Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 87

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 87

Dia merasa kecewa dan malu bukan main oleh hukuman yang diterimanya itu. Maka, ketika Bi Lan lenyap di luar tembok kota, dia pun memacu keretanya kembali ke rumah. Namun, laki-laki ini rupanya mengalami guncangan jiwa. Dia merasa telah kehilangan muka di hadapan seluruh penduduk Ye-kiang. Begitu sampai di rumah dan memasuki kamarnya, tiba-tiba sang komandan mencabut golok dan menusuk dadanya sendiri. Lao ciangkun bunuh diri.

Keesokan harinya, ketika para pengawal menemukan komandan itu terkapar dengan tubuh mandi darah, suasana pun menjadi ribut dan gempar. Kota Ye-kiang dihebohkan oleh kematian tersebut. Namun, karena sebagian besar penduduk tidak menyukai komandan bermarga Lao itu, kematiannya justru disambut gembira oleh orang banyak, terutama rakyat kecil yang sering ditindas olehnya. Karena kematian komandan itu disebabkan oleh Bi Lan, nama gadis ini pun melejit di seluruh kota hingga menjalar ke kota raja. Apalagi ketika diketahui bahwa gadis itu adalah anggota perkumpulan Ho Hanhwe, perkumpulan yang tiba-tiba menarik simpati rakyat banyak dengan sepak terjang anggotanya yang menolong si lemah.

Begitulah, apa yang terjadi di Ye-kiang diceritakan Tok-sim Sian-li kepada putranya. Ceng Liong, yang sejak tadi diam mendengarkan cerita ibunya, tiba-tiba matanya bersinar begitu mendengar nama Bi Lan.

"Jadi dia sudah dewasa, Ibu? Dia memiliki kepandaian tinggi?"

"Ya, sekarang umurnya sekitar sembilan belas tahun, Liong-ji. Karena digembleng oleh ayah ibunya sendiri, tentu saja ia lihai dan memiliki kepandaian tinggi."

"Hm, kalau begitu aku ingin mencari dia, Ibu. Aku ingin menjajal dan melihat kepandaiannya itu."

Tok-sim Sian-li mengangguk. "Ya, dan gadis itu harus kita bunuh, Liong-ji. Karena betapapun juga, dia adalah musuh!"

"Tapi, bukankah dia adik tiriku, Ibu?"

"Hm, adik tiri apa? Dia putri Souw Ceng Bi itu, Liong-ji, cucu Pendekar Kepala Batu yang membunuh kakek gurumu!"

Ceng Liong manggut-manggut. Dia tidak bicara lagi. Ketika mereka tiba di kota raja, Ceng Liong bersama ibu dan dua orang gurunya langsung menuju istana. Mereka berempat disambut oleh seorang panglima muda bernama Kek Wan, perwira tinggi yang menjadi kepercayaan istana untuk urusan penyambutan orang-orang kang-ouw.

Saat mereka dipersilakan masuk ke dalam dan duduk di sebuah meja besar dengan kursi-kursi berukir indah, tiba-tiba muncullah So-beng yang berpakaian serba merah.

"Aha, kalian sudah datang, Mu Ba?" Raksasa ini tertawa terbahak-bahak.

"Ya, memenuhi undanganmu, Penagih Jiwa. Bukankah Sri Baginda meminta kamu datang melalui dirimu?"

"Benar, tapi siapa anak muda ini?"

"Ha-ha, dia muridku, So-beng. Yap Ceng Liong yang dulu kuceritakan padamu itu!"

"Ah, putra Lie-hujin?"

"Benar," sela Tok-sim Sian-li. "Dia kubawa atas permintaan gurunya, So-beng. Dan maaf kalau dia tidak bersikap hormat padamu!"

Kemudian, menegur putranya, wanita itu berseru agar Ceng Liong bangkit berdiri, "Liong-ji, beri hormat pada pamanmu itu. Dialah So-beng yang sering kuceritakan!"

Ceng Liong bangkit berdiri. Dia memberi hormat pada laki-laki yang didengarnya memiliki kepandaian tinggi dan merupakan orang kedua setelah Sri Baginda. Namun, Ceng Liong yang matanya tiba-tiba bersinar penuh ketertarikan menatap iblis Penagih Jiwa itu, mendadak menjura sambil mengerahkan sinkangnya, mendorong tangan ke depan, dan melancarkan pukulan!

"Paman, aku Ceng Liong menghaturkan hormat padamu...."

So-beng tersenyum lebar dan mengangguk membalas hormat. Namun, ketika melihat angin berkesiur menyambar tubuhnya, mendadak laki-laki ini tertawa aneh dan mengibaskan sebelah lengannya.

"Ceng Liong, tak perlu kau sungkan pada pamanmu. Duduklah yang baik.... bress!"

Ceng Liong terkejut. Dia merasa hawa pukulannya membalik. Sementara dia berseru kaget, tubuhnya tiba-tiba terangkat naik dan terjerembap di atas kursi, duduk dengan terbanting!

"Ah, apa yang kaulakukan, Liong-ji?" Ibunya terkejut, beranjak dari kursinya menghampiri putranya.

Namun, Ceng Liong yang terbelalak menatap So-beng tiba-tiba menyeringai dan bangkit berdiri, menepuk-nepuk pantatnya yang sakit. "Paman, kau hebat sekali. Maaf atas kekurangajaranku!"

Ceng Liong membungkuk, kali ini menjura dengan kagum. Tiga orang tua yang menyadari apa yang dilakukan pemuda ini segera menjadi marah.

"Liong-ji, kurang ajar kau! Kau coba-coba menguji kepandaian pamanmu?" Tok-sim Sian-li membentak, "Kau bersikap lancang dan mempermalukan ibu serta suhumu di sini. Hayo berlutut, mohon ampun!"

Namun, So-beng tertawa nyaring. "Mayat Hidup, dan kau Li-hujin, tak perlu memarahi puteramu ini. Dia tak menyerangku sungguh-sungguh, hanya mencoba dan menguji. Bukankah begitu, Ceng Liong?"

Ceng Liong menyeringai. "Benar, Paman. Tapi kalau Ibu menyuruhku berlutut dan minta ampun, biarlah itu kukerjakan sekarang." Ceng Liong menjatuhkan diri, berlutut di depan laki-laki berpakaian merah itu, dan membenturkan dahi tiga kali. "Paman, ampunkan kekurangajaranku. Aku hanya ingin membuktikan benarkah cerita Suhu bahwa kau orang yang betul-betul hebat. Ternyata benar, kau hebat dan tidak kalah oleh kepandaian dua orang suhuku sendiri!"

Laki-laki itu tersenyum. "Nah, apa kataku, Hujin? Bukankah perbuatan anakmu itu hanya didorong rasa ingin tahu? Sudahlah, tak perlu ditegur karena Ceng Liong tidak bersungguh-sungguh dalam serangannya tadi!"

Akan tetapi, Tok-sim Sian-li terlanjur khawatir. Dia takut Ceng Liong kembali ugal-ugalan, maka ia memandang Mu Ba dan bertanya, "Mu Ba, bagaimana jika anak itu kita suruh jalan-jalan di luar saja? Bukankah kita hendak menghadap Sri Baginda?"

Mu Ba terbahak. "Boleh. Aku juga khawatir muridku itu tak bersikap hormat pada Sri Baginda, Hujin. Tapi jangan anggap ini sebagai hukuman."

Tok-sim Sian-li berpaling kepada putranya. "Nah, kau dengar persetujuan suhumu, Liong-ji. Kau keluarlah jalan-jalan di luar sementara kami orang-orang tua akan menghadap Sri Baginda!"

Ceng Liong menyeringai. "Aku tak boleh ikut kalian, Ibu?"

"Demi kebaikanmu sendiri. Kami khawatir kau ugal-ugalan di dalam!"

Ceng Liong mengangguk dan tidak tampak sakit hati. Ia tersenyum lebar lalu berkelebat keluar setelah memberi hormat pada iblis Penagih Jiwa. Ceng Liong, yang menghilang di luar ruangan, sama sekali tidak membayangkan bahwa tindakannya akan menimbulkan kegegeran di tempat lain.

Kita ikuti pemuda ini. Ceng Liong yang "diusir" ibunya sudah tiba di luar ketika matanya menumbuk seorang dayang. Dia terbelalak, matanya bersinar. Melompat dengan ringan bagai kucing, tahu-tahu Ceng Liong telah menowel pundak dayang muda itu.

"Adik manis, kau mau ke mana?"

Dayang itu terkejut dan menjerit lirih. Namun, melihat Ceng Liong adalah seorang pemuda tampan, gagah, dan tampak jenaka, dia tersenyum lebar dan memutar tubuhnya.

"Kongcu (Tuan Muda), kau siapa dan mengapa ada di sini? Tidak tahukah kau bahwa ruang ini tak boleh diinjak orang luar?"

"Hm, apa ruang ini, Dayang? Dan ke mana kau pergi?"

"Ini ruang Giok Bi-hoa, Kongcu. Khusus untuk tamu-tamu istimewa yang diundang Ok-ciangkun untuk urusan pribadi. Aku mau ke kaputren. Kau siapa?"

Ceng Liong tersenyum. "Aku Ceng Liong, Dayang. Kau mau ke kaputren? Hm, minuman siapa yang hendak kauantar itu?"

Dayang itu terkejut. "Oh, kau Ceng-kongcu itu? Kau yang datang bersama tiga orang tamu yang diundang Sri Baginda?"

"Ya, dari mana kau tahu?"

"Aih...!" Dayang itu tertawa. "Kalau begitu kau yang dilihat majikanku, Kongcu. Tuanku Putri bicara tentang kedatanganmu yang disambut Panglima Kek Wan!"

"Hm, siapa tuanmu Putri itu?" Ceng Liong terbelalak.

"Hong Kiok Bi Kongcu. Kami memanggilnya Putri Kiok!"

"Dan cantik dia?"

Dayang ini ganti terbelalak. "Tentu saja, Kongcu. Mana ada putri istana tidak cantik? Dia pandai silat, suka sastra, dan bela diri!"

Ceng Liong tertarik. "Kalau begitu boleh aku berkenalan dengannya?"

Dayang itu terkejut. "Ih, itu dilarang, Kongcu. Laki-laki tak boleh memasuki ruang kaputren tanpa izin Sri Baginda!"

"Tapi guruku tamu istimewa di sini, Dayang. Tentu Sri Baginda tak marah kalau aku jalan-jalan di kaputren!"

"Ah, jangan, Kongcu. Sebaiknya maksud hatimu itu dibuang saja jauh-jauh. Kaputren bukan tempat sembarangan. Lelaki yang masuk bakal dibunuh!"

Ceng Liong tertawa. "Tapi aku tidak mengganggu tempat itu, Dayang. Dan aku bisa menghilang kalau itu kukehendaki!"

Dayang itu terbelalak. "Masa, Kongcu? Kau punya ilmu siluman?"

Ceng Liong kembali tertawa. "Dayang, kau bisa menolongku, bukan? Asal kau tidak bicara pada orang lain, maka kedatanganku di kaputren tentu tidak bakal diketahui orang. Aku ingin berkenalan dengan tuanmu Putri itu. Kalau diterima, tentu kau akan kuberi hadiah sendiri sebagai imbalannya."

Dayang itu tertarik. "Apa yang hendak kauberikan, Kongcu?"

"Ini...!" Ceng Liong tiba-tiba membungkukkan tubuhnya, menjulurkan leher, dan mencium pipi dayang itu hingga terdengar suara "ngok" yang keras. Sementara dayang itu terkejut dan mengeluarkan jerit lirih, tiba-tiba Ceng Liong sudah menyusupkan cincin di jari manisnya ke buah dada dayang itu.

"Ah...!" Dayang itu kaget sekali, mundur dengan muka pucat dan merah berganti-ganti, terbelalak memandang Ceng Liong. Namun, Ceng Liong yang tertawa hanya berkata dengan senyum, "Bagaimana, Dayang? Kau masih kurang? Kalau begitu nanti kita sambung berdua."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment