Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 91

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 91

Tapi kalau paduka tidak percaya, boleh hamba buktikan nanti. "Kenapa tidak sekarang?" "Karena hamba capai. Hamba merasa gerah." Tidakkah paduka merasa gerah, tuan puteri? Puteri Kiok terkejut. Dia baru melihat bahwa dua adiknya yang lain sudah melepas baju, tinggal pakaian dalam saja yang tipis menerawang. Hal yang aneh karena tempat itu sejuk. Tapi begitu Ceng Liong bicara tentang gerah, tiba-tiba saja ia sadar bahwa ia pun kepanasan, merasa gerah seperti apa yang dikatakan Ceng Liong! Maka terkejut dan heran, mengapa tubuhnya tiba-tiba panas mendadak, puteri ini membuka kancing bajunya.

"Ya, aku juga merasa gerah," kata Ceng Hwa. "Tapi mungkin dari gerakan-gerakan ketika tadi aku menyerangmu. Tapi kenapa dua adikku itu kegerahan pula?" Maka, memandang dua adiknya ini, puteri itu bertanya, "Cingmoi, kenapa kalian melepas baju? Bukankah kalian tak mengeluarkan tenaga? Kenapa berkeringat?" Dua gadis itu juga heran. "Aku tak mengerti, enci. Tapi hawa panas ini benar-benar membuat kami tak tahan. Rasanya ingin mandi!" "Nah," Ceng Liong menyambung. "Kalau begitu sama dengan hamba, Cing-siocia. Hamba juga ingin mandi setelah kepanasan begini. Bagaimana kalau paduka hamba turut di dalam air agar kegerahan itu lenyap kembali?" Lihat, air demikian jernih, siocia. Dan kalian bertiga akan segar kembali kalau mandi di sini. Apalagi kalau hamba mainkan sulap di dalam air pula, menciptakan katak yang bisa bicara!

"Ah...!" Puteri Cing berseri. "Kau benar-benar bisa menciptakan katak yang bisa bicara, Ceng Hwa? Kau tidak bohong?" "Ah, untuk apa hamba bohong, tuan puteri?" Ceng Liong tertawa. "Bukankah hamba bisa menciptakan benda yang bernyawa? Dan kalau itu bisa hamba lakukan, tentu menciptakan katak yang bisa bicara juga dapat hamba kerjakan. Lihatlah..." Ceng Liong tiba-tiba melempar sehelai daun, memperkuat sihirnya untuk mempengaruhi pikiran tiga orang gadis ini. Dan begitu daun itu meluncur di atas air, tiba-tiba seekor katak telah hinggap di atas daun ini! "Kwek-kwek!" katak itu berbunyi. "Apa yang harus hamba lakukan, tuan puteri?" Sang puteri terbelalak. Ia terkejut melihat katak yang benar-benar bisa bicara, persis seperti manusia! Dan sementara ia kaget tak menjawab pertanyaan ini, maka katak itu pun tiba-tiba menunggingkan pantatnya, memberi hormat, lucu sekali.

"Tuan puteri, apa yang harus hamba lakukan? Bukankah paduka memanggil hamba?" Puteri Cing tiba-tiba terkekeh. Sekarang ia sadar dan geli bukan main, melihat katak itu lucu dan jenaka. Apalagi ketika pantatnya menungging-nungging, persis tawon yang mau buang air besar! Maka terkekeh dan terbelalak memandang katak ini, tiba-tiba Puteri Cing mencebur di kolam dan berseru nyaring. "Aku mau kau main-main denganku, katak jenaka. Hayo, jangan lari kalau kutangkap... byurr!" Sang puteri sudah mencebur. Ia mengejar dan menangkup katak itu. Tapi sang katak yang melejit ke kiri tiba-tiba tertawa dan bergerak lucu. "Puteri, hamba jangan ditangkap. Mati hamba nanti....!" Puteri Cing semakin terkekeh. Ia menjadi penasaran dan menubruk kembali, tapi ketika untuk kesekian kalinya pula katak yang jenaka itu melompat dan menghindarkan diri, maka puteri itu berteriak dan mengejar, gemas. Sang katak diburu, tapi katak yang melompat-lompat ini selalu menghindar. Dan Puteri Cing yang mendapat permainan menarik dengan kejar-kejaran ini akhirnya lupa segala dan terkekeh-kekeh di dalam kolam!

Ceng Liong tersenyum, memandang Puteri Mei. "Bagaimana, tuan puteri? Paduka juga ingin main-main seperti Cing-siocia?" Puteri Mei tentu saja mengangguk. Dia jadi iri dan gembira melihat seekor katak yang lucu dapat bicara, bermain-main dengan encinya. Maka begitu Ceng Liong menawari permainan serupa, dia pun mengangguk dan tertawa girang. "Boleh, aku juga ingin seekor katak seperti itu, Ceng Hwa. Biarkan aku main-main seperti enci Cing!" Ceng Liong mengangguk. Dia sudah "menyulap" pula seekor katak seperti yang pertama, dan begitu katak ke dua muncul, menggapai gadis ini, segera Puteri Mei terkekeh dan mencebur di kolam. Dua gadis itu sekarang bermain-main dengan katak ciptaan Ceng Liong, gembira dan terkekeh-kekeh. Dan Ceng Liong yang memandang Puteri Kiok yang tampaknya bengong memandang semuanya itu tiba-tiba tertawa dan menegur. "Puteri, paduka ingin permainan serupa? Kalau suka, akan hamba ciptakan seekor katak istimewa untuk paduka. Hamba sendiri yang akan menjadi katak!" Puteri Kiok terkejut. Ia sudah masuk dalam pengaruh sihir Ceng Liong. Maka ketika Ceng Liong bicara seperti itu, ia pun terbelalak tapi sedikit ngeri. Entah kenapa, melihat semuanya itu tiba-tiba hatinya berdebar, tidak enak. Tapi melihat permainan itu memang lucu sekali dan dia juga tertarik, maka Kiok Bi mengangguk tanpa sadar. Dan Ceng Liong tahu-tahu telah memegang lengannya. "Puteri, paduka ingin mandi, bukan? Nah, lepas pakaian paduka itu. Mari kita bermain-main di kolam!" Puteri Kiok tersentak. Ia melihat Ceng Liong telah melepas baju luarnya, tapi ketika pemuda itu hendak melepas pakaian dalamnya, tiba-tiba ia menepiskan tangan Ceng Liong dengan gugup. "Tidak, jangan lancang kau, Ceng Hwa. Dua adikku yang lain mandi dengan pakaian dalam saja!" Ceng Liong tersenyum. "Tapi tak bebas dalam bergerak, puteri. Tubuh tak akan segar kalau mandi dengan pakaian melekat!" "Biarlah!" gadis ini menggigil, merah mukanya. Tapi ketika Ceng Liong mundur dan melepas cekalannya, tiba-tiba ia menjadi tenang dan tertarik ketika Ceng Liong tertawa dan berjongkok dengan kedua lutut ditekuk, meniru sikap katak. 'Puteri, hamba akan memulai permainan ini. Hamba akan menjadi katak... hup!" Sang puteri terbelalak. Dia melihat Ceng Liong tiba-tiba lenyap, berobah ujudnya menjadi katak tulen! Dan ketika dia berseru kaget oleh kejadian ini, tiba-tiba Ceng Liong mencebur di kolam dan terkekeh memanggilnya "Kiok-siocia, ke mari, kita berempat main-main di sini!" Puteri Kiok tertegun. Dia sudah dipengaruhi Ceng Liong, luar dalam, masuk dalam pengaruh sihir pemuda itu. Maka begitu Ceng Liong memanggilnya dan merobah diri menjadi katak, tiba-tiba puteri ini tertawa dan lenyap rasa takutnya. "Ceng Hwa, kau benar-benar manusia luar biasa. Kalau tidak kubuktikan sendiri, tentu kejadian ini tak akan kupercaya!" Ceng Liong girang. Dia melihat Puteri Kiok sudah masuk ke dalam air, mencebur mengejarnya. Dan ingin memusatkan permainan pada dirinya sendiri, tiba-tiba Ceng Liong "menarik" lenyap dua katak tiruan yang bermain-main dengan Puteri Cing dan Puteri Mei. Tentu saja kakak beradik itu kecewa. Tapi ketika Ceng Liong memanggil mereka dan menarik perhatiannya agar bermain dengannya, dua gadis itu pun terkejut dan membelalakkan matanya. "Ih, siapa kau?" Ceng Liong tertawa. "Hamba Ceng Hwa, Ji-wi siocia. Hamba merobah ujud hamba sebagai katak tunggal di sini. Hayo, kita main-main dan coba ji-wi menangkap hamba kalau bisa!" Dua gadis itu tertawa. Mereka kembali gembira setelah Ceng Liong memperkenalkan diri. Tapi ketika mereka mencoba menangkap pemuda ini, ternyata Ceng Liong melejit ke sana-sini. Apalagi ketika Ceng Liong terkekeh-kekeh mempermainkan mereka. "Hi-hik, hamba tak dapat kalian tangkap, siocia. Kecuali kalau paduka memenuhi permintaan hamba!" "Ah, apa permintaanmu, Ceng Hwa?" "Kalian semua mandi tanpa busana. Melepas pakaian dalam itu agar bebas bergerak menangkap hamba!" "Ih, kau kurang ajar, Ceng Hwa. Kau cabul, kau tak tahu malu!" "Heh-heh, kita sama-sama wanita, tuan puteri. Kenapa cabul dan tak tahu malu?" Tapi tiga gadis itu masih likat. Mereka terus mengejar "katak" yang kurang ajar ini, memaki Ceng Liong dengan genas-gemas marah. Dan ketika Ceng Liong mulai menggoda mereka dengan hinggap di kepala dan dada dengan sikap nakal, tiba-tiba Puteri Cing yang khegi namun gembira tiba-tiba melepas pakaian dalamnya! "Ceng Hwa, aku memenuhi permintaanmu. Hayo, jangan lari kau!" Ceng Liong terbelalak. Dia tentu saja tersirap, melihat gadis itu benar-benar telanjang. Dan sementara dia terbelalak, tiba-tiba Puteri Mei dan Kiok Bi yang merasa "dipelopori" mendadak juga melepas pakaian mereka dan berseru padanya, "Ceng Hwa, sekarang ke sini kau. Aku memenuhi permintaanmu...!" Dan Ceng Liong yang tentu saja berdetak jantungnya, tiba-tiba terkekeh. Dia melihat tiga gadis cantik itu sudah menubruknya berbareng, masing-masing tanpa benang sehelaipun juga. Dan begitu dirinya ditangkap, tiba-tiba Ceng Liong yang sudah bergolak darah mudanya ini menyambut dan melepas pengaruh sihirnya. Kembali sebagai seorang pemuda, menyambar dan memeluk mereka dengan penuh nafsu dan bertubi-tubi memberikan ciuman! "Kiok-moi, Cing-moi, kalian benar-benar cantik..!" Kiok Bi dan adiknya terkejut. Mereka melihat Ceng Hwa sebagai katak lenyap, terganti seorang pemuda tampan yang terkekeh-kekeh menciumi mereka, memeluk dan menggerayangi tubuh mereka dengan penuh nafsu. Dan Kiok Bi serta adiknya yang tentu saja kaget bukan main oleh kejadian ini, tiba-tiba memekik dan meronta, melepaskan diri keluar dari kolam. Tapi melihat mereka telanjang bulat tanpa sehelaipun benang, tiba-tiba ketiganya memekik dan menjerit malu! "Pemuda lancang, siapa kau?" Ceng Liong melompat keluar. "Aku Ceng Liong, adik manis. Sengaja datang ke sini untuk menghibur kalian!" Ceng Liong tertawa, memandang penuh nafsu tiga tubuh yang montok menggairahkan itu. Dan karena Kiok Bi yang paling dekat dengannya, maka Ceng Liong sudah menyambar gadis ini dan langsung mendekapnya sambil terkekeh-kekeh. Tapi Kiok Bi tentu saja meronta. Ia menjerit dan memukul, membentak dan memaki kalang kabut. Malu tapi juga marah. Dan Ceng Liong yang sengaja menggodai gadis-gadis cantik ini, lalu melepaskannya untuk kemudian menyambar Cing-siocia. Dan ketika gadis itu juga meronta dan memaki-makinya, Ceng Liong sudah tertawa dan mencubruk Mei-siocia! Begitulah, ganti berganti Ceng Liong melompat ke sana-sini, mempermainkan tiga orang lawannya ini. Dan ketika Kiok Bi kembali ditangkap untuk akhirnya diciumi, dan Ceng Liong sendiri sudah siap melepas pakaiannya, maka pada saat itulah terdengar dua bentakan nyaring, disusul berkelebatnya dua bayangan dara jelita.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment