Chapter 89
"Puteri, hamba Ceng Hwa ingin berkenalan dengan Paduka. Maafkan sikap hamba yang lancang masuk tanpa memberi tahu dulu!" Puteri itu tersenyum.
"Aku mendengar keinginanmu yang aneh, Ceng Hwa. Tapi kenapa suaramu bagai laki-laki?"
Ceng Liong terkejut. "Eh... hi-hik, hamba tersedak harumnya bunga, Puteri. Dan maafkan hamba kalau mengganggu Paduka!"
Puteri itu tertawa merdu. "Ceng Hwa, kau katanya pandai silat, juga sulap. Bisakah kau tunjukkan padaku dua kepandaianmu itu?"
Ceng Liong jungkir balik. Dia tergetar mendengar suara merdu sang puteri yang demikian lembut dan renyah. Tawa yang membuat giginya berderet rapi bagai biji mentimun, serta mengeluarkan bau harum seribu bunga. Ceng Liong yang serasa mabuk mendengar ini tiba-tiba batuk-batuk dan tersedak tanpa sengaja.
"Eh, kenapa kau, Ceng Hwa?"
Ceng Liong pura-pura terhuyung. "Hamba tak tahan mendengar tawa Paduka, Tuan Puteri. Hamba mabuk mendengar tawa Paduka itu!"
"Eh, kenapa?" Puteri ini mengerutkan alis. "Suaraku jelek?"
"Bukan... bukan begitu, Tuan Puteri. Tapi justru tawa Paduka yang merdu itu membuat jantung hamba berdebaran dan paru-paru hamba menguncup naik turun!"
"Ah...!" Puteri ini tertawa geli. "Kau seperti lelaki saja, Ceng Hwa. Kata-katamu seperti omongan lelaki yang sedang merayu wanita!"
Ceng Liong tersenyum. "Puteri, hamba kagum mendengar berita tentang Paduka. Bagaimana kalau kita saling memberi dan menerima?"
"Hm, memberi dan menerima apa maksudmu, Ceng Hwa? Bukankah kau ingin menunjukkan ilmu sulapmu kepadaku?"
"Benar. Tapi hamba juga mendengar Paduka pandai silat, Tuan Puteri. Dan terus terang, hamba ingin tahu kepandaian Paduka juga."
"Ih, siapa yang memberi tahu? A-liok, ya?" Puteri itu menuding dayangnya.
"Benar, tapi bukankah itu tidak salah, Tuan Puteri? Maka hamba ingin tukar-menukar kepandaian dengan Paduka."
Puteri itu tertawa. "Ceng Hwa, kau bilang maksudmu ke sini adalah untuk menunjukkan kepandaian sulapmu itu. Kenapa sekarang ingin tawar-menawar? Aku memang suka silat, tapi kepandaian yang kumiliki tidak seberapa!"
"Tapi hamba ingin menambah pengetahuan, Tuan Puteri. Dan hamba akan berterima kasih sekali bila Paduka tak menolak keinginan hamba!"
"Hm," sang puteri tersenyum. "Kalau kau ingin menambah pengetahuan, sebaiknya kau temui saja Enci Kui Hoa, Ceng Hwa, atau Enci Kui Lin yang lihai-lihai itu. Mereka adalah guruku yang mengajari aku ilmu silat!"
Ceng Liong mengerutkan alis. "Siapa itu Kui Hoa dan Kui Lin, Tuan Puteri? Apakah juga penghuni kaputren ini?"
"Tidak, mereka puteri Ok-ciangkun. Dua gadis cantik yang benar-benar lihai!"
Ceng Liong tertarik. "Dan di mana mereka sekarang, Tuan Puteri?"
"Baru saja pulang. Mereka baru kembali setelah ayahnya memanggil."
Ceng Liong kecewa. Dia tiba-tiba saja tertarik mendengar berita baru ini; berita tentang dua orang gadis yang lihai. Puteri Ok-ciangkun (Panglima Ok), nama yang samar-samar melekat di ingatannya. Tapi karena Puteri Kiok sudah di situ dan dia telah berkenalan dengan puteri ini, Ceng Liong pun menghapus kekecewaannya dan tertawa dibuat-buat.
"Tuan Puteri, hamba ingin menunjukkan kepandaian hamba kepada Paduka. Tapi boleh hamba usul sedikit?"
"Hm, usul apa, Ceng Hwa?"
"Mohon permainan sulap hamba ditonton teman-teman Paduka yang lain, Tuan Puteri. Terutama teman Paduka terdekat, Puteri Cing dan Puteri Mei!"
"Eh, kau sudah mengenal mereka?" sang puteri terkejut.
"Tidak, hamba melihatnya di tengah jalan, Tuan Puteri. Sepintas saja ketika mereka bermain-main di kolam ikan emas."
"Hm, kalau begitu A-liok pula yang memberi tahu namanya kepadamu?"
Ceng Liong tersenyum. "Benar, Tuan Puteri. Dan hamba ingin permainan sulap ini ditonton lebih banyak orang agar lebih meriah dan gembira."
"Baiklah," sang puteri tertawa. "Kalau begitu kita ke tempat mereka, Ceng Hwa. Sekalian perkenalkan dirimu pada dua adikku itu!"
Ceng Liong girang. Sekarang dia dapat 'menggaet' tiga puteri cantik sekaligus. Hal yang membuat dia hampir terbahak. Sang puteri sudah berkelebat menuju ke kolam ikan di mana Puteri Cing dan Puteri Mei sedang bermain, tiba-tiba mendemonstrasikan kelincahan kakinya dalam pengerahan ginkang tingkat menengah. Ceng Liong terbelalak melihat puteri ini lumayan kepandaiannya.
Ceng Liong tiba di tempat itu ketika sang puteri berseru pada adiknya, memberhentikan permainan dua kakak beradik itu untuk menunjuk pada Ceng Liong. Puteri Kiok tertawa dan menuding gembira, "Cing-moi, Mei-moi, ada tukang sulap datang ke tempat kita. Inilah Ceng Hwa yang ingin menunjukkan kepandaiannya kepada kita!"
Puteri Cing dan adiknya terkejut. "Siapa dia, Cici? Bagaimana bisa datang?"
Ceng Liong buru-buru memberi hormat. "Hamba datang atas undangan Puteri Kiok, Tuan Puteri berdua. Maaf kalau hamba datang mengganggu!"
"Hm," Puteri Cing mengerutkan alis. "Benarkah, Enci? Dan siapa yang membawanya masuk?"
Puteri Kiok tertegun. Ia terkejut mendengar Ceng Liong bilang bahwa dialah yang mengundang tukang sulap ini, padahal Ceng Liong datang atas kehendaknya sendiri. Tapi melihat tak ada bahaya untuk sedikit berbohong, ia pun mengangguk dan berkata, "Benar, aku yang membawanya ke mari, Adik Cing. Dan A-liok inilah yang mengantarnya masuk sampai ke sini."
"Dan Enci Kui Hoa atau Kui Lin sudah tahu?"
"Belum."
"Ah, itu melanggar tata tertib, Enci Kiok. Jangan-jangan kau mendapat teguran keras bila mereka berdua tahu!"
"Tapi mereka sedang dipanggil ayahnya ketika dia datang, Adik Cing. Aku tidak sempat memberi tahu pada Hoa-cici ketika Ceng Hwa masuk!"
Ceng Liong tergetar. Untuk kedua kalinya pula dia mendengar nama dua orang gadis yang menjadi puteri Panglima Ok itu disebut-sebut. Nama yang agaknya memiliki pengaruh besar dan kekuasaan di wilayah kaputren ini.
Ceng Liong yang berdebar hatinya tiba-tiba menjadi tidak enak dan agak gelisah. Namun, dia tertawa menyela keributan kecil itu. "Tuan Puteri bertiga, maaf kalau hamba dianggap lancang. Hamba tidak bermaksud membuat ribut. Tapi kalau Samwi bertiga tak suka kedatangan hamba, biarlah sekarang juga hamba angkat kaki. Tak jadi bermain sulap!"
Puteri Kiok terkejut. "Tak perlu kau terburu-buru, Ceng Hwa. Kukira Adik Cing dan Adik Mei tak menolak kedatanganmu bila kau menunjukkan ilmu sulapmu yang hebat. Bukankah begitu, Cing-moi?"
"Hm, aku tak menolak kedatangannya, Enci. Tapi aku khawatir bila Enci Hoa atau Enci Lin menegur kita atas kedatangan tamumu ini!"
"Tapi dia seorang wanita juga seperti kita, Cing-moi. Bukankah tak melanggar peraturan bila datang tanpa izin Kui Hoa-cici karena aku tak sempat memberitahunya? Dan lagi Ceng Hwa datang untuk menghibur, bukan mengganggu!"
Puteri Mei kali ini bicara, "Tapi ilmu sulapnya sudah kaulihat atau belum, Enci Kiok?"
"Belum."
"Bagaimana kalau hanya sulap murahan saja?"
"Maksudmu?"
"Di istana telah ada tukang sulap jempolan, Enci Kiok. Kau tahu kepandaian Paman Kim yang hebat dengan ilmu sulapnya itu. Apakah Ceng Hwa ini bisa menunjukkan kepandaiannya yang lebih jempolan dari Paman Kim tukang sulap kita itu?"
Puteri Kiok tertegun dan menoleh pada Ceng Liong. "Ceng Hwa, betul juga kata adikku Mei-mei ini. Sebenarnya ilmu sulap apa saja yang telah kaumiliki? Bisakah kau menandingi sulap Paman Kim?"
"Hm, permainan sulap tukang sulap itu hamba belum melihatnya, Tuan Puteri. Mana hamba tahu cara perbandingannya? Tapi, kalau betul Paman Kim yang Paduka sebut-sebut itu adalah tukang sulap jempolan, bisakah dia memberikan nyawa pada benda yang tak bernyawa? Hamba bisa melakukan ini. Kalau tukang sulap itu tak dapat, berarti kepandaian hamba lebih hebat dari orang she Kim itu!"
Tiga gadis itu terkejut. "Kau tidak membual, Ceng Hwa?"
"Ah, kenapa mesti membual, Tuan Puteri? Hamba dapat membuktikannya sekarang kalau Samwi tak percaya!"
Ceng Liong menjumput batu, meletakkannya hati-hati di telapak tangannya. Lalu memutar-mutar batu ini dan mengerahkan ilmu sihirnya. Ceng Liong bertanya, "Apa yang kalian lihat, Tuan Puteri? Bukankah batu hitam ini telah berubah menjadi seekor burung? Nah, kalian lihat. Burung kecil ini akan terbang!"
Begitu Ceng Liong selesai mengucapkan kata-katanya, tiba-tiba batu yang sudah berubah menjadi burung itu mendadak terbang ke udara, melejit dari tangan Ceng Liong!
"Ah, hebat. Luar biasa sekali...!" Puteri Cing berseru, kaget dan kagum bahwa Ceng Liong dapat mengubah sebutir batu menjadi seekor burung, benda yang bernyawa!
Sementara tiga puteri itu terbelalak keheranan, tiba-tiba Ceng Liong bersuit dan memanggil "burungnya", "Miauw-miauw, kembali. Ambil tusuk konde di rambut Puteri Mei!"
Puteri itu terkejut. Ia melihat burung yang dipanggil Miauw-miauw ini membalik, menukik, dan menyambar kepalanya. Begitu mencicit panjang, tahu-tahu hiasan rambutnya "kabur" disambar burung ini, yang kemudian kembali dan hinggap di tangan Ceng Liong, lalu berubah kembali wujudnya sebagai batu hitam!
"Nah, bagaimana, Puteri? Bukankah permainan hamba lebih hebat daripada tukang sulap itu?" Ceng Liong tertawa, mengejutkan tiga orang gadis ini yang terbelalak memandangnya; kagum, kaget, sekaligus heran.
Puteri Mei yang berseru tertahan tiba-tiba memuji dengan suaranya yang merdu, "Ih, ilmu sulapmu benar-benar hebat, Ceng Hwa. Tapi lebih mirip sihir daripada sulap!"
"Aha, itu memang kelebihan hamba, Puteri. Tapi hamba bisa membuat yang jauh lebih hebat daripada ini!"
"Masa?"
"Sang Puteri ingin melihatnya lagi?"
Tiga orang puteri itu terlanjur tertarik. Mereka mengangguk, bangkit rasa ingin tahunya, dan gembira memandang Ceng Liong. Ceng Liong tertawa memandang tiga orang puteri ini, lalu mendemonstrasikan ilmu "sulapnya" seperti yang dijanjikan—tentu saja mengibul, mempergunakan Sin-gan-i-hun-tonya untuk memengaruhi pikiran lawan. Puteri Kiok serta dua adiknya yang terheran-heran oleh "ilmu sulap" Ceng Liong, akhirnya terkekeh dan memekik kecil.