Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 86

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 86

Dia mendelik ke arah gadis itu, tetapi saat melihat kecantikan sang gadis, dia tiba-tiba tertawa lebar dan mencabut goloknya.

"Nona, kau cantik. Bicaramu menyengat, tapi menarik sekali bagiku. Bagaimana kalau kau yang tunduk saja dan menggantikan kedudukan anak perempuan keluarga Yu itu, lalu masuk ke kamarku?"

Gadis itu memerah mukanya. "Kau memang bandot tak tahu malu, orang bermarga Lao. Sungguh tepat berita yang kudengar tentangmu. Nah, lempar golokmu itu sebelum aku naik darah!"

"Ha-ha, memangnya kau dapat mengalahkan aku, Nona? Golokku ini akan kubuang setelah kau kupeluk. Tapi sebelum aku merobohkanmu, sebut dulu siapa namamu dan dari mana asalmu!"

"Cerewet, tak perlu banyak cakap, tikus bermarga Lao. Ayo gerakkan golokmu itu, nanti akan kuberi tahu siapa aku setelah kau roboh!"

Lao Ciangkun yang marah oleh sikap dan kata-kata gadis itu tiba-tiba tertawa tergelak. Dia menubruk dan menggerakkan goloknya, marah tapi juga bangkit nafsunya melihat gadis yang amat pemberani ini. Namun, begitu goloknya menusuk ke depan, tiba-tiba dia kehilangan lawannya. Dia hanya melihat gadis itu menggerakkan kakinya, berkelebat, dan entah ke mana lawannya itu pergi.

Ketika dia bingung oleh lawan yang hilang, mendadak dia mendengar suara dari belakang, "Orang bermarga Lao, aku di sini!"

Lao Ciangkun terkejut. Dia membalikkan tubuh dan melihat gadis yang diserangnya tadi sudah ada di belakangnya, berdiri dengan senyum mengejek. Kaget dan heran bagaimana gadis itu tahu-tahu berada di belakangnya, sang komandan membentak dan menyerang lagi. Dua kali goloknya menusuk dan membacok, tapi setiap kali lawan tertawa mengejek dan berkelebat, dia kehilangan lawannya lagi!

"Ah, kau menggunakan ilmu siluman, Nona cantik!" Lao Ciangkun terkesiap, kaget, dan kembali membalik ke belakang saat mendengar ejekan di belakang punggungnya. Tapi begitu dia menyerang dan menggerakkan golok, lagi-lagi lawannya tidak ada. Begitu terus hingga empat kali berturut-turut.

Lao Ciangkun yang marah sekaligus gentar tiba-tiba berteriak, "Nona, jangan gunakan ilmu siluman! Hadapi golokku secara berdepan kalau kau berani!"

"Hm, begitukah?" Gadis itu menjenguk. "Baik, kalau begitu permintaanmu akan kupenuhi, orang bermarga Lao. Tapi setelah itu, matamu harus dibuka lebar-lebar dan kau harus roboh!"

Begitu Lao Ciangkun membalik untuk yang kelima kalinya, gadis itu benar-benar ada di belakang dan tidak menghilang lagi. Lao Ciangkun gembira, berteriak, dan menyerbu dengan serangan gencar bertubi-tubi untuk segera merobohkan lawan. Namun, gadis cantik yang bersikap tenang dan tidak gentar itu tertawa mengejek serta mengelak ke sana kemari. Gerakannya lincah dan ringan.

Ketika Lao Ciangkun menjadi marah dan menggerakkan golok secara membabi buta, gadis itu mendengus dan berseru dingin, "Orang bermarga Lao, awas hati-hati golokmu. Pegang erat-erat...!"

Lao Ciangkun mendelik. Dia penasaran sekali mengapa belum satu pun serangan goloknya mengenai sasaran. Mendengar gadis itu memperingatkannya, sang komandan menjadi berang dan buas. Dia menggerakkan golok lebih membabi buta, mendesak, dan merangsek penuh nafsu.

Ketika lawan berkelit ke kiri untuk menghindari bacokan yang menyambar pundak, sekonyong-konyong gadis itu menggerakkan jarinya menyentil golok dengan bentakan pendek, "Orang bermarga Lao, lepaskan golokmu... tring!"

Golok itu tiba-tiba mencelat dari tangan komandan bermarga Lao tersebut. Pria itu berteriak kaget, wajahnya berubah pucat. Saat dia terbelalak dan bergulingan untuk menyelamatkan diri, gadis itu sudah berkelebat di depannya dan menotok pundak sang komandan.

"Tuk!" Lao Ciangkun roboh terjerembap. Dia mengeluh dan kaget bukan main melihat kelihaian gadis itu. Ketika sang gadis menginjak perutnya, dia mendengar kata-kata dingin yang membuat bulu romanya berdiri, "Nah, apa kataku, orang bermarga Lao? Masihkah kau ingin mengandalkan kepandaianmu yang rendah itu?"

Lao Ciangkun menggigil. "Tidak... tidak, Nona!" serunya pucat. "Aku mengakui kelemahan diriku dan mohon ampun. Jangan kau bunuh atau sakiti diriku!"

"Hm, lalu bagaimana pertanggungjawabanmu tentang keluarga Yu itu? Bukankah kau telah membunuh mereka dengan mata tak berkedip?"

"Tidak... tidak, sungguh mati aku tidak membunuh mereka, Nona. Yang membunuh itu adalah dua orang anak buahku yang menyerahkan kembali mayat anak perempuan Yu Lopek itu!"

"Tapi kau yang menyuruhnya, bukan?"

"Bukan aku yang menyuruh, Nona. Mereka membunuh karena Yu Lopek dan anak laki-lakinya menyerang dua orang pengawalku!"

"Hm, sama saja, tikus busuk. Betapapun kaulah yang menjadi penyebab kematian anak perempuan Yu Lopek itu. Kau harus membayar setimpal dengan nyawamu pula!"

"Ah, jangan!" Lao Ciangkun pucat pasi. "Jangan kau bunuh aku, Nona. Aku sungguh-sungguh tidak membunuh anak perempuan itu. Dia bunuh diri dengan membenturkan kepalanya ke tembok!"

"Hm, benarkah?"

"Sungguh mati, aku tidak bohong, Nona. Sebaiknya boleh kau buktikan sekarang kalau tidak percaya!"

Gadis cantik itu mengerutkan kening dan tiba-tiba membebaskan totokannya. "Baik, kalau begitu mari kita buktikan, orang bermarga Lao. Tapi kau tetap tidak dapat kubebaskan begitu saja meskipun anak perempuan itu bunuh diri."

Gadis itu menendang pantat laki-laki itu dan membentak, "Ayo, jalan! Kita ke rumah Yu Lopek, tikus busuk. Jangan coba-coba melarikan diri kalau kau tak ingin menambah dosamu!"

Lao Ciangkun melompat bangun dengan muka pucat dan segera terseok-seok menuju rumah Yu Lopek. Dia tahu gadis ini bukan lawannya, sehingga keselamatannya kini ada di tangan gadis itu. Sang komandan tidak banyak cakap lagi dan berjalan dengan kaki gemetar.

Ternyata di sana para tetangga masih berkumpul merawat tiga jenazah yang keadaannya menyedihkan. Ketika melihat rombongan Lao Ciangkun datang, mereka menyingkir dan tampak ketakutan. Namun, gadis itu berseru, "Saudara-saudara, tak perlu takut. Kami hendak memeriksa mayat keluarga Yu itu. Tenang!"

Dia menghampiri mayat Yu Lin dan memeriksa tengkorak kepalanya. Ternyata benar, gadis itu bunuh diri seperti yang dikatakan sang komandan. Gadis itu membalikkan tubuh dan bertanya, "Orang bermarga Lao, kau ternyata benar. Lalu, hukuman apa yang sekarang kauinginkan?"

Laki-laki itu menjatuhkan diri dan berlutut. "Asal tidak kau bunuh atau kau sakiti, aku terima hukuman apa saja, Nona. Tapi sebelum kau menjatuhkan hukuman, sudilah kau memberi tahu namamu."

"Hm, kau mau membalas dendam?"

"Tidak... mana berani aku, Nona? Kau lihai dan memiliki kepandaian tinggi. Tak mungkin aku dapat mengalahkanmu. Aku hanya menagih janjimu di halaman rumahku!"

"Hm..." Gadis itu mendengus. "Aku Yap Bi Lan, tikus busuk. Aku tak takut meski kelak kau akan mencariku!"

"Ah!" laki-laki itu terkejut. "Kau bermarga Yap, Nona? Kalau begitu, apa hubunganmu dengan Pendekar Gurun Neraka, Yap Bu Kong?"

"Dia ayahku!"

Begitu Lao Ciangkun mendengar jawaban itu, dia langsung terduduk lemas di lantai, tak menyangka bahwa lawan yang dihadapinya adalah putri Pendekar Gurun Neraka yang terkenal. Dia manggut-manggut dengan gentar dan membenturkan jidatnya ke lantai dengan suara memelas, "Ah, maafkan aku yang tak tahu kalau kaulah yang datang...!"

Gadis cantik yang ternyata sudah dewasa itu berseru, "Kalau begitu kau harus diarak, orang bermarga Lao. Kau harus mengakui dan berjanji pada penduduk Kota Ye-kiang untuk tidak menjadi bandot lagi dan tidak boleh sewenang-wenang pada rakyat kecil. Kau menerima hukuman ini?"

Lao Ciangkun pucat. Dia tidak berkutik dan menerima hukuman itu dengan hati berat. Ketika sebuah kereta disediakan dan Bi Lan menyuruh komandan itu naik, Kota Ye-kiang menjadi gempar. Penduduk mendengar komandan itu berseru sepanjang jalan, berjanji tidak akan menjadi bandot lagi dan bersikap baik pada rakyat kecil saat diarak mengelilingi kota.

Seluruh penduduk menjadi ribut dan merasa girang. Melihat gadis cantik yang mengawal Lao Ciangkun itu, banyak pemuda menjadi kagum dan jatuh cinta. Ketika berita tersebar bahwa gadis gagah itu adalah putri Pendekar Gurun Neraka, mereka menjadi gempar sekaligus senang karena keluarga dari pendekar terkenal itu datang membantu mereka.

Nama Bi Lan pun menjadi terkenal di kota itu. Namun, Bi Lan tidak bermaksud memamerkan diri. Dia terus mengawal komandan tersebut sampai mengucapkan janjinya. Ketika mereka tiba di pintu gerbang timur sebagai tempat terakhir, Bi Lan melompat keluar dari kereta. Dia cukup puas.

Begitu turun, Bi Lan melayang naik ke tembok kota yang tinggi. "Lao Ciangkun, harap ini menjadi pelajaran bagimu. Kalau kau tak menepati kata-katamu sendiri, maka aku akan datang untuk membunuhmu!"

Lao Ciangkun mengangguk.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment