Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 84

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 84

"Lin-ji, kenapa kau ke sini?" Yu Lin tersedu-sedu.

"Aku ingin membebaskan kalian, Ayah. Aku datang agar kalian cepat pulang dan kembali dengan selamat!"

"Tapi Lao-ciangkun menyiksa kami, Lin-ji. Mana mungkin aku dan kakakmu pulang?"

"Tidak, aku telah memenuhi permintaan Lao-ciangkun, Ayah. Aku menerima cintanya dan siap diperistri!"

Kakek Yu kaget. "Apa? Kau gila, Lin-ji?"

Namun, Yu Lin mengusap air matanya dan menggelengkan kepala dengan keras. "Tidak... tidak... aku telah berjanji, Ayah. Lao-ciangkun akan membebaskan kalian asal aku memenuhi permintaannya. Pergilah, bawa Kang-koko jauh-jauh dari sini!"

Kakek Yu melompat ke depan. "Aku tak mengizinkan, Lin-ji. Kau hanya dijadikan korban nafsu binatangnya saja. Tidak boleh!" Kakek yang sudah menarik lengan putrinya itu tiba-tiba menyeretnya untuk melarikan diri.

Namun, Lao-ciangkun tertawa mengejek. "Yu-lopek, anakmu telah berjanji denganku. Apakah kini hendak ditarik begitu saja dengan mudah?"

Para pengawal yang telah mendapat isyarat menghadang di depan pintu keluar. Hal itu membuat Yu Lin meronta, melepaskan diri dari ayahnya, dan menubruk komandan kota itu. "Lao-ciangkun, jangan ganggu mereka. Lepaskan Ayah dan kakakku!"

Kakek Yu membelalakkan mata. Dia melihat para pengawal sudah memandangnya penuh ancaman. Yu Kang yang cemas akan keselamatan ayahnya tiba-tiba melompat menghampiri dan berdiri melindunginya dengan gagah.

"Ayah, Lin-moi sengaja membebaskan kita dengan mempertaruhkan kehormatannya. Apa yang akan kau lakukan?"

Kakek Yu mengepal tinju. "Aku akan menyuruhnya lari, Kang-ji. Biarlah aku mati asal adikmu selamat!"

Tapi Yu Lin berteriak menangis tersedu-sedu, "Tidak, aku tak mau lari, Ayah. Aku akan tinggal di sini bersama Lao-ciangkun. Pergilah, jangan sia-siakan pengorbananku!"

Ayah dan anak itu saling pandang. "Bagaimana pendapatmu, Yu Kang?"

"Aku siap mempertaruhkan jiwaku, Ayah. Sebaiknya kau larilah bersama Lin-moi!"

Namun, Yu Lin berteriak semakin deras tangisnya, "Tidak, jangan lakukan itu, Kang-koko. Kita bertiga bakal tewas kalau kalian melawan. Pergilah, aku siap menyelamatkan kalian. Kalau tidak, aku akan bunuh diri sebelum kalian menyerang!"

Yu Kang serta ayahnya yang terpaku oleh teriakan itu seketika bingung dengan muka pucat. Mereka mengenal kekerasan hati Yu Lin yang akan menjalankan kata-katanya jika ditentang. Mereka maklum bahwa gadis itu akan bunuh diri jika mereka memberontak. Hal itu berarti mereka bertiga akan binasa dan tidak mungkin selamat dari tangan laki-laki jahanam itu, Komandan She Lao.

Maka, setelah memberi isyarat dan kedipan pada ayahnya yang tertegun, Yu Kang berbisik, "Ayah, tak perlu melawan lagi. Nanti saja kita kembali secara diam-diam untuk menyelamatkan Lin-moi!"

Sang ayah menarik napas. Dia maklum akan suasana saat itu yang tegang dan sangat membahayakan pihak mereka, terutama kedua anaknya yang masih muda. Maka, dengan mengangguk dan menangis memandang Yu Lin, kakek ini terisak lalu memutar tubuhnya. "Baiklah, aku memenuhi keinginanmu, Lin-ji. Tapi hati-hati dan jaga dirimu baik-baik!"

Sambil melompat dengan air mata bercucuran, ia mengajak Yu Kang keluar. Kini menanglah laki-laki She Lao itu. Dia tersenyum lebar, tertawa terbahak-bahak, dan memberi isyarat agar para pengawalnya tidak menghalangi kepergian ayah dan anak itu.

Yu Kang serta ayahnya meninggalkan tempat yang menyakitkan itu dengan muka merah padam. Mereka kembali ke rumah untuk mengumpulkan tenaga baru. Mereka tak berkutik oleh ancaman Yu Lin yang mereka sayang itu. Namun, membayangkan adiknya bakal dijadikan barang permainan oleh Komandan She Lao, Yu Kang menggertakkan gigi sambil mengepal tinju.

Benar saja, Yu Lin saat itu juga menyerahkan kehormatannya kepada laki-laki yang menguasainya. Dia melayani nafsu binatang Komandan She Lao. Namun, karena dia melayani dengan sikap terpaksa dan menangis terus di kamar pribadi laki-laki itu, akhirnya Lao-ciangkun tidak puas dan kecewa. Apalagi ketika Yu Lin tak mau menanggapi hasrat nafsunya yang masih berkobar.

"Eh, kenapa menolak, Yu-siaocia? Bukankah kau bilang siap menjadi isteriku? Kemarilah, aku sayang padamu. Aku cinta padamu..." Lao-ciangkun yang mencoba merayu gadis ini dengan segala cara sudah memeluk dan mengangkat gadis itu kembali ke atas pembaringan.

Yu Lin menangis. Dia pasrah dilempar ke pembaringan, tetapi ketika laki-laki itu minta untuk dilayani kedua kalinya, gadis ini terisak dan diam saja. Hal itu membuat Lao-ciangkun marah. "Lin-moi, kau sudah menjadi isteriku, bukan? Kenapa diam saja?"

Pundak Yu Lin terguncang-guncang. Dia tak menjawab. Ketika Lao-ciangkun menjambak rambutnya dan mulai bersikap kasar, tiba-tiba gadis ini melompat turun dan menghambur ke tembok ruangan. Tanpa disangka-sangka, ia membenturkan kepalanya keras sekali.

"Dukk!"

Lao-ciangkun terkejut. Dia melompat turun dengan kaget, terbelalak mendekati gadis yang baru dihisap madunya ini. Melihat Yu Lin tak bergerak lagi dan tengkoraknya retak oleh benturan itu, komandan ini menggeram dan mengumpat.

"Keparat, kau gadis sialan, bocah She Yu. Kau tak tahu diri dan membuatku marah!"

Lao-ciangkun yang sudah tidak sabar menendang tubuh gadis yang telanjang bulat itu keluar kamar. Yu Lin yang sudah menjadi mayat terlempar keluar. Begitu sampai di depan pintu, komandan ini memanggil para pengawalnya, "Ci Ho, Lauw Kam, kembalikan gadis itu ke rumah si tua bangka. Bilang dia bunuh diri di tembok kamar!"

Dua tangan kanan Komandan She Lao itu tertegun. Mereka tak menyangka gadis yang baru memasuki kamar ini sudah menjadi mayat. Namun, melihat kepala gadis itu retak dan memang terlihat seperti bunuh diri, kedua orang ini segera mengangkat mayat tersebut dan membawanya ke rumah Yu Lo.

Yu Kang serta ayahnya tentu saja geger. Mereka marah bukan main. Melihat Yu Lin menjadi mayat dengan kepala pecah, mereka menyerang dua orang pengawal itu tanpa banyak cakap.

Ayah dan anak itu sama-sama nekat. Namun, karena mereka adalah orang-orang lemah yang hanya memiliki keberanian besar tanpa ditunjang ilmu silat, tentu saja mereka tak dapat berbuat banyak terhadap dua orang pengawal Komandan She Lao. Golok dan pisau di tangan Yu Kang dan ayahnya tak berarti apa-apa. Ketika dua orang pengawal itu marah dan mencabut tombak, Yu Kang serta ayahnya menjerit roboh dengan dada berlubang.

"Nah, apa kataku, orang-orang She Yu? Kalian tak tahu diri. Menghina dan menyerang aparat pemerintah!" Dua orang pengawal yang sempat menendang itu segera memutar tubuh dan meninggalkan Yu Kang serta ayahnya yang terluka parah.

Yu-lopek, yang rupanya tak kuat menahan, terkulai tewas di samping anaknya dengan mata mendelik. Kejadian itu menggegerkan tetangga sekitar yang sejak tadi tidak berani keluar karena takut pada pengawal Lao-ciangkun yang terkenal bengis dan kejam.

Begitu dua pengawal itu meninggalkan rumah, sesosok bayangan langsing berkelebat masuk.

"Saudara yang gagah, apa yang terjadi ini?"

Yu Kang terbelalak. Dia melihat seorang gadis cantik muncul di dalam rumahnya bagaikan bayangan setan. Namun, Yu Kang yang melihat pandangan mata penuh persahabatan dari gadis yang belum dikenal ini segera mengeluh dan berusaha duduk, mendekap dadanya yang terluka parah oleh tusukan tombak. Karena tak kuasa menahan sakit, dia terjengkang kembali dan menuding-nuding tidak jelas.

"Nona, mereka... mereka membunuh adikku!"

Gadis ini melompat maju. Dia sudah menolong Yu Kang untuk bangun sebisanya, namun melihat luka yang parah itu, tiba-tiba alisnya yang indah berkerut dalam. Itulah luka yang benar-benar tak dapat ditolong.

Sambil mencoba menotok jalan darah di pundak pemuda ini, gadis cantik itu merebahkan Yu Kang dengan hati-hati kembali di atas lantai. "Sobat, kau tak boleh banyak bicara. Lukamu gawat."

"Ya, aku tahu, Nona... tapi jahanam-jahanam itu... mereka itu..." Yu Kang batuk-batuk tersendat, menahan sakit sekaligus amarah, "...mereka itu membunuh adikku, Nona... mereka juga membunuh Ayahku sebagai orang tua satu-satunya... keparat!"

Gadis ini mengerutkan kening. "Siapakah mereka yang kau maksudkan itu, Sobat? Dan apa yang terjadi? Siapa kau?"

Yu Kang menangis penuh dendam. "Aku Yu Kang, Nona. Aku dan Ayah baru saja kembali dari rumah Lao-ciangkun. Dia... manusia terkutuk itu, membunuh adikku!"

"Hm, apa yang terjadi, Yu-twako? Siapa adikmu itu?"

"Dia Yu Lin, Nona. Baru saja membebaskan kami di rumah Lao-ciangkun. Tapi... tapi tiba-tiba saja dia telah menjadi mayat dari rumah jahanam She Lao... uh!" Yu Kang yang terpatah-patah menceritakan peristiwa itu sudah menangis tersedu-sedu. Dia menceritakan semua peristiwa dari awal hingga akhir kepada gadis yang belum dikenalnya ini, sosok yang telah memberikan simpati dan perhatian sungguh-sungguh.

Setelah Yu Kang selesai bercerita dengan lengkap dan jelas, sekonyong-konyong pemuda itu mengeluh dan terguling roboh. "Nona, tolong kau balaskan sakit hati ini. Bunuh jahanam keparat She Lao itu!"

Gadis ini bangkit berdiri. Mukanya sudah merah padam mendengar cerita Yu Kang. Dengan mata berapi-api, ia mendesis dan mengepalkan tinjunya. "Yu-twako, tak perlu khawatir. Aku pasti menghajar manusia jahanam itu!"

"Ah, terima kasih, Nona..."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment