Chapter 92
"Manusia iblis, apa yang kaulakukan di sini?"
*Plak! Dess!* Ceng Liong terpelanting. Dia tiba-tiba mendapat tamparan dan tendangan pada kepala serta punggungnya. Dua serangan itu membuatnya mengaduh dan terguling-guling. Ketika dia melompat bangun, di tempat itu sudah berdiri dua gadis cantik yang menatapnya dengan berapi-api. Dua dara jelita yang berwajah kembar!
"Ah, siapa kalian?" Ceng Liong terkejut.
Dua gadis itu melompat maju. Seorang di antaranya yang mengenakan pakaian hijau membanting kaki, matanya penuh kemarahan memandang Ceng Liong. Dengan suara membentak dan mata menyala, gadis itu bertanya, "Jahanam muda, kau siapa dan mengapa mengganggu wanita? Siapa yang menyuruhmu ke mari?"
Ceng Liong tergetar. Dia melihat dua gadis itu sangat cantik dan gagah. Sambil menyeringai dan melirik Kiok Bi beserta adik-adiknya yang kini sudah berpakaian kembali, Ceng Liong tertawa. "Aku tidak mau menjawab pertanyaanmu kalau kalian belum menjawab pertanyaanku, Nona. Tapi kalau kalian bilang aku mengganggu di tempat ini, maka itu salah!"
Gadis baju hijau mendelik. "Kau ingin mampus?"
"Ha-ha, mampus itu tak kukenal, Nona. Tapi kalau kalian tak menjawab pertanyaanku, maka pertanyaan kalian juga tak akan kujawab!"
"Baik, aku Kui Hoa. Sekarang siapa kau?"
Ceng Liong terkejut. Dia baru tahu bahwa gadis inilah yang disebut-sebut sebagai putri Ok-ciangkun. Sengaja ingin menggoda dan tertarik melihat gadis jelita itu, Ceng Liong tiba-tiba tertawa dan menuding gadis satunya, "Kalau begitu, siapa yang di sebelahmu itu? Kalian harus menjawab lengkap kalau ingin mengetahui diriku secara lengkap pula!"
Gadis nomor dua membanting kakinya. "Aku Kui Lin, setan keparat! Dan jangan main-main kau dengan kami berdua!"
"Aha, kalau begitu kalian kakak beradik? Wah, pantas. Yang satu cantik, yang lain jelita! Ha-ha, bagaimana kalau kita berkenalan baik-baik, Nona manis? Aku orang bermarga Ceng, namaku Naga (Liong). Jadi, Naga Ceng!"
Dua gadis itu terbelalak. Kui Lin yang berbaju biru mengerutkan kening, lalu membentak marah sambil menggerakkan lengannya, menampar Ceng Liong. "Enci, rupanya orang ini tidak waras. Biar kurobohkan dia!"
Ceng Liong menangkis. Dia tentu saja tidak mau menerima serangan itu karena tamparan yang tadi dia terima sudah cukup membuatnya puyeng dan terkejut oleh kuatnya sinkang lawan. Maka, begitu Kui Lin menyerangnya dengan jari-jari terbuka, dia pun menggerakkan lengan untuk menangkis dengan jari-jari terbuka pula.
*Plak!*
Ceng Liong terkejut. Dia tergetar dan terdorong mundur. Melihat lawan membuatnya terhuyung, Ceng Liong terkesiap dan terbelalak. "Wah, sinkangmu hebat, Nona. Tapi jangan sombong. Aku belum mengeluarkan semua tenagaku!"
Kui Lin mendengus. Dia percaya kalau Ceng Liong belum mengeluarkan tenaga sepenuhnya karena ketika menangkis tadi Ceng Liong memang tampak ugal-ugalan. Namun, melihat lawan terhuyung dan kaget oleh tamparan sinkangnya, tiba-tiba dia memekik dan membentak nyaring, "Orang bermarga Ceng, sekarang robohlah kau!"
Ceng Liong melihat bayangan berkelebat. Dia melihat gadis itu menyerangnya kembali, merapatkan jari untuk menusuk dahi, tidak lagi menampar. Ceng Liong yang tak berani main-main lagi segera mengelak dan melompat ke kiri. Namun, celaka, kaki gadis itu tiba-tiba bergerak dan menendang dari samping. Ternyata tusukan jari tadi hanyalah tipuan. Kaki itu mengenai pinggangnya; kontan Ceng Liong menjerit dan terlempar roboh.
*Dess!*
Ceng Liong melompat bangun. Sekarang dia benar-benar kaget, tidak mengira bahwa lawannya itu demikian lihai. Sambil menggigit bibir dengan muka merah, Ceng Liong mengerotokkan jarinya dan membentak, "Nona, dua kali kau memukulku. Sekarang awas, giliranku menyerang... Wut!"
Ceng Liong melompat ke depan dan menghantam dengan telapak tangannya yang berwarna merah. "Tok-hiat-jiu (Pukulan Darah Beracun)!"
Ceng Liong tersenyum mengejek. Dia melihat dua gadis itu hampir berbarengan menyebut nama pukulannya. Namun, Kui Lin yang jungkir balik ke depan tiba-tiba menyambut serangan ini dengan telapak kakinya.
*Dess!*
Ceng Liong tercengang. Dia tergetar dan terhuyung setindak. Sementara lawan yang sudah berdiri kembali dengan mata bersinar-sinar tiba-tiba membentaknya, "Orang bermarga Ceng, apa hubunganmu dengan Tok-sim Sian-li, murid mendiang Cheng-gan Sian-jin?"
Ceng Liong menyeringai. "Dia ibuku."
"Kalau begitu, kau yang datang bersama tiga orang tua di depan itu?"
"Hm, untuk apa menyebut-nyebut nama tiga orang tua itu, Nona? Aku ke sini atas kehendakku sendiri, bukan atas suruhan mereka!"
"Kalau begitu kau murid Mayat Hidup?"
"Benar, dia guruku nomor dua. Karena guruku nomor satu adalah Sin-ihouw-liong (Naga Kepala Sakti), Temu Ba! Kau takut?"
Kui Lin melengking, mukanya gemetar. "Siapa takut padamu, bocah bermarga Ceng? Biar gurumu sekalipun, aku tak takut menghadapinya, Keparat!"
Kui Lin tiba-tiba menerjang ke depan dan menyerang Ceng Liong dengan marah. Ceng Liong bertubi-tubi mendapat serangan. Dia dipukul, ditampar, dan ditendang berulang-ulang dengan cepat, naik turun bagaikan gelombang samudra yang sedang mengamuk. Mendengar angin bersiutan dari semua pukulan yang bertubi-tubi itu, Ceng Liong tiba-tiba melompat mundur dan tertawa mengejek.
"Nona, kau benar-benar ingin bermain-main denganku?"
"Siapa ingin bermain-main denganmu? Aku ingin merobohkanmu, bahkan membunuhmu!" Kui Lin mempergencar serangannya, sekonyong-konyong memekik dan mengerahkan ginkang. Sekejap kemudian, tubuhnya lenyap, menjadi segunduk bayangan biru yang mengelilingi Ceng Liong.
Ceng Liong, yang tentu saja tidak mau menerima gebukan, membentak dan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya, Cui-beng Ginkang (Ginkang Pengejar Roh)!
Begitu dua orang muda ini bergebrak dan saling pukul, terjadilah pertandingan seru di pinggir kolam itu. Ceng Liong memainkan Cui-beng Ginkangnya dengan baik, berkelebatan ringan bagaikan capung menari. Namun, Kui Lin yang mengerahkan kepandaiannya dan berkelebatan lincah bagaikan walet menyambar-nyambar itu ternyata tidak kalah hebat.
Ceng Liong terkejut oleh kenyataan ini, lalu memperhebat serangan dan tangkisannya. Dia membentak dan memainkan Tok-hiat-jiunya dengan lebih hebat dan cepat sambil menambah kekuatan sinkangnya hingga telapak tangannya berwarna merah membara, mengeluarkan bau amis yang mengerikan. Namun, lawan yang tidak gentar beradu lengan dengan lengannya yang mengandung darah beracun itu justru membuat Ceng Liong kaget. Betapa tidak? Pukulan Tok-hiat-jiunya yang biasa ditakuti lawan ternyata diterima begitu saja oleh gadis bernama Kui Lin itu tanpa pelindung atau sarung tangan.
Ceng Liong, yang setiap beradu lengan selalu merasa tergetar dan ngilu, heran melihat lawannya tidak terpengaruh oleh hawa beracun yang memenuhi permukaan lengannya. Apakah gadis itu kebal terhadap racun? Atau sinkangnya yang lebih hebat dari dirinya?
Ceng Liong penasaran. Menurut pandangannya, sinkang gadis itu tidak lebih tinggi dari sinkangnya sendiri. Mereka berimbang, begitu juga dalam hal ilmu meringankan tubuh. Namun, kenapa gadis itu tidak terpengaruh oleh hawa beracun Tok-hiat-jiunya?
Ceng Liong marah. Sebenarnya dia berharap gadis itu roboh oleh hawa beracun pukulannya karena racun itu sendiri merupakan bahaya tersembunyi bagi lawan di samping pukulan sinkangnya. Maka, melihat gadis itu tidak terpengaruh sama sekali oleh uap kemerahan di kedua lengannya, tiba-tiba Ceng Liong membentak dan mengerahkan Sin-gan-sin-hunto-nya.
"Nona, sekarang kau lelah. Kau ingin beristirahat. Mundurlah!"
Gadis bernama Kui Lin itu terkejut. Ia merasa getaran berwibawa mendengung aneh, menguasai dirinya. Namun, sambil membalas membentak dan tertawa mengejek, ia membanting kaki. "Orang bermarga Ceng, tidak perlu kau main-main dengan ilmu setanmu itu. Aku tidak mampu kau sihir!"
Ceng Liong terkejut. Dia melihat gadis itu benar-benar tidak terpengaruh, bahkan menerjangnya semakin hebat. Penasaran bahwa Sinhun-to-nya tidak membawa hasil dalam bentakan pertama, dia pun mengerahkan kekuatan dan membentak untuk kedua kalinya dengan lebih hebat, "Nona, kau sudah lelah. Sekarang mundur dan beristirahatlah!"
Gadis baju biru itu justru memaki dan menendang Ceng Liong dengan kaki kirinya. Ketika Ceng Liong merendahkan kepala untuk menghindar, tiba-tiba lengan kanan gadis ini menyambar. "Orang bermarga Ceng, aku sudah mengenal Sinhun-to-mu. Tidak perlu menggertakku di sini. Wut!"
Ceng Liong terbelalak. Dia hampir kena tempeleng oleh jari yang menyambar di sisi kepalanya itu. Kaget karena lawan benar-benar tidak mampu disihir sebab kekuatan sinkang mereka berimbang, tiba-tiba Ceng Liong membentak dan mengerahkan kepandaian yang didapat dari gurunya, Mayat Hidup, yaitu ilmu yang mempergunakan dua jari dan disebut Coan-kut-ci (Jari Penusuk Tulang).
Begitu lawan membalik dan menyerangnya kembali dengan telapak terbuka, mendadak Ceng Liong memapak dan membentak marah, "Nona, jangan kau sombong... Tak!"
Gadis baju biru tiba-tiba berteriak. Telapak tangannya ditusuk dua jari Ceng Liong yang kini menggunakan Coan-kut-ci untuk mengalahkannya. Begitu Ceng Liong mempergunakan ilmu barunya ini, tiba-tiba gadis itu terhuyung dan tampak kesakitan.
"Ha-ha, sekarang kau tahu rasa, Nona?" Ceng Liong gembira, tertawa bergelak melihat gadis itu pucat memandangnya sebagai tanda terkejut. Bukti bahwa dengan ilmu ini dia dapat mendesak lawan. Girang bahwa Coan-kut-ci-nya membawa hasil, Ceng Liong terkekeh dan menerjang kembali.