Chapter 90
Ceng Liong mempertunjukkan hal-hal yang lucu; mengubah bunga menjadi ular dan daun menjadi kelinci.
Ketika Ceng Liong menyulap hiasan rambut Putri Mei menjadi seekor tupai yang menari-nari, tiba-tiba ketiga gadis itu tertawa terpingkal-pingkal. Mereka geli bukan main, menganggap tupai itu makhluk sungguhan, lupa bahwa itu hanyalah hiasan rambut yang diciptakan Ceng Liong. Saat tupai itu melompat dan tercebur ke kolam, Putri Mei berteriak dan mengejar binatang itu.
"Ah, jangan suruh dia melompat ke air, Ceng Hwa. Tupai itu tidak pandai berenang!"
Ceng Liong tersenyum. Ia melihat Putri Mei ikut mencebur ke kolam untuk mengejar binatang tersebut. Namun, begitu tupai itu tertangkap dan berubah kembali menjadi hiasan rambut, sang putri kecewa. Ia keluar dari kolam dengan tubuh basah kuyup sambil membanting kakinya.
"Ceng Hwa, kenapa kau menipu aku? Kau membiarkan aku menjadi bahan tertawaan, ya?"
Ceng Liong terbelalak. Ia melihat gadis itu memandangnya dengan marah. Namun, pakaian yang basah kuyup oleh air kolam membuat lekuk tubuhnya tercetak dengan sangat jelas. Pinggangnya tampak memikat, dan pinggulnya membulat. Mata yang bersinar-sinar karena marah itu tiba-tiba tampak seperti bintang yang berkedip, indah luar biasa. Ceng Liong yang jantungnya berdebar kencang karena nafsu tiba-tiba tertawa dan memeluk sang putri.
"Putri, Paduka sungguh cantik. Hamba benar-benar kagum..."
"Ngok!" Putri Mei menjerit. Ia telah dicium oleh Ceng Liong tepat di pipinya yang halus dan kemerahan. Tentu saja kaget, Putri Mei seketika menampar wajah Ceng Liong dengan penuh kemarahan.
"Ceng Hwa, kau kurang ajar padaku! Plak!"
Ceng Liong terkejut. Ia terhuyung mundur akibat tamparan itu. Menyadari kesalahannya, ia segera menjatuhkan diri berlutut dan pura-pura menyesal.
"Putri, maafkan hamba. Hamba memang lancang, tapi kenapa Paduka memiliki wajah yang demikian cantik dan tubuh yang menggairahkan? Bukankah itu juga kesalahan Paduka sendiri yang membuat orang lain gemas?"
Putri Mei tertegun. "Apa katamu, Ceng Hwa? Kau bilang aku yang bersalah?"
"Ah, maaf. Paduka memang bersalah karena memiliki wajah yang cantik, Putri. Namun, kalau hamba bersalah karena tidak tahan memandang Paduka, biarlah sekarang hamba mengeringkan tubuh Paduka. Lihatlah!"
Ceng Liong tiba-tiba meniupkan hawa dari mulutnya, mengerahkan *khikang*. Begitu hawa itu bertiup, pakaian sang putri seketika menjadi kering dan airnya hilang tanpa bekas. Dalam sekejap mata, sang putri tidak kedinginan lagi.
"Nah, bagaimana, Putri? Hamba sudah menebus kesalahan, bukan?"
Putri Mei terbelalak, kemarahannya lenyap berganti keheranan. Meski masih malu karena ciuman tadi, wajahnya tetap cemberut dengan rona merah. "Ceng Hwa, kau benar-benar seperti laki-laki kurang ajar! Kenapa kau mencium diriku?"
"Maaf, hamba terpesona oleh kecantikan Paduka. Apakah hamba masih harus dihukum? Baiklah, hamba akan mencium kaki Paduka kalau begitu..." Ceng Liong buru-buru berlutut dan mencium kaki sang putri, namun sekaligus menotok jalan darah di atas pergelangan kakinya dengan cara memencetnya perlahan. Itu adalah jalan darah *pi-kiat-hu* yang akan membuat orang merasa kegerahan dan ingin mandi.
Begitu bangkit berdiri, Ceng Liong tertawa dan menjura di depan dua gadis lain. "Ji-wi siocia, maaf kalau hamba bersikap lancang. Apakah kalian masih ingin melihat permainan sulap hamba?"
"Hm," Putri Cing mengerutkan alis. "Aku senang pada permainan sulapmu, Ceng Hwa. Tapi kenapa kau suka mencium wanita? Apakah kau banci?"
Ceng Liong tertawa. "Hamba bukan banci, Tuan Putri. Tapi hamba dapat membuat A-liok ini banci kalau Paduka menghendaki!"
A-liok, dayang yang mengiringi Putri Kiok, terkejut dan menjerit kecil ketakutan. Namun, isyarat mata Ceng Liong yang memintanya pergi segera dipahami oleh dayang muda itu. Ia terkekeh, lalu pura-pura ngeri dan melarikan diri dari tempat itu.
"Ceng Hwa, jangan kau membuat aku sebagai kelinci percobaan!"
Ceng Liong tertawa lebar melihat dayang itu mengerti maksudnya. Ia pura-pura mengejar dayang tersebut sambil berteriak, "Hei, tunggu dulu, A-liok! Jangan kautinggal aku bersama junjunganmu!"
Sengaja menyandung akar pohon di tanah, Ceng Liong terjatuh dan roboh di atas kaki Putri Cing. Saat itulah ia beraksi. Sambil pura-pura mengaduh, secepat kilat ia memencet jalan darah *pi-kiat-hu* di kaki Putri Cing, sementara jari lainnya menyambar kerikil untuk dilemparkan ke jalan darah yang sama di kaki Putri Kiok.
"Aduh...!"
Ceng Liong berhasil. Ia mendengar kedua gadis itu menjerit karena "disengat" totokan jarinya. Ia segera bangkit berdiri, mengebut-ngebutkan pakaian, dan pura-pura ketakutan. "Ji-wi siocia, maafkan hamba. Hamba kesandung, tidak sengaja!"
Putri Kiok dan adiknya tertegun. Putri Kiok yang merasa kesakitan di pergelangan kakinya sempat curiga, namun melihat kerikil di dekatnya, ia menganggap itu sekadar kecelakaan. Kecurigaannya hilang, ia tersenyum kecil. "Ceng Hwa, kau rupanya banyak ilmu. Tapi sulap apalagi yang dapat kauberikan kepada kami? Masih adakah yang lebih hebat?"
"Tentu saja. Hamba dapat mengabulkan apa saja yang Paduka minta, asal jangan rembulan dan matahari yang ada di langit sana!"
"Hi-hik, siapa yang minta begitu? Tapi bisakah kau memberikan kami barang sungguhan, Ceng Hwa? Misalnya burung yang ada di atas pohon itu atau memanggil kura-kura?"
"Ah, tentu saja bisa, Tuan Putri. Itu pekerjaan mudah bagi hamba!" Ceng Liong membual tanpa pikir panjang. Begitu melihat seekor burung berwarna indah bernyanyi di atas pohon, ia menjejakkan kakinya dan "terbang" ke atas.
"Cit!" Burung itu tertangkap. Ceng Liong meluncur turun, tertawa, dan menyerahkan tangkapannya. "Bagaimana, Tuan Putri? Bukankah hamba bisa memberi barang sungguhan?"
Putri Cing kagum, namun Putri Kiok justru terbelalak. "Ah, kau memiliki ilmu meringankan tubuh yang hebat, Ceng Hwa! Siapa gurumu?"
Ceng Liong terkejut. Ia lupa bahwa di antara ketiga putri ini, hanya Hong Kiok Bi yang sedikit mengerti ilmu silat. Namun, ia segera menenangkan diri dan membungkuk. "Putri, *ginkang* yang hamba tunjukkan tadi bukanlah kepandaian istimewa. Bukankah Paduka sendiri yang memiliki kepandaian silat jauh di atas hamba?"
"Ah, tidak. Kau terlampau merendah, Ceng Hwa. *Ginkang*-mu setingkat dengan kepandaian yang dimiliki Kui Hoa-cici atau Kui Lin-cici!"
Ceng Liong tersentak mendengar nama kedua gadis itu kembali disebut. Sebelum ia menjawab, Putri Kiok sudah melompat maju dengan semangat. "Ceng Hwa, hayo tunjukkan ilmu silatmu! Kami ingin menonton selain ilmu sulapmu!"
"Tapi hamba tidak bisa apa-apa, Putri. Yang hamba miliki hanyalah kepandaian sulap serta sedikit ilmu meringankan tubuh itu."
"Bohong! Kalau begitu, coba kuuji kau. Aku jadi gatal setelah melihat kepandaian *ginkang*-mu tadi. Awas!"
Ceng Liong diserang. Putri Kiok menggerakkan lengan, menampar kepala dan dadanya. Ceng Liong melompat mundur, bukan karena takut, melainkan khawatir lengan lawan akan lecet atau bahkan patah.
"Ceng Hwa, hayo jangan mundur saja! Tangkis dan tunjukkan kepandaian silatmu!"
"Hamba tak punya kepandaian apa-apa, Putri. Hamba bisa mengelak karena hanya ilmu meringankan tubuh yang hamba kuasai. Hamba tukang sulap, bukan tukang berkelahi!"
Sang putri marah dan mengejar Ceng Liong bertubi-tubi bagai hujan dan angin ribut. Karena lawan kian agresif, Ceng Liong terpaksa mengerahkan *ginkang*-nya lebih cepat. Ia tetap menolak menangkis karena takut mencelakai sang putri dengan ilmu silat keras dan beracun, *Tok-hiat-jiu*, yang ia miliki.
Setelah Putri Kiok kelelahan dan memaki-maki dirinya, Ceng Liong tersenyum.
"Kenapa kau tak membalas, Ceng Hwa? Kenapa kau melompat-lompat saja bagai pengecut?"
"Ah, hamba memang tidak pandai silat, Putri. Hamba hanya belajar *ginkang* dan ilmu sulap itu!"
"Jadi kau tak dapat membalas?"
"Tidak."
Putri Kiok berhenti menyerang, mengusap peluh, lalu membanting kakinya. "Ceng Hwa, aku tak percaya. Rupanya kau sengaja merendah!"
"Tidak, hamba betul-betul bicara apa adanya, Tuan Putri."