Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 88

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 88

"Kau cukup cantik dan manis bagiku!" dayang itu tiba-tiba mengeluh.

Dia gemetar memandang Ceng Liong, tetapi tidak tahan oleh tatapan mata Ceng Liong yang nakal kepadanya. Mendadak dayang ini tersipu-sipu, memutar tubuh, dan melarikan diri!

"Kongcu, kau nakal!" Ceng Liong tertawa.

Dia melihat dayang itu tidak marah. Bahkan dari suaranya dapat ditangkap kalau dayang itu berdebar girang menerima perlakuannya, mungkin minta tambah!

Ceng Liong yang sudah berkelebat mengejar dayang ini tiba-tiba turun di depannya dan berdiri menghadang. "Dayang manis, kau belum memberikan jawabanmu!"

Dayang itu tersentak. Dia melihat Ceng Liong tiba-tiba sudah berdiri di depannya, tertawa dan tersenyum kepadanya. Dayang yang berseru tertahan dengan jeritan lirih itu kontan berhenti dan terbelalak ke depan.

"Kongcu, apa yang kau minta?" suaranya menggigil.

Ceng Liong tertawa. "Tidak banyak, Dayang. Hanya minta tolong kepadamu agar memperkenalkan aku dengan tuan puterimu itu!"

"Ah, tapi itu berbahaya, Kongcu. Ruang kaputren tidak boleh dimasuki laki-laki!"

"Kalau begitu, aku bisa jadi perempuan. Aku dapat *pian hoa* (beralih rupa) kalau dikehendaki!"

Dayang ini terkejut. "Kau tidak main-main, Kongcu?"

"Siapa yang main-main?" Ceng Liong tertawa. "Aku bersungguh-sungguh, Dayang. Dan hadiah untukmu akan kutambah kalau kau mau membantuku!"

Dayang ini merah mukanya. Ia jengah, tersipu memandang Ceng Liong. Namun, karena ingin membuktikan dulu omongan Ceng Liong benar ataukah tidak, ia lalu menghilangkan rasa likatnya dan bertanya, "Bagaimana caranya kau beralih rupa, Kongcu? Bisakah kau buktikan di sini?"

"Hm, kau tidak percaya?"

"Tidak, bukan begitu, Kongcu. Tapi aku ingin memastikan diri agar kita berdua sama-sama tidak menghadapi bahaya!"

"Baiklah," Ceng Liong yang tertawa memandang dayang ini, tiba-tiba mengerahkan *Sin-gan-i hun-to*-nya, ilmu sihir yang didapatnya dari sang suhu. Lalu menghentakkan kaki dan terkekeh bagai wanita, tiba-tiba Ceng Liong menggoyang tubuh dan menggeliatkan pinggang dua kali dengan bentakan perlahan, "Nah, bagaimana sekarang, Dayang? Tidakkah aku seorang wanita cantik yang tidak kalah dengan tuan puterimu?"

Dayang itu terkejut. Dia melihat Ceng Liong lenyap, berganti seorang wanita cantik yang tiba-tiba berdiri di depannya. Begitu saja dalam waktu sekejap! Dayang yang tentu saja kaget dan berseru tertahan itu tiba-tiba bengong dengan mulut terbuka.

"Aih, siapa ini?"

"Hi-hik, aku Ceng Hwa, Dayang. Orang yang kau lihat sebagai pemuda tadi!" Ceng Liong yang mengembalikan dirinya sebagai laki-laki seperti semula dengan menarik ilmu sihirnya itu sudah membuat dayang itu terbelalak dan berubah mukanya.

"Kongcu...!"

"Ya, sekarang aku kembali pada wujudku semula, Dayang. Kini kau percaya pada kemampuanku, bukan?"

Dayang yang tiba-tiba tertegun dengan mata berseri itu mendadak tertawa. Dia sekarang yakin akan kepandaian pemuda ini. Dengan sikap genit, dia memutar tubuh dan berlari-lari kecil. "Kongcu, ikuti aku kalau begitu. Junjunganku tentu gembira bertemu denganmu!"

Ceng Liong mengangguk. Dia tersenyum dan mengikuti dayang itu, masuk-keluar lorong-lorong panjang untuk akhirnya tiba di sebuah tempat yang dikelilingi tembok tinggi, di depan sebuah pintu gerbang yang dijaga empat orang pengawal. Tempat di mana puteri-puteri cantik berkumpul. Wilayah kaputren!

Ceng Liong yang cepat mengerahkan *Sinhun-to*-nya untuk memengaruhi empat orang penjaga itu segera "mengubah" wujudnya menjadi wanita!

"He, siapa orang di belakangmu itu, Dayang?"

Dayang ini berdebar. Dia terkesiap oleh bentakan itu. Namun, ketika menoleh dan melihat Ceng Liong sudah mengubah dirinya menjadi wanita cantik, maka dia pun tenang kembali dan tertawa pendek. "Ia temanku, Pengawal. Kuajak ke mari atas permintaan Puteri Kiok!"

"Hm, kenapa kami sebagai penjaga pintu gerbang tidak diberi tahu? Sudahkah mendapat izin dari Ok-siocia?"

Dayang ini terkejut. "Puteri Kiok tidak sempat memberi tahu, Pengawal. Tapi kami tidak akan lama di sana setelah keperluan majikanku selesai."

"Hm, dan siapa nama temanmu ini? Kenapa selama ini belum pernah kami kenal?"

Sang dayang kebat-kebit. Dia tidak dapat menjawab, wajahnya pucat. Namun, Ceng Liong yang melenggak-lenggok menggoyang pinggul sudah menghampiri pengawal yang bertanya ini dengan tawanya yang genit. "Penjaga, aku adalah Ceng Hwa. Kalau ingin tahu segalanya tentang diriku, maka tanya saja di ruang Giok bi hoa. Aku pengiring tamu agung Ok-ciangkun!"

"Ooh...?" Penjaga ini terkejut. "Kau pembantu tiga orang sakti yang datang di depan itu, Nona? Kau teman...?"

"Ya, betul. Aku teman Puteri Kiok!" Ceng Liong memotong, tertawa geli. "Sekarang masih juga kau hendak menanyai kami, Penjaga?"

"Ah, maaf," sang penjaga mengkeret nyalinya. "Kalau begitu silakan masuk, Nona. Kami tidak berani mengganggumu. Silakan masuk...!"

Ceng Liong berlenggang-kangkung. Dia sudah mendorong dayang yang ada di depannya itu, yang tentu saja girang bahwa Ceng Liong berhasil mengelabui sang penjaga. Namun, Ceng Liong yang mendengar empat penjaga itu kasak-kusuk membicarakan dirinya tiba-tiba berhenti dan membalikkan tubuh. "Apa yang kalian bicarakan tentang diriku, Pengawal? Kalian *ngrasani*, ya?"

Empat penjaga itu terkejut. "Ah, tidak. Kami hanya... hanya membicarakan tentang kecantikanmu, Nona. Kami tidak bicara apa-apa selain itu!"

Ceng Liong tertawa. Dia memang mendengar empat pengawal itu bicara tentang "kecantikannya", hal yang membuat dia geli dan hampir terpingkal. Namun, maklum bahwa dia harus menjaga diri, maka Ceng Liong pura-pura cemberut dan kembali masuk dengan lenggang yang semakin dibuat-buat!

"Hi-hik, empat tikus itu bicara tentang kecantikanku, Dayang. Kalau mereka bicara yang lain tentu sudah kugampar mulutnya itu!"

Sang dayang mengangguk-angguk. Dia sendiri kalau tidak menyadari betul bahwa "wanita" yang ada di belakangnya itu adalah Ceng Liong, tentu juga terkelabui seperti empat pengawal di pintu gerbang. Karena Ceng Liong yang mengubah dirinya menjadi wanita cantik itu memang menarik perhatian sekali. Namun, karena mereka memasuki wilayah kaputren yang khusus dihuni wanita-wanita cantik, maka empat penjaga di depan tidak mencurigai mereka selain heran bahwa Puteri Kiok tiba-tiba mendapat tamu!

Kini Ceng Liong sudah masuk semakin dalam. Dia melihat tempat yang indah luar biasa di dalam kaputren ini. Taman-taman bunga yang indah di sana-sini dengan selingan kolam atau empang yang terisi ikan warna-warni. Bahkan di sudut-sudut jalan terdapat pondok mungil untuk tempat peristirahatan. Atau mungkin tempat bercanda puteri-puteri cantik!

Ceng Liong yang mulai melongo melihat keindahan di wilayah kaputren ini tiba-tiba berdebar ketika melihat dua orang puteri sedang terkekeh dan bermain di sebuah kolam ikan emas.

"Ah, siapa mereka itu, Dayang?"

Sang dayang menoleh. "Puteri Cing dan adiknya, Kongcu. Mereka biasa bermain-main di situ setiap hari."

"Dan Puteri Kiok juga mengenal baik mereka itu?"

"Tentu saja. Mereka berkawan karib, Kongcu. Tapi Puteri Mei yang menjadi adik Puteri Ong itu galak dan tidak ramah terhadap para dayang!"

"Hm," Ceng Liong tersenyum. "Kalau begitu nanti mereka berdua akan kuajak berkenalan pula, Dayang. Tapi sebelumnya biar kukenal dulu tuanmu, puteri itu."

Dayang itu terkekeh. "Kongcu, kau rupanya penggemar wanita-wanita cantik. Bagaimana caramu berkenalan dengan mereka? Dua orang puteri itu terkenal galak pada laki-laki. Jangan-jangan kau malah diusir keluar!"

"Hm, aku punya cara, Dayang. Dan aku dapat menundukkan mereka seperti juga akan menundukkan tuanmu, Puteri!"

Dayang ini berhenti. Sekarang mereka tiba di sebuah tempat rimbun, di luar kamar berjendela mungil. Dayang yang rupanya ragu-ragu ini tiba-tiba berbisik pada Ceng Liong, "Kongcu, apa alasanmu menemui majikanku?"

Ceng Liong tidak kurang akal. "Bilang saja aku pandai sulap, Dayang. Ingin mendemonstrasikan kepandaianku di depan puterimu!"

"Kalau menolak?"

"Ah, siapa yang menolak sulap? Pertunjukan ini selalu menarik. Tua mudapun suka dan tidak mungkin menolak!"

Sang dayang kalah berdebat. Ia mengangguk, menenangkan guncangan hatinya. Ceng Liong yang disuruh menunggu di situ lalu ditinggalkannya sejenak dengan pesan lirih, "Baiklah, dan tunggu sebentar kedatanganku, Kongcu. Aku kembali tidak lama kemudian setelah menemui tuanku Puteri!"

"Boleh," Ceng Liong tertawa. "Tapi jangan panggil aku Kongcu, Dayang. Karena mulai sekarang kau harus menyebutku *siocia* (nona). Ceng Hwa-siocia!"

Dayang itu tersenyum. Dia melihat pemuda ini jenaka, maka mengangguk dan tertawa kecil. Ia pun melompat masuk membawa nampannya.

Ditunggu Ceng Liong dengan jantung berdebar, dia bersembunyi di tempat itu sambil mengelilingkan matanya memandang sekitar untuk melihat keadaan. Namun, melihat tempat itu aman dan amat indah, Ceng Liong menjadi tidak sabar menunggu kembalinya sang dayang. Sebenarnya, setelah dia tiba di tempat ini, maka sesungguhnya dayang itu tidak diperlukannya lagi. Karena dengan kepandaiannya yang tinggi, dia tentu dapat masuk dengan mudah. Namun, mengingat dayang itu adalah satu-satunya orang yang mengetahui rahasia dirinya dan juga merupakan "perantara" agar mudah berkenalan dengan puteri-puteri cantik, maka Ceng Liong bersikap sabar dan menunggu.

Akhirnya apa yang ditunggu itu pun datang. Dayang ini keluar, tidak seorang diri melainkan bersama seorang gadis cantik berpakaian kembang. Seorang dara muda yang berkulit putih dan bermata indah. Gadis yang dapat diduga tentu Puteri Kiok adanya!

Ceng Liong yang ternganga melihat kecantikan gadis ini tiba-tiba mendecak dan bengong di tempat. Namun, dayang muda itu telah menghampirinya.

"Hwa-siocia, tuanku Puteri telah datang. Ayo beri hormat!"

Ceng Liong sadar. Dia tetap mempertahankan sihirnya itu, mengubah wujud sebagai wanita. Maka ketika si dayang menyadarkan bengongnya dengan seruan itu, cepat-cepat dia membungkukkan tubuhnya dan tertawa serak.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment