Chapter 93
"Nona, sekarang kau menyerahlah!" Kui Lin menggigit bibir.
Ia tadi kesakitan karena dua jari Ceng Liong yang sekeras baja. Jari itu serasa menusuk hingga menembus telapak tangannya sendiri. Serangan yang membuat ia terbelalak karena Ceng Liong memiliki bermacam-macam ilmu. Maka, melihat Ceng Liong kembali menyerangnya dengan Jari Penusuk Tulang itu, gadis ini tiba-tiba mengeluh dan menjadi gugup. Ia berlompatan ke sana ke mari, terdesak, dan takut oleh dua jari Ceng Liong yang ampuh. Jari yang meskipun tidak membuatnya terluka, cukup membuatnya kesakitan karena rasa nyerinya benar-benar menusuk tulang. Maka, melihat Ceng Liong menyerangnya dengan ilmu baru ini, tiba-tiba saja gadis itu terdesak hebat.
Ceng Liong terbahak. "Bagaimana, Nona? Kau tahu kelihaianku, bukan?"
Wajah Kui Lin memerah. Ia marah oleh ejekan itu. Ketika jari Ceng Liong kembali mengenai pundaknya dan ia mengaduh kesakitan, tiba-tiba Kui Hoa yang terbelalak memandang pertempuran itu berteriak padanya, "Lin-moi, cabut pedangmu dan lawan dengan senjata. Jangan takut oleh jarinya itu!"
Kui Lin teringat. Ia tiba-tiba mencabut pedang, sadar bahwa ia menyimpan senjata. Maka ketika Ceng Liong menubruknya kembali dengan dua jari maut itu, tiba-tiba gadis ini membentak dan melengking tinggi, "Orang she Ceng, aku belum kalah!"
Ceng Liong terkejut. Jarinya tiba-tiba dibabat pedang, mental, dan tidak mengenai sasaran. Sementara ia berseru keras dan melompat mundur, Kui Lin juga terbelalak melihat jari Ceng Liong tidak putus dibabat pedang, tanda bahwa jari itu benar-benar keras melebihi baja. Jari yang hebat! Namun, Kui Lin yang melihat kesempatan saat Ceng Liong mundur sudah memekik dan bersiap menyerang.
"Orang she Ceng, kau sekarang juga akan melihat kepandaianku!"
Ceng Liong tertegun. Ia melihat gadis berbaju biru itu sudah menerjangnya dengan pedang yang bergerak naik turun, membentuk gulungan panjang bagaikan sinar pelangi. Ceng Liong yang teringat akan sesuatu tiba-tiba berseru tertahan melihat gerakan pedang ini.
"Jengbeng-kiam-sut (Ilmu Pedang Seribu Pelangi Pencabut Nyawa)!"
Kui Lin tertawa mengejek. "Kau tahu ilmu silatku ini, setan cilik?"
Ceng Liong mendongkol. Ia marah mendengar makian itu yang menyebutnya setan cilik, padahal usia mereka tidak terpaut jauh. Namun, kaget bahwa Kui Lin mengakui ilmu pedangnya ini sebagai *Toat-sut*, tiba-tiba Ceng Liong sadar dan dapat menduga siapa sebenarnya dua orang gadis kembar itu. Kiranya mereka adalah putri dari Ok-ciangkun, yang bukan lain adalah Ok Kui Lun, putra mendiang Wu-ciangkun Ok Ciat, murid mendiang nenek iblis Mo-i Thai-houw.
Maka, tahu bahwa Ok-ciangkun yang dimaksud itu ternyata murid mendiang nenek iblis Mo-i Thai-houw, pencipta ilmu pedang Jengbeng-kiam-sut, yang beberapa tahun kemudian juga menjadi murid ketua Gelang Berdarah yang tewas terbunuh oleh Malaikat Gurun Neraka, tiba-tiba saja Ceng Liong mendusin dan sadar siapa kiranya dua orang gadis kembar ini.
Memang betul, Kui Lin dan Kui Hoa adalah putri Ok Kui Lun. Dua orang dara kembar yang jika diurut silsilah perguruannya termasuk cucu murid mendiang nenek iblis Mo-i Thai-houw, juga cucu murid mendiang ketua Gelang Berdarah yang merupakan adik seperguruan Malaikat Gurun Neraka yang tewas bersama sang suheng. Bahkan, dari silsilahnya, dua gadis cantik ini termasuk murid-murid keponakan Pendekar Gurun Neraka, tokoh yang menjadi penghuni Ta-pie-san.
Sadar bahwa dua gadis ini adalah murid atau cucu murid dari tokoh-tokoh besar tersebut, Ceng Liong maklum akan semuanya. Sekarang ia tahu mengapa gadis baju biru itu demikian lihai hingga mampu menandingi ilmu silatnya, padahal sang kakak belum maju. Kecut tapi juga girang karena untuk pertama kalinya ia berhadapan dengan lawan yang seimbang, Ceng Liong tidak berani main-main lagi.
Melihat Kui Lin memainkan Jengbeng-kiam-sut dan mendesaknya, Ceng Liong tiba-tiba membentak dan mengeluarkan senjatanya, Bendera Iblis!
"Nona, aku juga akan memperlihatkan kepandaianku!"
Kui Lin terbelalak. Ia mendengar suara "wuut-wuut" dua kali, suara dari kain bendera yang berkibar. Bendera hitam, Bendera Iblis. Ia tertegun melihat lawan mengeluarkan senjata yang aneh, tahu-tahu bendera itu telah menyambar dirinya bagaikan kipas raksasa!
"Nona, aku akan merobohkanmu!"
Kui Lin terkejut dan menggerakkan pedang untuk membabat. Tapi ketika bendera menutupi pandangannya, tahu-tahu dua jari Ceng Liong menyambar dari bawah, menusuk lengannya. "Takk!"
Kui Lin mengaduh. Ia melempar tubuh bergulingan, kaget bahwa Ceng Liong ternyata masih mempergunakan Coan-kut-ci yang "bersembunyi" di balik bendera. Ia melengking dengan penuh kemarahan, lalu melompat bangun dan memaki lawannya. "Orang she Ceng, kau manusia curang!"
Ceng Liong tertawa. "Curang apanya, Nona? Kita bertempur, dan di dalam pertempuran tentu setiap orang mempergunakan segala kepandaian dan akalnya!"
Kui Lin memekik-mekik. Ia sekarang terpaksa berlompatan ke sana ke mari dengan bingung, tidak berani mendekati bendera karena pandangannya bakal tertutup, yang berarti memberi kesempatan pada Ceng Liong untuk melancarkan serangan jari yang bersembunyi di balik kibasan bendera. Ceng Liong sengaja melakukan itu. Begitu lawan berlompatan menghindari Bendera Iblis, tak ayal Kui Lin kembali terdesak.
Ceng Liong tertawa, ia sekarang menang posisi. Namun, Kui Lin yang tetap berlompatan belum dapat dirobohkan, membuat ia gemas. Apakah begini terus sampai mereka sama-sama kelelahan? Ceng Liong mendongkol. Ia memperhebat serangannya, memainkan Bendera Iblis hingga mengeluarkan angin menderu-deru. Kui Lin yang marah tiba-tiba memekik. Kibasan bendera yang kembali menyambar disambut bacokan pedang, tapi Kui Lin tetap menjaga jarak. Gadis baju biru itu bermaksud merobek bendera.
"Bret."
Kui Lin terkejut. Pedangnya sudah membabat bendera di tangan lawan, tapi kain bendera yang rupanya khusus dibuat dari bahan aneh ternyata mampu menahan ketajaman mata pedangnya. Tidak robek! Sementara ia terbelalak kaget, tiba-tiba dua jari Ceng Liong menyambar pundaknya.
"Takk!" Kui Lin terpelanting roboh. Untuk kesekian kalinya ia terguling-guling, mengaduh, dan sadar bahwa ia tidak boleh teralihkan oleh bendera di tangan lawan. Ia cepat melompat bangun dengan mata berapi-api.
"Orang she Ceng, Bendera Iblismu benar-benar bendera keparat. Tak tahu malu menutupi pandangan orang!"
Ceng Liong tertawa gemas. Ia sudah berkali-kali menotok gadis ini dengan tusukan Coan-kut-ci yang membuat lawan mengaduh tapi selalu bangun kembali. Itu tanda gadis itu sebenarnya kesakitan tapi tidak sampai roboh, bukti bahwa ia memiliki kekuatan tubuh dan sinkang yang mengagumkan, sinkang yang mampu melindungi diri dari pengaruh jari mautnya.
Melihat Kui Lin memaki dengan marah, Ceng Liong ikut geram dan balas memaki, "Ya, dan kau pun juga tak tahu diri, Nona. Sudah terang terdesak tapi masih juga tak mau menyerah!"
"Cih, siapa mau menyerah padamu? Biar mampus pun aku tak sudi mengatakan menyerah. Aku masih dapat bergerak dan melawan kecuranganmu!"
Ceng Liong tidak bicara lagi. Ia melihat gadis itu mati-matian mempertahankan diri, berlompatan ke sana ke mari agar tidak berdekatan dengan bendera karena sudah tiga kali ia "diserobot" Ceng Liong dengan tusukan jari mautnya. Ceng Liong yang marah oleh pertandingan yang selalu berpindah-pindah tempat ini akhirnya diam-diam merogoh tiga jarum hitamnya.
Sebenarnya, dari pertandingan ini dapat dilihat bahwa dua orang muda itu seimbang. Mereka sama-sama memiliki ginkang dan sinkang setingkat. Mengapa setelah Ceng Liong mengeluarkan Jari Penusuk Tulang, Kui Lin tiba-tiba terdesak? Hal ini karena *Tok-hiat-jiu* yang dilatih Ceng Liong adalah berkat ajaran ibunya, begitu juga dengan permainan Bendera Iblisnya. Tapi, Coan-kut-ci yang didapat Ceng Liong dari gurunya nomor dua memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari ibunya, setingkat dengan mendiang Cheng-gan Sian-jin. Maka, Ceng Liong seolah mendapat didikan langsung dari kakek gurunya sendiri. Tentu saja itu lebih hebat.
Namun, Kui Lin juga bukan gadis sembarangan. Ayahnya, Ok Kui Lun, adalah murid dari dua orang sakti sekaligus: mendiang Mo-i Thai-houw dan bekas penghuni Pulau Hek-kwi-to yang mendirikan perkumpulan Gelang Berdarah. Dari dua tokoh ini, Ok Kui Lun menciptakan ilmu gabungan, terutama dari gurunya yang kedua, tokoh yang memiliki kekebalan aneh dengan ilmunya, Hoatciong-ko, sebuah kekebalan yang berbau ilmu hitam.