Chapter 85
"Terima kasih..."
"Aku, ugh..." Yu Kang tak sempat melanjutkan kata-katanya. Dia sudah terguling dan kejang-kejang seperti ayam disembelih. Ketika pemuda itu mengeluh sambil menuding-nuding ke arah luar, tiba-tiba tubuhnya menggeliat dan roboh tak bergerak lagi. Yu Kang tewas, menyusul adik dan ayahnya di alam baka.
Gadis cantik yang tertegun melihat semuanya itu tiba-tiba berkelebat keluar.
"Lao-ciangkun, kau manusia tak punya perasaan!" Para tetangga di kiri kanan geger. Mereka kini berhamburan keluar memasuki rumah Yu-lopek, melihat sepintas betapa gadis yang bergerak bagai setan terbang itu melesat menuju ke kediaman Komandan Lao.
Warga yang gempar melihat mayat Yu-lopek serta dua anaknya bergelimpangan mandi darah segera menolong dan merawat tiga jenazah itu. Mereka merubung bagai tawon, membicarakan kejadian yang menggegerkan ini sekaligus kedatangan si gadis cantik yang tidak mereka kenal.
Begitu rumah Yu-lopek dijadikan ajang keributan, di tempat lain kegemparan serupa juga melanda kediaman Lao-ciangkun. Saat itu, gadis misterius ini telah tiba di rumah komandan kota tersebut, berdiri tegak di luar pintu gerbang karena dihadang dua orang pengawal.
Sambil melotot, gadis ini membentak, "Mana Lao-ciangkun, tikus-tikus busuk? Mana manusia iblis yang telah membunuh keluarga Yu-lopek itu?"
Dua orang pengawal itu terkejut. Mereka tentu saja tertegun melihat kedatangan gadis cantik yang marah-marah dengan mata berapi-api itu. Namun, mendengar gadis itu menyebut-nyebut nama Yu-lopek, mereka tiba-tiba tertawa mengejek dan mengacungkan tombak.
"Nona, siapakah kau dan apa hubunganmu dengan Yu-lopek itu? Kenapa kau memaki atasan kami?"
"Tak perlu cerewet. Lao-ciangkun telah membunuh orang-orang tak berdosa, tikus-tikus busuk. Karena itu, panggil dan suruh dia keluar kalau tak ingin kubongkar tempat ini!"
Dua pengawal itu marah. Mereka merasa geli memandang gadis yang tampak lemah dan biasa-biasa saja, tidak memiliki sesuatu yang menonjol kecuali kecantikannya. Salah seorang yang tertawa mengejek tiba-tiba menyeringai lebar dan mengulurkan lengan untuk mengusap dada gadis itu.
"Nona, sebaiknya kau temani saja kami berdua di sini. Tak perlu marah-marah begitu."
*Wut!* Gadis itu mengelak ke kiri, membuat sambaran pengawal tersebut luput, lalu ganti menggerakkan lengannya menampar muka si pengawal.
"Manusia ceriwis, tak perlu kau kurang ajar!"
*Plak!* Pengawal itu terpelanting roboh, menjerit dengan muka kaget, pipi bengkak, dan bibir pecah. Begitu sadar bahwa yang dihadapi bukanlah gadis sembarangan, dia melompat bangun sambil berteriak dan menusukkan tombaknya, memberi aba-aba pada temannya.
"A-swi! Dia gadis liar, serang!"
Pengawal di sebelah terkejut melihat temannya roboh hanya karena ditampar jari yang lembut itu. Sadar bahwa gadis ini bukan lawan main-main, dia mengangguk dan menggerakkan tombaknya, menyerang dengan menusuk secara beruntun.
Gadis itu mendengus. Dia tidak mengelak atau melompat mundur. Begitu tombak menyambar dari depan, lengannya bergerak menangkis dengan lemparan ringan.
"Tikus-tikus busuk, kalian minta dihajar dulu? Baiklah!"
*Plak-plak!* Dua tombak yang ditangkis batang lengan yang tampak halus itu seketika tertolak ke belakang dan patah menjadi dua potong.
"Ah!" Dua pengawal itu terbelalak kaget. Saat mereka masih terpaku melihat tombak yang patah, gadis itu menggerakkan kakinya dan menendang mereka.
"Tikus-tikus busuk, pergilah!"
*Des! Dess!* Dua pengawal itu menjerit keras dan terlempar jauh bagai layang-layang putus talinya. Mereka terguling-guling, lalu kaget bahwa gadis yang mereka hadapi ternyata demikian lihai. Mereka segera melompat bangun dan berteriak-teriak sambil memukul besi yang bersuara "teng-teng" untuk memanggil bala bantuan.
"Kawan-kawan, keluar! Kita menghadapi gadis siluman!"
Rumah Lao-ciangkun seketika menjadi ribut. Dua puluh penjaga yang berada di belakang dan samping rumah berlompatan keluar. Begitu mereka muncul dengan golok dan tombak, gadis cantik itu sudah dikepung.
"Nona, kau siapa?"
Gadis ini menjengek. "Aku siapa tak perlu kalian tahu, tikus-tikus busuk. Yang penting, suruh komandan kalian, orang she Lao itu, muncul. Aku hendak meminta pertanggungjawabannya atas pembunuhan keluarga Yu-lopek!"
Para pengawal ribut. Mereka marah dan kaget. Dua pengawal pertama yang sudah dihajar gadis itu menyela, "Tak perlu banyak tanya, kawan-kawan. Serang dan tangkap saja dia!"
Dua puluh pengawal itu serentak membentak dan menggerakkan senjata. Mereka menyerang, menghujani gadis yang mereka kepung itu dengan suara ramai. Namun, gadis itu mendengus. Tubuhnya melompat tinggi ke udara, berjungkir balik dengan amat cepat namun indah. Saat semua senjata lewat di bawah kakinya, dia turun tepat di atas kepala seorang pengawal, hinggap bagai seekor burung besar.
Begitu membentak dan memutar kakinya, delapan orang pengawal di dekatnya tertendang secara bergantian dengan kecepatan luar biasa.
"Des-des-dess!" Para pengawal menjerit kaget. Mereka terpelanting roboh, senjata yang mereka genggam terlepas. Saat kaki yang merobohkan delapan orang itu membentur dahi pengawal yang diinjak kepalanya, pengawal itu menjerit keras dan roboh pingsan.
"Dukk!"
Gadis itu melompat turun. Dua belas pengawal lain gempar. "Ah, dia gadis berbahaya, kawan-kawan! Serang dan tangkap dia secara hati-hati!"
Seruan itu percuma. Gadis ini tertawa mengejek. Begitu kakinya berkelebat, tubuhnya lenyap, berputaran mengelilingi dua puluh pengawal yang terbelalak. Kaki dan tangannya bergerak cepat, memberi tamparan ringan namun menyakitkan ke pundak lawan.
Begitu para pengawal tersentuh jari-jari tangannya yang lembut, semuanya menjerit dan roboh bergelimpangan.
"Tikus-tikus busuk, panggil orang she Lao itu kalau tidak ingin kubunuh!"
*Plak-plak-plak!* Semua pengawal berteriak kesakitan. Pundak mereka serasa retak dan senjata terlepas berkerontangan. Maklum bahwa gadis cantik itu bukan tandingan mereka, para pengawal melompat bangun dan lari ke dalam sambil berteriak-teriak ketakutan.
"Lao-ciangkun, kita didatangi wanita siluman!"
Gadis cantik itu berdiri tenang dengan muka geli memandangi para pengawal yang terbirit-birit. Tak lama kemudian, seorang lelaki pendek melompat keluar dengan muka merah padam, membentak para pengawal yang berlarian. Suasana seketika menjadi tegang.
"Kerbau-kerbau dungu, kenapa kalian berteriak-teriak?"
Para pengawal menundukkan kepala. "Kami didatangi seorang siluman, Ciangkun. Dia datang dan menghajar kami!"
"Hm, siapa dia? Mana orangnya?"
"Itulah. Dia mencarimu, Ciangkun. Katanya datang dari rumah Yu-lopek untuk meminta pertanggungjawabanmu!"
Lelaki itu, Lao-ciangkun, bekas tangan kanan Hek-kiang-gu, terkejut. Dia terbelalak memandang gadis cantik yang berdiri tegak di depannya. Namun, melihat gadis yang belum genap berusia dua puluh tahun itu, dia menyeringai dan melompat ke tengah halaman.
"Nona, siapakah kau dan ada apa mencariku? Betulkah kau dari rumah si tua she Yu itu?"
Gadis itu mendengus, sikapnya dingin. "Benar, aku dari rumah Yu-lopek. Aku datang untuk menuntut pertanggungjawabanmu, kenapa kau membunuh orang baik-baik!"
"Ha! Kau ada hubungan apa dengan tua bangka itu, Nona? Apakah kau pacar pemuda she Yu itu?"
Mata gadis itu berkilat. "Tahan omonganmu yang kotor, orang she Lao. Aku tidak ada hubungan apa pun dengan keluarga Yu itu selain dorongan rasa kemanusiaan melihat kesewenang-wenanganmu!"
"Hm, kalau begitu, kesewenang-wenangan dalam hal apa? Kau menuntut tewasnya anak perempuan Yu-lopek itu?"
"Ya!"
"Aku tidak membunuhnya, Nona. Dia bunuh diri atas kemauannya sendiri!"
"Bohong! Kau dusta. Yu Kang menceritakan padaku bahwa kau membunuh adiknya dan kini malah membinasakan pula ayah dan anaknya!"
Lao-ciangkun mengerutkan kening. "Nona, aku benar-benar tidak membunuh bocah perempuan itu. Kau boleh melihat tengkorak kepalanya kalau tidak percaya. Tapi kalau kau mau membela orang-orang tak tahu diri itu, aku juga tidak takut. Apa maumu?"
Gadis itu tertawa mengejek. "Mencabut nyawamu, orang she Lao. Atau kau minta ampun seribu kali dan kuarak keliling kota untuk berjanji pada penduduk tidak akan berbuat sewenang-wenang lagi!"
Lao-ciangkun marah besar.