itu dihajar habis-habisan dalam penderitaan yang lama. Namun, melihat Kakek Yu tampak girang dan lega saat putranya pingsan, komandan itu menjadi marah dan menghampiri orang tua tersebut.

"Yu Lo, kau ingin putramu benar-benar kupanggang hidup-hidup di atas perapian itu? Kau ingin aku menurunkannya sedikit lagi dan membenamkan kepala anakmu di atas bara itu?" Kakek Yu terbelalak. Ia tidak dapat bicara karena sumbat di mulutnya belum dilepas.

Lao Ciangkun akhirnya melepas sumbat itu agar orang tua tersebut dapat bicara, namun ia menatapnya dengan penuh ancaman. "Bagaimana, tua bangka? Kau ingin anakmu benar-benar kurebus hidup-hidup?"

Kakek Yu berteriak lantang, "Kau tak boleh melakukan itu, Lao Ciangkun. Biarlah aku yang kau bakar sebagai penggantinya. Bebaskan Yu Kang!"

"Hm, aku akan membebaskannya kalau kalian mencabut kembali hinaan itu, orang tua. Terima maksud hatiku dan serahkan anak gadismu untuk menjadi istriku!"

"Cih, kau tak tahu malu, Lao Ciangkun! Kau tidak menengok dirimu yang sudah tua ini! Siapa yang mau mengorbankan anak sendiri untuk diserahkan pada bandot tua macammu ini? Biar mati pun tak sudi aku melakukannya. Kau manusia iblis. Kau manusia terkutuk!"

"Keparat, kau justru memaki-makiku, tua bangka! Kau memperberat dosamu! Baiklah, lihat anakmu kupanggang hidup-hidup di sini!" Lao Ciangkun yang gusar oleh kekerasan kepala Kakek Yu memberi isyarat untuk mengerek naik Yu Kang yang masih pingsan agar tersadar.

Begitu pemuda itu mengeluh dan siuman untuk kedua kalinya, laki-laki itu memberi aba-aba, "Ci Ho, turunkan tubuhnya dan panggang lebih dekat lagi. Sentuhkan rambutnya, dan tarik kembali kalau dia mau pingsan!"

Kakek Yu berteriak-teriak, "Tidak... jangan, Lao Ciangkun... biarkan aku saja yang mengganti anakku!"

Namun, laki-laki itu tak peduli. Ia menyuruh pengawalnya menjalankan perintah. Begitu Yu Kang dikerek turun dan kepalanya disentuhkan pada bara api yang menyala, pemuda itu menjerit dan meronta tidak karuan. Ia kesakitan dan mengalami penderitaan yang hebat. Ia tidak dapat pingsan lagi karena setiap kali hendak kehilangan kesadaran, tubuhnya ditarik ke atas. Begitu sadar dan menjerit-jerit di tali gantungan, tubuhnya diturunkan kembali ke permukaan api yang membuat Yu Kang mandi keringat. Rambutnya mulai terbakar dan hangus disentuh uap panas yang luar biasa. Ketika kejadian ini terus berulang, sang ayah yang tidak tahan melihat pemandangan itu akhirnya roboh dan pingsan. Tak kuat melihat penderitaan anaknya.

"Lao Ciangkun, kau iblis bertubuh manusia!"

Lao Ciangkun mengernyitkan kening melihat Kakek Yu pingsan dan pucat. Namun, Ci Ho, orang kepercayaannya, tiba-tiba berseru dan meminta penghentian sejenak. "Ciangkun, sebaiknya gadis keluarga Yu itu dibawa ke mari saja. Perempuan biasanya lebih lemah perasaannya dibanding lelaki!"

Komandan itu mengernyitkan kening. "Apa maksudmu, Ci Ho?"

"Begini, Ciangkun. Untuk memenuhi tuntutanmu, sebaiknya anak perempuan itu dibawa ke mari agar ia melihat keadaan ayah dan kakaknya. Kalau dia mau tukar-menukar denganmu demi kebebasan mereka, maka ia harus menerima tawaranmu menjadi istrimu! Bukankah ini pasti berhasil?" Pengawal itu tertawa.

"Hm..." Lao Ciangkun berseri-seri. "Usulmu cocok sekali, Ci Ho. Itu memang satu-satunya jalan untuk menundukkan keluarga keras kepala ini. Ha-ha, bagus sekali!"

Ia memberi perintah, "Chi Pao, Lauw Kam, bawa anak perempuan itu ke mari. Cepat!"

Dua pengawal di sudut mengangguk dan melompat keluar. Yu Kang yang terbelalak mendengar hal itu tiba-tiba meronta dan berteriak, "Lao Ciangkun, kau jahanam keparat! Jangan ambil adikku!"

Komandan itu tertawa mengejek. "Memangnya kenapa, bocah keluarga Yu? Bukankah itu untuk kebebasan dirimu sendiri? Aku sekadar mengajukan tawar-menawar. Kalau adikmu tak mau, tentu saja aku tidak akan memaksa, tapi kalian semua akan kubunuh!"

Yu Kang memaki kalang-kabut. Ia pucat dan marah bukan main, namun karena tak berdaya, ia hanya bisa meraung. Satu jam kemudian, dua pengawal itu kembali dengan membawa seorang gadis cantik yang menangis tersedu-sedu. Dialah Yu Lin, adik satu-satunya Yu Kang. Begitu tiba dan melihat keadaan kakaknya yang tersiksa di atas bara, gadis itu menjerit dan berlari menghampiri, "Kang-koko, apa yang kau alami? Di mana ayah?"

Lao Ciangkun memberi isyarat. Matanya berbinar melihat gadis cantik berusia lima belas tahun itu; segar dan ramping, ranum bagai mangga yang siap masak. Pengawalnya melompat menghadang dengan tombak dipalangkan, menyuruh gadis itu berhenti.

"Yu-siocia, dengarkan kata-kata Lao Ciangkun. Jangan menyentuh kakakmu dulu!"

Gadis itu berhenti dan tersedu-sedu menghadapi tombak yang dipalangkan. Lao Ciangkun melompat ke depan dengan mulut menyeringai. "Nona, kakak dan ayahmu menghina aparat pemerintah. Bagaimana sikapmu dengan semuanya ini?"

Yu Lin terguncang. "Bebaskan mereka, Ciangkun. Bebaskan mereka, dan biar aku menuruti semua permintaanmu!"

"Hm, kau mau memberi imbalan jasa untuk kebaikanku ini, Nona? Kau benar-benar mau menolong mereka?" Lao Ciangkun tersenyum lebar.

"Ya, apa yang kau minta akan kuturuti, Ciangkun. Aku akan melakukan apa saja asal kau membebaskan ayah dan Kang-koko!"

Yu Kang tiba-tiba berteriak, "Tidak! Jangan gila, Lin-moi. Pembesar itu akan meminta imbalan jasamu sebagai istri. Kau akan dijadikan gundik!"

Yu Lin tersedu-sedu, "Aku tahu, Koko. Pengawal ini telah memberitahuku di tengah jalan. Tapi aku rela asal kalian selamat dan pulang baik-baik ke rumah!"

Yu Kang mencak-mencak, "Tidak bisa! Kau tak perlu menjual harga dirimu, Lin-moi. Aku sudah siap mati untuk membela kehormatanmu. Pulanglah, dan cepat lari dari sini!"

Namun, gadis itu menggelengkan kepala dan menubruk ke arah Komandan Lao. "Lao Ciangkun, bebaskan kakak dan ayahku. Aku rela memenuhi permintaanmu demi keselamatan orang-orang yang kucintai!"

Yu Kang melotot marah. Lao Ciangkun tertawa bergelak, lalu memegang pundak gadis itu dan mengelus pipinya. "Kau benar-benar tidak akan menarik janjimu, Nona? Kau tidak menipuku?"

"Tidak, aku tidak menarik janjiku, Ciangkun. Aku sungguh-sungguh bicara benar asal kau membebaskan Kang-koko dan ayah!"

Lao Ciangkun menoleh pada pengawal kepercayaannya. "Ci Ho, lepaskan saudara Yu Kang. Dia calon adik iparku yang baik." Sambil menyeringai pada gadis itu, Komandan Lao memeluk pinggang Yu Lin dan membawanya keluar dari ruang siksaan. "Yu-siocia, kau memang gadis yang amat berbakti. Aku sungguh kagum dan cinta padamu!"

Yu Kang yang telah dilepaskan dari tali gantungan tiba-tiba mengejar pembesar itu. "Lao Ciangkun, lepaskan adikku! Kau laki-laki biadab!"

Lao Ciangkun mengelak dan menarik Yu Lin ke depannya, menjadikannya perisai. "Yu-siocia, tidak dapatkah kau menasihati kakakmu itu? Baik-baik aku memenuhi permintaanmu, karena itu tolong buat kakakmu yang nekat ini sadar!"

Yu Lin tersedu-sedu. Ia tahu kemarahan kakaknya. Namun, menyadari ayah dan kakaknya berada di sarang harimau, ia mencegat dan berseru, "Kang-koko, jangan menyerang. Aku siap membebaskanmu dengan taruhan ini!"

"Tapi kau hanya akan dijadikan barang permainannya saja, Lin-moi! Laki-laki itu hanya mencintai tubuh dan kecantikanmu belaka!"

"Tidak, jangan persoalkan itu, Koko. Aku tak peduli sifat cintanya asal kau dan ayah selamat!"

"Tapi kau akan menderita, Lin-moi. Laki-laki ini bukan manusia melainkan binatang. Kau akan tersiksa lahir batin!"

Lao Ciangkun mendelik, "Saudara Yu Kang, tahan omonganmu yang kasar itu. Kalau tidak, aku akan membunuh kalian di sini!"

"Aku tak takut! Kau iblis berkedok manusia, Lao Ciangkun. Kau binatang berhati keji yang tidak dapat dipercaya!" Yu Kang menyerang dengan gerakan tiba-tiba dan mendaratkan tinjunya ke arah wajah pria itu.

Lao Ciangkun berkelit cepat dan mendorong Yu Lin maju sebagai sasaran. "Plak!" Yu Lin menjerit terkena tinju kakaknya sendiri, lalu terpelanting roboh dengan hidung berdarah.

"Kang-koko, hentikan itu... hentikan kenekatanmu! Aku bisa bunuh diri kalau kau tidak mau mendengar kata-kataku!"

Yu Kang tertegun. Ia terkesima melihat adiknya roboh dan menjerit-jerit. Yu Lo, yang saat itu siuman dan kaget melihat putrinya ada di sana, gemetar tubuhnya dan berusaha bangkit berdiri.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment